LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Jejak Darah Di Dunia Maya
Di dalam Safe House bawah tanah itu, waktu seolah berjalan dengan aturan sendiri. Tidak ada jendela untuk melihat matahari terbit atau terbenam. Hanya ada dengungan konstan dari server-server pendingin dan cahaya biru kehijauan dari puluhan layar monitor yang memantul di wajah Sabiru dan Aldo Sky.
Sudah enam jam sejak mereka tiba. Sabiru tidak tidur sedetik pun. Jari-jarinya menari liar di atas keyboard mekanik warisan Arisendra, menyusup ke dalam jaringan kota Jakarta, mematikan kamera pengawas satu per satu, dan mengacak jejak digital mereka.
"Ayah, pastikan semua perangkat komunikasi dimatikan total," perintah Sabiru tanpa menoleh, matanya terpaku pada peta digital yang penuh dengan titik-titik merah berkedip. "Termasuk jam tangan pintar, tracker di mobil, bahkan baterai ponsel harus dicabut. Rio punya akses ke satelit swasta. Kalau ada satu sinyal saja yang keluar, kita tamat."
Aldo Sky, yang sedang memeriksa magazen pistolnya di sudut ruangan, mengangguk patuh. Ia melempar ponselnya ke dalam laci besi yang sudah dilapisi timbal anti-sinyal. "Sudah beres, Nak. Semua perangkat isolasi aktif. Tapi... seberapa lama kita bisa bertahan? Rio pasti tahu kita menghilang dari kampus."
Sabiru mengetik satu perintah terakhir, lalu bersandar lelah di kursinya. Ia menunjuk ke layar utama yang menampilkan simulasi pergerakan musuh. "Dia tahu kita hilang, tapi dia belum tahu di mana. Aku baru saja membuat firewall palsu di tiga lokasi berbeda: Tangerang, Bekasi, dan Depok. Sekarang, algoritma pelacak Rio sedang sibuk mengejar waktu di sana. Kita punya waktu... mungkin 4 sampai 6 jam sebelum dia sadar itu jebakan."
"Empat jam..." gumam Aldo, wajahnya murung. "Itu tidak cukup lama untuk merencanakan penyelamatan Allbiru. Kita butuh hari, bukan jam."
"Kita tidak butuh hari, Yah. Kita butuh satu celah," sahut Sabiru tajam. Matanya menyala dengan kecerdasan yang mengerikan. "Aku sedang mencoba melacak lokasi server tempat video pemerasan Allbiru disimpan. Jika aku bisa menemukan IP aslinya, aku bisa membalikkan arah kamera di sana. Kita bisa melihat di mana Kakak ditahan tanpa harus pergi ke sana dulu."
Tiba-tiba, salah satu layar di sisi kanan berkedip merah. Suara alarm halus berbunyi bip-bip-bip.
"Mereka menemukan jebakannya," lapor Sabiru cepat, jarinya kembali mengetik dengan kecepatan gila. "Cepat sekali. Dia memang jenius, tapi dia juga ceroboh karena terlalu percaya diri."
Sementara itu, di gedung pencakar langit milik Rio Pratama, suasana justru sangat berbeda. Ruangan itu dingin, sunyi, dan dipenuhi oleh barisan teknisi yang berdiri tegak dengan wajah pucat ketakutan.
Rio berdiri di depan dinding layar raksasa, memegang tablet dengan erat. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, melainkan kepuasan dingin seorang predator yang baru saja mencium bau mangsanya.
"Ternyata gadis itu lebih pintar dari dugaanku," ucap Rio pelan, suaranya bergema di ruangan hening itu. "Dia membuat tiga decoy server sekaligus. Bagus. Sangat bagus. Darah Arisendra memang tidak pernah mengecewakan."
Reza, keponakannya, maju selangkah dengan ragu. "Paman, tim teknis sudah berhasil menembus dua decoy pertama. Tapi yang ketiga... sistem pertahanannya sangat rumit. Itu menggunakan enkripsi kuno versi 'Genesis'. Hanya keluarga Arisendra yang punya kuncinya."
