"Alzena Morgan" terpaksa harus meningal kan kekasih nya karena di paksa sang papa untuk menikah dengan laki-laki pilihan papa nya.
Sempat memberontak dan ingin kabur namun gagal karena di ancam oleh sang papa.
"Menikah lah dengan putri ku, hanya kau yang bisa aku percaya untuk memiliki nya" ucap tuan Morgan kepada Gara.
"Apa? Om, apa aku tidak salah dengar?" tanya Gara kaget sekaligus bingung.
"Hanya kau yang akan mencintai nya dengan tulus dan bukan karena dia pewaris tunggal kelaurga kami," ...
"Elgara Aidenio" seorang CEO di perusahaan xx grup, yang kerap di panggil tuan muda Gara pemilik perusahaan terbesar di kota x, ayah nya adalah sahabat dekat tuan Morgan, namun ayah nya Elgara Aidenio sudah lama meningal.
Bagaimana kah kisah rumah tangga Alzena selanjutnya dengan suami pilihan sang papa? Ayo ikuti kisah "Suami Pilihan Papaku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #13
"aku ke kamar dulu," ucap Gara yang wajah, nya sudah mulai sedikit aneh, dia juga beberapa kali memegang kepala dan merasa pusing.
"Ada apa dengan nya?" ucap Alzena melihat Gara yang meningal kan piring nya yang masih banyak tersisa makan, dia malah pergi ke kamar, hal ini membuat Alzena kebingungan.
"Nona, maaf tapi sebenarnya tuan muda ... Tuan muda alergi terhadap udang," ucap Farel yang mau tidak mau akhirnya mengatakan itu kepada Alzena, karena dia khawatir jika terjadi sesuatu dengan Gara.
"Apa? Alergi udang? Mengapa kau tidak bicara dari tadi?" kaget Alzena yang kemudian berdiri dari duduknya dan bergegas menyusul Gara.
Alzena menaiki tangga menuju lantai atas villa, untuk melihat Gara di kamar nya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Beberapa kali Alzena mengetuk pintu kamar tersebut dengan perasaan campur aduk, dia khawatir jika Gara pingsan atau bahkan hal buruk lainnya akan terjadi kepada Gara.
Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar tersebut, hal ini semakin membuat Alzena deg-degan.
Dia pun akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar tersebut karena pintu nya itu tidak di kunci.
Terlihat Gara yang sedang melepas baju nya, banyak bintik-bintik merah di punggung dan dada nya.
"Apa ya g kau lakukan?" tanya Alzena kaget dan reflek menutup mata.
"Mengapa kau kemari?" tanya Gara menghampiri Alzena.
Gara saat ini hanya mengunakan celana panjang saja, sementara kemeja nya sudah lepas.
"Aku, aku tidak tau, Farel bilang kau alergi udang, jadi aku ke sini untuk melihat," jelas Alzena yang masih menutupi wajah nya dengan kedua tangan.
_"Farel bodoh, mengapa dia mengatakan nya,dan membuat Alzena khawatir," batin Gara kesal_
"Kau menghawatirkan aku?" tanya Gara lagi sambil membuka tangan yang menutupi wajah Alzena.
"A ... Aku ... Aku tidak khawatir,"jawab Alzena sambil menatap wajah Gara yang kini memerah seperti udang rebus saja.
"Lalu kenapa kau ke sini? Bukan kah kau masih makan?" tanya Gara yang kembali membuka Alzena tidak bisa menjawab nya.
Alzena pun terdiam, dia bingung harus jawab apa, di bilang khawatir pun dia tidak tau, yang jelas perasaan aneh ini dia tidak bisa menjelaskan nya.
"Keluar lah, aku tidak apa-apa," ucap Gara yang kemudian berjalan ke arah kasur dan kemudian duduk sambil menggaruk-garuk tangan nya.
Alzena yang melihat itu jadi tidak tega, semua ini terjadi karena dia, dia yang sudah meminta bibi pelayan masak udang sehingga Gara terpaksa memakan nya.
Bukan nya keluar, Alzena malah berjalan lalu mengambil tas nya, dan kemudian pergi menghampiri Gara.
"Apa?" tanya Gara melihat Alzena dengan kebingungan.
Alzena masih belum menjawab nya, dia membuka tas kecil itu lalu mencari-cari sesuatu.
Tidak lama kemudian dia mengeluarkan kotak kecil berwarna putih dan membuka nya, di dalam kotak tersebut, terlihat sebuah salep kecil yang masih baru sekali belum di buka sama sekali.
"Apa ini?" tanya Gara yang melihat salep tersebut.
