NovelToon NovelToon
After Marriage

After Marriage

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:48.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Mayangsu

Anha diceraikan tepat di malam pertamanya ketika suaminya mendapati dirinya yang sudah tidak perawan lagi.

Anha tidak pernah menyangka jika pergaulan bebasnya di masa lalu akan menjadi bumerang untuknya di masa depan.

Setelah bercerai, Anha mencoba untuk memulai hidup baru dan menemukan cinta yang baru. Tetapi apakah lelaki kali ini bisa menerimanya seutuhnya atau jangan-jangan Anha akan ditinggalkan untuk yang kedua kalinya?

***
Contact Person:
Instagram: Mayangsu_
Email: Mayangsusilowatims@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayangsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rindu Mama

"Iya. Kan dulu Diego nakal. Nggak mau mandi. Umm... padahal Mommy udah manggil-manggil..." perkataan Diego terputus, dia mencoba merangkai kata, "Manggil tapi Diego pula-pula nggak denger. Diego lari-lari terus... terus Diego di cubit sampe merah terus nangis Diegonya."

Aku tertawa mendengar ucapan Diego. Apalagi mimik wajahnya yang sangat polos dan lucu itu. Aku membelai rambut hitam legamnya sambil mengamati mata hitam bulatnya. Aku mencium pipi Diego sebelum memutuskan untuk melangkah ke kamar mandi.

Ketika aku selesai mandi pagi, aku sudah tidak melihat lagi keberadaan Diego di ranjangku. Mungkin anak kecil itu sudah pergi keluar.

Ketika aku memegang gagang pintu kamarku. Ada rasanya ragu dan aku takut bertemu dengan Mama karena insiden tadi Malam. Aku mundur kebelakang, lalu menghampiri pintu kamarku lagi, kemudian bergerak ke belakang lagi. Bimbang dengan apa yang harus aku lakukan.

Akhirnya aku membuka pintu kamarku sedikit untuk mengintip keadaan di luar. Ruang tamu masih tampak sepi, hanya terlihat Diego yang sibuk bermain dengan Tab-nya di sofa ruang tamu.

Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya aku melangkahkan kakiku ke luar dari kamarku. Mau bagaimana lagi, tidak mungkin aku berdiam diri di kamarku sampai malam, kan?

Mataku masih melirik ke kanan dan kiri serta melangkah dengan gerakan pelan.

"Mama sama Tante di mana?" tanyaku ke Diego. Diego hanya menggeleng dan mengatakan tidak tahu. Lalu aku melangkah ke arah dapur. Di dapur juga tidak ada orang.

Aku lebih memilih ke tempat ruang makan, ternyata terdapat makanan di meja makan. Mungkin Tante Ririn yang memasaknya.

Aku duduk, tanganku terulur mengambil makanan dan lauk, aku mulai menikmati hidangan tersebut. Masakan Tante enak juga, tidak terlalu buruk walaupun rasanya agak hambar. Ada makanan saja aku sudah sangat bersyukur.

Ketika aku sedang menikmati makananku, Tante Ririn datang dan langsung duduk di kursi depanku. Tante tidak mengatakan apa pun melainkan hanya tersenyum ke padaku. Entah mengapa rasanya sangat canggung.

"Enak?" tanya Tante Ririn kepadaku. Aku hanya mengangguk pelan tanpa berani menatap Tante.

Setelah itu keadaan sunyi, Tante Ririn tidak mengatakan apa pun lagi. Aku mulai mempercepat gerakan mengunyahku. Khawatir jika sebentar lagi Mama juga ikut bergabung makan. Lebih baik aku menghindari bertatap muka dengan Mama sampai beberapa hari ke depan.

"Tadi pagi Mama kamu pergi ke rumah Eyang naik kereta api. Katanya dia mau nenangin diri dulu di rumah Eyangmu."

"Nggak nanya," jawabku pura-pura tidak peduli.

"Iya. Tante tahu kamu nggak nanya. Tante cuma ngomong, doang, siapa tahu kamu penasaran."

Aku mengembuskan napas, lalu kembali menyendok makananku. Aku meberanikan diri untuk melirik Tante Ririn. Tante Ririn sedang sibuk menyendok makanan sehingga tatapan kami tidak bertemu.

Tapi...

Kenapa Tante Ririn tidak membahas hal kemarin malam dan hanya diam saja? Kupikir Tante Ririn akan marah besar atau jika tidak Tante akan mengintrogasiku. Ternyata tidak.

"An..." kata Tante Ririn dengan pelan sambil meletakkan tangannya di atas tangan kiriku. Aku mengangkat kepalaku melihat wajah Tante Ririn.

"Tante tahu, kamu marah sama Mama kamu. Tapi, kalau pikiran kamu udah tenang. Tante mohon kamu minta maaf sama Mamamu, ya, Sayang."

Aku hanya terdiam karena tidak tahu harus berkata apa.

"Tante tahu Mama kamu juga salah karena dia nggak pernah ada waktu buat kamu selama ini. Tapi jangan pernah kamu benci Mama kamu. Tante ini adiknya, Tante tahu dia sayang banget sama kamu."

Aku tidak menangis, aku tidak menangis. Aku menghapalkan mantra tersebut dan mencoba sekuat tenaga menahan emosiku agar tetap stabil, aku tidak ingin menangis di depan Tante. Gengsi!

Aku hanya diam menunduk supaya Tante tidak melihat mataku yang mungkin sudah berkaca.

"Nggak, Tante salah! Mama nggak pernah peduli sama aku!" kataku membantah argumen Tante Ririn. Bahkan rasanya nada suaraku sudah berbeda karena menahan tangis.

