Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan Persahabatan 2 Kekhawatiran dan Kejutan di Lorong Rumah Sakit
Ruangan tunggu rumah sakit terasa dingin dan mencekam. Roki, yang biasanya tenang dan logis, kini mondar-mandir, kegelisahan terpancar jelas di wajahnya. Ia memegang ponsel, jemarinya bergerak cepat, memanfaatkan kecerdasan digital yang ia miliki untuk melacak keberadaan Martin. Kecepatan pencariannya luar biasa, hanya dalam hitungan detik, ia mendapatkan titik lokasi.
"Kamu menemukannya?" tanya Izam, suaranya tegang, mata cokelatnya menuntut jawaban.
Roki mengangguk cepat. "Dapat."
"Bagus. Berikan lokasinya. Biar aku dan Mizuki yang mencarinya. Kamu tetap di sini," perintah Izam, tangannya sudah siap meraih kunci mobil.
"Aku akan kirim koordinatnya sekarang," balas Roki, menggeser peta di layar ponselnya.
Tepat saat itu, dari ujung lorong, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Mereka menoleh. Seorang pemuda berwajah keras sedang berlari, menggendong seorang pasien wanita yang tampak lemas.
"Tolong, Dok! Cepat!" teriak pemuda itu.
Roki menatap pemuda itu dengan saksama. Matanya membelalak. "Bukanya itu Kakak Martin?" Izam menoleh cepat, melihat wajah pucat pasien yang dipeluk pemuda itu.
"Tolong pasien ini, Dok, segera! Jangan sampai terjadi apa-apa pada wanita ini," desak pemuda itu kepada perawat yang baru datang.
Tiba-tiba, tanpa peringatan, Izam melempar pukulan ke arah pemuda itu. Keputusan yang impulsif, didorong oleh kekacauan dan misteri yang meliputi keluarga Martin. Pemuda itu dengan cekatan menangkis pukulan Izam, matanya menyala marah.
"Kenapa kamu menyerangku?!" hardik pemuda itu.
"Untuk apa dijelaskan?! Kamu membawa pasien terluka keluar ruangan!" bentak Izam, tanpa basa-basi.
"Aku Teko! Aku disuruh Martin membawa kakaknya ke rumah sakit!" jelas pemuda yang ternyata Teko itu, suaranya mengandung frustrasi yang mendalam karena tergesa-gesa.
Mizuki melangkah maju, menghadang jalan Teko yang hendak pergi setelah menyerahkan pasien. "Tunggu," katanya, matanya tajam.
Teko menghela napas panjang, jelas merasa tertekan. "Ada apa lagi? Belum puas memukulku?"
Ponsel Teko berdering. Dia mengangkatnya, mendengarkan dengan raut wajah semakin serius. "Ya, Mark... Aku mengerti. Aku akan tetap di rumah sakit."
Setelah menutup telepon, Teko melepaskan pegangan Mizuki, berjalan ke bangku tunggu, dan duduk dengan santai, kontras dengan kegugupannya barusan.
"Di mana Martin?" tuntut Roki, nada suaranya berubah menjadi lebih tajam. "Kamu disuruh Martin, jadi di mana dia sekarang?"
Teko menyilangkan kaki, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Martin sedang bermain dengan beberapa preman. Kalian tidak usah khawatir," katanya dengan nada meremehkan.
Ekspresi Izam mengeras. Ia melihat ponselnya, memastikan lokasi yang dikirim Roki. "Mizuki, kamu tetap di sini. Aku pergi sendiri."
Roki menatap punggung Izam yang menghilang, lalu berbalik ke arah Mizuki yang duduk di samping Teko.
"Kenapa kamu tidak ikut dengan Izam?" tanya Roki, kebingungan dan kekhawatirannya memuncak. "Kenapa kalian berdua begitu santai?"
"Apa yang perlu dikhawatirkan?" balas Teko, mengangkat bahu.
Mizuki mengangguk, nada suaranya dibuat tenang. "Benar juga. Mereka pasti bisa menyelesaikan semuanya."
