Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluru Nyasar dan Keberuntungan Indigo
Suasana kemenangan setelah terungkapnya pengkhianatan Don Lorenzo ternyata hanyalah jeda singkat sebelum badai yang lebih besar datang menghantam. Moretti, yang kini merasa terpojok dan kehilangan sekutu pentingnya, tidak lagi bermain cantik. Ia mengirimkan sisa-sisa pasukannya—unit elit tentara bayaran yang tidak mengenal ampun—untuk melakukan satu misi terakhir: melenyapkan Kaivan Vittorio dan "senjata rahasianya", si gadis indigo.
Pagi itu, Kaivan dan Gendis sedang berada dalam perjalanan menuju sebuah pertemuan darurat dengan dewan klan-klan kecil di pusat kota Palermo. Mereka berada di dalam SUV antipeluru kelas berat, dikawal oleh dua mobil pengawal.
"Kak, perasaan saya nggak enak," gumam Gendis. Ia sejak tadi gelisah, jari-jarinya terus memainkan ujung jaketnya. "Dari tadi saya liat ada bayangan item besar banget yang ngikutin mobil kita di atas gedung-gedung itu. Bentuknya kayak anjing hitam bermata api, tapi gede banget, Kak."
Kaivan segera waspada. Ia sudah belajar untuk tidak pernah meremehkan firasat Gendis. "Marco, tingkatkan kewaspadaan. Ganti rute ke jalur protokol."
"Siap, Tuan," jawab Marco.
Namun, baru saja mobil mereka berbelok di sebuah persimpangan sempit yang dikelilingi bangunan tua, firasat Gendis meledak menjadi teriakan.
"KAK! TIARAP! SEKARANG!"
Gendis mendorong bahu Kaivan hingga pria itu merunduk di jok belakang. Detik berikutnya...
BOOM!
Sebuah roket RPG menghantam mobil pengawal di depan mereka, meledakkannya hingga menjadi bola api raksasa yang menutupi jalan. Mobil yang ditumpangi Kaivan terpaksa mengerem mendadak, membuat tubuh mereka terlempar ke depan.
"Penyergapan!" teriak Marco sambil mencabut pistolnya.
Rentetan peluru senapan mesin mulai menghujani badan SUV mereka. Suaranya memekakkan telinga, seperti ribuan palu yang menghantam besi. Di luar sana, dari jendela-jendela gedung tua, para penembak jitu Moretti mulai melepaskan tembakan.
"Gendis, tetap di bawah!" perintah Kaivan. Ia mengambil senapan serbu dari bawah jok dan membuka sedikit celah jendela antipeluru untuk membalas tembakan.
"Kak, jangan lewat jendela kanan! Ada peluru yang 'dijagain' setan di sana!" teriak Gendis.
Kaivan ragu sejenak, namun ia memilih percaya. Ia berpindah ke sisi kiri dan melepaskan tembakan. Benar saja, sesaat kemudian, sebuah peluru kaliber besar menghantam bingkai jendela kanan dengan kekuatan luar biasa—peluru itu melesat dengan sudut yang tidak masuk akal, seolah-olah dibelokkan oleh tangan tak terlihat. Jika Kaivan tetap di sana, kepalanya pasti sudah hancur.
"Mereka menggunakan Shadow Bullet," geram Kaivan. "Peluru yang diberkati oleh penyihir Moretti."
"Bukan diberkati, Kak! Itu pelurunya ditempelin arwah penasaran supaya bisa ngejar target!" Gendis merangkak di lantai mobil, wajahnya pucat pasi. "Kak, kita harus keluar dari mobil ini! Mobil ini udah dikepung aura merah pekat, sebentar lagi tangkinya bakal meledak karena 'disulut' dari alam gaib!"
"Marco, buka pintu! Kita berlari ke arah gereja tua di sebelah kiri!" perintah Kaivan.
Mereka keluar dari mobil di tengah hujan peluru. Marco dan dua pengawal lainnya membentuk barisan pelindung. Kaivan merangkul pinggang Gendis, melindunginya dengan tubuhnya sendiri sambil terus menembak.
"Ke sana, Kak! Lewat pintu samping yang ada patung malaikat patah sayapnya!" Gendis menunjuk ke arah sebuah pintu kecil yang tersembunyi.
Mereka berhasil masuk ke dalam gereja tua yang terbengkalai itu. Suasananya mendadak sunyi, hanya terdengar suara napas yang terengah-engah dan gema tembakan dari luar. Aroma debu, kayu lapuk, dan kemenyan kuno memenuhi udara.
"Marco, jaga pintu masuk. Luca, periksa balkon atas," perintah Kaivan. Ia menoleh ke arah Gendis yang gemetar. "Kau tidak apa-apa?"
"Nggak apa-apa... tapi peluru tadi... Kak, mereka nggak cuma mau nembak Kakak. Mereka mau nyuri jiwa Kakak pakai peluru itu," bisik Gendis. "Saya bisa liat arwah-arwah di dalam peluru itu teriak-teriak minta darah."
