Berawal dari pertemuan yang tak sengaja di masa kecil, ternyata meninggalkan dampak besar bagi seorang pria tampan bernama Rengra.
Ia tak pernah menyangka, keputusannya untuk kabur demi menjauh dari hiruk pikuk masalah keluarga setelah kedua orang tuanya meninggal, justru mempertemukannya dengan Laura.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi? Akankah pertemuan itu benar-benar mengubah cara pandang Rengra terhadap seorang wanita?
Mari simak kisah mereka dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab ~ 13
Mereka bertiga telah sampai pada tujuannya. Ternyata banyak anak-anak seusianya dan sudah ada juga yang mulai dewasa, mandi di sana. Renggra menjadi enggan untuk mandi. Selain malu, ia juga tidak nyaman mandi di alam terbuka tanpa sekat dan penutup.
"Ayo Kak mandi," ajak Laura.
Alis Renggra meninggi. "Ka-kau duluan aja. A-aku mau menurunkan keringat dulu," balasnya yang mencari cara agar ada tempat yang cocok untuknya membersihkan tubuh.
Laura tetap pada wajah manisnya. Ia tak berhenti-henti tersenyum melihat Renggra. "Iya sudah, aku duluan ya Kak—ayo Buk!" Laura menarik tangan Amina.
"Jangan terlalu lama Nak, nanti keburu malam," ucap Amina ke Renggra.
Renggra mengangguk pelan tanpa menjawab. Sedangkan Amina dan Laura mulai menjauhinya.
Suasana di sekitar pria itu cukup membuatnya bernapas lega. Ternyata ada tempat yang membuat pandangan begitu luas. Angin sejuk saja sampai meniup rambut hitam nan lebat miliknya.
Tatapan pria itu terpaku saat ada pria muda yang terlihat seusianya sedang memancing ikan di tepi danau. Pria itu tak begitu lama mendapatkan ikan yang cukup besar.
Renggra tersentak, tanpa butuh waktu lama kakinya melangkah begitu cepat untuk menghampiri pria yang sedang memancing itu. "Wah... Hebat banget Kau bisa mendapatkan ikan besar kayak begini," serunya. Ia pertama kali melihat kepandaian seorang pria seusianya bisa memancing ikan besar.
Pria muda itu melihat ke Renggra saat mendengar suara pekikan orang yang pertama kali melihatnya memancing ikan. Jika itu anak panti asuhan, tidak seperti itu nadanya.
"Ini sudah menjadi pekerjaan kami," balas pria itu. Ia tidak pernah melihat wajah pria di sampingnya. "Kau orang baru dari panti asuhan ya?" tanyanya sembari mengeluarkan mata pancing di dalam mulut ikan.
Renggra terdiam, bingung harus berkata apa. Jujur atau kebohongan kali ini yang harus ia ucapkan. Namun ia tidak mau orang lain mengetahuinya. "Namaku Renggra! A-aku main dan lupa jalan. Ma-makanya tersesat. Bi-bingung dengan jalan pulang, ja-jadinya tertidur di bawah pohon. Ba-bangun su-sudah berada di panti asuhan."
Detak jantungnya berdebar begitu hebat. Ia sampai berbicara terus-menerus gagap saat ia harus berbohong. Ia sangat takut kebohongan yang diperbuatnya itu ketahuan oleh orang lain. "Ka-kalau Kau se-sendiri siapa namamu? Apa Ka-kau anak panti asuhan juga?"
Pria muda itu menjadi heran saat Renggra terlihat gagap untuk berbicara dengannya. "Kau kalau ngomong denganku, santai aja kali. Jangan gugup kayak begitu." ia pun terdiam sebentar. "Atau Kau memang kayak begitu kalau sedang ngomong?"
Renggra menggeleng cepat, ia hanya takut saja kebohongannya terbongkar. Pria itu tidak pernah seperti itu. Ia bahkan bisa menggunakan berbagai bahasa di usianya saat ini. Ucapannya saja sangat bagus dan terang dalam berbicara. Beda hal jika ia sedang gugup. Suaranya terasa seperti tercekat di tenggorokan.
Pria muda di hadapan Renggra menjadi bingung sendiri. "Oh mungkin Kau gugup aja saat ngomong sama orang baru!"
Renggra langsung mengangguk cepat. Itu lebih baik menjadi alasan yang tepat untuknya.
