NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manuver Lidia dan Permintaan Pak Wijaya

Di dalam kamar yang didominasi warna pastel, seorang wanita muda tengah asyik mematut diri di depan cermin besar. Lidia, dengan senyum yang tak luntur, memoleskan lip tint merah segar di bibirnya.

"Cantik sekali aku hari ini..." kikiknya pelan. Ia berputar ke kanan dan ke kiri, memastikan pakaian blouse abu-abu dan celana biru yang ia kenakan jatuh dengan sempurna di tubuhnya.

Ia menyambut penampilannya siang hari ini untuk pergi ke calon mertuanya.

"Waktunya berkunjung ke rumah calon mertua!" riangnya penuh gembira, keluar dari kamar tersebut. Hari ini Lidia libur mata kuliah, jadi ia memanfaatkan kesempatan untuk mengambil hati calon mertua, atau lebih tepatnya, mengamankan posisinya sebagai calon istri Aditya.

Sesampai di depan rumah keluarga Wijaya, Lidia mengetuk pintu. Tak lama, ia disambut oleh Bu Sarasvati.

"Lidia!" Bu Sarasvati terkejut melihat Lidia yang tiba-tiba datang.

"Assalamualaikum, Tante. Selamat siang. Ini Lidia masak rawon," sapanya, sembari menunjukkan rantang makanan.

"Waalaikumsalam. Wah, pasti enak ini! Ayo, masuk," ajak Bu Sarasvati, masuk ke dalam rumah dan membiarkan pintu terbuka. Bu Sarasvati meminta asisten rumah tangga untuk menyiapkan rawonnya.

"Jadi merepotkan, dimasakkan rawon," ucap Bu Sarasvati, dibalas Lidia dengan senyuman malu.

"Tidak apa-apa, Tante. Kebetulan lagi libur, jadi masak saja, sekalian ke sini. Semoga suka ya, Tante," balas Lidia.

Lidia melihat sekitar yang tampak sepi. "Kalau boleh tahu, kenapa sepi, Tante?"

"Byan sekolah, suami Tante lagi keluar ada urusan katanya, lalu Aditya belum ke sini," jelas Bu Sarasvati. Lidia mengangguk sembari membulatkan mulutnya, mengerti. Di ruang tamu, Bu Sarasvati berbincang-bincang dengan Lidia.

ꕤ⋆⁺₊✿₊⁺⋆ꕤ ₊⁺⋆ꕤ⋆⁺₊✿₊⁺⋆ꕤ ⋆⁺₊✿₊⁺⋆ꕤ

🤝 Kunjungan Tak Terduga

Sementara itu, di rumah Pak Wisnu, kedatangan tamu yang tak diduga. Siapa lagi kalau bukan Pak Wijaya. Entah apa tujuannya. Pak Wisnu baru saja kembali dari dapur membawa nampan berisi kopi dan beberapa potong singkong goreng.

"Silakan, Juragan, diminum dulu," ujar Pak Wisnu.

Pak Wijaya menganggukkan kepala. Pak Wisnu yang ingin bertanya maksud kedatangan juragannya mengurungkan niatnya karena sungkan, dan hanya bisa menunggu Pak Wijaya berbicara.

"Wisnu, aku bingung sama anakku..." ucap Pak Wijaya, sembari menghela napas.

"Adi tidak mau menikah dengan gadis lain jika bukan Kinanti. Dia hanya menginginkan Kinanti,"

Pak Wisnu terkejut mendengar ucapan Pak Wijaya.

"Jika kau berkenan, bisakah membuat Kinanti mau menerima Adi?" ucap Pak Wijaya merendah, menambah keterkejutan Pak Wisnu.

"Ju-Juragan..." ujar Pak Wisnu terbata-bata.

"Aku sudah meminta Adi menikah dengan gadis lain, tapi Adi..." Pak Wijaya kembali menghela napas. Pak Wisnu merasa sungkan sekaligus sedih melihat Pak Wijaya yang nampak teduh memikirkan putra sulungnya.

"Juragan, alasan utama Kinanti putri saya menolak lamarannya karena ada gadis lain yang sangat ingin menjadi istri Juragan Adi. Dia merasa kehadirannya hanya akan menyakiti wanita lain. Itu sebabnya Kinanti memilih mundur demi kebaikan bersama." jelas Pak Wisnu, menundukkan wajahnya.

"Lidia? Dia anak teman karibku, Nu. Kami memang sudah lama dekat. Mereka sempat datang ke rumah bermaksud menjodohkan putrinya dengan Adi, tapi Adi merasa tidak cocok," jelas Pak Wijaya.

"Juragan, nanti akan saya coba berbicara kepada putri saya. Mohon maaf membuat kekecewaan terhadap Juragan Adi," balas Pak Wisnu.

"Bukan salahmu ataupun Kinanti, Nu. Dia berhak memberikan keputusan," bijak Pak Wijaya.

