Ria seorang gadis berdarah Aceh yang berasal dari keluarga sederhana. Saat duduk di SMP ia menemukan cinta pertamanya.
Di masa SMA Ria membentuk sebuah persahabatan antara dua perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki tersebut berasal dari keluarga yang kaya raya, diam-diam laki-laki ini mulai jatuh cinta kepadanya. Bahkan, ketika Ria mendapatkan beasiswa kuliah ke Jakarta ia selalu mengikuti kemana Ria pergi.
BUGH...
Ria terjatuh di kamar kosnya.
Apa yang terjadi dengan Ria?
Siapakah yang akan menjadi belahan jiwanya?
Cinta pertama atau sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farida Ariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 Village
Kami berjalan menyusuri kebun yang sangat indah. Di kebun itu terdapat pohon-pohon besar. Disebelah kiri dan kanan Kami banyak pohon mangga. Dimana-mana ada pohon mangga. Dan yang membuat Kami berdecak kagum, hampir di setiap pohon pasti ada buah yang sangat banyak.
Tetapi, sayangnya buah itu tinggi-tinggi letaknya. Dikarenakan pohonnya memang sangat besar dan tinggi-tinggi pula.
Kami hanya melaluinya saja.
"Nanti saja kita petik buahnya, ayo ikut Kami". Kata Jannah mengajak Aku, Kakak dan Adik.
Sampailah Kami disebuah sungai. Sungai itu tidak terlalu lebar, lebarnya hanya empat meter saja.
"Ayo kita berenang,,". Ajak Imah.
"Kami tidak bisa berenang". Jawab Kakak.
"Airnya tidak dalam kok". Ucap Jannah sambil masuk kedalam sungai.
Ternyata benar, airnya tidak dalam hanya sepinggang Kami. Lalu, Kami semua masuk perlahan-lahan kedalam sungai.
"Tapi kalian jangan kesini ya, disini agak dalam hampir setelinga Aku airnya". Jelas Imah.
Zuhra, Imah dan Jannah sangat mahir berenang. Sedangkan Kami tidak.
Pukul 16.30
Setelah Asyik berenang, Kami naik ke daratan. Lalu Kami berjalan menyusuri jalan pergi tadi. Kami meletakkan kebun pohon mangga tadi.
Tiba-tiba, Imah melempar buah mangga dengan cabang pohon yang ada diatas rumput.
Sentak Kami kaget.
"Eh.. Tidak boleh, kalau pemiliknya tahu.. Habislah Kita ". Kataku sambil memegang kepala.
"Tenang Kak Ria, pohon-pohon mangga ini tidak ada pemiliknya. Jadi Kita bebas mengambilnya". Jelas Dek Zuhra kepada Kami.
Lalu Kami bersemangat memetik mangga dengan melempar buahnya.
Setelah puas memetik buah mangga, Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah.
Segera Kami mandi dengan baju yang sudah basah tadi akibat mandi sungai. Lalu Kami mengganti pakaian. Selesai Shalat Ashar, Aku duduk kembali di halaman sambil mengupas mangga yang Kami bawa pulang tadi. Kami makan bersama Ibu, Bapak dan Nenek.
Zuhra, Imah dan Jannah sudah pulang kerumah mereka masing-masing.
Suara azanpun berkumandang. Kami siap melaksanakan shalat magrib berjamaah di Masjid.
Itulah keseharian Kami selama dikampung. Disana Kami menginap hampir 10 hari.
Seru banget ya Sahabat???
Saat jalan pulang menuju Banda Aceh, Aku tertidur didalam Bis. Begitu pula dengan Ibu dan Kakak. Kami berangkat dari Sigli tepat pukul 15.00.
Syukur Alhamdulillah, saat suara azan magrib, Kami sudah tiba di rumah, begitu juga dengan Bapak dan Adik yang pulang dengan motor.
Malampun semakin larut, Kami beristirahat untuk dan tidur membuang keletihan juga mencoba menyimpan memori yang indah selama dikampung.
Beberapa hari lagi sekolah akan di mulai. Tahun ajaran baru sudah di depan mata.
Pagi ini Ibu dan Bapak pergi ke pasar berdua.
Sepulang dari pasar, Ibu menenteng sebuah plastik besar dan ternyata isinya adalah buku-buku dan peralatan sekolah untuk kami anak-anaknya.
Aku, Kakak, dan Adik sangat bersemangat melihat isi plastik itu dan berebut memilih dan mengambil buku dan alat tulis sesuai kebutuhan masing-masing.
Setelah puas mengambil buku dan alat tulis. Kami simpan di tempat buku yang ada di dalam kamar.
Beberapa hari kemudian
Hari ini Aku, Kakak dan Adik bangun pagi-pagi sekali. Selesai berpakaian dengan rapi, Kami sarapan bersama-sama di meja makan. Selesai sarapan Kami berpamitan pada Ibu dan segera Ku kayuh sepedaku dengan cepat Ku jemput Liani.
Langit masih gelap, baru jam 06.30. Sengaja Aku dan Liani pergi cepat kesekolah supaya bisa memilih tempat duduk paling depan agar bisa melihat guru dari dekat. Dari kelas 1 sampai kelas 3, Aku selalu duduk sebangku dengan Liani dan pasti memilih bangku paling depan.
Sesampainya disekolah Aku langsung masuk dengan Liani ke kelas yang sudah tertempel nama Kami di pintu kelas 3.
Aku masuk kelas 3 inti 1. Ada nama Dayat disana, dan ternyata ada semua nama teman-temanku yang dulunya sekelas di kelas 2.
"Yes.. Kita semua sekelas lagi". Ucap Liani kegirangan.
"Hai....". Sapa seseorang dari belakang yang suaranya tidak asing di telingaku.
😁
suka banget sama karya kaka
salam dari *make sure you love me*
karya baru kak..
Tentang Kenangan💙 disini
Salam dari ❤️Sepenggal Kisah di Negeri Jiran❤️
di tunggu feedbacnya.. 😊