Diusir dari rumah tak membuat Halley melemah. Justru sebaliknya, semenjak diangkat oleh sebuah keluarga kaya, gadis itu kini menjadi gadis lain yang sangat kuat, dingin, dan kejam apalagi sejak ia menjadi leader dari Black Devil. Dia menjadi BAD GIRL!
Lulus SMA, gadis yang mengubah nama menjadi Camilla itu malah mengulang sekolah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan sahabat kecil, keluarga kandungnya, sekaligus musuhnya. Tak lepas dari itu, hadirlah seorang ketua OSIS tampan yang sangat Camilla benci nyatanya berhasil mengubah kehidupan gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara Tania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengusir Halley.
Pagi harinya.
"Vera, ayo kita ke ruang keluarga. Halley ada di sana, supaya kita bisa bermaafan." Kata Harchan pada Vera.
Mereka berjalan ke ruang keluarga, disusul oleh James dan Caitlin. Sesampainya di sana, dilihatnya Halley masih terlelap, dengan posisi tidur yang tidak beraturan.
Dengan perasaan kesal, James membangunkan adiknya itu, "Hey! Bangun!" Katanya dengan alis yang menyatu. James menepuk pipi adiknya berulang kali.
Merasa pipinya sakit, Perlahan Halley membuka matanya. Dilihatnya ada dua nenek lampir dengan James dan Harchan. Alis Halley menyatu ketika mengingat kembali percakapan dua nenek lampir.
"Ada apa ini?!" Tanya Halley ketus.
"Bicara yang sopan! Semalam kau berbuat sangat kasar, Halley!" Kata Papa Harchan dengan nada yang cukup tinggi. Halley hanya menatap Papanya datar.
"Cepat minta maaf ke mereka!" Perintah Papa Harchan.
Halley menatap Vera dan Caitlin bergantian, lalu memutar bola matanya malas. Tidak sudi Halley meminta maaf pada orang yang telah membunuh Kakek Neneknya. Halley berjalan ke lift, ingin ke kamarnya.
"Halley, kau mau kemana? Tidak sopan!" Kata James.
"Mau mandi." Kata Halley dingin, ia tak menghentikan langkahnya sama sekali.
"Anak itu..." Papa Harchan geram.
"Biarkan saja, Harchan. Masih anak-anak, emosinya belum terkontrol." Kata Vera mengingatkan.
"Tapi mereka sudah melukai kalian." Kata Harchan tak enak hati pada Vera dan Caitlin yang notabenenya adalah tamu.
"Tidak apa, Om. Lagian kepala Caitlin sudah tidak pusing." Kata Caitlin tersenyum manis.
Mereka pun duduk di sofa dan berbincang-bincang sejenak. Tiba-tiba terdengar dering telepon dari handphone milik Halley. Vera tersenyum kecil mendengar dering telepon itu.
Karena jarak Papa Harchan dekat dengan handphone Halley, ia pun mengambilnya. Terlihat sebuah kontak bernama 'Mr.?' menelepon nomor Halley. Harchan pun mengangkatnya, tak sengaja ia memencet tombol loud speaker.
Harchan hendak menyapa terlebih dahulu, tapi orang di seberang telepon berkata duluan.
"Pagi Bos. Racun pada kopi dua orang itu sudah bekerja, Bos. Dan mayat Nyonya Zherra sudah saya buang ke danau buaya. Jangan lupa transfer uangnya ke rekening saya ya, Bos."
Semua orang yang ada di ruangan keluarga itu terbelalak, kaget dengan apa yang didengarnya. Mayat Nyonya Zherra? Bos? Transfer uangnya ke rekening saya? Itu berarti kan.... HALLEY!
Harchan yang sudah dipenuhi emosi itu hendak berbicara, tapi tiba-tiba orang yang diberi nama kontak 'Mr.?' itu memutuskan sambungan teleponnya mendadak.
Bertepatan dengan itu, Halley baru saja selesai mandi. Dengan langkah malas ia berjalan ke ruang keluarga.
"HALLEY!" Teriak Papa Harchan, dengan wajah berwarna merah padam saking marahnya, alisnya menyatu, tangannya mengepal kuat. Papa Harchan benar-benar emosi. Ia tidak peduli lagi bahwa Halley adalah anak kandungnya sendiri. Nyatanya dengan mata dan telinganya sendiri gadis kesayangannya itu terbukti adalah seorang pembunuh. Bahkan dengan teganya membunuh kedua orangtua Harchan dan istrinya sendiri.
"Apa?" Kata Halley malas mendekati Papanya. Entahlah, Halley jadi tidak suka dengan keluarganya semenjak kejadian semalam itu.
"Benar-benar pertunjukan yang menarik !" Batin Vera tersenyum kemenangan dalam hati, begitu juga Caitlin.
