NovelToon NovelToon
MOVE ON

MOVE ON

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:579.4k
Nilai: 5
Nama Author: mrs caffeine

Malika diceraikan oleh suaminya yang telah ia nikahi selama lima tahun dan telah memberinya anak kembar karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

Namun, bagi Malika, keberuntungan bertubi-tubi justru datang setelah perceraiannya. Salah satunya adalah kehadiran pria blasteran Jepang tampan yang 'ngotot' ingin menjadi bagian dari hidup barunya.

🍰🍰🍰

Taki Sahara, seorang penerus Bakery legendaris berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah sejak dirinya divonis infertil setelah sebuah kecelakaan yang dialaminya.

Namun pertemuannya dengan seorang janda muda yang cantik beranak dua seketika mampu mengguncang keteguhan hati Taki dalam memegang janjinya itu.
.
.
.
Jangan lupa pencet ❤️ nya yaa, biar dapet notif tiap update.

Baca juga karyaQ yang lainnya:

~ REPLACEMENT LOVER
(Novel Komedi Romantis)

~ SEJUTA CINTA
(Kumpulan Cerita Pendek)
.
.
.
HAPPY READIINGGG!!! 😘😘😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mrs caffeine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN MEMALUKAN

'Yakinlah ada sesuatu yang menantimu,

setelah banyak kesabaran yang terjalani,

yang akan membuatmu terpana,

hingga kau lupa pedihnya rasa sakit.'

(Imam Ali bin Abi Thalib)

—MOVE ON, by: Mrs. Caffeine

💗

💗

💗

Taki masih tenggelam dalam lamunannya sambil memandangi wajah Malika yang nampak lelap ketika tiba-tiba, bunyi alarm dari ponsel Malika meraung-raung memecah keheningan.

Dering yang terdengar begitu nyaring karena berada dalam ruangan yang hening seketika membuyarkan lamunan Taki serta membangunkan si pemilik ponsel dari tidur singkatnya.

Malika yang sempat menggeliat untuk merenggangkan otot-ototnya dengan setengah sadar mematikan alarm ponsel yang ia keluarkan dari saku. Lalu tiba-tiba ia teringat ia sedang berada di mana.

"Ya Ampun!" pekiknya sambil bangkit terduduk. Ketika matanya melihat sosok yang sedang duduk tak jauh sofa yang ia duduki, Malika kembali memekik. "Astaga! Maafkan saya..."

Malika langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil merapikan rambut panjangnya yang berantakan akibat tertidur tadi.

Taki yang melihat reaksi Malika awalnya tercengang, namun akhirnya ia tersenyum geli melihat kekikukkan wanita muda itu. Ia pun merasa bahwa reaksi Malika barusan sangat lucu dan manis.

Imut banget! Pikir Taki.

Dengan wajah yang merah merona, Malika kembali meminta maaf kepada Taki yang masih betah duduk diam di hadapannya.

"Nggg... anu, sekali lagi maaf, Pak! Sa-saya, ketiduran." Kata Malika gugup.

Taki tetap diam karena ia sedang menahan tawanya. Tapi Malika malah menafsirkan bahwa lelaki itu diam karena marah atas ketidak sopanannya.

"Nngg, saya ada janji sama Pak Zacky. Itu... mau teken kontrak kerja katanya," jelas Malika.

Tak ingin lagi membuat Malika merasa tidak nyaman, Taki segera berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu. "Mari ikut saya!" ajaknya pada Malika.

Dengan sigap dan takut-takut, Malika turut berdiri lalu mengekori Taki dari belakang. Mereka berdua kemudian berdiri di depan pintu ruangan yang bertuliskan 'Ruang Pimpinan'. Taki membuka pintu itu lalu mempersilahkan Malika untuk masuk lebih dulu baru kemudian dirinya.

"Silahkan duduk di sana!" perintah Taki pada Malika sambil menunjuk pada satu set sofa yang ada di tengah-tengah ruangan itu.

Malika menurutinya. Ia dengan canggung duduk di salah satu sofa paling ujung. Taki kemudian mengambil beberapa berkas dari atas meja kerja Zacky yang ia ketahui sebagai berkas kontrak kerja Malika.

Ia kemudian membawa berkas-berkas itu di hadapan Malika sembari menyodorkan sebuah pena.

"Ini dokumen kontrak kerjanya. Kamu akan di kontrak selama enam bulan dulu sebagai masa percobaan, lalu jika kinerjamu bagus tidak menutup kemungkinan kami akan memperpanjang kontrakmu setiap satu tahun sekali." jelas Taki.

