Setelah hidup selama 500 tahun penuh pengkhianatan, kesengsaraan, dan perjuangan, Tian Hao akhirnya kembali ke masa lalu.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, ia memperoleh Warisan Mutiara Surgawi yang mempercepat jalur kultivasinya.
"Kali ini... aku akan mencapai keabadian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Mengambil harta
Tulang rawan hidung serigala itu hancur, membuatnya limbung. Tak memberi napas, Tian Hao menusukkan belatinya ke celah tengkorak serigala lainnya yang mencoba menggigit kakinya.
Gerakannya efisien, satu tusukan, satu nyawa. Tidak ada teriakan kepahlawanan, tidak ada kata-kata tantangan. Hanya suara desah napas yang teratur dan daging yang robek.
Dua serigala tersisa tampak ragu. Mereka melihat kawan-kawannya tewas dalam sekejap oleh remaja manusia yang tampak rapuh ini. Tian Hao berdiri tegak, darah monster membasahi wajah lebamnya.
Tatapannya yang dingin dan kosong justru memancarkan aura yang lebih purba daripada naluri predator serigala tersebut.
"Pergilah, atau jadilah bagian dari tanah ini," bisiknya dalam hati.
Naluri bertahan hidup serigala-serigala itu akhirnya menang. Mereka mundur ke dalam kegelapan, meninggalkan bangkai kawan mereka.
Tian Hao tidak mengejar. Ia tidak membunuh karena benci atau haus darah; ia membunuh karena mereka menghalangi jalannya. Bagi seorang pengembara keabadian, amarah adalah pemborosan energi yang tidak perlu.
Ia melanjutkan perjalanan dengan napas yang mulai berat. Luka-lukanya tadi siang mulai berdenyut kembali, namun ia terus memacu tubuhnya. Akhirnya, ia sampai di bawah pohon tua yang akarnya menonjol seperti urat-urat raksasa.
Dengan tangan kosong, ia mulai menggali tanah merah yang telah ia tandai. Setiap kerukan tanah membuat kuku-kukunya yang belum sembuh total kembali terasa pedih. Namun, ia tidak berhenti. Kesakitan adalah guru terbaik yang mengajarkan bahwa diri kita masih nyata.
Setelah beberapa saat, ujung jarinya menyentuh kain kasar. Ia menarik karung itu keluar.
Di dalamnya, tiga butir telur Ular Putih masih utuh, bersinar lembut di bawah cahaya rembulan yang sesekali menembus rimbunnya daun.
Selain telur, ada beberapa botol Qi cair dan permata yang ia kumpulkan dari mayat-mayat murid. Harta ini adalah fondasi yang ia butuhkan untuk melompati ranah-ranah rendah dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"Dunia akan menyebutku pencuri, ayahku akan menyebutku sampah, dan adikku mungkin akan ketakutan jika melihat ini," Tian Hao menatap telur-telur itu dengan senyum tipis yang sarat akan ironi. "Tapi bagi mereka yang ingin berdiri di atas awan, moralitas hanyalah rantai yang dipasang oleh orang lemah untuk membelenggu orang kuat."
Ia memeluk karung itu erat di dadanya. Perjalanan pulang akan jauh lebih berbahaya karena aroma telur ini bisa menarik monster yang lebih kuat. Namun, Tian Hao tidak gentar. Ia sudah terbiasa berjalan di tepi jurang.
Ia tidak bisa memasukkan benda ini ke dalam cincin di mensi karena cincin tersebut bisa rusak karena kekuatan telur ini.
Ia mulai bergerak kembali ke arah kediaman, menyelinap di antara pepohonan dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
Baginya, setiap langkah adalah pelajaran tentang kesabaran. Ia tidak terburu-buru untuk menjadi yang terkuat saat ini, karena ia tahu bahwa yang paling penting bukanlah siapa yang berlari paling cepat, melainkan siapa yang masih terus melangkah ketika yang lain telah menyerah atau mati.
Saat ia mendekati perbatasan hutan, fajar mulai menyembul di ufuk timur. Tian Hao kembali ke kamarnya melalui jalan yang sama, menyembunyikan karung berharganya di bawah papan lantai yang longgar di pojok kamar.
Ia duduk di tepi tempat tidurnya, membersihkan darah serigala dari tangannya. Cahaya pagi yang mulai masuk ke kamar menyinari wajahnya yang babak belur, namun penuh dengan ketenangan yang menakutkan.
"Kultivasi adalah perjuangan melawan langit, melawan manusia, dan yang paling sulit... melawan diri sendiri," gumamnya pelan. "Hari ini mereka memukulku, besok mereka akan iri padaku, dan suatu hari nanti... mereka bahkan tidak akan berani menatap bayanganku."
Tian Hao memejamkan mata sejenak, membiarkan tubuhnya pulih sebelum latihan pagi dimulai.
Ia adalah dirinya sendiri dalam ceritanya sendiri, seorang pria yang tidak mencari pembenaran atas tindakannya, karena baginya, hasil akhir adalah satu-satunya kebenaran yang mutlak.