Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Tuan?
Ella menutup telinganya saat mendengar suara tembakan. Bukan hanya itu, dia juga dengan segera meloncat ke arah tempat tidur lalu membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Sialan! Apa pria itu terus membunuh setiap hari?" Ella mengedipkan matanya. "Tunggu, bukankah dia 'tidak mampu'? Lalu untuk apa para wanita itu?"
Untuk menguji dirinya? Lalu jika tidak bereaksi dia membunuh mereka?
Ella menutup mulutnya. "Astaga! Bukankah itu kejam? Salahnya sendiri 'tidak mampu' kenapa malah menyalahkan orang lain."
Biadap!
Dan bukan tidak mungkin jika itu juga akan terjadi padanya, bukan?
Jika dia tidak berguna, dia juga akan di bunuh. Ella membuka selimutnya dan kembali ke meja kerjanya. Jika dia ingin selamat, dia harus segera menyelesaikan bukunya.
Dia tidak ingin berakhir jadi mayat.
Hari ini dia mendapat tiga bab, total dengan dua hari terakhir Ella mendapat 15 bab. Benar- benar memutar otak dan terus menulis seharian selama Dominic tidak di rumah. Bab yang dia buat benar-benar vulgar tanpa sensor. Jika biasanya Ella akan menggunakan kata- kata halus untuk membuat adegan erotis, kali ini Ella benar-benar melebihi ekspektasinya. Benar-benar tanpa saringan dan filter.
"Lihat apa setelah ini Mr D masih tidak bergairah." Ella mencebik. "Kalau masih tidak bisa, berarti pria itu memang tidak mampu."
....
Ella keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Bobby. Tentu saja dia harus memberi laporan jika dia sudah membuat bab baru yang harus dia serahkan pada Dominic.
"Kemana pria itu? Kenapa saat di butuhkan justru tidak ketemu." Ella berjalan mondar-mandir di lorong depan kamarnya. Dia tak berani melangkah lebih jauh sebab takut bertemu tuan rumah.
Hingga matanya menemukan Dominic yang baru menaiki tangga dengan piyama kimono melekat di tubuhnya.
Tali di pinggang di biarkan menggantung dan tak diikat membuat bagian depan terbuka menampilkan otot dada dan jangan lupa perban yang melilit di perutnya.
Pria itu berhenti di pertengahan tangga saat melihat Ella berdiri disana, menatapnya dengan mata yang tak berkedip, hingga dia melanjutkan langkahnya dan berhenti tepat di ujung tangga barulah mata Ella berkedip cepat.
"Bagaimana lukamu?" tanya Ella menatap perban yang terlihat noda darah di permukaannya.
"Sudah kubilang lukamu perlu di jahit, lihatlah berdarah lagi. Kamu mau infeksi?" Ella menunjuk perut Dominic.
"Sedang apa kau?"
Ella mencebik, bukannya menjawab pria pengawal itu malah balik bertanya. "Menunggu Tuan Bobby."
Dominic mengerutkan keningnya. "Kenapa mencari Bobby?"
Ella menunduk menatap tablet di tangannya, lalu menggeleng. "Tidak ada ... ngomong- ngomong, sedang apa kau disini?" Ella kembali menatap Dominic yang justru masih memperhatikan tabletnya.
Menyadari pria itu terus menatap tablet di tangannya, Ella segera menyembunyikannya di belakang punggung.
Mendengar pertanyaan Ella, Dominic yakin Ella belum tahu siapa dia.
Pria itu menyeringai.
Sepertinya akan menyenangkan mengerjai gadis di depannya ini.
"Aku sedang patroli."
Ella mengangguk. "Baiklah, kalau begitu kamu bisa lanjutkan, aku kembali ke kamar."
Dominic menaikan alisnya. Ella percaya begitu saja? Apa ada pengawal yang mengenakan pakaian sepertinya sekarang untuk berpatroli?
"Bukankah kau mencari Bobby?" Suara Dominic menghentikan Ella yang berbalik hendak kembali ke kamarnya.
"Itu... besok saja aku mencarinya."
"Kalau kau mau aku bisa mengantarmu padanya."
Ella tersenyum kecut. "Sebenarnya aku ... juga takut bertemu tuan kalian, jadi ... nanti saja." Ella kembali berbalik namun suara Dominic kembali terdengar.
