Livia Alessandra adalah tunangan yang sempurna, namun bagi Axel Killian, Livia hanyalah tameng untuk mendapatkan warisan kakeknya. Setiap kali Livia membutuhkan Axel, laki-laki itu selalu menghilang demi Elena. Alasan Axel selalu sama, yaitu Elena fisiknya lemah karena sakit.
Hingga pada akhirnya Livia memilih pergi dan menghilang dari Axel setelah puncaknya ia ditinggal Axel saat fitting baju pengantin. Dan saat itu Livia sudah tahu tentang hubungan Axel dan Elena dibelakangnya. Ternyata Elena bukan sahabat perempuan Axel, tapi mantan pacarnya.
Diambang kehancuran hati, semesta tidak membiarkan Livia jatuh. Ia diselamatkan oleh Morenzo, pemimpin mafia brutal yang diam-diam telah mengamatinya dengan obsesi gila sejak lama.
Livia kini bangkit kembali bukan sebagai pengemis cinta. Saat Axel mulai memohon kesempatan kedua karena sadar Elena hanyalah parasit, Livia hanya tersenyum dingin dibalik pelukan posesif Morenzo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Toko Perhiasan
Axel dan Elena sedang berada di toko perhiasan. Bukan. Bukan Axel mau membelikan untuk Elena, akan tetapi untuk Livia di acara pernikahannya nanti. Axel masih percaya diri bahwa pernikahannya dengan Livia akan terjadi meskipun sampai saat ini ia belum bertemu dengan Livia.
Pandangan Axel menyisir setiap perhiasan yang terpajang dibalik etalase.
Elena menyentuh lengan Axel lembut.
"Tenanglah, Axel. Livia pasti akan menyukai cincin pilihanku. Aku tahu seleranya, dan aku tahu apa yang pantas untuk calon pengantinmu."
Axel hanya mengangguk kecil. Langkahnya tiba-tiba terhenti di tengah hiruk-pikuk pelayan yang sedang merapikan pajangan. Di sisi terjauh, di depan sebuah etalase eksklusif yang dijaga lebih ketat, berdiri seorang wanita yang seolah mematikan gravitasi di sekitarnya.
Wanita itu mengenakan gaun berwarna emerald yang jatuh sempurna di lekuk tubuhnya. Elena tahu harga gaun itu fantastis. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan leher jenjang yang selama ini sering Axel abaikan.
Itu Livia. Tapi bukan Livia yang Axel kenal. Livia yang sekarang tampak berkali-kali lipat lebih elegan dan berkelas.
Livia sedang memegang sebuah berlian yang diletakkan di atas bantalan beludru hitam. Itu adalah berlian paling mahal di toko tersebut. Bodyguard-nya berjaga dalam jarak yang sangat jauh di dekat pintu masuk dan area privat, sehingga Livia tampak seolah-olah sedang sendirian di sana, menikmati kemewahan itu dalam hening di tengah keramaian.
Tanpa sadar, Axel melangkah mendekat. Ia menyapa, "Akhirnya aku bertemu kamu di sini."
Livia tidak terkejut. Ia bahkan tidak menoleh saat Axel melanjutkan kalimatnya dengan nada yang meledak-ledak oleh rasa lega.
"Akhirnya kau kutemukan. Sudah kuduga, kau pasti ke sini karena sejauh mana pun kamu pergi, pasti ingat dengan hari penting kita. Kau ke sini sedang milih-milih perhiasan yang akan kau gunakan untuk pernikahan kita besok, kan? Tenang saja Livia, aku sudah memesannya, dan kini tinggal ambil saja. Elena yang sudah membantuku pilihkan, kau pasti suka karena pilihannya bagus."
Livia meletakkan kembali berlian itu. Ia berbalik dan menatap Axel. Livia pun sekilas beralih menatap Elena. Di ujung matanya, ia melihat Elena tersenyum manis. Senyum yang penuh kemenangan terselubung.