Malika mengambil dokumen-dokumen itu lalu membacanya. "Kapan saya bisa mulai kerja, Pak?" Malika bertanya sambil terus membaca lembar demi lembar kertas itu.

"Masuklah mulai besok, karena pesanan bulan ini sudah penuh jadi Chef Nanda sangat keteteran hanya dengan dua asisten. Jam kerja staff dapur mulai pukul delapan tiga puluh pagi hingga pukul empat tiga puluh sore. Nantinya kamu akan mendapat kertas checklock untuk absensi harian dan jadwal kerja serta jadwal libur dalam sebulan yang dilakukan secara bergantian." terang Taki.

Tak lama, Malika sampai pada halaman gaji dan ia pun tercengang kala melihat rincian gaji yang akan diperolehnya.

Taki yang bisa menangkap ekspresi terkejut Malika saat melihat rincian itu pun langsung berusaha menjelaskan.

"Di sini kami menggaji karyawan dalam masa percobaan sama seperti karyawan kontrak. Bedanya ada pada tunjangan. Jika karyawan percobaan hanya akan diberi uang transport dan uang makan per hari di luar gaji pokok, sedangkan pada karyawan kontrak, kami menambahkan tunjangan kesehatan dan tunjangan hari tua yang semuanya itu akan mengikuti nilai inflasi yang berlaku di tiap tahunnya."

Malika nampak manggut-manggut dengan mata berbinar. Jujur saja semua ini melebihi ekpektasinya. Ia tak menyangka, bisa bergabung dengan toko roti terkenal bahkan mendapatkan gaji yang lebih tinggi daripada yang ia harapkan.

Saat ini Malika benar-benar bersyukur atas karunia Tuhan yang diberikan padanya. Ia jadi ingin segera bertemu dengan keluarganya untuk memberitahukan kabar baik ini.

"Di mana saya harus tanda tangan, Pak?" tanya Malika pada Taki.

"Di sini dan di sini!" Taki menunjuk pada kolom paling bawah pada dua kertas kontrak yang isinya sama persis.

Dan Malika pun langsung menanda tangani kontraknya dengan antusias. Wajahnya tampak terharu bercampur bahagia. Tapi ketika Malika barusaja akan mengembalikan pena pada Chef Taki setelah ia selesai tanda tangan, tiba-tiba perutnya yang kelaparan sedari tadi pun berbunyi dengan keras.

Tangan Malika masih mengambang di atas meja ketika bunyi perutnya menggema di ruangan itu. Seketika Malika menunduk sambil menutup wajahnya dengan tangan kiri saking malunya, sementara tangan kanannya masih menyodorkan pena ke arah Chef Taki.

Wajah Malika merah padam. Ia serasa ingin segera menggali lubang di atas tanah dan menyembunyikan wajahnya di dalam sana seperti seekor burung unta yang ketakutan.

Taki langsung melongo mendengar suara perut kelaparan Malika yang begitu kencang. Namun akhirnya ia tak dapat menahan tawanya lagi dan langsung terbahak dengan lepas.

Melihat Bosnya menertawakannya, wajah Malika jadi semakin memerah dan kepalanya semakin pun menunduk. Ia sungguh-sungguh tak berani mengangkat wajahnya sendiri saat itu. Ya Tuhaannn...ngimpi apa gue semalem bisa semalu ini di depan Chef Taki, Ya ampuunnn...

"Maaf-maaf...saya enggak ada maksud bikin kamu tambah malu. Tolong jangan tersinggung ya!" ujar Taki setelah menyadari tingkah Malika yang kelabakan karena malu.

Taki pun langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menuju salah satu meja kerja di ruangan itu. Diraihnya gagang telepon di atas meja yang dihampirinya lalu menekan sebuah tombol yang bisa menyambungkannya pada pesawat telepon di meja front desk.

"Halo, Lidya! Bisa tolong kamu bawakan beberapa slice cake dan sekaleng kopi dingin dari showcase ke ruangan saya!" pinta Taki pada orang di seberang telepon itu.

"..."

"Terserah kamu saja, tolong cepat ya! Saya tunggu, terima kasih!"

Setelah memesankan kudapan dan minuman untuk mengganjal perut Malika yang lapar, Taki lantas meletakkan kembali gagang telepon itu pada tempatnya lalu berbalik dan menghadap ke arah Malika seraya berkata,

"Tunggu sebentar ya! Saya sudah pesankan cemilan dan kopi untuk kamu! Makan saja dulu baru pulang. Daripada kamu pingsan di jalan nanti." ujar Taki sambil kembali duduk di tempatnya semula.

