Kisah seorang puteri yang diasingkan namun tiba-tiba harus menikah dengan seorang raja yang tidak mencintainya.
Sehari setelah pernikahannya, Raja segera mengangkat kekasihnya menjadi selir yang lebih disayanginya.
****
Cerita ini tidak hanya seputar konflik cinta segitiga tapi juga terdapat persahabatan dan petualangan seru untuk disimak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Mulhayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Aroma Kematian
Dua hari setelah pertemuan Ratu dengan Doppelganger, tiba-tiba kesehatannya menurun. Tubuh Ratu tidak bisa menerima makanan dan selalu memuntahkannya. Badannya tidak demam namun keringat dingin terus keluar.
Raja yang khawatir telah memanggil tabib istana, namun tabib tak bisa menemukan penyakit apapun. Hal yang bisa dilakukannya hanyalah memberikan vitamin. Beberapa hari telah berlalu namun kesehatan Ratu belum juga pulih.
Eldrige segera pergi menemui Ratu Peri Hutan yang bernama Malea di Kerajaan Peri Lucshire. Dia ingin menanyakan tentang kejadian gaib yang terjadi di Istana Elfian karena Ratu Malea memiliki kekuatan penerawangan.
Ratu Malea adalah seorang wanita cantik berkulit jernih. Rambutnya bergelombang berwarna pirang pucat dan panjangnya sampai ke mata kaki. Ada mahkota kecil yang menghiasi kepalanya dan gaunnya terbuat dari sutra halus yang berkilauan. Ada aura keagungan memancar dari sosoknya. Dengan matanya yang sebiru samudera, Ratu Malea memandang Eldrige.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Ratu Malea yang duduk di singgasananya bertanya dengan suara lembut sekaligus berwibawa.
"Saya ingin tahu, bagaimana cara mengalahkan Sitr?"
"Untuk saat ini agak sulit bagimu untuk memusnahkan iblis tua itu, karena kekuatanmu belum cukup untuk melawannya."
"Ada orang yang ingin mencelakai Raja dan Ratu dengan bantuan iblis itu. Apa yang harus saya lakukan?"
"Putuskan perjanjian orang itu dengannya!"
"Bagaimana caranya?"
"Orang yang membuat perjanjian itu harus melakukan upacara pembatalan perjanjian. Namun pasti ada konsekuensi yang harus dibayar."
"Siapakah yang membuat perjanjian dengannya?"
"Kau akan mengetahuinya dengan memperhatikan tanda perjanjian di tubuhnya."
Eldrige mengangguk tanda mengerti.
"Siapakah Doppelganger yang menemui Ratu Gita?"
"Dia adalah Djin."
"Apakah dia diutus oleh Sitr?"
"Ya."
"Apa dia akan mencelakai Ratu?"
"Iya. Dia menginginkan nyawanya."
"Dimana Djin itu bersembunyi, saya akan memusnahkannya."
"Dia bersembunyi dalam kesedihan dan perasaan takut para korbannya."
"Jadi apa yang harus saya lakukan?"
"Kau harus segera menangkapnya dan membakarnya! Karena korban yang di datangi Doppelganger biasanya akan kehilangan nyawanya setelah tujuh hari."
Wajah Eldrige terlihat kaget dan cemas. Ternyata masalah ini lebih serius dari perkiraannya.
Ratu Malea tersenyum memandang mata Eldrige. Wanita cantik itu dapat merasakan perasaan cinta yang mulai tumbuh di hati Eldrige.
"Hatimu sekarang telah menghangat, Eldrige. Cinta rupanya sudah mampu mencairkan hatimu yang membeku."
"Apakah itu akan mempengaruhi kekuatan sihir yang saya miliki?" Eldrige menundukkan kepalanya.
"Ya."
"Apakah itu buruk?"
"Semuanya tergantung padamu."
"Saya tidak berharap apapun darinya. Saya hanya ingin melindunginya!"
"Itu memang seharusnya yang kau lakukan sebagai seorang Guardian." Ucap Ratu Malea.
Eldrige mengangguk setelah merenungkan perkataan Ratu Malea. Bagaimanapun dia tidak boleh melupakan tugasnya sebagai pelindung Kerajaan Elfian.
Setelah urusannya dengan Ratu Malea selesai, Eldrige langsung berpamitan. Dengan melewati lubang dimensi, Eldrige segera sampai di perpustakaan Kerajaan Elfian. Di sana pria itu segera membuka pintu rahasia di balik rak buku di barisan belakang.
Ruangan rahasia Eldrige berisi rak-rak yang dipenuhi buku-buku dan berbagai ramuan. Setelah mengambil beberapa barang yang dibutuhkannya, Eldrige segera keluar.
Eldrige sudah diizinkan Raja untuk memeriksa Wisma Ratu. Di sana peri itu berkeliling memeriksa setiap ruangan. Setelah itu dia menaburkan ramuan yang terbuat dari daun Sage dan garam untuk mengusir kekuatan sihir dan makhluk gaib yang bermaksud jahat.
Kemudian Eldrige pergi ke Wisma Raja untuk berjumpa Ratu Gita. Di sana Eldrige menemuinya tengah berbaring dengan wajah pucat. Ratu mengatakan bahwa dia telah minum obat dari tabib istana.
