Amelia wanita cantik, baik, ceria dan penuh perhatian. Dia sangat menghargai Cinta, namun hatinya berkali-kali patah karena para mantan yang memberi harapan palsu.
Di sekolah Menengah Atas dia terjebak berbagai masalah saat bertemu dengan RIKI, lelaki Kasar dan Angkuh. Terkenal akan kenakalannya yang membuat Amel tak habis pikir dan berujung emosi. Akankah Amel bisa menghadapi lelaki itu?, Apa yang akan terjadi pada keduanya di saat-saat mereka tanpa sadar selalu bersama?.
yuk intip kisah mereka, Riki & Amel.
😍😍😘😘😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia desianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Mimpi
.
.
.
Di kelas, aku duduk sembari fokus mendengarkan guru yang menjelaskan. Si berandal masih sama seperti kemarin, tidur dengan pulas sampai terdengar bunyi orok nya. Aku tanpa sadar tertawa dan tawa itu tak bisa berhenti. Aku sampai menutup mulutku dengan kuat. Lalu dia terbangun dan menatap ku sayu, seolah belum puas melepas kantuk.
"Berisik." katanya.
"Kalau mau tidur di rumah, jangan di kelas." bisik ku padanya.
Perkataan ku tak di balasnya, ia kini tertidur kembali. Posisi wajahnya mengarah padaku, aku bisa melihat wajahnya yang tenang ketika tidur sepulas itu. Membuat aku tak tega untuk sekadar membangunkannya.
Bel berbunyi lagi, ia berdiri dan langsung pergi. Aku tak mengerti ada apa dengannya. Dia tidak menghiraukan aku, seakan sedang menghindar dari ku. Aku pergi ke kantin bersama Viona, dia menceritakan bagaimana dia mengembalikan tas Riki.
Katanya Riki sedang tidur di UKS, seperti biasanya dia suka sekali ke UKS. Saat hendak mengembalikan tas Riki, Viona melihat Ibu kepala sekolah sedang memarahi Riki dengan kejam, pertengkaran orang tua dan anak yang sudah sering semua orang bicarakan di sekolah. Tidak jelas dengan masalahnya, hanya itu yang Viona tau. Saat Ibu kepala sekolah keluar, dia masuk untuk melihat nya dan mencoba tuk menghibur. Tapi, bentakan yang Viona dapatkan, dan ia menaruh tas Riki disebelahnya dan segera pergi meninggalkannya sendiri.
.....
.
.
.
Malam kembali lagi menghampiri. Namun, bintang tak terlihat sama sekali membuat langit terasa hampa. Dan mungkin ia akan menangis, tak lama turun lah hujan lebat mengguyuri malam ini menjadi sangat dingin.
Aku menarik selimut dan memejamkan mata, lagi-lagi terdengar suara ketukan pintu, tapi kali ini ketukan yang sangat pelan. Membuat aku takut dan sedikit merinding. Siapapun tidak pernah ke kosan nya selain paman, Riki dan para tetangga. Tapi, hari ini sudah pukul 23:00 malam. Membuat aku curiga dan segera aku mengambil pisau dari dapur dan membuka pintu secara perlahan.
Saat ku buka, seseorang dengan pakaian basah kuyup itu memeluk ku dengan perasaan sedih. Ya, si berandal yang menjengkelkan itu. Menangis di pelukanku dengan amat sedih.
Aku pun menyuruhnya masuk dan ku berikan dia handuk ku. Ia mengelap air mata dan air hujan yang sudah menyatu. Aku memberinya pakaian ku, ia pun mengganti pakaiannya. Lalu aku segera pergi ke kamar untuk mengganti pakaian ku yang ikutan basah karena pelukannya.
Aku sudah menyajikan Cup mie hangat padanya, ia memakannya dengan lahap dan kini menyeruput cokelat panas yang ku buat.
"Udah lebih baik?" tanya ku.
Dia hanya mengangguk, terus menikmati cokelat panas itu sampai habis. Hujan semakin menderas, aku memberinya selimut yang baru ku beli hari ini lewat online.
Aku duduk di depannya, berharap ia menceritakan apa yang terjadi padanya. Tapi, dia hanya diam dan melamun.
"Kenapa?" tanyaku lembut sembari menatap kedua matanya.
Ia menatap ku, dan kembali menjatuhkan kepalanya di bahu ku. Seakan dunia ini sangat sulit untuk ia jalani.
Aku memeluknya dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Menangislah bila memang terasa sulit, tapi tersenyumlah kembali ketika kamu memandang ku, karena kamu tidak sendirian, ada aku disini bersama mu." ucapku dengan nada lembut dan meyakinkan.
Ia mulai menangis tanpa suara, seakan begitu sesak hal yang ia alami, apa yang sudah ia lalui sampai seperti ini, aku ikut merasakan kesedihannya yang mendalam.