"Ng..anu..maaf merepotkan!" ucap Malika ragu-ragu.

Sebenarnya Malika ingin menolaknya karena tidak enak hati tapi karena sudah terlanjur dipesankan, akan lebih tidak nyaman jika ia tidak menerima kebaikan Chef Taki.

"Jangan sungkan! Kamu tamu di sini, sudah sewajarnya saya menjamu kamu." ujar Taki beralasan.

Malika pun hanya bisa tersenyum canggung menghadapi Chef Taki yang selalu bikin jantungnya deg-degan itu.

Setelah itu Taki pun ikut menanda tangani kedua berkas itu di kolom yang tertulis 'Pimpinan' lalu memberikan stempel resmi PANKEKI BAKERY.

Saat itulah Malika langsung melongo melihatnya. Ia yang selama ini berpikir bahwa Taki hanyalah seorang Chef ternyata juga seorang pimpinan di toko roti terkenal itu.

"Anda, Pimpinan di sini, Pak? tanya Malika nekat ingin memastikan isi dalam pikirannya.

Taki tersenyum tipis lalu mengangguk singkat.

"Tapi anda juga Chef di sini?" tanya Malika lagi.

Dan lagi-lagi Taki mengulang jawabannya dengan respon yang sama seperti sebelumnya.

"Kalau begitu, Pak Zacky itu siapa?" Malika kembali kepo.

"Dia wakil saya di sini. Dia yang biasanya mengurus masalah perkantoran sedangkan saya cuman tinggal acc saja. Selebihnya saya lebih sering di dapur bagian roti." jelas Taki masih dengan senyum di bibirnya.

Malika tampak mengangguk-angguk penuh arti hingga seorang gadis yang membawa baki di tangannya tiba-tiba muncul sambil mengetuk pintu ruangan yang terbuka itu.

"Permisi, Chef! Saya bawakan pesanan anda!" lapor gadis itu dengan sopan.

"Masuk! Tolong suguhkan pada tamu saya!" perintah Taki tanpa menoleh ke arah gadis itu.

"Baik, Chef!" dengan sigap gadis itu lantas melakukan apa yang diperintahkan oleh Chef Taki.

"Silahkan, Bu!" ucapnya sopan setelah semua yang dibawanya sudah ada di hadapan Malika.

"I-iya, mbak. Terima kasih!" jawab Malika tergagap.

"Sama-sama, saya permisi!" pamitnya.

"Terima kasih, Lidya!" balas Taki pada akhirnya.

Selepas kepergian staff front desk bernama Lidya itu, Malika tidak tahu harus apa. Ia merasa teramat canggung dan tak berani bergerak.

Taki membereskan dokumen-dokumen di hadapannya saat dilihatnya Malika malah diam dan tak menyentuh kudapan yang disuguhkan untuknya.

"Kenapa?" tanya Taki. "Tidak suka?" tanyanya lagi.

"Bukan begitu..." Malika makin salah tingkah.

Untungnya Taki segera mengerti jika Malika merasa canggung untuk memakan kudapan itu di depannya, "Kalau begitu silahkan dimakan!" ujar Taki mempersilahkan lalu memilih beranjak pindah tempat duduk ke meja kerjanya sendiri dan berpura-pura sibuk menyimpan dokumen.

Merasa sedikit lega setelah Taki tak lagi menungguinya, Malika pun segera memakan kue-kue itu dengan lahap. Tak butuh waktu lama baginya yang memang kelaparan untuk menghabiskan kudapan yang disuguhkan padanya.

Setelah merasa sedikit kenyang, Malika yang teringat pada kedua anaknya, lalu segera pamit untuk pulang.

"Apa saya sudah boleh pulang, Pak?" tanyanya.

"Apa makanmu sudah selesai?" Taki balik bertanya.

"Iya sudah, Pak!"

"Kopinya sudah diminum?" tanya Taki lagi.

"Sudah, Pak! Terima kasih!" jawab Malika dengan tegas.

"Ya sudah. Kamu boleh bawa satu salinan kontrak kerja ini. Dan untuk CV-mu kemarin, karena tidak ada arsip yang asli maka kami akan simpan sebagai arsip karyawan kami. Tidak apa-apa kan?" Taki mencoba memastikan.

"Iya, Pak! Silahkan saja, tidak apa-apa!"

