mohon maaf saya menganti nama dari Kaisar agung jadi sang pewaris darah naga.
tiktok: barxzzz
setiap hari update: 2/3 bab.
al kisah seorang pemuda Lin Xieng yang di anggap gagal oleh keluarga nya, tapi suatu ketika di dalam hutan Lin xieng menemukan bola misterius yang ternyata bola misterius tersebut adalah inti fondasi kultivasi kaisar xuan pada zaman dinastiqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Alfatir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: sekte di ambang kegelapan
Kabut pekat menggantung di atas Pegunungan Seribu Nafas, tempat berdirinya salah satu dari Tiga Sekte Besar—Sekte Langit Retak. Dinding-dinding batu hitam berkilauan dengan ukiran formasi kuno, dan di tengah aula utama, suara gemuruh bergema saat pertemuan darurat dimulai.
Tiga tetua duduk membentuk segitiga di atas altar kristal. Di hadapan mereka, berdiri seorang lelaki berwajah pucat dengan mata yang bersinar ungu—mata yang bukan milik manusia biasa.
“Kami menerima tawaran itu tadi malam,” ucap Tetua Pertama, suaranya berat dan dingin. “Kekuatan yang bahkan leluhur kita tak bisa pahami. Tapi datang dari siapa?”
Pria bermata ungu itu tersenyum tipis. “Dari mereka yang menyebut diri sebagai Bayangan Kekosongan. Mereka tidak meminta pengabdian… hanya pintu untuk dibuka.”
“Tapi apa jaminan bahwa mereka tak akan menelan kita?” tanya Tetua Ketiga.
“Tidak ada,” jawabnya singkat. “Namun… jika kita menolak, kekuatan itu akan diberikan pada musuh kita.”
Diam panjang menyelimuti ruangan, lalu Tetua Kedua berbisik, “Terlalu banyak yang dipertaruhkan. Dunia tengah berubah. Dan Lin Xieng… telah membuktikan bahwa darah kuno belum sepenuhnya punah.”
**
Sementara itu, di sisi barat Pegunungan Xuanlong, Lin Xieng dan Lin Yufei tengah melakukan perjalanan ke Puncak Sunyi—tempat tersembunyi yang pernah menjadi titik pertemuan para pelindung naga masa lalu.
“Aliansi Langit Timur akan mengawasi kita,” kata Yufei sambil menatap awan. “Tapi tempat ini masih aman. Di sinilah ayahmu menyembunyikan banyak rahasia.”
Lin Xieng tak menjawab. Di pikirannya, wajah Lin Zhan muncul berulang—tak pernah benar-benar hadir dalam hidupnya, tapi jejak kekuatannya terasa di mana-mana.
“Ibu,” katanya pelan, “ayah… dia bagian dari Aliansi itu, bukan?”
Yufei mengangguk. “Tapi juga lebih dari itu. Ayahmu pernah memimpin perlawanan terhadap Tujuh Bayangan sebelum kau lahir. Ia tahu terlalu banyak, dan karena itu… ia menghilang.”
**
Di tempat lain, di dalam Sekte Gunung Darah—salah satu dari Tiga Sekte Besar lainnya—makhluk berjubah hitam muncul di balik altar suci, membawa gulungan yang memancarkan energi kekosongan.
Pemimpin Sekte, Wan Lei, menyentuh gulungan itu dan merasakan gelombang kekuatan yang luar biasa.
“Dengan ini… kita bisa menggeser keseimbangan dunia. Kita tak perlu lagi menunggu ramalan para bintang,” katanya dengan suara bergetar.
Salah satu penatua sekte itu menyela, “Tapi bukankah ini kekuatan yang dicap sebagai kutukan para leluhur?”
“Tidak ada kutukan yang tidak bisa dijinakkan,” jawab Wan Lei dingin. “Dan jika Lin Xieng adalah musuh mereka, maka aku akan menjadi yang pertama menghancurkannya.”
**
Di balik gunung terpencil, Lin Xieng akhirnya tiba di Puncak Sunyi. Di sana, ia menemukan formasi cahaya yang membentuk ukiran naga purba. Yufei berdiri di dekat batu yang terpahat nama Lin Zhan.
“Di sinilah ayahmu mengunci sebagian kekuatannya… dan sebagian dari kebenaran,” ucap Yufei.
Ketika Lin Xieng menyentuh ukiran itu, ledakan cahaya menyebar. Dalam sekejap, pikirannya ditarik ke dunia ilusi—dunia yang memperlihatkan perang besar antara makhluk berjubah bayangan dan para leluhur naga.
Salah satu bayangan menyerupai wanita dengan mata merah darah, menatap ke arahnya dan berkata, “Kau… adalah warisan yang tak seharusnya ada.”
Lin Xieng terhempas mundur, napasnya berat.
“Dia sudah tahu,” bisik Yufei. “Yang Tak Bernama… sudah menyadari siapa dirimu sebenarnya.”
**
Kembali ke Sekte Langit Retak, pemimpin mereka akhirnya memutuskan.
“Kirim utusan ke Istana Bayangan. Kita akan buka jalur komunikasi. Tapi jika Lin Xieng menjadi ancaman, kita akan menghadapinya sebagai lawan.”
Dan demikian, benih kegelapan mulai tumbuh di dalam sekte-sekte besar. Kekuatan kuno mulai merayap ke dalam dunia terang. Dan Lin Xieng—di tengah semua ini—menyadari bahwa takdirnya tidak lagi bisa dihindari.
“Jika ayah benar-benar mengorbankan segalanya… maka aku tak boleh mundur,” gumamnya.
Dari balik awan, bayangan naga bermahkota menyala sesaat, seolah merestui langkahnya.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
narasi doang, membosankan