NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelakor

Aku Bukan Pelakor

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:803.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: ZiOzil

Cerita ini diangkat dari sudut pandang yang bebeda, dengan alur kehidupan sehari-hari.
Dan menyebabkan kebaperan. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini.

Amanda, gadis cantik dan lembut. Harus terikat hubungan terlarang dengan pria beristri yang bernama Satria. Berawal dari pertemuan tak sengaja dan hutang budi, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan yang tak semestinya.

Akankah mereka bersatu? Atau malah berpisah.

IG : nona_vie90
FB : Nevi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gara-gara Bu Lela

Hari ini aku putuskan untuk bekerja, sudah cukup aku  bermalas-malasan di rumah, lagi pula kakiku juga sudah tidak sakit lagi.

"Ayah, aku pergi dulu." Aku mencium punggung tangan ayah seraya berpamitan.

"Iya, kamu hati-hati ya, nak!"

Beginilah setiap kali aku hendak bekerja, ada perasaan tak tenang di hatiku saat meninggalkan ayah sendiri di rumah, aku takut kalau tiba-tiba sakit ayah kumat dan tidak ada orang di rumah. Tapi aku harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan kami dan membayar hutangku kepada Satria.

"Mau pergi bekerja, Manda?" Tiba-tiba suara bu Lela menyambar telingaku yang sudah berdiri di pekarangan rumah.

"Iya, bu." Jawabku singkat. Aku malas terlalu banyak bicara dengannya, bakal jadi panjang nanti.

"Berangkat sendiri? Kekasihmu yang orang kaya itu tidak datang menjemput?" Bu Lela mulai usil lagi. Itu kan benar kataku, bakal panjang urusannya kalau aku ladeni.

"Maaf, bu ... itu bukan kekasih saya! Dia cuma teman saja kok." Aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini, biar tidak semakin melebar.

"Bukan kekasih kok datang hampir setiap hari? Tak baik loh dilihat orang, nanti jadi bahan omongan tetangga lain." Itu kan dia mulai lagi deh. Hey ... bu Lela, disini cuma engkau yang super usil, kenapa pakai alasan tetangga lain?

"Iya, maaf ... bu, aku pergi dulu! Takut telat." Lebih baik aku tinggalkan dari pada makin ngelunjak ini Fenita Rose.

Aku melangkah cepat meninggalkan pekarangan rumahku sekaligus bu Lela, aku tahu bu Lela ada benarnya juga, tak baik memang ada seorang lelaki yang sering datang ke rumah wanita apalagi jika tidak ada hubungan apa-apa, sudah tentu akan menimbulkan gunjingan dari tetangga-tetangga yang modelnya seperti bu Lela.

***

Aku memasuki toko kue tempatku mencari nafkah dengan langkah pelan, ada perasaan takut dihatiku karena sudah terlalu lama tidak masuk.

"Selamat pagi semua." Ucapku pelan kepada seorang rekan kerjaku yang sedang bersih-bersih.

"Pagi ... Manda! Kau apa kabar? Kau sudah baikan?" Rekan kerjaku yang bernama Kinan itu segera memelukku.

"Aku sudah baikan kok!" Ucapku sambil membalas pelukan Kinan.

"Syukurlah, aku khawatir sekali saat mendengar kau kecelakaan, aku ingin menjengukmu, tapi tidak dapat izin cuti. Kau kan tahu sendiri!" Kinan berbicara pelan sembari melepas pelukannya. Iya, aku tahu maksud Kinan.

"Tidak apa-apa kok!"

"Eh ... tapi orang yang nabrak kamu tampan banget ya? Kaya lagi, pasti banyak dia memberikan ganti rugi? Aku sampai terpesona melihat dia datang kesini." Kikan mulai kegenitan.

"Apaan sih? Dasar genit ...!" Aku menepuk pelan pundak Kikan. "Memangnya apa yang dia katakan kepada bos?" Aku sedikit penasaran.

"Tidak tahu! Si tampan itu berbicara di ruangan si bos." Ucap Kikan sambil menaikkan kedua bahunya.