Rio tersenyum tipis, seringai yang membuat bulu kuduk berdiri. "Tentu saja. Sabiru tidak perlu memecahkan kuncinya, Reza. Dia adalah kuncinya."
Rio menunjuk ke sebuah grafik gelombang sinyal di layar. "Perhatikan ini. Saat Sabiru mengakses server Safe House-nya untuk membuat jebakan tadi, ada kebocoran mikro-latensi selama 0,03 detik. Sangat kecil, hampir tak terlihat. Tapi serverku mendeteksinya. Sinyal itu tidak berasal dari Tangerang, Bekasi, atau Depok."
Jari Rio menelusuri garis grafik itu hingga berhenti di satu titik koordinat di peta Jakarta Utara.
"Sinyal itu berasal dari kawasan industri tua di Penjaringan. Tepatnya di sektor gudang yang sudah dibuang dari peta digital sejak sepuluh tahun lalu," jelas Rio dengan nada mengajar. "Hanya ada satu tempat di sektor itu yang masih memiliki pasokan listrik independen dan jalur fiber optik bawah tanah tersisa. Bekas laboratorium rahasia Arisendra."
Reza ternganga. "Paman... bagaimana Paman bisa tahu secepat itu? Kami bahkan belum selesai menganalisis decoy-nya."
"Karena aku mengenal Arisendra lebih baik daripada siapa pun, termasuk anaknya sendiri," jawab Rio dingin. "Aku tahu pola pikirnya. Aku tahu dia akan menyembunyikan sesuatu di tempat yang paling tidak masuk akal bagi orang lain, tapi paling logis baginya. Tempat di mana dia merasa paling aman."
Rio menoleh pada Reza, matanya berkilat jahat. "Siapkan tim elit. Bukan polisi, bukan militer biasa. Bawa unit 'Shadow'. Senjata peredam, peralatan pembobol elektronik, dan gas saraf. Kita tidak ingin ada keributan yang menarik perhatian warga. Aku ingin masuk ke sana, mengambil Sabiru hidup-hidup, dan membawa Aldo Sky dalam keadaan lumpuh."
"Dan... Allbiru, Paman?" tanya Reza hati-hati.
Rio tertawa kecil, suara yang kering dan tanpa emosi. "Allbiru hanya bonus. Target utamanya adalah Sabiru dan data di laboratorium itu. Jika Arisendra menyimpan salinan proyek 'Genesis' di sana, malam ini aku akan menjadi manusia paling berkuasa di dunia teknologi."
Rio berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota Jakarta yang gemerlap. "Mereka berpikir mereka aman di dalam lubang tikus itu. Mereka tidak tahu bahwa tikus-tikus itu sudah lama aku pasang perangkapnya. Bergeraklah, Reza. Kita punya kurang dari satu jam sebelum gadis itu menyadari kebocoran sinyalnya dan pindah lagi. Jangan biarkan mereka lolos kali ini."
"Siap, Paman!" Reza segera berlari keluar ruangan untuk memberi perintah.
Kembali di Safe House, keringat dingin mulai membasahi pelipis Sabiru.
"Ayah," panggilnya, suaranya bergetar sedikit. "Ada yang tidak beres. Pola serangan mereka berubah. Mereka berhenti menyerang decoy dan sekarang... mereka sedang melakukan ping sweep terfokus di sektor Utara."
Aldo langsung berdiri, pistol sudah tergenggam erat di tangannya. "Mereka tahu?"
"Belum yakin, tapi probabilitasnya 85%," jawab Sabiru cepat, matanya memantau grafik lalu lintas data yang semakin padat mengarah ke koordinat mereka. "Mereka mempersempit area pencarian. Dari satu kota, jadi satu kecamatan, sekarang jadi satu blok gudang. Dalam 15 menit, mereka akan tahu persis gedung mana ini."
Sabiru mulai menutup program-programnya dengan cepat, menghapus jejak sesi terakhir. "Kita harus pindah, Yah. Sekarang juga. Safe House ini sudah terbakar secara digital."
