Di khianati, adalah satu kata yang paling menyakitkan. Bagaimana pria yang tak lagi punya rasa cinta itu bisa menjerat para wanita dalam pesonanya?
Ketulusannya terhadap Echa putri tirinya membuat Arfian menjadi pria paling di idamkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rniehamizan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Arfian menarik nafas dalam. Pertemuannya dengan Rena sungguh membuatnya di lema. Di sisi lain dia masih memiliki hati pada mantan istrinya itu tapi jika dia harus kembali menerimanya rasanya sangat berat. Perbuatan Rena sudah menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya.
Tak hanya perselingkuhan yang dia lakukan tapi juga membohongi dirinya soal Echa. Mungkin saat dia jujur bahwa dirinya sudah ternoda bukan gadis lagi Arfian menerimanya dengan mudah saat itu, karena dia pikir Rena hanyalah wanita lemah yang membutuhkan sandaran. Tapi, untuk kesalahannya yang ini tak ada lagi kata toleransi.
"ada apa?" Rega duduk di samping Arfian.
Wajah kusut Arfian membuatnya khawatir. Rega melirik jam tangannya, sudah hampir tengah malam.
"ini sudah sangat larut. kak Arfian tak tidur?"Tanyanya lagi.
Lagi-lagi Arfian hanya menggelengkan kepalanya.Helaan nafasnya begitu berat menandakan jika dirinya sedang memiliki masalah berat.
Rega pun menyerah, dia memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamarnya.
"Rena..." Gumam Arfian.
Dia benar-benar tak bisa berpikir dengan jernih. Kenangan indah bersama Rena terus berputar di kepalanya tapi semua itu sirna ketika bayangan Ben muncul dan menarik Rena menjauh.
Arfian mengacak rambutnya frustasi. Semua terasa berat. Melupakan dan membenci seseorang yang kita cintai memang sangatlah sulit.
"pak Arfian." Sena mengeryit begitu akan kedapur mengambil air melihat Arfian duduk sendirian di ruang tamu.
Dia pun meletakkan gelasnya lalu berjalan mendekati Arfian.
"Bapak belum tidur?" Tanyanya.
Arfian mendongak lalu tersenyum tipis.
"kau sendiri?"
Sena tersenyum. "aku terbangun karena haus."
"bisa temani aku sebentar?" Pinta Arfian.
Sena nampak berpikir tapi kemudian mengangguk. Duduk di depannya sambil terus memperhatikan Arfian yang terlihat tak sedang baik-baik saja.
"aku hanya ingin bertanya pada mu." Ucap Arfian. "jika seseorang mengkhianati kita apa sebaiknya kita maafkan dia?"
Sena menggigit bibirnya. Dia pun tak tahu jawabannya. Mungkin jika dirinya memilih untuk melupakannya saja tapi bagaimana jika orang itu Rega, apa dia sanggup melakukannya. Buktinya sampai sekarang dia masih saja menyukainya meskipun Rega selalu bersikap dingin padanya.
Melihat Sena yang diam saja membuat Arfian terkekeh pelan.
"jangan di pikirkan, aku hanya asal bertanya." Ujarnya.
Sena mengerut kan keningnya.
"kau bilang hauskan, pergilah ini sudah sangat malam." Lanjut Arfian.
Sena ragu untuk meninggalkan Arfian sendirian. Hatinya berkata jika dia harus menemani Arfian, menghiburnya agar tak terlihat sedih lagi.
"uumm...jika bapak ingin, aku akan mendengarnya." Ucap Sena.
"mendengar?" Arfian menatap Sena yang memandangnya serius. "aah..hahaha.. kau ingin mendengar curhatan ku?" Tebak Arfian.
Sena mengangguk. Dia merasa kasihan dengan Arfian. Pria sebaik dirinya harus mendapatkan pengkhianatan seperti ini. Padahal Arfian sangat baik juga pengertian. Dirinya yang baru mengenal Arfian beberapa hari saja sudah bisa merasakan kebaikan pria ini.
Arfian tersenyum, mungkin tak ada salahnya jika dia mengatakan isi hatinya pada Sena. Siapa tahu perasaannya akan lebih baik nanti.
"haaaahh...." Menghembuskan nafasnya sebelum bercerita.
Arfian mengatakan semua isi hatinya pada Sena. Entah kenapa, baru saja mengenalnya tapi Arfian merasa sangat percaya pada wanita ini. Bahkan dia merasa jika Sena adalah wanita yang dapat dia andalkan untuk menjaga Echa.
Sena mendengarkan dengan seksama. Dia merasa jika Rena adalah wanita terbodoh yang pernah dia kenal. Dengan begitu mudah meninggalkan pria sebaik Arfian.
"apa Ben itu temannya dulu?" Tanya Sena.
"bukan, dia mantan kekasihnya."
Sena terkejut, jadi Rena memilih kembali bersama mantan kekasihnya dulu di banding mempertahankan suaminya. Pria yang sudah hidup bersamanya dari nol hingga sekarang bisa begitu sukses.