"Hey ... apa kalian berdua digaji untuk mengobrol?" Akhirnya bos pelitku yang baru datang menyindir kami.

"Iya ... maaf, bos!" Ucapku dan Kikan serentak.

"Dan kau, Amanda. Apa kau sudah baikan?" Tanya bosku dengan wajah datar tanpa senyuman.

"Sudah bos."

"Kalau begitu segera bekerja, jangan membuang-buang waktu." Bosku itu memerintah dengan wajah sombongnya.

Aku dan Kinan pun segera berlalu dari hadapannya, dan mulai bekerja.

***

Mentari sudah mulai turun ke peraduan, menandakan senja juga akan segera berganti malam. Seharian bekerja membuatku sangat lelah, tapi aku paksakan kakiku melangkah pelan menyusuri jalanan, berharap segera tiba di tempat ternyaman yang menjadi tujuanku.

Tiiiinnn ... tiiiinnn ...

Tiba-tiba suara klakson mobil mengagetkanku dari belakang, aku sampai terperanjat. Aku memutar badanku berbalik menghadap mobil itu, dan aku tahu dengan pasti mobil siapa ini. Iya ... siapa lagi kalau bukan Satria. Mau apa dia datang lagi?

"Hai ... Manda, kaget ya?" Satria turun dari mobil dengan senyum jahilnya dan segera menghampiriku. Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku kaget jika tiba-tiba dia membunyikan klakson begitu.

"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya?" Nada bicaraku sengaja ku buat ketus agar dia tahu bahwa aku kesal.

"Maaf ... deh! Kau mau pulang kan? Mari aku antar!" Satria menawarkan tumpangan untukku. Kalau difikir-fikir, itu tawaran yang bagus, aku jadi tidak terlalu lelah berjalan. Tapi tidak ...! Aku teringat kata-kata bu Lela tadi pagi, aku tak ingin kedatangan Satria menjadi buah bibir lagi.

"Maaf ... aku tak bisa menerima tawaranmu!" Aku menolak tawaran Satria tanpa basa basi.

"Kenapa?" Mendadak wajah Satria berubah bingung, dia menautkan kedua alisnya dan memandangku penuh tanya.

"Aku tak ingin merepotkan mu!"

"Tapi aku tidak merasa direpotkan! Aku memang hendak ke rumahmu." Satria mencoba ber nego denganku. Aku benar-benar heran, mau apa lelaki ini selalu ke rumahku?

Apa menurut kalian masuk akal alasannya kemarin malam?

"Satria ... tolonglah mengerti! Aku hidup bertetangga, aku tidak ingin menjadi bahan gunjingan tetanggaku jika kau selalu datang ke rumahku. Apa kata orang jika ada seorang gadis yang selalu didatangi seorang pria, apalagi mereka tidak punya hubungan apa-apa!" Aku mencoba memberi pengertian kepada Satria, berharap dia paham maksudku.

"Oh ... jadi itu alasannya? Jadi bagaimana dengan Dimas? Dia juga lelaki yang tidak ada hubungan apa-apa denganmu bukan? Apa ada pengecualian untuknya jika sering bertandang ke rumahmu?" Satria berbicara dengan wajah yang serius. Apa ini? Apa lelaki ini sedang protes?

"Aku dan Dimas itu sudah bersahabat dari balita, seluruh tetangga juga tahu persahabatan kami. Tapi kalau kau kan orang asing, kita baru juga kenal, rasanya memang tak pantas saja jika kau selalu datang ke rumahku." Sekali lagi aku menjelaskan maksudku agar lelaki di hadapanku ini bisa mengerti maksudku tanpa harus sakit hati.

Satria terdiam sejenak, dia memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Wajahnya mendadak masam dan aku tahu dia pasti kecewa dengan permintaanku ini, tapi aku rasa tidak ada yang salah dengan ucapanku.

Satria menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, seolah dia sedang terhimpit beban yang berat.