Kalau aku bersikap marah, itu adalah kekalahan. Aku ingat betul dengan bersikap begitu, Elena akan merasa menang karena Axel menganggapku kekanakan, batin Livia. Ia menarik napas dalam, mengunci emosinya.
Livia ingat betul kata-kata Morenzo, jika ingin menang, tak ada salahnya menjadi seperti mereka. Maka yang kini dilakukan Livia adalah berpura-pura suka.
"Aku pasti menyukai pilihan Elena, sangat menyukai," ujar Livia dengan penekanan yang ganjil pada setiap katanya. Ada sarkasme yang begitu halus hingga Axel yang sedang mabuk kepastian tidak menyadarinya.
Axel justru tersenyum lebar. Baginya ini adalah kemajuan bbesar
"Baguslah. Aku senang kamu akhirnya mengerti. Elena sudah bekerja keras. Dia membantuku mengurus persiapan, dekorasi, bahkan daftar tamu. Tanpa dia, persiapan pernikahan ini tidak akan sesempurna sekarang. Kau tahu sendiri betapa sibuknya aku di kantor belakangan ini."
Livia memiringkan kepalanya sedikit, memberikan senyum tipis yang tidak mencapai mata. "Oh, bagus dong kalau begitu. Memang kau harus menyiapkannya bersama Elena."
Karena aku tidak akan menikah denganmu, lanjut Livia dalam hati.
Mendengar jawaban itu, Axel merasa ada yang aneh. Tumben sekali Livia tidak menunjukkan ketidaksukaan pada Elena. Ditambah suasana di antara mereka tidak terasa seperti sepasang kekasih yang akan menikah besok. Benar kata Elena, Livia telah berubah. Ia bukan lagi gadis yang akan merengek meminta perhatian atau cemburu saat Axel pergi dengan Elena.
"Livia..." Axel merendahkan suaranya, mencoba menggunakan nada membujuk yang biasanya berhasil meluluhkan hati wanita itu. "Ayo kita pulang sekarang. Kita butuh istirahat. Besok adalah hari besar kita. Besok adalah pernikahan kita."
Livia memperbaiki letak jam tangan mewahnya. "Kau pulang duluan saja, nanti aku menyusul."
Axel mengerutkan kening. "Benarkah? Kenapa tidak pulang saja bersamaku? Mobilku ada di luar."
"Tidak bisa. Ada urusan yang harus aku selesaikan dulu di sini. Kau pulanglah duluan, nanti aku menyusul."
Axel terdiam. Kata-kata itu, dulu ia yang sering melontarkannya pada Livia setiap kali Livia mengajak makan malam atau sekadar jalan-jalan. "Aku ada urusan, kau pulanglah duluan, nanti aku menyusul." Dan ia tidak pernah benar-benar menyusul. Sekarang situasi berbalik. Rasa tidak aman mulai merayap di hati Axel. Ia tidak yakin Livia akan benar-benar pulang ke rumah mereka.
Apakah Livia benar-benar menyusul pulang ke rumah? Batin Axel.
Melihat keraguan Axel, Elena memutuskan untuk menjalankan perannya. Ia melangkah maju dengan wajah yang dibuat penuh empati, namun matanya berkilat licik.
"Livia, aku tahu mungkin kamu merasa sedikit tertekan dengan semua persiapan ini. Tapi jangan begini, kasihan Axel. Pulanglah bersamanya. Dia sudah sangat lelah. Dan soal berlian yang kamu pegang tadi..." Elena menunjuk berlian mahal yang tadi dilihat Livia. "...itu sangat indah, tapi sejujurnya, itu terlalu berlebihan untuk seleramu yang biasanya sederhana. Aku sudah memilihkan cincin yang jauh lebih pas untukmu. Lagipula, berlian itu harganya tidak masuk akal. Jangan memaksakan diri hanya untuk terlihat menonjol di depan Axel."
