Perpisahan selalu mengajarkan kita untuk menghargai, bahwa setiap saat bersama orang yang kita cintai adalah anugrah yang tidak boleh di sia-siakan.
Sama seperti gadis cantik yang sederhana bernama Lidya Anggraeni, gadis mandiri yang harus hidup sebatang kara setelah kepergian kedua orang tuanya. Sampai pada suatu keadaan mempertemukan dia dan seorang pengusaha muda Anggara Pradipta.
Perlahan-lahan kehidupan keduanya mulai berubah, mulai di warnai oleh cinta. Ketika masa lalu dari orang tua mereka terungkap, membuat keduanya berada dalam di lema. Ditambah dengan munculnya orang dari masa lalu Angga, kekuatan cinta mereka mulai di uji. Semuanya tahu bahwa Angga begitu mencintai orang dari masa lalu, Bahkan setelah 2 tahun perpisahan sangat sulit untuk melupakan nya.
Cinta memang memberikan kenangan indah, tapi cinta juga memberikan luka yang bisa menjadi kenangan. Di sinilah kepercayaan dan kekuatan cinta itu di uji, memilih kembali pada orang di masa lalu, ataukah memuali dengan orang baru dan mulai membuka lembaran baru pula.
Sedalam apa kekuatan cinta Lidya dan Angga? Sekuat apa mereka bisa bertahan?
Akankah Angga memilih Lidya ataukah kembali kepada dia, wanita di masa lalunya?
Penasaran kisah mereka seperti apa?
Yuk! ikuti kisah Angga dan Lidya, perjuangan Lidya untuk cintanya.
Let's go!! Mulai baca Guys!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna azahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Bahkan hanya dengan menatap matanya pun aku bisa merasakan sebuah ketenangan yang selama ini aku cari, pancaran tatapan yang seolah-olah berbicara bahwa semua akan baik-baik saja.
...~Lidya Anggraeni~...
***
Langit di malam ini sangat indah dengan bulan dan bintang yang bertaburan di sana, bulan yang bersinar dan bintang menghiasinya. Kelap-kelip bintang yang menghiasi langit malam ini membuat malam yang gelap kini jadi hal indah.
Malam yang biasanya membuat Lidya merasakan kesunyian, kerinduan terhadap orang tua nya, sebuah rindu tanpa adanya pertemuan kini malam itu berubah menjadi malam yang indah untuk gadis itu.
"Kak Angga!" seru Lidya.
Angga mengalihkan pandangannya yang tadinya tengah menatap bintang kini beralih menatap Lidya. Gadis itu kini duduk di sampingnya.
"Ada apa, kau mau pulang sekarang?" tanyanya.
"Kalo pulang sekarang berarti kita harus jalan kaki, mau pulang jalan kaki?" lanjut Angga.
Dengan cepat Lidya menggelangkan kepalanya, tidak mungkin jika harus pulang dengan berjalan kaki posisi mereka sekarang masih jauh dengan rumah Lidya.
Mereka kini sedang duduk di bangku panjang sebuah taman kecil, mobil Angga mengalami masalah ban mobil tersebut bocor. Sebenarnya Angga sudah menghubungi orang nya untuk membawa mobil yang lain ke sana dan mengurus mobil sport nya, tetapi entah kemana orang suruhan Angga sudah hampir satu jam tetapi belum datang juga.
"Kenapa orang suruhan kakak belum datang juga?" Lidya bertanya tetapi pandangannya tetap mengadah ke atas langit menatap bintang, baru kali ini gadis itu bisa melihat sisi indah dari malam yang gelap dan sunyi.
Angga masih menatap Lidya tanpa di sadari si empu nya, kemudian beralih mengikuti kearah tatapan Lidya yang sedari tadi terus mengadah ke atas.
"Kau menyukai bintang?" Bukan menjawab tapi Angga malah bertanya. Dia kini juga ikut memandangi bintang seperti yang Lidya lakukan.
Lidya tertawa kecil dia sendiri tidak tahu apa dia menyukainya atau tidak, jujur ini untuk pertama kalinya Lidya berada di luar rumah dan memandangi bintang seperti ini.
"Entahlah kak, ini untuk pertama kalinya aku melihat jelas bintang di sana. Biasanya ayah dan bunda tidak pernah mengijinkan ku keluar rumah ketika malam." ujar Lidya masih tanpa mengalihkan pandangannya.
"Why, apa ada sesuatu yang akan membahyakan mu jika keluar rumah di malam hari. Bahkan hanya untuk melihat bintang?" tanya Angga. Kini lelaki itu semakin di buta penasaran.
"Mungkin, sebab ayah bekerja sebagai tangan kanan seorang pengusaha, perusahaan itu mengalami konflik yang rumit. Ayah tidak ingin jika dia mengalami kegagalan dalam tugasnya lalu aku dan bunda jadi korban, karena itu dia selalu menjauhkan kami dari semuanya." jelas Lidya. Entah mendapat dorongan dari mana, Lidya mengatakan itu semua padahal Sarah dan Rifki saja tidak ada yang tau.
Angga menatap Lidya lekat, dia dapat melihat dari raut wajah gadis itu seperti menyimpan banyak hal yang dia kubur dalam diamnya. Banyak rahasia yang dia sembunyikan selama ini, entahlah apa itu benar atau tidak tapi itulah yang Angga dapat simpulkan.