Pria di hadapan Renggra telah berhasil melepaskan mata pancingnya, dan meletakkan ikan di dalam wadah yang terbuat dari bambu. "Lain kali santai aja. Apalagi kalau ngomong denganku. Oh iya, Angga Gunawan, itu namaku. Aku tinggal bersama dengan warga di sini. Itu di sana rumahku," Angga menunjuk rumah kayu yang tidak jauh dari danau.
Renggra pun melihat tempat tinggal Angga. Ternyata bentuknya sama seperti panti asuhan. "Oh keluargamu tinggal di sana?"
Raut wajah pria muda itu berubah menjadi tak baik-baik saja. Angga meletakkan pancingnya di sisi samping dengan duduk berasal sandal plastik miliknya. "Iya, mereka keluargaku sekarang," jawabnya dengan wajah yang terlihat sedih di campur bahagia.
Alis Renggra mengerut. "Kok sekarang sih?" tanyanya sambil duduk berjongkok di sebelah Angga.
Angga memberikan satu sendalnya. "Duduklah yang benar. Nanti Kau ambeien lagi." sempatnya ia bergurau. Bukan tak pegal duduk berjongkok seperti yang Renggra lakukan.
Renggra menjadi tersenyum tipis. Ia menggunakan sepatu, jadinya malas untuk melepaskan sepatunya yang harus di ikat ulang jika melepaskannya. Tadi Amina sudah menawarkan untuk menggunakan sendal anak panti seusinya. Berhubung ukurannya tidak masuk, jadi Renggra menggunakan sepatunya saja.
Angga tersenyum tipis. Pria di sisi sampingnya terlihat bukan dari kalangan rakyat biasa. Ia pun berusaha menepis pikirannya yang membeda-bedakan itu. Mau kaya atau pun miskin, mereka tetaplah manusia biasa.
Pandangannya ia lemparkan di seluruh danau itu. "Kedua orang tuaku sudah meninggal akibat longsor di bawah bukit itu." Angga menunjuk sebuah tanjakan tinggi yang mengarah ke bukit yang tak jauh dari mereka.
"Rumah kami di sana dulunya. Tapi semenjak kejadian itu, kami pada pindah ke sini." mulai kedua mata pria itu berembun. "Banyak yang meninggal akibat musibah itu. Hampir separuh keluargaku meninggal dunia termasuk adik dan kedua orang tuaku." Angga mengusap air matanya. Ia berusaha untuk tidak menangis lagi.
"Sisa keluargaku yang lainnya nggak mau mengajakku dengan alasan mereka masih banyak tanggungan. Mungkin mereka takut aku menyusahkan mereka. Jadinya aku di titipkan sama orang yang mau menampungku. Sudah jelas aku harus membantu dan bekerja dengan mereka. Nggak mungkinlah aku hanya numpang makan aja," jelas Angga tentang kondisinya. Ia berusaha tersenyum riang dan menerima apapun yang telah terjadi.
Renggra menjadi lemas. Kehidupan pria di sampingnya ternyata cukup menyedihkan juga. Di usianya yang sama-sama muda dan berbanding terbalik.
Angga telah bekerja keras untuk memperjuangkan hidupnya. Sedangkan Renggra apa? Hanya menjadi beban bagi orang lain. Bukannya ia harus sadar diri soal ini.
Untuk apa ia kabur? Jika kabur bisa membuatnya bahagia, apakah Renggra bisa mencari makan untuk dirinya sendiri? Sedangkan mandi di alam terbuka bahkan terbaring dan duduk di kamar yang lusuh baginya saja, ia tidak bisa dan tidak tahan. Sepertinya pria tampan itu harus kembali pada posisinya. Masih ada ibu asuhnya di rumah yang sedang menunggunya.
Apapun maunya, masih bisa ia dapatkan. Jika ia kabur juga, bagaimana dengan adiknya? Bagaimana dengan penerus keluarga besarnya? Sedangkan ketika almarhum ayahnya masih hidup, pria itu sempat berkata, bahwa Renggra yang akan menjadi pemimpin dan penerus milik keluarganya. Jika itu adiknya yang secara paksa melakukan, Renggra tidak mau adiknya menjadi dewasa sebelum waktunya.
Lebih baik ia saja yang menanggung semua itu. Ia harus pulang ke rumah. Kebahagiaan dan hal lainnya tak terpikirkan oleh Renggra kecuali, kebahagiaan adik kandung satu-satunya yang ia miliki.
Mungkin sekarang adiknya dalam kondisi yang sama dengannya. Renggra ingin pulang dan menemui adiknya yang masih dalam perjalanan menuju negeri ini. Adiknya bersekolah di negara Amerika. Sebelum adiknya sampai, ia harus ada di rumah.
