Dahulu, dia hanyalah seorang wanita biasa yang hidup pas-pasan. Namun, takdir berkata lain. Dia terbangun dalam tubuh seorang permaisuri yang tak dicintai, diabaikan oleh suaminya dan tak dianggap oleh rakyat.
Tapi, bukannya bersedih, dia malah kegirangan! Siapa yang peduli dengan cinta jika dia memiliki kekayaan, kekuasaan, dan kehidupan mewah yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya? Menjadi permaisuri abal-abal yang kaya raya? Tentu saja dia mau!
Dia akan menikmati setiap momen dalam kemewahan ini, biarpun tanpa cinta. Karena baginya, yang penting adalah menjadi permaisuri kaya, bukan permaisuri yang dicintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrasya Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Kuda Oleng dan Penyihir Daun
Pagi menyapa dengan aroma tanah basah dan semangat yang meluap. Melan berdiri di depan asrama pekerja, berkacak pinggang sambil mengamati barisan pria yang kini tampil beda.
Tidak ada lagi baju compang-camping bin kumal. Atas perintah (dan biaya) Melan, mereka kini mengenakan seragam kerja berupa tunik kain rami yang kuat berwarna abu-abu dengan rompi kulit pelindung di luarnya.
"Nah! Begini kan enak dilihat," seru Melan puas.
"Kalian itu wajah dari proyek Mall Nusantara. Kalau tampilannya kayak gembel, nanti orang-orang mikir gedung ini bakal roboh ditiup angin."
Jaka, yang kini memakai rompi dengan aksen warna merah tanda dia adalah mandor, tersenyum bangga.
"Terima kasih, Yang Mulia. Orang-orang jadi lebih bersemangat kalau merasa dihargai seperti ini. Pakaian baru ini membuat kami merasa punya martabat."
Melan menepuk bahu Jaka. "Bagus. Pertahankan. Saya tahu pembangunan ini mungkin butuh waktu lama, mungkin satu atau dua tahun lagi baru benar-benar jadi, tapi saya sabar kok. Yang penting kualitasnya nomor satu."
Setelah memastikan logistik dapur aman dan para pekerja sudah mulai mengayunkan cangkul, Melan merasa butuh waktu untuk dirinya sendiri.
Dia jenuh berada di lingkungan istana yang penuh aturan atau di proyek yang penuh debu. Dia ingin sedikit... berpetualang.
Masalahnya, dia tidak mau dikawal Baron atau ksatria mana pun yang pasti akan melapor pada Nolan soal setiap helai rambut yang jatuh dari kepalanya.
Melan mengendap-endap ke istal istana. Di sana, dia menemukan seekor kuda betina berwarna cokelat muda dengan mata yang terlihat sayu dan sangat tenang.
"Oke, cantik. Nama kamu siapa? Kita panggil saja dia... 'Moli', ya?" bisik Melan sambil mengelus hidung kuda itu.
Moli hanya mendengus pelan, seolah setuju. Melan mencoba menaiki pelana. Sejujurnya, di dunianya dulu, Melan paling banter cuma naik Go-jek. Naik kuda? Ini adalah pengalaman pertama yang sangat mendebarkan.
"Oke Moli, jalan... pelan-pelan ya. Jangan ngebut, saya belum bayar asuransi jiwa di dunia ini," gumam Melan panik saat Moli mulai melangkah keluar lewat pintu belakang.
Perjalanannya sungguh ajaib. Moli memang jinak, tapi dia sepertinya punya masalah navigasi. Setiap kali Melan menarik tali kekang untuk berbelok, Moli berjalan miring-miring seperti motor yang ban depannya kempes.
"Aduh, Moli! Belok kanan, bukan miring ke semak-semak! Kamu ini kuda atau kepiting?" gerutu Melan sambil berusaha menjaga keseimbangan.
Meski sulit dan jalannya zig-zag tak karuan, Melan berhasil mencapai pinggiran hutan yang berbatasan dengan padang rumput hijau yang luas.
Udara di sini sangat segar, jauh dari hiruk-pikuk pembangunan. Melan membiarkan Moli berjalan santai menyusuri jalan setapak di tepi hutan.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara yang sangat aneh.
Wusss... Wussss... Drrt...
Suaranya berisik sekali, seperti ribuan serangga yang mengepakkan sayap atau suara angin puyuh yang terjepit di antara pepohonan.
Rasa penasaran Melan bangkit. Dia menarik tali kekang Moli ke arah sumber suara.
"Sstt, Moli. Pelan-pelan. Kita intip dulu ada apa di sana," bisik Melan.
Di sebuah celah kecil di antara pohon-pohon besar, Melan melihat pemandangan yang membuat matanya hampir keluar dari kelopak.
Ada seorang wanita. Usianya mungkin sekitar 35 tahun, mengenakan jubah hijau lumut yang sederhana namun terlihat elegan. Wanita itu sedang berdiri tegak, tangannya bergerak dengan gemulai seolah sedang memimpin sebuah orkestra.
Namun, bukannya pemain musik yang mengikuti gerakannya, melainkan ribuan daun hijau yang berputar-putar di udara mengikuti alunan tangannya.
Daun-daun itu membentuk pusaran, menari, lalu meluncur seperti peluru di sela-sela batang pohon tanpa menyentuh satu pun dari mereka.