Ada sedikit rasa sesal dalam diri Angga kenapa dia bertanya seperti itu, jika saja dia tahu pertanyaan akan membuat Lidya merasa tidak nyaman mungkin dia tidak akan mempertanyakan itu.
"Sorry!!" Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Angga. Dia sendiri bingung harus memberikan respon seperti apa.
Gadis itu mengalihkan pandangannya, menatap Angga tanpa di duga ternyata Angga pun sedang melakukan hal yang sama. Untuk beberapa saat tatapan mereka beradu, Lidya tertegun dengan tatapan mata Angga yang seolah-olah berbicara pada dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, tatapan mata itu memberikan ketenangan tersendiri untuk Lidya.
"Tidak masalah kak, aku juga merasa lebih baik sesudah mengatakan itu semua." jawab Lidya. Jujur saja apa yang di katakan Lidya memang benar adanya, dia jadi lebih lega meski hanya sedikit yang dia ceritakan bahkan belum setengah nya.
"Jika dengan bercerita padaku merasa lebih baik, maka kapan pun kau siap menceritakan semuanya hubungi aku. Seberapa sibuknya pekerjaan ku, pasti akan langsung ku tinggalkan untuk mendengar cerita mu." kata Angga tulus seraya menatap Lidya. .
"Terima kasih kak, kau orang pertama yang ku ceritakan tentang ini." ujar Lidya seraya tersenyum manis kearah Angga. Entah apa yang dia pikirkan tetapi dia merasa lebih lega ketika bersama Angga, seakan-akan ketakutan yang selama ini dia pendam sirna begitu saja karena Angga.
"Wah.....Aku ternyata seberuntung itu." canda Angga mencoba mencairkan suasana. Dia sendiri bukan tipikal orang yang mudah akrab dengan orang baru, tapi dengan Lidya semua berbeda.
Lidya tertawa kecil, meski candaan Angga itu ringan tetapi membuatnya tertawa. Angga yang melihat Lidya tertawa kecil pun ikut menyunggingkan senyum manis nya, dia seolah dapat merasakan apa yang Lidya rasakan sekarang.
Ting...Ting....Ting....
Suara kelakson menghentikan tawa ringan mereka, terlihat mobil berwarna putih yang biasa Angga gunakan ketika ke kantor tak jauh dari sana. Pintu mobil bagian kemudi terbuka, seorang pria dengan pakai santainya keluar dari sana.
Dengan santainya dia melangkah kakinya menuju Angga dan Lidya, menyunggingkan senyum lebar nya dia menghampiri mereka. "Sorry bos lama!!" katanya.
Angga memicingkan matanya menatap lelaki itu "Kenapa kau, aku menyuruh Jamess yang kesini." tanya Angga heran. Pasalnya yang datang adalah David, sedangkan dia tadi meminta jamess bukan David.
"Jamess tadi sudah setengah jalan kesini, lalu dia mendapatkan telepon dari istrinya bahwa anaknya demam sehingga harus kerumah sakit. Kemudian dia menghubungi ku, tetapi aku sudah tertidur jadi dia mendatangi rumah ku menyuruh ku kesini." jelas David.
"Ck...pantas saja lama, ternyata kau yang kesini." cibir Angga. Ini alasan kenapa Angga lebih memilih menghubungi Jamess daripada David, karena di malam hari seperti ini David sangat susah di andalkan.
David tidak menanggapi cibiran Angga, dia kini lebih memilih beralih kepada Lidya yang sedang berdiri di samping Angga.
"Sorry lid lama, apa kau baik-baik saja. Maksud ku apa Angga melakukan sesua_______" belum sempat David menyelesaikan kalimatnya Angga sudah memotong lebih dulu.
"Berisikan David, sudah ayok lid aku akan mengantarmu pulang." Angga langsung menarik tangan Lidya, lalu mengambil alih kunci di tangan David menukarnya dengan kunci mobil sport miliknya.
"Kau urus itu!" titah Angga sambil menunjuk mobil sport nya. Angga masih menarik tangan Lidya menuju mobil yang David bawa, meninggalkan David yang menatapnya kesal.
Sesampainya di mobil, Angga langsung membukakan pintu mobilnya untuk Lidya, setelah Lidya masuk dia kemudian ikut masuk di kursi kemudi. Mobil yang mereka tumpangi langsung tancap gas dari sana, sedangkan David dia hanya bisa mendengus kesal.
"Ck.....Bos tidak berperasaan, bawahan jadi korban." celetuk David. Dia hanya bisa pasrah menuruti perintah Angga, mau bagaimana lagi dia hanyalah asisten pribadi seorang Anggara Pradipta pewaris tunggal Pradipta Corp.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next>>
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai... readers semua nya 🤗🤗 apa kabar nih? semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat, dan dalam lindungan Allah SWT Amin....🤗🤗 gak bosen bosen nya nih aku minta dukungan nya 🙏🙏 Like....Hadiah.... Vote...jangan lupa juga favoritnya 🥰🥰 dan jika ada saran atau masukannya silahkan DM Ig aku ya, dengan senang hati aku terima saran dari semuanya 🥰🥰 tapi ingat kata-kata yang di gunakan baik dan sopan ya ☺️
Follow Ig:@mirnaazahra14
Terima kasih 💕💕💕
.
.
.
.
.
Happy reading 🥰😍🥰
Jika berkenan mampir di judul
"Cinta Devan Untuk Naya" semangat aku datang bawa like, rate dan bunga
mampir juga yok ke Hati Terbelah Di Ujung Senja 😊