Sama halnya dengan James, ia juga dipenuhi emosi tatkala tadi mendengar Mayat Nyonya Zherra sudah saya buang di danau buaya.
Harchan langsung menampar pipi Halley hingga membuat gadis itu tersungkur di atas karpet. "PAPA!!" Teriak Halley kaget. "Apa yang Papa lakukan barusan? "
Harchan menjewer telinga Halley begitu keras hingga Halley begitu kesakitan dan terus mengaduh. "Papa, lepaskan, Papa!!"
"BERANI-BERANINYA KAU MENUDUH ORANG LAIN PEMBUNUH PADAHAL DIRIMU SENDIRI YANG MEMBUNUH KAKEK NENEK TERMASUK ZHERRA!!" Bentak Papa Harchan.
"Harchan cukup!" Vera memegang lengan Harchan untuk menenangkannya, tapi tangannya dihempaskan oleh Harchan, "JANGAN IKUT CAMPUR!!!"
"PAPA INI BICARA APA! TIDAK MUNGKIN HALLEY MELAKUKAN ITU PADA KAKEK NENEK APALAGI MAMA!" Kata Halley sambil menyeka air matanya yang mengalir deras.
"OMONG KOSONG! PAPA SUDAH MENDENGAR SEMUANYA DARI ORANG SURUHANMU ITU!" Teriak Papa Harchan lalu menghempaskan Halley hingga kembali tersungkur di karpet. Telinga Halley memerah, sangat merah, terlihat jelas, apalagi kulitnya putih.
"PAPA INI BICARA APA!! ORANG SURUHAN APAAN! YANG ADA ORANG SURUHANNYA DUA NENEK LAMPIR INI!" Teriak Halley menjelaskan kebenaran.
"JANGAN BERANI MENUDUH ORANG LAIN! PAPA SUDAH MENDENGAR SEMUANYA DARI ORANG SURUHANMU!"
"PERGI KAU DARI SINI! KAU BUKAN ANAKKU! DASAR PEMBUNUH! PERGI!" Bentak Papa Harchan sambil menunjuk ke pintu rumah. Pria itu benar-benar tak kuasa menahan amarahnya mengingat bahwa Halley adalah orang yang membunuh orangtuanya serta wanita tercintanya. Ia sangat yakin orang yang menelepon tadi adalah suruhan Halley. Tidak mungkin kan si penelepon salah sambung. Apalagi Halley menyimpan nomornya.
"BI DARSIH!" Teriak Papa Harchan memanggil kepala pelayan yang baru, Bi Jevy kan sudah dipecat, digantikan oleh para pelayan baru.
"Iya, Tuan." Suara Bi Darsih gemetar, ia mendengar percakapan majikannya sedari tadi. Bagaimana tidak dengar? Suara Papa Harchan bisa saja terdengar sampai lantai teratas di runah itu.
"Bantu pembunuh ini membereskan keperluannya untuk meninggalkan mansion ini. Tiga menit dari sekarang atau aku akan memecatmu!" Perintah Papa Harchan penuh penekanan.
Dengan berat hati, Bi Darsih membantu Halley berdiri dan membawanya ke kamarnya. Tapi sebelum itu Halley menghampiri kakaknya.
"Kak... Kakak percaya kan padaku kalau ini semua tidak benar. Dua nenek lampir itu, Kak, penyebab semua ini, bukan Halley..." Kata Halley dengan wajah yang berantakan, rambutnya acak-acakan, telinga kirinya merah, kedua sudut bibirnya berdarah.
Karena teringat perkataan 'Mr.?', James menjauhkan dirinya dari Halley, "Kakak kecewa padamu, Halley.." Ucapnya lirih namun terdengar oleh semuanya.
"Waktu sudah berjalan delapan detik, Bi Darsih!" Kata Papa Harchan mengingatkan dengan penekanan.
"Maaf, ayo Nona.." Bi Darsih memegang kedua bahu Halley, lalu membawanya ke kamar.
"Kak..." Dengan sangat, sangat, berat hati, Halley akhirnya berjalan ke kamarnya dituntun oleh Bu Darsih.
Sementara di ruang keluarga, Harchan memijat kasar pelipisnya. Kalimat 'Mr.?' itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Mayat Nyonya Zherra sudah saya buang ke danau buaya...
"Zherra...." Ucapnya lirih. Namun, terdengar di telinga Vera, Caitlin, dan James.
Vera mendekati Harchan sambil menundukkan kepalanya, "Kalau yang dikatakan orang tadi memang benar, kami turut berduka, Harchan." Vera mengelus pundak Harchan, pria yang mulai mengeluarkan air mata itu.
James duduk di samping Harchan, kepalanya disenderkan pada bahu Papanya, ia menangis, menangisi kematian ibunya yang belum terklarifikasi itu.