Eldrige memeriksa pergelangan tangan Ratu dan peri itu merasakan denyut nadinya sangat lemah. Eldrige mencium aroma kematian yang sangat menyengat. Hatinya serasa remuk membayangkan jika terjadi hal buruk pada Ratu Gita. Tanpa sadar setetes air mata jatuh di pipinya.
"Kenapa kau menangis Eldrige?" Tanya Ratu dengan suara lemah.
"Tidak Yang Mulia, mata saya hanya pedih ."
"Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering merasa putus asa." Ucap Ratu.
"Jangan merasa seperti itu, banyak orang yang mengasihi Yang Mulia!" Ingin sekali Eldrige memeluk wanita itu untuk menguatkannya.
"Bertahanlah Ratu!" Pinta Eldrige dengan pilu.
Raja datang dan mendapati Eldrige menemui istrinya. Ada perasaan tidak suka setiap melihat penjaga perpustakaan itu dekat-dekat dengan Ratu Gita.
Raja kemudian berbicara berdua dengan Eldrige di ruang kerjanya. Dia menanyakan perkembangan dari penyelidikan Eldrige. Eldrige menjelaskan tentang keadaan Ratu Gita dan kemungkinan buruk yang bisa terjadi padanya.
Raja menangis sesenggukan mendengar kemungkinan bahwa Ratunya takkan selamat. Hatinya bagaikan dihantam godam. Tangannya menutupi wajahnya dan bahunya berguncang.
"Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkannya? Aku mohon selamatkan dia!" Raja memohon sambil menangis kepada Eldrige.
Sosok pria yang biasanya terlihat angkuh itu, kini lenyap begitu saja dan digantikan oleh sosok pria yang putus asa.
Eldrige merasa iba melihatnya dan bertekad untuk menolongnya. Eldrige kemudian mengutarakan rencananya kepada Raja. Dan Raja mendengarkannya dengan seksama. Mereka sepakat akan melakukannya malam ini juga karena besok adalah hari ke tujuh.
Seluruh penghuni istana telah mengetahui bahwa Ratu sakit parah. Para pengawal dan pelayan yang mengenal Ratu merasa sangat sedih. Mereka menangis dan memanjatkan doa untuk kesembuhan Sang Ratu.
*****
Sementara itu ada satu orang yang merasa bahagia mendengar berita itu. Seorang wanita cantik dengan senyum lebar tengah merias diri di depan cermin. Wajahnya tampak segar dan rambutnya tergerai indah. Gaun hitam yang dikenakannya seperti gaun yang dipakai untuk menghadiri acara pemakaman. Dia sudah bersiap-siap untuk mendengar berita duka cita.
Selir Mayang berjalan dengan anggun menuju kediaman Raja. Dia sudah mendengar bahwa Ratu menginap di sana. Meskipun dia membenci hal itu, namun mengingat bahwa sebentar lagi wanita itu akan meregang nyawa membuatnya mampu bersabar sejenak.
Selir sudah berada di depan pintu Wisma Raja, namun penjaga melarangnya masuk. Selir cantik itu sempat merasa tersinggung dan marah. Namun kemudian pengawal pribadi Raja menemuinya dan mengatakan bahwa Ratu tidak boleh dikunjungi siapapun karena takut penyakitnya menular. Selir Mayang bergidik ngeri membayangkan penyakit yang diderita Ratu. Akhirnya dengan menahan senyum, Selir Mayang pergi meninggalkan tempat itu. Hatinya penuh sukacita karena harapannya akan segera terwujud.
Esme dan Talitha yang menyaksikan hal itu merasa kesal. Mereka tahu bahwa Selir Utama merasa senang mengetahui keadaan Ratu yang sakit parah. Namun mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Sekarang mereka hanya bisa terus memanjatkan doa.
Malam menjelang, Raja Satria dan Eldrige bersiap-siap menjalankan rencana mereka. Semua pengawal berjaga di depan dan para pelayan sudah keluar dari Wisma.
Ratu berbaring di atas ranjang dengan mata terpejam. Wajahnya pucat dan pipinya tirus. Tanda-tanda kehidupan bahkan hampir tak terlihat padanya.
Dengan jantung berdetak kencang, Raja bersiap-siap menghadapi hal-hal mengerikan yang mungkin terjadi. Namun semua itu rela dia hadapi demi nyawa istri yang dikasihinya.
Sudah cukup lama mereka menunggu, namun belum ada tanda-tanda kedatangan makhluk itu. Hingga waktu hampir tengah malam dan suasana semakin sunyi.
Tiba-tiba Eldrige terlihat waspada. Telinganya tegak seolah sedang mendengar sesuatu dan hidungnya mulai membaui udara. Raja menjadi tegang, dia merasa bahwa inilah saatnya.
Dalam sekejap hawa dingin mulai terasa menusuk tulang. Dan kabut tipis memenuhi udara. Raja terbelalak dan menahan napas ketika melihat sesosok wanita yang menjelma dari asap hitam yang tiba-tiba muncul. Wanita itu bergaun putih dengan rambut panjang terurai.
Pelan-pelan makhluk itu melayang menuju ke arah pembaringan. Kedua tangannya terulur mengarah ke leher Ratu untuk mencekiknya. Tiba-tiba Ratu membuka matanya dan melihat wajah yang serupa dengannya menyeringai seram. Ratu terbelalak dengan perasaan ngeri luar biasa.