Akan tetapi, Renggra memperhatikan Angga. Pria di sampingnya tampak sekali merenungi nasibnya. Renggra pun mempunyai sebuah ide. "Apa Kau mau ikut ke rumahku?" tanyanya yang ingin menambah anggota baru di rumah itu.
Angga juga sepertinya bisa menjadi temannya di rumah. Bertukar nasib dan bercerita, keduanya bisa menjalankan hidup yang semestinya mereka jalani.
Angga sontak saja tertawa kecil. "Enggak ah, aku nggak mau merepotkanmu dan keluargamu, Reng," tolaknya.
Renggra mengerutkan kedua alisnya. "Aku juga sama kayak Kau sekarang ini. Bedanya hanya aku masih memiliki keluarga dan kedua orang tuaku sudah meninggal karena kecelakaan dan terkena serangan jantung. Keluarga besarku aja hanya ibu asuh dan adikku. Sisanya aku nggak tau yang mana keluargaku," jelas Renggra secara spontan.
Tampaknya ia sangat antusias ingin Angga ikut dengannya. Makanya Renggra tanpa berpikir panjang menceritakan kondisinya.
"Ma-malam tadi, kedua orang tuaku meninggal. Lalu pagi tadi baru aja di makamkan. Aku sebenarnya nggak mau pulang ke rumah dan kabur. Bodohnya aku nggak berpikir panjang sebelum kabur. Main lari aja. Jadinya aku tersesat di tengah hutan. Semoga Kau dapat merahasiakan ini dari ibu Amina, Laura, dan siapapun itu."
Angga tak dapat mengeluarkan satu kata pun untuk sementara ini. Ia tak tahu harus percaya atau tidaknya dengan cerita Renggra. Namun, saat memperhatikan raut wajah pria di sampingnya itu, sepertinya hal itu benar terjadi.
Apa yang ia rasakan dulu dan sampai saat ini, tampaknya sedang di rasakan oleh pria di sampingnya itu. "Kalau begitu sih, aku mau-mau aja ikut bersamamu Reng. Tapi nggak semudah itu juga kali. Bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka menerimaku? Jika nggak bisa, biarkan aku tinggal di sini. Lagian juga aku nggak mungkin menumpang aja. Aku harus membantu dan bekerja pastinya. Kayak di sinilah, nggak jauh-jauh begitu pekerjaannya." sebelum semua terjadi Angga tidak mau menambah sulit pria di sampingnya itu.
Renggra mendengar persetujuan Angga hatinya merasa sangat bahagia. "Aku yakin mereka akan setuju. Jika nggak, biarlah aku di sini bersamamu.” jawab Renggra dengan memaksa. "Kau mulai sekarang aku jadikan sekretarisku, serta sahabat baikku. Nih ku aktifkan sinyal di sepatuku." Renggra menekan tombol di sepatunya agar para pegawai dapat menemukannya.
Saat Renggra hendak kabur, ia sengaja mematikan sinyal tersebut. Alat itu sengaja di pasang agar bisa di temukan saat ia menghilang. Di luaran sana banyak orang yang berniat jahat dengan alih menculik dan menjadikannya tawanan untuk meminta uang tebusan sebagai penawaran.
"Kita tunggu aja mereka menjemput, setelah mereka menemukanku dan mengajakku pulang, Kau harus ikut bersamaku."
Angga tertawa kecil mendengar sesuatu yang tidak masuk di akal baginya. "Apa Kau anak orang kaya atau Kau sedang mempermainkan ku?" tanyanya.
Angga sudah menembak di awal pertemuan mereka. Pria di sampingnya memang bukan orang sembarangan. Yang tidak ingin Angga percayai adalah, Renggra berkata seolah-olah ia seperti menjadikan Angga seorang yang berpangkat tinggi.
Gigi putihnya terlihat rapi dan sempurna. Menertawakan Renggra yang sedang mempermainkannya.
Renggra mengerutkan kedua alisnya kembali. "Aku nggak berbohong padamu. Aku berani sumpah demi apapun," ucapnya meyakinkan bahwa ia tidak berbohong kali ini.
Angga melihat wajah Renggra tidak begitu senang dan mencoba meyakinkan, ia mengangguk pelan saja. "Iya-iya, aku percaya kok." lebih baik ia ikuti dulu permintaan pria di sampingnya. Bagaimana nantinya ia terima. Lagian Angga tak yakin bahwa keluarga besar Renggra menerimanya.