"Tapi ke mana? Kita tidak punya kendaraan cadangan di sini!" seru Aldo panik, melihat sekeliling ruangan yang sempit. "Satu-satunya jalan keluar adalah tangga itu, dan jika mereka sudah menunggu di atas..."
Sabiru berhenti mengetik. Ia menatap ayahnya, lalu matanya beralih ke sebuah panel besi besar di dinding belakang ruangan yang tertutup debu dan pipa-pipa.
"Ayah Arisendra selalu punya rencana cadangan," bisik Sabiru. Ia berlari menuju panel itu, menyapu debunya, dan menemukan papan ketik kecil tersembunyi di balik pipa ventilasi. "Di blue-print lama yang pernah aku lihat sekilas di buku harian Ayah, ada menyebutkan 'Jalur Evakuasi Bawah Tanah' yang terhubung ke saluran got kota. Jalur ini tidak ada di peta digital sama sekali."
"Got?" tanya Aldo skeptis, meski ia sudah mulai mengumpulkan amunisi. "Kita akan lari lewat selokan?"
"Lebih baik basah dan bau daripada mati ditangkap Rio," jawab Sabiru tegas. Ia menekan kombinasi tombol yang rumit.
Krrrreet... Bum!
Lantai di tengah ruangan bergeser perlahan, mengungkap sebuah lubang gelap yang bau apek, dengan tangga besi karatan yang menurun lebih dalam lagi ke perut bumi. Air hitam mengalir deras di dasarnya.
"Itu jalurnya," kata Sabiru sambil menutup laptopnya dan memasukkannya ke tas tahan air. "Ayo, Yah! Kita punya waktu kurang dari 10 menit sebelum tim Rio mendobrak pintu atas."
Suara dentuman keras tiba-tiba terdengar dari lantai atas, tepat di atas kepala mereka. BUM! Debu berjatuhan dari langit-langit beton. Mereka sudah datang. Dan mereka tidak mengetuk pintu; mereka meledakkannya.
"Mereka sudah di pintu utama!" teriak Aldo, menarik tangan Sabiru. "Cepat, turun!"
Mereka berdua melompat ke dalam lubang gelap itu tepat saat suara ledakan kedua terdengar lebih keras, diikuti teriakan komando dari lantai atas. Cahaya sorot lampu senter mulai menyapu ruangan Safe House dari arah tangga masuk.
"Temukan mereka! Cek ruang server!" teriak suara berat dari atas.
Sabiru dan Aldo sudah berada di dasar lubang, menutup panel lantai dari bawah. Gelap gulita menyelimuti mereka, hanya diterangi oleh senter kecil yang dinyalakan Aldo. Bau busuk air selokan langsung menusuk hidung, tapi bagi mereka, bau itu adalah aroma kebebasan.
"Mereka ada di dalam," bisik Sabiru di kegelapan, napasnya tersengal. "Tapi mereka tidak tahu kita sudah pergi ke arah lain. Sekarang, kita harus berjalan menyusuri gorong-gorong ini sampai keluar di muara sungai."
Aldo mengangguk, menggandeng tangan anaknya erat-erat di dalam kegelapan yang menyesakkan. "Ikuti Ayah, Sab. Jangan lepaskan tangan Ayah."
Mereka mulai berjalan tertatih-tatih di atas lumpur licin, meninggalkan markas canggih warisan Arisendra di belakang mereka. Di atas sana, musuh menggeledah ruangan kosong, marah karena sekali lagi mangsanya lolos dari genggaman.
Permainan kucing-kucingan ini belum berakhir. Justru, kini mereka masuk ke fase paling berbahaya: berburu di lorong-lorong bawah tanah kota Jakarta, sementara Rio Pratama mengendalikan seluruh mata dan telinga di permukaan.
Namun, di dalam kegelapan itu, tekad Sabiru justru semakin membara. Setiap langkah di air kotor ini adalah satu langkah lebih dekat untuk menyelamatkan Allbiru. Dan dia tidak akan berhenti sampai Rio menyesal telah lahir ke dunia ini.