"Kamu tahu nggak? Mama kamu selalu berangkat pagi jam enam bahkan belum sarapan. Mama kamu makan seadanya di warung pinggir jalan yang dia temuin. Selalu pulang paling malem. Bahkan Mama kamu nggak pernah peduliin kondisinya, nggak pernah ngeluh sama kamu. Itu semua demi kamu, Anha. Demi kamu bisa makan, bisa sekolah. Mama kamu sayang banget sama kamu."

Aku memalingkan wajahku ke samping, gengsi jika Tante Ririn tahu aku menangis, aku berpura-pura bahwa aku kuat.

"Nggak ada orang tua di dunia ini yang nggak sayang sama anaknya. Yang ada cuma orang tua dan anak yang saling salah paham. Tante cuma mohon satu hal sama kamu. Nanti kalau kamu udah tenang. Minta maaf, ya, sama Mama kamu."

Aku menarik tanganku yang diusap pelan dengan ibu jari Tante Ririn. Aku berdiri. Meninggalkan Tante Ririn yang menangis dan menghapus air matanya dengan punggung tangannya.

Aku ingin segera pergi ke kamarku sebelum aku menangis terisak. Pasti itu semua hanya omong kosong Tante Ririn terhadapku, sampai kapanpun Mama tidak akan menyayangiku! Itu semua hanya kata-kata karangan Tante Ririn saja. Aku mencoba menolak semua yang Tante Ririn ucapkan, tetapi hatiku tidak dapat berbohong, rasanya sangat sakit.

Sebelum langkah kakiku melewati kusen pintu dapur, Tante Ririn mengatakan sesuatu yang membuatku sudah tidak bisa lagi membendung air mataku.

"Tante masih inget gimana dulu kamu nangisin Papa kamu waktu Papa kamu meninggal dunia. Jangan sampai kamu juga nangisin Mama kamu, An, kalau Mama kamu nanti udah nggak ada. Selama Mama kamu masih ada, kamu harus sayang sama dia. Karena cuma kamu yang Mama kamu punya."

***

Mataku melirik jam di tangan kiriku yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Aku dan Mai meluangkan waktu sebentar untuk mampir ke salah satu restoran dekat kampus kami.

Mai tersenyum semringah, wajahnya seperti akan terbelah dua melihat pelayan meletakkan pesanan kami di atas meja. Dengan malu-malu Mai menyantap steak dengan lahap walaupun Mai agak kesusahan ketika menggunakan garpu dan pisau secara bersamaan. Aku menahan senyumku, pasti ini pertama kalinya bagi Mai.

"Sering-sering, dong, An kalau traktir aku. Hehehe."

"Ogah!" jawabku ketus.

Hari ini aku mentraktirnya bukan berarti kami sudah menjadi teman dekat! Hanya saja aku malas makan di rumah sendirian. Mengingat Bik Dar sudah berhenti bekerja di rumahku, dan ini juga sudah hari ke empat Mama masih belum pulang dari rumah Eyang. Aku mengusap pelan tengkukku. Entah mengapa rasanya aku merindukan Mama.

Aku mengembuskan napas berat. Aku tahu, sebenarnya akulah yang bersalah waktu itu, tetapi aku justru melampiaskan semua rasa sakit hatiku kepada Mama.

Benar kata orang, ketika kita sedang marah, kita cenderung menyalahkan dan menyakiti hati orang lain.

1
Monica Lora
aduh hasan telat mulu lambat amat
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Monica Lora
mn bisa gt furgoso. mending pahit pahit dr mulut kita dr pd dr mulut org lebih sakit
Monica Lora
awal malapetaka..baca yg ke 4x 🤭
Nursamsi Mci
luarbiasa, udah baca berulang kali masih kerasa bnget dalam nya
Nursamsi Mci
di 2026 ku baca ulang lg
Tini Tini
ceritanya sangat menarik dan berbeda dr novel yg lain
⚞ል☈⚟ MymooN
maaf thor jd bingung nih. yg diceraikan dimalam pertama saya udah rapi baca. jd yg ini harusnya dibaca duluan ya ?
Cobain 77
Kecewa
Cobain 77
Buruk
Jannah Cantik
novel yg dulu selalu ak tunggu kelanjutannya sampe ak gak bisa tenang
🔴⏤͟͟͞R Ayyana Gani🐌
piye kabre tor ,izin baca lagi ,,dulu baca masih d tahun 2020 akhir kayanya
RithaMartinE
luar biasa
Nursamsi Mci
udah ngulang baca yg ke 3x nya,wlu ceritanya ber alur lambat,tp ttp setia baca ulang,krn benar2 ngena dan trasa nyata.lebih2 saat Anha di selingkuhi,ya Allah kerasa sakit nya smpe kayak tersayat hati ku😭
Ms. Belle
lanjutan dari bab ini mana lagi ya?
dulu pernah baca sampe udh punya anak Anha nya.. hehe

pengen baca lagi nihh, ada yg tau gak lanjutan nya dmn?
Mayangsu: hai kak. Lanjutannya judulnya: Diceraikan di Malam Pertama ya. Ada di akunku. Pencet aja profilku ini
total 1 replies
Adriana
9
Mayangsu
danmu danmu
Endah Dwika
udah jodohkan aja Anha dan hamkan thooorr
Endah Dwika
buat anha hidup bahagia nantinya toor dan buat ikram menyesal seumur hidup nya
Endah Dwika
kok aku deg degan ya baca bab2 ini jangan2 ikram memang selingkuh kasihan ana
Auristela Allisya
aku g' tau cara nya cari novel "dinikahi berondong kaya"
udah coba ta' ketik sana sini ko' g' bisa2.
author ayolah bantu aku yg hampir putus asa ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!