Roki menggigit bibir bawahnya, tahu ada yang disembunyikan. Ia menatap Mizuki lekat-lekat, lalu beralih ke Teko. Dia merasakan ada yang janggal. Teko memancarkan aura yang berbeda dari Martin, lebih dingin, lebih terlatih. Mizuki, yang menyadari aura itu, secara naluriah menjadi waspada.
"Ada apa? Kamu takut?" Teko menyindir Mizuki.
"Siapa yang takut," Mizuki membalas tajam, meskipun di dalam hati ia mengakui kegelisahan itu.
Roki yang masih dihantui kegelisahan hanya bisa menatap pintu ruang tindakan. Hingga seorang dokter keluar.
"Dok! Bagaimana keluarga teman saya?" Roki bergegas mendekat.
Dokter tersenyum melegakan. "Tenang saja, mereka masih dalam keadaan baik-baik saja. Hanya saja, jika pasien yang dibawa pergi tadi tidak ditemukan dan dibawa kembali tepat waktu, mungkin saja pasien bisa meninggal karena kondisinya yang tidak mendukung."
"Jadi sekarang, apa pasien sudah melewati masa kritis?" tanya Teko.
"Itu benar," kata Dokter.
"Terima kasih, Dok," ucap Roki, menghela napas lega. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. "Sebenarnya, apa yang terjadi dengan Martin?"
Roki kembali menatap Mizuki dan Teko, kali ini dengan ekspresi yang tenang namun menuntut.
"Kalian berdua menyembunyikan sesuatu, bukan?" tanya Roki.
Mizuki menghindar. "Jika kamu bertanya seperti itu, aku harus bertanya kepada siapa?"
"Kenapa kalian menatapku? Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelum kejadian selesai," Teko berujar santai, tetapi matanya mengkhianati dirinya.
"Apa benar kamu tidak tahu apa-apa?" desak Roki.
"Benar," Teko bersikeras.
Di tempat lain, Izam dan beberapa orang yang mengikutinya tiba di lokasi yang ditunjukkan Roki. Udara di tempat itu terasa berat dan penuh hawa pembunuh.
Izam masuk ke dalam, dan pemandangan di sana membuatnya tercekat. Dia melihat beberapa orang yang terluka parah. Matanya tertuju pada satu titik, Martin. Martin berdiri di tengah kekacauan, pakaiannya penuh darah yang bukan miliknya, dengan seorang pria tergeletak tak bergerak di tanah.
"Akhirnya selesai," kata Martin, suaranya serak. "Kalian yang bereskan semua ini. Aku pergi ke rumah sakit sekarang."
"Apa kamu akan pergi dengan pakaian seperti itu?" tanya Izam, berjalan mendekat, nada suaranya berubah tegang. "Kenapa kamu bisa sampai di sini?"
"Karena Roki khawatir, makanya aku menyusul. Tapi tidak disangka, di sini telah beres," kata Izam, menoleh ke belakang Martin. "Bukanya mereka adalah ketua dari Preman Utara dan Barat?"
"Kamu mengenalnya," Martin melepas jaketnya yang berlumuran darah.
Mark, yang selama ini berdiri di sudut, berjalan mendekat. "Ada pakaian di mobil sana. Pergi menggunakan pakaian itu." Mark kemudian menghubungi seseorang. "Kamu tidak usah khawatir di sini, pergilah temani Martin ke rumah sakit."
"Aku antar kamu ke rumah sakit," ucap Izam, menghampiri Martin. Martin hanya mengikutinya, masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, keheningan di mobil begitu tebal, dipenuhi oleh rahasia yang tak terucapkan.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Izam dengan tenang, memecah keheningan.
"Bukanya kamu sudah tahu siapa aku," balas Martin. "Aku Geng SaNaHa."
Izam tersenyum tipis. "Preman Selatan, tidak aku sangka itu adalah kamu."
"Kita memiliki rahasia masing-masing," kata Martin, menatap Izam. "Tidak harus bermusuhan."
"Apa yang kamu katakan itu benar," ucap Izam, nadanya mulai melunak.
