Hidup dalam kepalsuan bukanlah hal yang Safira inginkan. Menjadi sosok gadis yang sombong penuh keangkuhan bukanlah sifat aslinya. Namun keadaan memaksanya untuk menjalani kehidupan penuh manipulatif ini.
Safira jenuh dengan kehidupannya, gadis itu ingin lari dari semuanya, meninggalkan segala kepalsuan ini. Hingga dimana Safira tidak lagi sanggup, gadis itu akhirnya benar-benar pergi. Meninggalkan keluarganya dan teman-temannya serta kehidupan yang selalu membuat iri semua orang.
Namun siapa yang menyangka, kepergiannya ini justru membawanya kembali ke masa kelamnya. Lelaki itu, sosok bajingan yang telah menghancurkan hidupnya dengan brutal, muncul di saat Safira ingin melupakannya.
Safira sangat membencinya, hingga timbul dalam hatinya ingin membalaskan dendamnya. Ya, Safira memanfaatkan kesempatan ini untuk membalas kehancurannya.
Cerita ini merupakan sequel dari MY POOR WIFE. Silakan baca dulu agar lebih seri bacanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novia Butera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Keesokan harinya, Safira tetap memilih pergi ke butik meski Davina sudah melarangnya. Wanita itu masih berusaha menguatkan hatinya setelah mengetahui semua kebenaran. Dia butuh waktu sendiri, tanpa gangguan siapa pun termasuk Ibunya sendiri.
Safira memutar mobilnya berlawanan arah dari butik. Tentu saja dia akan menenangkan diri, tetapi butik bukan tujuan yang tepat. Karena Safira yakin, Alice pasti akan datang ke butik. Sebuah kafe yang cukup jauh rumah menjadi tempat persinggahannya. Hari masih pagi, jadi belum terlalu banyak pengunjung di sana.
Dave Rodriguez, nama itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Rasanya kepalanya hampir pecah mengingat betapa brengseknya pria itu. Bisa-bisanya Dave mempermainkannya dengan sahabatnya.
"Boleh aku bergabung?" suara bariton menyadarkan Safira dari lamunannya. Dia yang sedari tadi memperhatikan jalanan melalui sekat kaca pembatas, segera menolehkan pandangannya pada seseorang yang kini tengah duduk di hadapannya.
Mata yang tadinya sayu, kini berubah menatap sengit. "Kau!" Safira menggeram. Pria itu ada di sini, Dave. Setelah apa yang dia lakukan, beraninya pria ini menampakkan batang hidungnya.
"Ya, ini aku. Aku mencemaskanmu, tapi aku tidak bisa menemanimu saat kau di rumah sakit. Bagaimana keadaanmu? Kandunganmu baik-baik saja kan?" cecar pria itu, seolah tidak terjadi apa-apa setelah apa yang dia lakukan pada kedua sahabat karib itu.
Byurr....
Kemarahan menguasai Safira, hingga dia tidak segan menyiram minumannya pada pria itu. Nafas Safira menggebu-gebu, emosinya masih membludak, seolah menyiram pria ini belumlah membuatnya puas.
"Benar-benar bajingan! Aku membencimu!" sembur Safira, tidak peduli akan tatapan aneh pelanggan kafe.
Dave terpaku, tidak menyangka akan mendapat perlakukan seperti ini. Malu, sudah jelas ia malu. Tetapi tak ayal, dirinya juga tidak bisa marah, karena dia sadar dia pantas mendapatkan perlukan macam ini.
Dave mengambil sapu tangan dari saku jasnya, kemudian mengeringkan wajahnya akibat serangan wanita yang kini tengah mengandung bayinya.
"Maafkan aku. Aku tau kau masih sangat marah padaku. Aku mengerti itu." Dave tetap tenang setelah sikap kasar wanita itu.
"Katakan padaku, apa yang kamu inginkan dariku? Kau ingin aku menikahimu? Aku akan melakukannya tetapi tidak untuk saat ini." lihat betapa brengseknya pria ini. Baginya pernikahan hanyalah sebuah permainan.
"Kau tahu, aku dan sahabatmu akan menikah. Tidak mungkin aku membatalkannya, karena pernikahan kami sudah ditentukan."
Plak....
Satu tamparan keras berhasil mendarat di wajah Dave. Lagi dan lagi Dave terpaku. Saat dirinya mencoba menenangkan Safira dengan menawarkan pernikahan, wanita itu malah menamparnya.
"Diam! Tutup mulutmu! Jangan katakan apapun!" bentak Safira.
Air mata yang sekuat tenaga ditahannya akhirnya luruh juga.
"Aku akan menggugurkan anak ini dan pergi jauh dari kehidupan kalian. Tetapi jika sampai aku mendengar kau menyakiti Alice, jangan harap aku akan membiarkanmu!" cecar Safira dengan nafas memburu.
Mendengar ucapan itu, justru malah membuat Dave tidak senang. Harusnya dia senang bukan? Jika Safira menggugurkan kandungannya, maka dia tidak perlu lagi pusing memikirkan tanggung jawabnya atas bayinya dan Safira.
Entah karena ikatan batin yang sudah terjalin selama beberapa hari ini, Dave tidak rela jika janin itu menghilang dari dunia ini.
"Jika bukan karena Alice sangat mencintaimu, aku tidak akan segan menyuruh Kakakku menghabisimu. Aku masih berbaik hati, jadi jangan sia-siakan kebaikanku!" sentaknya.
Safira mengambil tas kecil dan kunci mobilnya, tidak sudi berlama-lama melihat pria bajingan ini.
Namun Dave tidak membiarkannya, tangannya ditahan oleh pria itu.
"Jangan coba-coba menggugurkan bayi itu! Atau...."
"Atau apa?!" Safira menyentak tangannya, "Dengar ya Tuan Rodriguez yang terhormat! Kau sama sekali tidak berhak atas bayiku. Bayi ini milikku dan kau bukan siapa-siapa dalam hidupku. Jadi jangan coba-coba mengatur hidupku!"
Setelah meluapkan kemarahannya, Safira pergi begitu saja meninggalkan pria itu.
Dave terdiam di sana, awalnya dia pikir akan mudah baginya meluluhkan Safira. Ternyata tidak, Safira tidak selemah kelihatannya.
"Kau tidak akan bisa lari dariku Safira! Lihat saja!"
knpa?
semangaat yaa othor, sehat selalu
kita semua menunggu
lanjut kaaa
penasaran bget jdina tpi g up date,gmana nie thor???