Pernikahan di atas penderitaan terjadi karena perjodohan yang sangat tidak kamu inginkan, namun karena kedua orang tua hanya bisa menerima takdir.
Perjodohan tidak selalu dalam masalah, terkadang salah satu di antara kedua pasangan memiliki perasaan dan simpati yang tidak bisa ia katakan, yang mana bisa membuat dirinya merasa dibakar api cemburu saat melihat pasangannya bertemu dengan teman yang tidak sejenis.
Rasa cemburu membuat seseorang melakukan hal yang tidak di inginkan pasangannya, walaupun dirinya sendiri tidak menginginkannya, namun karena api cemburu yang membakar akal sehatnya membuatnya melakukan hal yang harusnya ia tidak lakukan.
Wanita mana yang tidak sakit hati apabila anak di kandungannya tidak di akui oleh ayahnya sendiri.
"Dia bukan anakku, dia anak lelaki simpanan mu itu,!" teriaknya marah didepan ibu mertuanya.
Kecelakaan terjadi begitu saja karena kelalaian diri sendiri, koma selama beberapa tahun. hingga pada saat sadar semuanya seakan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thalib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rela di tampar demi kesalahan
Satya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, didalam selimut dia beberapa kali memegang pipinya yang panas karena tamparan, dia hanya menahan rasa sakitnya karena tidak ingin memperlihatkan kelemahannya pada lawannya, dia bisa saja menampar balik wajah Keisya namun dirinya sadar jika membiarkan Keisya menamparnya adalah hal yang bagus, untuk membuatnya sedikit tidak merasa bersalah lagi padanya.
“Tamparannya lebih sakit daripada tinjunya.” Gumam Satya.
Pagi hari Satya sudah bangun dari tempat tidurnya, dia menoleh ke arah sofa dan hanya melihat banyak dan selimut yang disusun dengan rapi disana, dengan wajah masih sedikit ngantuk ia turun dari tempat tidur dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Satya tanpa sarapan langsung berangkat ke kantornya, Ibunya juga mengabaikan karena tau jika putranya sudah dewasa, sudah bisa melihat sesuatu yang begar dan salah.
Yudha menatap Satya dengan wajah kebingungan, namun ia tidak ingin membahasnya, hanya diam dan mengabaikan Satya.
Didalam ruangannya Satya fokus dengan dokumen di mejanya, Yudha duduk didepannya yang sedari tadi melihat wajah Satya, Satya yang menyadarinya menatap kesal Yudha.
“Aku masih normal, jangan menatapku seperti itu,” ucap kesal Satya.
“Hahaha aku juga normal, lobang aja yang masih belum dapat,” ucap jelas Yudha.
“Kenapa kau menatapku dengan tatapan mesum mu itu,?” tanya Satya.
“Dih, aku katakan lagi jika aku normal,” ucap kesal Yudha.
“Keluarlah jika ingin menghambatku,” ucap Satya kembali membaca dokumennya.
“Wajahmu habis dipukul siapa? Perasaan tadi malam aku mengantarmu dengan selamat sampai tujuan,?” tanya Yudha dengan sangat penasaran, Satya refleks menaruh dokumennya dan mengambil ponselnya, membuka kamera handphonenya dan melihat ada bekas biru di pipinya. Satya membulatkan matanya sempurna, dia tidak memperhatikan hal ini tadi pagi.
“Siapa yang berani memukulmu,?” tanya Yudha lagi semakin penasaran dengan ekspresi yang di tunjukkan oleh Satya yang terlihat panik.
“Tidak, hanya jatuh,” saut Satya singkat dan mengambil dokumennya.
“Kenapa kamu menyembunyikannya? Aku sudah melihatnya dari tadi,” ucap Yudha.
“Apa yang kau katakan, aku membaca dokumen.” Ucap Satya.
“tuan mudah sudah bisa membaca tulisan terbalik? Kenapa melakukan hal yang sulit jika ada yang mudah Tuan, balik saja dokumennya biar bisa membacanya tanpa terbalik,” ucap Yudha menahan tawanya, Satya terbatuk pelan dan memutar dokumennya.
“Keluarlah, aku ingin fokus,!” pinta Satya.
“Katakan dulu, siapa yang memukulmu? Tidak mungkin jatuh, itu alasan yang konyol,” ucap Yudha.
“Aku sudah mengatakan jika ini jatuh dan terbentur di sudut meja,” ucap Satya kesal.
“Baiklah, aku akan menelfon Ibu dan Nona untuk memastikannya,” ucap Yudha membuat Satya menaruh dokumennya dengan kesal.
“Lakukanlah pekerjaan mu dengan benar, jangan mengurusi urusan orang lain, apa sampai disini paham?” ucap Satya.
“Tidak, ini juga masalah pekerjaan ku, melindungimu, aku sudah kecolongan hingga membuat wajahmu yang dingin itu lebam,” ucap Yudha.
“Dari mana kau dapat nomor wanita bodoh itu,?” tanya Satya karena jujur dirinya saja tidak mempunyai nomor Keisya.
“Jelas saya punya, nanti kalau Tuan meninggalkannya kan kasihan, sudah jelas tujuanku ingin menggantikan mu, ini tanggung jawabku juga sebagai bawahanmu, bertanggung jawab dengan tugas yang tidak mampu Tuan lakukan,” ucap Yudha membuat Satya melemparnya dengan dokumen.
“Woi...! Ini dokumen penting,” ucap kesal Yudha mengambilnya dari lantai dan meletakkan kembali ke meja.
“Jangan berharap, aku tidak akan membiarkanmu,” ucap Satya membuat Yudha tertawa.
“Apa kamu menyukainya Tuan,?” tanya Yudha cekikikan.
“Hah? Tentu saja tidak,” ucap Satya dengan wajah penuh percaya diri.
“Baguslah, aku menyukainya, jadi aku sudah ada dasar untuk mengambilnya,” ucap Yudha menatap santai Satya yang sudah menatapnya kesal.
“Aku tidak akan membiarkan wanita bodoh itu berhubungan lagi dengan bawahanku, itu akan mempengaruhi reputasi,” ucap Satya.
“Banyak sekali alasan mu Tuan, tidak kah kau membagi sedikit alasan mu itu,?” ucap Yudha.
“Keluarrrrrrrr....!” teriak Satya kesal.
“Wajahmu pasti habis dipukul Nona, aku sudah membaca data dirinya dari kecil sampai sekarang hahahaha “ ucap Yudha tertawa berbahak-bahak.
“Wanita bodoh itu memukulku? Dari mana kepercayaan dirimu? Dia hanya wanita bodoh yang lemah, aku bisa kapan saja menghabisinya jika berbuat salah, dan tentu saja dia tidak mungkin berani menyinggung ku apalagi memukulku,” ucap Satya.
“Aku yakin, Nona adalah atlet bela diri dari kecil, bahkan sangat mempunyai reputasi yang baik pada olahraga bela diri,” ucap Yudha.
“Pantas saja dia sangat enteng memukul,” gumam Satya.
“Keluarlah, pekerjaan ku tidak akan selesai jika kau disini mengoceh,” ucap Satya membuat Yudha berdiri.
“Kabari saja kapan kamu menceraikannya, aku menunggu masa jandanya,” ucap Yudha dan berlari pergi.
JANGAN LUPA
Like
Komen
Supportnya teman-teman
@Pena_tak_bertinta_23