***
"BI Darsih! Bibi percaya kan pada Halley! Halley tidak mungkin melakukan semua ini, Bi. Bibi.... Halley tidak mungkin pergi dari rumah ini.." Kata Halley sambil terus menyeka air matanya yang kian menderas itu.
"Maafkan, Bibi, Halley. Tapi ini perintah Tuan. Bibi tidak bisa mengelak." Kata Bibi Darsih dengan mata yang berkaca-kaca, ia juga turut bersedih. Entah bersedih atas kematian istri majikannya, atau bersedih karena Halley yang akan meninggalkan rumah ini meski baru bekerja beberapa jam.
Bibi Darsih memasukkan sepatu pemberian James yang sangat besar ke dalam tas. Ia juga memasukkan salah satu kartu debit unlimited milik Halley, dan beberapa pakaian yang ringan. Sementara Halley hanya duduk di atas kasur, terus menangis.
Tiba-tiba Halley teringat sesuatu, surat teror! Ia segera mendekati laci meja dan mengambil surat teror itu. "Bi, lihat ini.. Ini aku dapatkan saat setelah acara ulangtahunku.. Ini pasti dari dua nenek lampir itu, Bi.. Lihatlah!!"
Halley menyodorkan amplop yang terdapat bercak merak itu. Bi Darsih mengernyitkan dahinya, hendak mengambil amplop itu. Tapi suara pria menghentikan gerakan tangannya.
"Satu menit sebelum kupecat, Bi Darsih!" Kata Papa Harchan yang tiba-tiba saja ada di pintu kamar. Matanya tertuju pada amplop yang dipegang Halley. Terlebih lagi ada bercak merah pada amplop itu, ia mengernyitkan dahinya.
Harchan segera mendekati Halley dan menyaut amplop itu dari tangan Halley. Matanya terbelalak kaget saat membaca kalimat teror dalam surat di dalamnya.
"HALLEY!" Tangan Harchan melayang ke pipi Halley yang basah karena air mata. Halley yang kesakitan ingin sekali berteriak, tapi tenaganya sia-sia karena rahangnya terasa sakit.
"JADI INI! PERSIAPANMU SEBELUM MEMBUNUH KAKEK NENEK DAN MAMAMU?! DASAR PEMBUNUH! CEPAT PERGI DARI SINI!" Bentak Harchan lagi, ia kembali emosi.
"Papa.. Aku mendapat surat itu setelah acara ulangtahun.." Kata Halley lirih menjelaskan kebenaran. Tapi sia-sia, Papanya tetap tidak percaya, apalagi setelah mendengar penuturan 'Mr.?'.
"TERSERAH KAU BICARA APA! CEPAT PERGI! KAU BUKAN ANAKKU!" Bentak Harchan. Ia mengambil tas ransel yang sudah disiapkan Bi Darsih seadanya, lalu dilemparnya ke Halley, membuat gadis itu tersungkur lagi. Ingin sekali Bi Darsih menolong gadis yang terkena fitnah itu, tapi apalah daya, ia tak bisa melawan majikan.
"CEPAT PERGI! SEBELUM AKU MELAKUKAN LEBIH!" Ancam Harchan, ia benar-benar muak dengan anak perempuannya itu.
Dengan langkah terseok-seok, Halley berjalan ke bawah, keluar rumah. Saat berpapasan dengan dua nenek lampir di ruang keluarga. Ia melirik mereka tajam dengan tatapan membunuh.
"Aku tidak tau pasti apa yang membuat Papa mengusirku. Tapi kupastikan kalian akan membayar perbuatan kalian ini! Aku akan membalas dendamku!" Kata Halley penuh penekanan. Vera hanya menatap sinis Halley. Caitlin cukup takut dengan ancaman Halley, tapi ia yakin Halley tidak akan berhasil, toh, sekarang Halley sudah tak lagi dianggap anak oleh Papanya.
Sedangkan sedari tadi James hanya diam saja, tidak percaya dengan perbuatan adiknya itu, dan masih belum percaya dengan kabar kematian ibunya yang belum terklarifikasi itu.
Halley berlari ke luar rumah. Ia berlari tanpa arah, tanpa tujuan.
.
.
.
Buat yg ga suka harchan dan perlakuannya dll. boleh langsung baca chapter 54, judulnya 'Perasaan Welly'.
btw novel ini dari imajinasi author semata, bukan kisah nyata. jadi, kalau ada yang diluar batas realitas mohon dimaklumi. kalau mau kritik, kalau bisa pakai saran. kalau ga bisa ngasih saran ya gak usah komen pedas.
thanks.
Tapi kalo Cam sama Welly ntar judul novel nya outhor bukan Cewek bar2 sama Ketos ya, Pasti judul novelnya akan lain ya 😃😃