"Aku pastikan kau tidak akan bertemu dengannya." Tentu saja karena dia sudah ada di hadapannya. Tidak mungkin ada dua Tuan di rumah ini, kan?
"Benarkah?"
"Tentu saja."
Ella nampak berpikir sejenak lalu mengangguk. "Baiklah." lagipula semakin cepat dia memberikan naskahnya pada Bobby semakin cepat dia keluar dari rumah ini.
Ella melangkah mengikuti Dominic yang melangkah ke arah lorong berlawanan arah dengan kamarnya, "Jadi, Bobby juga tinggal di sini?" Ella mengikuti langkah Dominic yang lebar, dan berusaha mengimbangi. Namun tubuh kecilnya justru kewalahan.
"Bukan cuma Bobby, tapi semua pekerja termasuk kamu. Hanya saja para pengawal, dan pelayan tinggal di bangunan belakang."
Ella mengangguk mengerti. "Tapi, kenapa aku tinggal disini?"
Dominic menghentikan langkahnya membuat Ella yang tak siap bertubrukan dengan punggungnya.
"Aduh!" Ella mengusap dahinya yang terbentur, lalu mengernyit saat Dominic menoleh.
"Kamu ingin tahu kenapa?" Ella mengerjapkan matanya saat menatap mata Dominic yang tajam. Pria itu menyeringai mengerikan membuat Ella merasa bulu kuduknya merinding. Ella merasa pengawal ini terlalu dominan.
"Ke— kenapa?" tanyanya dengan tergagap.
"Semakin dekat kau dengannya, maka semakin berbahaya posisimu." Mata Ella membelalak.
"Ke— kenapa bisa begitu?" Ella semakin di buat takut.
"Karena banyak rahasia yang harus kau sembunyikan. Dan jika itu bocor sedikit saja, kau mati." Ella menelan ludahnya kasar sementara Dominic menyeringai lebar melihat ketakutan di wajah Ella.
"Padahal apa salahku," gumamnya saat Dominic melanjutkan langkahnya. Dia tak terima keselamatannya terancam. "Bahkan bukan aku yang mau datang." Dia terus menggerutu tak peduli pria di depannya akan mendengar.
"Aku ... meskipun miskin tak punya apapun, dan keluarga yang peduli tetap masih ingin hidup, menikah, punya anak, lalu cucu... hidup bahagia meski sederhana..." Dominic menghentikan langkahnya lagi. Untuk kali ini Ella berjalan pelan hingga bisa berhenti saat Dominic berhenti tiba-tiba.
"Kenapa berhenti lagi?" Ella memiringkan wajahnya menatap Dominic yang tak menjawab setelah beberapa saat.
"Tidak ada." Dominic melanjutkan langkahnya.
"Jadi meski mati tidak akan ada yang mencarimu kan? Kau sebatang kara," kata Dominic dengan dingin menanggapi ucapan Ella sebelumnya.
Ella mencebik. "Tidak, ada Bibi Vivian, dan Jack. Mereka pasti mencariku. Tidak terbayang kalau aku hilang di tempat ini. Tanpa jejak?"
"Jack?" Dominic berkata dengan dingin. Tak peduli dengan ucapan panjang lebar Ella, dia hanya penasaran dengan nama itu.
"Oh, anak Bibi Vivian. Dia tampan, dan manis, baik sekali. Dia orang pertama yang akan menangis kalau tak menemukan aku." Dominic memejamkan matanya saat merasa punggungnya panas seolah bisa merasakan di belakangnya Ella tengah tersenyum.
"Sebaiknya kamu putuskan hubungan dengan mereka, kalau tidak—"
"Kenapa harus? Aku juga tidak mau selamanya disini. Aku akan kembali dan bertemu mereka lagi."
Lagi pula dia belum menyerah, dia pasti bisa keluar dari rumah ini setelah memuaskan hasrat si tuan rumah.
Mendengar itu punggung Dominic semakin terasa panas. Beraninya Ella memotong dan membantah ucapannya. Selama ini tidak ada yang berani menyela, bahkan membantah kata- kata yang dia buat.
"Tuan, sedang apa anda disini?" Bobby muncul membuat Ella tertegun dengan wajah bingung, matanya menatap Dominic lalu Bobby.
"Siapa yang kau panggil, Tuan?" Wajahnya menapakkan kebingungan. Hingga matanya menatap Dominic kembali yang menampilkan wajah datar.
"Kau—"
.....
Baru muncul setelah liburan 3 hari 🤭
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..