ꕤ⋆⁺₊✿₊⁺⋆ꕤ ₊⁺⋆ꕤ⋆⁺₊✿₊⁺⋆ꕤ ⋆⁺₊✿₊⁺⋆ꕤ

🧊 Penolakan Dingin Aditya

Sebuah mobil hitam memasuki pekarangan rumah orang tua. Turunlah pria tampan, berjalan menuju pintu rumah.

*Tumben terbuka,* Batin Aditya, melihat pintu rumah terbuka lebar. Biasanya, sang ibu selalu menutup pintu rumah, entah berada di rumah ataupun tengah pergi keluar.

"Assalamualaikum," salam Aditya.

"Waalaikumsalam," sahut orang dari dalam rumah.

*Sepertinya ada tamu,* Batin Aditya, berjalan melewati ruang khusus koleksi motor-motor Pak Wijaya. Setiba di ruang tamu, Aditya melihat Bu Sarasvati tengah duduk di sofa bersama seorang gadis.

"Adi?! Sudah pulang, Nak?" Bu Sarasvati menyambut sang putra.

Tubuh tinggi menjulang Aditya membuat ia bisa menebak siapa gadis yang bersama ibunya. Wanita muda itu bangkit dari duduknya dan membalikkan badan. Lidia tersenyum senang melihat sang pujaan hati telah tiba di rumah calon mertua.

*Yang ditunggu-tunggu sedari tadi akhirnya datang juga,* Batin Lidia.

"Sedang apa kamu di sini?!" Suara berat Aditya terdengar, membuat wanita muda itu sedikit tersentak dari lamunannya.

"Ini lho, Lidia datang bawain rawon," ujar Bu Sarasvati.

"Dari Tante Effi?" tanya Aditya.

Bu Sarasvati hendak menjawab, namun Lidia mendahului. "Bukan, Mas. Rawonnya aku yang masak," sahut Lidia dengan senyuman merekah.

"Oh," balas Aditya cuek.

"Kamu sudah makan siang? Mau makan siang bersama?" ajak Bu Sarasvati.

"Adi ke kamar dulu ya, Bu. Mau istirahat." Aditya berjalan melewati Lidia yang masih berdiri. Namun, suara cegahan seseorang membuat pemuda itu urung saat menaiki tangga.

"Bagaimana kalau makan dulu, Mas, sebelum istirahat? Mas Adi pasti belum makan siang, kan?" Kepala Aditya menoleh ke belakang.

"Makan siang dulu yuk, Mas. Cobain rawon masakanku," lanjut Lidia sambil tersenyum kecil. Bu Sarasvati menatap Lidia dan putranya bergantian. Aditya menoleh menatap sang ibu sekilas, lalu kembali ke Lidia.

"SAYA SUDAH MAKAN TADI DAN SEKARANG SAYA INGIN ISTIRAHAT. LEBIH BAIK KAMU MAKAN SAJA SAMA IBU SAYA. TIDAK PERLU MENGGANGGU SAYA. JIKA SUDAH, SILAHKAN PERGI DARI SINI," sentak Aditya, lekas menaiki tangga menuju kamar tidur.

DEG!!

Meninggalkan Lidia dan Bu Sarasvati di ruang tamu. Lidia mengerjap-ngerjapkan mata. Raut wajahnya sudah teramat sangat mendung, bahkan sebentar lagi akan turun hujan. Sedangkan Bu Sarasvati terdiam mendengar perkataan putra sulungnya yang dingin.

Bu Sarasvati merasa tak enak dengan Lidia, pun mendekati gadis berbaju blouse abu-abu dan bercelana bahan biru itu.

"Lidia, Nak, makan siang sama Tante saja yuk. Maafkan Aditya ya mungkin Adi kelelahan karena banyak pekerjaan."

Lidia yang tadinya menunduk kini mendongak menatap wajah Bu Sarasvati. Sudut bibirnya terukir tipis. Kepalanya pun menggeleng pelan.

"Tidak usah, Tante. Lidia pulang saja."

"Nak, jangan gitu. Tolong maafkan Aditya, ya," Bu Sarasvati semakin tak enak hati kepada Lidia, menatap gadis di depannya ini dengan wajah lunak.

"Tidak apa-apa, Tante. Lidia pulang ya, Tante. Semoga Tante suka sama rawonnya. Permisi, assalamualaikum." Lidia buru-buru mengambil tas selempang dan berlalu dari sana, menahan butiran air mata yang mulai berjatuhan.

"Waalaikumsalam," sahut Bu Sarasvati lirih, menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh dari pandangannya.

*Adi keterlaluan sekali,* Batin Bu Sarasvati.

Andaikan suaminya ada di sini. Sayangnya Pak Wijaya sedang ada urusan. Dalam benak Bu Sarasvati menduga-duga akan terjadi sesuatu nantinya setelah kepulangan Lidia karena sikap putranya.

"Ya Tuhan," Bu Sarasvati menghela napas pasrah. Setibanya suaminya nanti, akan mereka bicarakan secepatnya bersama Aditya, lebih baik lagi.

Bersambung__

___

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!