"Sebelumnya," Martin menyambung, "jangan beritahu Roki."
"Tenang saja, tidak akan aku beritahu. Tapi sebaliknya, kamu jangan beritahu Roki soal identitasku," balas Izam.
Martin menggeleng. "Itu percuma. Roki sudah tahu identitas kamu setelah kamu pergi dengan Mizuki pada hari pertama bertemu dengannya."
Izam terdiam, terkejut. "Ini tidak adil, bukan?"
"Adil atau tidak, itu yang terjadi," kata Martin.
Sampai di depan rumah sakit, Izam dan Martin keluar dari mobil. Roki yang sudah menunggu, segera menghampiri mereka. Ekspresi kekhawatiran yang ia tahan meledak.
"Apa kalian tidak apa-apa?" tanya Roki, suaranya bergetar karena lega.
"Tidak, kami baik-baik saja," kata Izam.
Roki memeriksa Martin dari atas sampai bawah, mencari luka. Ketika dia yakin Martin tidak terluka, Roki menghela napas panjang. "Syukurlah kalau kalian tidak terluka."
"Ayo masuk," ajak Roki. "Kenapa kamu tidak meminta kami berdua untuk membantu kamu?" Roki menuntut Martin.
"Maaf membuat kamu khawatir. Aku baik-baik saja sekarang," Martin meminta maaf.
"Ibu... Ibu akan mengomel kembali," ucap Izam, menoleh ke arah lain, mencoba meredakan ketegangan.
"Apa maksud kamu, Izam?" Roki mencubit lengan Izam dengan kesal.
"Aduh, sakit! Kenapa kamu mencubitku!" keluh Izam.
"Karena kamu pantas mendapatkannya," balas Roki.
Mereka tiba di depan ruangan. Martin menghampiri Teko yang sudah berdiri.
"Kamu boleh pergi sekarang," ucap Martin.
"Baik," kata Teko.
"Terima kasih telah membawa Kak Moli dan menunggu keluargaku," Martin mengucapkan terima kasih.
Teko hanya mengangguk dan berjalan pergi, menuju ke tempat kejadian untuk membantu Mark dan Roni.
Martin masuk ke dalam ruangan. Roki menjelaskan, "Kata dokter, mereka baik-baik saja. Untung saja teman kamu, Teko, membawa kakak kamu tepat waktu. Jika tidak, kamu akan kehilangan kakak kamu."
"Terima kasih telah menjaga keluargaku saat aku tidak ada," kata Martin, matanya beralih ke Izam dan Roki.
"Bukannya kita teman? Seharusnya membantu, bukan?" ucap Izam dengan santai.
"Itu benar," tambah Roki.
Setelah beberapa menit, Martin menatap ibu dan kedua kakaknya yang masih belum sadarkan diri. Tiba-tiba, ada pergerakan kecil dari tangan ibunya. Air mata Martin langsung jatuh. Belum sempat memanggil dokter, ibu Martin membuka matanya. Dengan susah payah, ibunya tersenyum dan memegang wajah Martin yang penuh dengan air mata.
"Nak, kenapa kamu menangis? Ibu baik-baik saja," kata ibunya, suaranya lemah tapi penuh kasih.
"Aku senang, Bu. Senang Ibu sudah siuman," kata Martin, memeluk ibunya erat.
"Di mana kedua kakak kamu?" tanya Ibu.
Martin menoleh ke belakang. Kakak-kakaknya menatap mereka, berusaha tersenyum. "Kami di sini, Bu. Kami baik-baik saja," ucap mereka berdua dengan suara berat, agar ibunya tidak khawatir.
"Syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja," kata Ibu Martin, matanya berkaca-kaca karena lega.
Dokter datang dan memeriksa kondisi keluarga Martin, memberitahukan bahwa kondisi mereka sudah mulai stabil. Martin memandang kedua temannya, rasa syukur yang dalam memenuhi hatinya. Ikatan persahabatan mereka telah melewati batas-batas identitas dan bahaya.