Mungkin sudah setengah jam ia menangis, dan memeluk erat aku. Kini ia melepas pelukannya dan menatap mata ku dengan matanya yang memerah itu.
"Terima kasih."
"Tidurlah, aku akan membentangkan tikar dan memberimu beberapa bantal."
Aku bergegas mengambil bantal dan tikar, ku bentangkan untuknya dan ia mulai berbaring di atasnya dan memeluk bantal guling yang ku beri.
Aku pun hendak meninggalkannya dan kembali ke kamar ku, tapi ia menarik tanganku.
"Tetaplah disini." katanya.
"Tidurlah disini, aku mau kembali ke kamar, kamu tidur disini aja udah bahaya, apalagi mau aku tidur bareng kamu." jelas ku.
Ia duduk kembali dan menarik sekali lagi tanganku sehingga aku terjatuh di dada bidangnya itu.
Aku memandangnya hendak marah tapi ia menatap dengan ekspresi yang berbeda dan ia tiba-tiba mencium ku. Aku terkejut di buatnya dan hendak melepas ciuman itu tapi ia memelukku erat dan aku tak bisa bergerak, ciuman itu makin membuatku merasakan kehangatan dan perasaan yang sudah lama menghilang.
Jantungku serasa di pompa melewati batas dan seakan sudah mau meledak, akhirnya aku melepas pelukannya dengan paksa dan segera berlari kembali ke kamar ku dan aku langsung mengunci pintu. Sekarang aku berdiri di belakang pintu. Memegang hati ku yang sedang berdegup kencang itu, wajahku yang kini memerah dan dunia ini seakan menjadi panas. Aku pun berbaring di atas kasur ku dan menutup wajah ku dengan bantal. Berharap pagi akan segera kembali menyirnakan perasaan ini.
.....
Siulan burung membangunkan ku, aku teringat si berandal yang ada di depan. Dengan gugup aku membuka pintu itu. Tapi, tak ku dapati dirinya di sana, dan dimana pun dalam rumah ini. Aku berlari ke depan dan tidak mendapati dirinya, mungkin dia telah pergi saat aku sedang tidur.
Aku pun masuk kembali dan memegang bibirku, seakan semuanya seperti mimpi.
Tapi, semua itu adalah kenyataannya. Saat ku dapati pakaiannya yang basah kuyup masih di baskom cucian.
.....
.
.
.
Aku pergi ke sekolah dengan terburu-buru akibat ulah si berandal. Datang ke rumahku tengah malam dan membuatku bangun kesiangan. Dimana semua pacarnya itu, kenapa harus datang padaku yang tidak ada status ini. Semua ocehan ku lontar kan di sepanjang jalan, untungnya aku masih belom telat, aku orang terakhir yang masuk gerbang.
Kini aku berlari menuju kelas, dan duduk di kursi ku. Kali ini aku di buat bingung dengan tingkahnya yang mendadak. Riki yang sering tidur di kelas itu kini duduk tegap dan tersenyum manis pada ku.
"Kenapa nggak tidur?" tanya ku.
"Nggak ngantuk."
"Oh." jawab ku.
Ia menatap tajam dengan ekspresi kesal. Dan aku tidak menghiraukannya.
Guru pun masuk dan memulai pelajaran, dan tak disangka hari ini ulangan mendadak dari guru matematika. Aku mengerjakannya dengan serius sampai otakku mau pecah. Rumusnya belum aku pelajari lagi, di tengah kecemasan dan kepusingan tingkat dewa ini. Si berandal malah tersenyum mencurigakan, dan mengumpulkan jawabannya ke guru.
"Baru beberapa menit, dia sudah mau ngumpul, pasti jawabnya asal-asalan deh." pikirku.
Sesudah waktu yang panjang itu, aku pun mengumpul kan jawabanku. Semua nya juga mengumpulkan soalnya di saat waktu sudah mau habis. Dan guru pun langsung menilainya di tempat. Aku sangat gugup ketika guru akan menyebutkan nilai kami.
"Amelia, 50."
"Ya, ampun, malu banget!" batin ku yang kini mengambil kertas jawabanku.
.
.
.
"Riki, 97. Teruskan nak." pesan guru.
Semua orang terkejut dan tak percaya, Riki yang peringkat terakhir di kelasnya dulu itu mendapatkan nilai sesempurna itu di Matematika, ulangan yang mendadak pula.
Tanpa sadar aku meratapi nilai ku, kalah jauh dengan si berandal. Dia orang yang tak pernah terduga.
Dia memberikan kertas jawabannya pada ku.
"Pelajari, bawa pulang tuh." katanya dengan sombongnya.
Aku menerima kertasnya, karena aku juga butuh untuk di pelajari ulang.
.....
😍
semangat ya Up ceritanya
semangat up karya nya ya 🔥