Alzena membuka nya dan kemudian memberikan salep tersebut kepada Gara.
"Ini salep, apa kau tidak mengenali nya? Apa kau tidak pernah mengunakan ini saat kau alergi? Ini adalah salep khusus yang di beli papa ku dari luar negeri, karena aku juga punya alergi, ini pakai lah," ucap Alzena memberikan nya kepada Gara.
Namun yang di perhatikan Gara bukan lah salep tersebut melainkan bibir Alzena yang bergerak mengemaskan saat menjelaskan kegunaan salap tersebut.
Melihat Gara yang diam sambil menatap nya, Alzena pun mulai risih dan kesal karena ucapan nya tidak di gubris Gara sedikit pun.
"Apa kau tidak mendengar ku?" tanya Alzena lagi sambil melambai-lambaikan tangannya ke hadapan Gara.
"Eh ... Em ... Em iya, bagaimana cara aku menaruhnya? Bagaimana jika kau saja yang mengoleskan nya, mulai dari punggung, ini sangat gatal," ucap Gara saat setelah ia sadar dari lamunannya.
"Apa? Aku? Tidak, aku masih ada pekerjaan kau sendiri saja, masih untung aku bersedia membagi miliku dengan mu, aku hanya tidak ingin aku dapat masalah karena sudah memberikan kau makan udang," ucap Alzena menjauhi Gara yang semakin lama semakin mendekati nya.
Mereka ini duduk berdampingan di tepi ranjang, sangking tidak mau berdekatan dengan Gara, Alzena hampir saja jatuh ke bawah karena terus menjaga jarak.
"Ayo lah, jika kau bertanggung jawab, aku janji tidak akan mempermasalahkan hal ini kepada papa mu, karena kau sudah hampir membunuh ku dengan memberiku makan udang," oceh Gara memanfaatkan kesempatan dalam kesulitan.
"Apa? Kau mengancam ku? Mengapa kau harus mengadu? Itu kan papa ku, bukan papa mu,apa kau sudah gila?" tanya Alzena terlihat marah menatap Gara dengan tatapan tajam.
"Haha, papa mu menginginkan mu menjadi istri yang baik, yang selalu melayani suami dengan baik, seperti almarhum mama mu, dia selalu mengingat itu kepada mu bukan? Jika dia tau selama pernikahan kau masih membantah, melawan dan memaki-maki aku, apa dia tidak akan kecewa dengan itu?" ucap Gara dengan sengaja.
_"Gara sialan, dia selalu mengancam ku dengan hal-hal seperti ini, karena dia tau aku tidak akan pernah bisa melawan papa," batin Alzena yang kesal atas ulah suami nya._
"Mengapa diam? Ayo cepat," ucap Gara yang kemudian memunggungi Alzena agar Alzena segera mengoleskan salep tersebut ke punggung nya yang kini keluar bintik-bintik merah semakin banyak.
Mau tidak mau Alzena pun akhirnya pasrah dan melakukan apa yang di minta oleh Gara.
Ia menatap punggung kekar serta mulus milik Gara yang kini banyak bintik-bintik merah.
_"Punggung nya saja sangat putih," batin Alzena lagi_
"Cepat lah," ucap Gara tidak sabar.
Jujur saja, saat ini tangan Alzena gemetar, ingin menyentuh punggung laki-laki yang membuat nya takut itu.
"Seharusnya aku tidak melihat ini, mata ku sudah ternodai," ucap nya pelan.
Namun Gara masih bisa mendengar nya sehingga ia jadi tersenyum meski Alzena tidak melihat nya.
Perlahan Gara merasakan tangan lembut itu menyentuh kulit punggung nya, rasanya cukup nyaman, salep itu juga dingin sekali, Gara yang merasa gatal dan kepanasan pun seketika jadi nyaman di buat nya.
"Ke bawah sedikit, semua nya," ucap Gara.
"Tidak mau, kau bisa menyapu nya sendiri jika di bawah," ucap Alzena panas dingin menyentuh punggung Gara.
"Bisa kah kau mengoleskan sambil menggaruk? Gatal sekali," rengek Gara manja.
"Jangan manja," ucap Alzena ketus.
"Ingat, aku seperti ini juga gara-gara kau, jadi patuh saja."
Alzena menahan rasa kesal nya dan kemudian kembali mengoleskan ke bagian pinggang Gara, rasanya cukup cangung dan deg-degan, tapi ya mau bagaimana lagi, ucapan gara adalah perintah dan ini menyangkut kehidupan nya.
Bersambung ....
penasaran ni...lanjut thorrr