"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu aku pamit dulu ya, kau berhati-hatilah!" Satria tersenyum sebentar lalu masuk ke dalam mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi menembus jalanan, meninggalkan aku yang masih terpaku menatap kepergiannya.

Seketika ada rasa tak enak di hatiku karena telah berkata begitu kepadanya, tapi aku juga harus mempertahankan nama baik aku dan ayah.

Aku melanjutkan langkahku dengan gontai, entah mengapa aku merasa seperti kehilangan sesuatu. Ku rogoh ponsel di tasku, berniat menghubungi Satria untuk meminta maaf atau sekedar mendengar suaranya, tapi ku urungkan niatku saat otakku tersadar bahwa dia bukan siapa-siapaku, aku hanya terikat hutang dengannya dan setelah hutangku lunas, mungkin dia akan berhenti menggangguku seperti ini.

***

Harap sabar ya sayang akuh kalau author slow update, soalnya author juga punya kehidupan nyata yang tak kalah rumit dari cerita di novel ini ...😂😊✌

Sambil nunggu cerita ini update, kalian bisa mampir ke novel author yang lain, TUMBAL CINTA TUAN MUDA.

Gimana masih mau dilanjut nggak ni...?

1
Eda
mungkin cincin
Christy Ling
bagus 👍👍👍
PUJIWIDODO 18
bagus critanya
milkk_uuuu
hmm
Mita Karolina
Lha biyen di pilih,,,inilah kalau nikah modal cuma cinta,,,tp iman lemah
Kelly Lim
bagus ceritanya
Sulistyawati
wah sama kok saya juga curiga sich sama si Dimas
Kar Genjreng
mampir nanti ku teruskan bacanya ya Thor
Momy Ida 🌹
Hallo kakak autor, salam kenal saya Momy Ida 🙏. Saya akan mendubbing novel kakak ini ☺ semoga kakak suka dengan pembawaan saya ya, mohon dukungannya juga nanti di Audiobooknya 🌹 terima kasih.
Author Gabut.: hai kak, wah senang sekali. tapi apa tidak perlu saya rapikan dulu tulisannya?
total 1 replies
Rini Haryati
bagus
sukses
semangat
mksh
Sulati Cus
klu sudut pandang ku sih tetep salah kewajiban suami membimbing istri jk istri salah jgn membenarkan diri sendiri dg nyari kenyamanan pd wanita lain wajar disebut pelakor lah wong dia msh sah suami orang ng jika emang udah g sanggup bertahan y lepaskan ceraikan baru kau cari wanita lain jika udah status duda sah2 aja mau deket sama sp aja warning selingkuh biasanya akibat dr keenakan curhat sm lwn jenis jd selesai kan urusan RT mu dulu jika g mau wanita mu di sebut pelakor.
Sulati Cus
😂😂😂😂😂gitu y?
Mawar berduri
sngkat padat jelas & hapy ending. terima kasih
Riska Wulandari
apapun alasannya berhianat adalah salah,,jika sudah tidak nyaman dgn pasangan bukankah lebih baik d akhiri daripada saling menyakiti??
Sulati Cus: bener nih g mau di sebut pelakor pdhl jelas status si pria msh suami orang apapun alasannya hrsnya tunggu sp dia cerai keliatan jika si cewek g laku sm yg msh bujang😂
total 1 replies
Fransiska Siba
makanya jadi cewek itu harus tahu arti Terima kasih
NUR(V)
aku sedih aku terhanyut dengan ceritamu kak tak terasa aku juga menyumbangkan air mata ku.... 😭😭😭😭
NUR(V)
satria kamu kayak orang yang baru jatuh cinta aja 🤣🤣🤣
NUR(V)
satris knpa gak ceraikan aja sih si renita kelakuanya dah kayak gitu kenapa kamu masih bertahan.... 😣😣😣
NUR(V)
renita jangan kau sampai menyesal kemudian 😔😔😔
NUR(V)
cuma ada di novel orang kaya mau bayar hutang orang yang baru dikenal,, kalau didunia nyata mana ada mas satria kamu baik banget sihhh.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!