Elena menoleh ke arah Axel dengan tatapan manja. "Axel, mungkin Livia hanya sedang lelah sehingga dia ingin memboroskan uang untuk hal yang tidak perlu. Bukankah lebih baik uangnya ditabung untuk masa depan kalian?"
Sikap manipulatif Elena yang seolah peduli pada keuangan dan selera Livia justru menjadi pemantik api yang selama ini dipadamkan Livia. Livia menatap Elena, lalu menatap manajer toko yang sejak tadi berdiri kaku di belakang konter.
"Manajer," panggil Livia tenang.
"Ya, Madam?"
"Berapa harga seluruh isi toko ini?"
Pertanyaan itu membuat Axel dan Elena terperangah. Manajer toko itu tergagap, "Maaf, Madam? Maksud Anda membeli perhiasan yang tadi?"
"Tidak. Saya tanya berapa total semua harga perhiasan di toko ini? Saya ingin membelinya sekarang juga. Tunai," tegas Livia.
Elena tertawa kecil, "Livia, jangan bercanda. Kamu tahu berapa nilai seluruh isi toko ini? Ini bukan toko mainan. Jangan membuat malu Axel di depan umum dengan drama kekanakan seperti ini."
Namun Livia tidak menghiraukan Elena. Ia mengeluarkan sebuah kartu hitam dengan desain khusus yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di dunia. Ia meletakkannya di atas meja kaca. "Cek limitnya. Jika cukup, buatkan surat penjualannya sekarang. Saya tidak punya banyak waktu."
Manajer toko itu dengan tangan gemetar mengambil kartu tersebut dan melakukan pengecekan. Matanya membelalak saat melihat saldo yang tertera di layar mesinnya. "Tentu, Nona, segera kami proses."
Axel mematung. "Livia, apa yang kau lakukan? Ini gila!"
Livia menoleh ke arah Axel dan Elena yang kini tampak pucat. "Elena bilang aku tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat menonjol. Jadi, daripada aku hanya membeli satu berlian yang menurutnya terlalu mahal, aku memutuskan untuk memiliki seluruh tokonya. Dengan begitu, aku bisa membuang perhiasan pilihan Elena ke tempat sampah karena... ya, seleranya memang tidak pernah setinggi itu."
Livia mengambil tas tangannya, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi. "Oh, dan Axel? Jangan menunggu aku pulang. Karena rumah yang kau maksud, bukan lagi tempat tujuanku."
Axel yang tersadar dari keterkejutannya segera berlari mengejar. "Livia! Tunggu! Kita harus bicara!" Elena pun ikut berlari di belakangnya, wajahnya merah padam karena dipermalukan.
Baru saja mereka sampai di ambang pintu toko, langkah mereka langsung terhenti. Lima orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan earphone di telinga mereka berdiri menghalangi jalan.
"Maaf, Tuan, Nona. Anda tidak diizinkan mendekati Nyoyna kami," ucap salah satu pria.
"Minggir! Dia calon istriku!" teriak Axel.
Eh apa tadi? Nyonya kami? Axel kian frustrasi.
Pria berseragam hitam itu tidak bergerak sedikit pun. Mereka membentuk pagar betis yang mustahil ditembus. Di depan sana, sebuah limusin mewah sudah menunggu. Seorang asisten membukakan pintu untuk Livia. Sebelum masuk ke dalam mobil, Livia sempat menoleh sekilas, menatap Axel dan Elena yang meronta di balik barikade pengawalnya. Dan ia teringat sesuatu, hingga balik lagi ke dalam untuk menemui Axel.
"Suatu saat nanti, temui aku di sini. Aku yang akan menghubungimu lebih dulu. Kita akan pergi ke suatu tempat." ujar Livia.
Bersambung.
jika melompT di pagi hari bisa menggugurlan kecebong 🤣🤣🤣🤭🤭
apakah Livia pernah menolongmu
betapa sakitnya diabaikan dan di lupakan🤭🤭