"Gila... itu sihir? Gue beneran di dunia fantasy?!" gumam Melan syok abis. "Ini mah bukan jaman dulu biasa, ini mah Harry Potter versi kearifan lokal!"
Karena terlalu terpukau, Melan tanpa sadar memajukan tubuhnya, membuat pelana kuda berderit keras.
Krieeek!
Wanita itu tersentak. Kepalanya menoleh dengan sangat cepat. Matanya yang berwarna hijau zamrud berkilat tajam. Merasa terancam, wanita itu secara refleks mengarahkan telapak tangannya ke arah Melan.
"Hah? Tunggu—"
BOOOOOM!
Sebuah tekanan udara yang sangat dahsyat menghantam dada Melan. Rasanya seperti ditabrak truk bermuatan penuh.
Tubuh Melan terlempar dari punggung Moli, terbang ke belakang sekitar tiga meter, dan menghantam batang pohon besar dengan keras.
Bugh!
"Ugh..." Melan merosot ke tanah. Dunianya terasa berputar. Paru-parunya seolah kempes, sulit sekali untuk menarik napas.
Rasa sakit yang tajam menjalar dari punggung hingga ke seluruh tulang rusuknya. "Aduh... sakit banget... beneran mau mati ini mah..."
Wanita itu terbelalak kaget. Dia segera berlari menghampiri Melan. "Ya Tuhan! Aku tidak tahu ada orang di sana! Maafkan aku!"
Wanita itu berlutut di samping Melan. Wajahnya yang cantik namun dewasa terlihat penuh penyesalan. Dia meletakkan tangannya di atas dada Melan.
Tiba-tiba, rasa hangat yang menyejukkan mengalir masuk ke tubuh Melan, meredam rasa sakit yang tadi membakar.
"Tahan sebentar, Nak. Aku akan meredakan traumanya," ucap wanita itu lembut.
Melan mengerjap-erjap, mencoba memfokuskan pandangannya. "Anda... Anda penyihir? Keren banget... tapi sakitnya nggak nanggung-nanggung..."
Wanita itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat akrab namun misterius.
"Kau punya nyali besar menguntit seseorang di hutan terlarang. Siapa kau sebenarnya? Pakaianmu... kau bukan orang sembarangan."
"Nama saya... Melan," gumam Melan lemah. "Saya cuma... mau jalan-jalan..."
Begitu mendengar nama "Melan", raut wajah wanita itu berubah sedikit. Dia menatap Melan dengan pandangan yang sulit diartikan. ada kerinduan, kesedihan, dan rasa terkejut yang mendalam.
"Melan?" bisiknya pelan. "Jadi kau..."
"Kenapa? Anda kenal?" tanya Melan bingung.
Wanita itu tidak menjawab. Dia berdiri dengan cepat saat mendengar suara ringkikan kuda lain dari kejauhan, mungkin pengawal atau orang lewat.
"Maafkan kekasaran tadi, Melan. Kita akan bertemu lagi. Luka dalammu sudah kubersihkan, tapi kau tetap harus istirahat," ujar wanita itu cepat.
"Eh, tunggu! Anda siapa?!" teriak Melan sambil berusaha duduk.
Namun, dalam sekejap mata, wanita itu seolah meleleh menjadi tumpukan daun hijau yang kemudian terbang tertiup angin. Hilang. Benar-benar hilang tanpa jejak.
Melan bengong di bawah pohon. "Heh? Ilang? Seriusan ilang kayak ninja di film-film?"
Moli mendekati Melan dan menjilat pipinya, seolah bertanya apakah majikannya masih hidup.
"Aduh, Moli... kayaknya gue baru aja ketemu boss level di dunia ini," ucap Melan sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit pening. "Dia kenal nama gue? Atau dia kenal Melan yang asli? Terus kenapa dia bisa sihir daun gitu?"
Melan berusaha berdiri. Benar kata wanita itu, rasa sakitnya sudah jauh berkurang, meski badannya masih terasa pegal-pegal. Dia segera naik kembali ke punggung Moli.
"Ayo Moli, kita pulang. Sebelum si kulkas dua pintu Nolan tahu istrinya habis dilempar penyihir daun," gumamnya.
"Dunia ini makin aneh aja. Ada kutukan raja nggak bisa cinta, sekarang ada penyihir daun. Besok apa lagi? Naga jualan pulsa?"
Sepanjang jalan pulang yang zig-zag karena Moli tetap berjalan miring, otak Melan terus memikirkan wanita itu.
Ada sesuatu dari wanita itu yang membuatnya merasa nyaman, seolah-olah dia pernah bertemu dengannya jauh sebelum dia masuk ke tubuh ini.
Rahasia apa lagi sih yang disembunyiin kerajaan ini? batin Melan penasaran.
Saat mendekati gerbang belakang istana, Melan melihat Baron dan beberapa prajurit sudah tampak panik mencari-cari.
"Mati gue! Harus pasang muka tanpa dosa nih," bisik Melan. "Moli, akting yang bagus ya! Jangan miring-miring lagi!"
Melan menarik napas panjang, menyiapkan mental untuk omelan Nolan yang kemungkinan besar sudah menunggunya dengan aura es yang bisa membekukan satu kelurahan.
Tapi di balik ketakutannya, semangat Melan justru makin membara. Dunia ini penuh misteri, dan dia Kinan yang terjebak jadi Melan. bertekad untuk mengungkap semuanya sambil tetap mengumpulkan pundi-pundi emas.