"tapi.. apa kak Rena tidak memperdulikan Echa? dia masih sangat kecil. seharusnya kalian bisa mempertahankannya bukan?"
"tidak semudah itu. kau akan merasakannya sendiri saat sudah berumah tangga. jika kepercayaan kita sudah tergores, sulit rasanya untuk mempertahankan atau pun memperbaikinya lagi." Arfian menarik nafas dalam. Dia merasa sesak mengingat bagaimana Rena dengan mudahnya memutuskan untuk pergi bersama Ben dan memilih mengubur kenangan mereka begitu saja.
Hidup bersama selama 4 tahun lebih sama sekali tak berarti baginya. Bahkan Arfian seolah hanya sebuah pegangan di saat dia akan jatuh dan di kala sudah mampu berdiri dan berjalan Arfian tak di butuhkan lagi olehnya.
Rena terlalu kejam untuk menjadi seorang wanita yang sudah bersuami.
Arfian menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasanya airmata tak bisa lagi dia bendung saat rasa sakit itu semakin dalam menggerogoti. Tak peduli jika dirinya seorang pria, saat ini dia hanya ingin menumpahkan segalanya.
Sena memandang sendu Arfian. Bahunya yang bergetar membuat Sena tak bisa diam begitu saja. Dia beranjak dari duduknya.
"pak Arfian, apa bapak baik-baik saja?" Tanyanya khawatir.
Arfian menggeleng.
"semua terasa berat seiring berjalannya waktu. aku tersiksa oleh kenangan yang tak bisa aku lupakan." Ujarnya.
Sena menyentuh bahu Arfian, mengelusnya pelan sebagai tanda empati. Arfian yang memang tengah dalam keadaan kalut, menyentuh tangan Sena. Mereka saling bertatapan satu sama lain dengan tangan yang bersentuhan.
Di ujung tangga, Rega terdiam dengan rahang mengeras. Dia hendak menemui Arfian kembali karena tak bisa tidur memikirkan kakak iparnya itu. Tapi, adegan yang begitu menampar keras hatinya terjadi di hadapannya.
Tangannya mengepal, dia merasa marah tapi juga tak berhak untuk itu. Sena bukan siapa-siapa, mereka hanyalah teman. Tak sepantasnya dia merasa cemburu ataupun kesal melihatnya dekat dengan pria lain.
Setelah bisa menguasai dirinya, Rega pun melanjutkan langkahnya.
"ck...apa kalian sedang mencoba menyelami perasaan satu sama lain." Sindirnya.
Arfian dan Sena pun melepaskan tautan tangannya. Arfian berdeham pelan untuk menghilangkan rasa canggung, sementara Sena buru-buru berdiri dan memberikan ruang bagi Rega agar bisa duduk di samping Arfian.
"kau salah paham. kami.."
"apapun yang kalian lakukan, apa aku harus peduli?" Sela Rega cepat. Sena langsung terdiam.
Arfian menghela nafas. Dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rega.
"jangan percaya pada apa yang kau lihat. tapi, percayalah pada hatimu dan carilah buktinya." Ucap Arfian. "cemburu buta itu tak baik."
Rega hendak memprotes apa yang di katakan Arfian tapi gagal karena Sena sudah menyela lebih dulu.
"aku akan kembali ke kamar." Sena pergi dengan sedih. Matanya berkaca-kaca.
Perkataan Rega selalu saja membuat hatinya sakit. Rega memperhatikan punggung Sena yang menghilang di balik pintu. Melihat wajah sendunya membuat Rega merasa bersalah tanpa sebab.
Arfian menepuk pundak Rega.
"kau tahu, seorang wanita itu tak mudah di tebak. jangan membuatnya berpaling pada pria lain." Ujar Arfian mengingatkan.
Rega melihat Arfian dengan cepat. Pria itu hanya tersenyum kecil lalu pergi meninggalkan Rega yang diam berdiri di tempatnya.
...******************...
Plak..
Rena tersungkur dengan keras kelantai saat pipinya di tampar keras oleh Ben. Pria itu sangat marah hingga tak bisa menahan emosinya begitu melihatnya.
"Ben...kenapa kau...aaakkhhh..." Rena menjerit saat Ben menarik rambutnya dengan keras.
"kau.. berani sekali bermain di belakang ku." Desis Ben.
Rena menggelengkan kepalanya.
"tidak..aku tidak melakukan apapun, apa maksud mu Ben?"
Ben menghempaskan tubuh Rena kelantai, lalu memperlihatkan sebuah foto yang tadi dia dapat dari seseorang. Terlihat jelas disana, Rena sedang memeluk seorang pria yang wajahnya tak terlihat karena foto itu di ambil dari arah belakangnya.
Rena menelan ludahnya, dengan cepat dia mengambil ponsel Ben. Tangannya gemetar, dia tahu pasti jika seseorang telah membututinya tadi. Kemungkinan besarnya adalah Rihanna. Rena tak akan membiarkan wanita itu lepas dari tangannya karena sudah berani melakukan ini padanya.
Rihanna sangat tak menyukai jadi sudah jelas kemungkinan besar bahwa dialah pelakunya.
...*********************...