"Baiklah kalau begitu, saya ucapkan selamat bergabung dengan kami di PANKEKI BAKERY!" Taki melangkah mendekati Malika sambil menyodorkan tangannya dengan ragu.

Namun Malika tampak bersemangat menyambutnya dan membalas jabatan tangan Taki dengan wajah sumringah.

"Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan pada saya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar dapat berguna di sini." janji Malika dengan tulus. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak!" pamit Malika.

Taki hanya mengangguk lalu mengantar Malika hingga keluar dari ruangannya. Detik berikutnya, ia hanya diam mematung sambil menatap punggung Malika yang mulai menjauh lalu menghilang di belokan lorong menuju pintu keluar.

Chef muda itu lalu menatap tangan yang tadi berjabat dengan Malika lekat-lekat. Entah kenapa tadi ia sempat gemetaran, namun saat Malika menyambut tangannya, seketika sekujur tubuh Taki bagai kesetrum aliran listrik yang ringan namun menyengat.

Ya Tuhaannnn, ada apa denganku??? Taki lalu duduk kembali di ruang kantor pimpinan itu sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

***

@Rumah Rima,

Malika bergegas pulang ke rumah sepupunya itu untuk membagi kabar baik yang diterimanya hari ini.

"Rimaaaaa!!!" teriak Malika dari arah teras sesaat setelah ia memarkir motor serta membuka helmnya.

Rima yang tergopoh keluar dengan rasa khawatir setelah mendengar teriakan Malika pun mengira telah terjadi sesuatu pada sepupunya itu.

"Apaan sih lo dateng-dateng teriak-teriak gitu??!! Anak-anak lagi pada tidur siang tauk!" omel Rima sambil menepuk pundak Malika saat ternyata tidak terjadi apa-apa yang mengkhawatirkan pada sepupunya.

"Niiihhh liat!!! Gue udah teken kontrak kerja di PANKEKI BAKERY!!!" seru Malika girang.

"Serius??? Mana-mana coba liat kontraknya???" pinta Rima.

Malika pun lalu menyodorkan salinan kontrak kerja yang telah di tanda tanganinya dengan Taki tadi.

Rima membaca kontrak itu sambil menutup mulutnya yang tak bisa berhenti menganga saking senangnya.

"Gilaaa, keren bangeeett lo, Buk!!! Bangga gue jadi sepupu lo!" pekik Rima.

"Coba liat gajinya deh!" seru Malika sambil membuka lembar rincian gaji yang akan diterimanya.

Dan Rima sampai melongo melihat angka-angka yang tertera di sana, "Emang yaa, kalo kerja di tempat bonafide tuh, gajinya juga enggak maen-maen. Sumpah gue ikutan seneenngg, Buk! Rejeki lo sama anak-anak iniii!" pekiknya senang.

Dan keduanya pun lalu berpelukan sambil melompat-lompat dengan riangnya.

.

.

.

To Be Continue...

1
MFay
ayo kuat Taki dan Malika jgn ada salah paham lagi 😢
Wiya Wiya
bagus
MFay
aduh salah paham ni mba Malika, dikira suami orang tu ya
Arkan_fadhila
yaa allaaahhh sakit banget jd kamu
Jantul
nangis nya ngalah"in nonton film mohabbatein
Henny Haerani
thor qoutes mu sangat indah aq suka ijin save ya buat status sw 😊😊🙏 🙏🙏
Henny Haerani
hahahaaa.....mau dong sarapan menyan ama membang 7rupa 😂😂😂😂
Henny Haerani
Fisioterapi, Okupasi terapi udah ada loh di indonesia
Lhady Uriyama
selalu ada jalan
Lhady Uriyama
kuuu sambil belajar nih, baik thor, makasih, 👌
Lhady Uriyama
klo begini kan adem, saudaraan akur
Lhady Uriyama
harus sama ibunya, egois, untung ada Vivi yg baik sama kja ipar, manusia macam apa ayah seperti itu
Lhady Uriyama
ok, kanjut
Mila Karmila
cerita yang bagus thor...apalagi dipart2 akhir begitu mengharukan...author sungguh dalam menggambarkan perasaan setiap tokoh hingga tanpa sadar air mata mengalir begitu saja...good job thor...
Yanti Sofianti
kayaknya caya sama lintang berjodoh nih 😁
Yanti Sofianti
kirain hana sama lintang😁
Yanti Sofianti
hana sama lintang kyk nya berjodoh 😁
Uti Enzo
km laki² yg baik langit
Uti Enzo
ikut bahagia thor
Uti Enzo
terima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!