Tiba-tiba, kaca patri gereja yang indah itu hancur berantakan. Beberapa penembak bayaran Moretti berhasil masuk melalui jendela atas menggunakan tali.
DOR! DOR! DOR!
Baku tembak kembali pecah di dalam rumah ibadah tersebut. Kaivan bertarung dengan sangat taktis, berlindung di balik pilar-pilar marmer besar. Namun, jumlah musuh terlalu banyak.
"Kak, arah jam dua! Di balik altar!" seru Gendis.
Kaivan berbalik dan menembak. Seorang pria terjatuh dari balik meja altar.
"Arah jam sepuluh! Di atas patung!"
Lagi, Kaivan melumpuhkan musuh berkat navigasi indigo Gendis. Keberuntungan indigo ini membuat Kaivan seolah memiliki mata di belakang kepalanya. Setiap peluru nyasar yang seharusnya mengenai Kaivan, entah bagaimana selalu meleset beberapa sentimeter karena Gendis selalu menarik bajunya atau meneriakkan peringatan di saat yang tepat.
"Berhenti! Atau gadis ini mati!"
Suara bariton yang kasar menggema. Seorang pria besar, pemimpin tentara bayaran Moretti, muncul dari balik bayangan sambil menodongkan pistol ke arah kepala Gendis yang entah sejak kapan terpisah sedikit dari Kaivan saat kekacauan tadi.
Kaivan menurunkan senjatanya. Matanya berkilat penuh amarah yang dingin. "Lepaskan dia."
"Jatuhkan senjatamu, Vittorio! Dan biarkan aku mengambil kepala gadis ini untuk dibawa ke Moretti," ucap pria itu dengan senyum licik.
Gendis menatap pria itu dengan tatapan aneh. Ia tidak terlihat takut. Malah, ia terlihat... kasihan?
"Om... mendingan Om lepasin saya sekarang," ucap Gendis pelan.
"Diam, Jalang!" bentak pria itu.
"Bukan gitu, Om... di belakang Om itu... ada yang marah banget." Gendis menunjuk dengan matanya ke arah bayangan besar di dinding gereja.
Bayangan itu bukan berasal dari cahaya lampu. Itu adalah bayangan Don Alessandro yang kini muncul dalam wujud yang jauh lebih mengerikan daripada biasanya. Zirah besinya mengeluarkan api biru, dan pedang besarnya tampak berkilau dengan cahaya perak yang mematikan.
"Siapa?!" pria itu berbalik dengan panik, namun ia tidak melihat siapa-siapa. Bagi manusia biasa tanpa kemampuan indigo, ruangan itu kosong.
Namun, tiba-tiba suhu di sekitar pria itu naik drastis. Ia merasa lehernya seperti dicekik oleh tangan raksasa yang tak terlihat. Pistolnya terlepas dari tangannya.
"Ini buat yang udah ganggu makan malam cucuku!" suara guntur seolah terdengar di telinga pria itu (yang sebenarnya adalah suara Don Alessandro yang disalurkan melalui frekuensi batin).
Pria itu terlempar ke dinding dengan kekuatan luar biasa hingga jatuh pingsan.
Kaivan tidak membuang waktu. Ia segera menyambar Gendis dan menariknya ke dalam pelukannya. Marco dan timnya berhasil membersihkan sisa-sisa musuh lainnya.
"Semuanya bersih, Tuan," lapor Marco, meski napasnya masih tersengal.
Kaivan menatap Gendis, memeriksa setiap inci tubuh gadis itu. "Kau benar-benar tidak terluka?"
Gendis menggeleng pelan, meski kakinya terasa seperti jeli. "Berkat kakek buyut Kakak yang lagi 'ngamuk', saya aman. Tapi Kak... peluru nyasar tadi..."
Gendis memungut sebutir peluru yang jatuh di dekat kaki Kaivan. Peluru itu tidak berbentuk bulat sempurna, melainkan memiliki ukiran simbol iblis yang sangat kecil.
"Moretti sudah benar-benar gila. Dia menggunakan Dark Arts yang dilarang bahkan oleh organisasi bawah tanah tertua sekalipun," gumam Kaivan sambil mengambil peluru itu dari tangan Gendis.
"Kak, kita harus selesaiin ini sekarang," ucap Gendis dengan nada yang sangat serius. "Kalau nggak, mereka bakal terus kirim peluru-peluru berhantu kayak gini. Dan saya nggak tahu berapa lama lagi saya bisa nahan energi negatif sebanyak ini."
Kaivan mengangguk. Ia memeluk Gendis erat, mencium keningnya di tengah reruntuhan gereja yang kini penuh lubang peluru. "Kita akan menyerang markas Moretti malam ini. Bukan dengan pasukan besar, tapi dengan kejutan yang tidak akan pernah dia duga."
"Maksud Kakak... pakai bantuan 'mereka'?" Gendis melirik ke arah Don Alessandro yang kini sudah kembali tenang dan sedang asyik memeriksa pilar gereja yang rusak.
"Ya. Moretti punya tentara bayaran dan penyihir gelap. Tapi kita punya sejarah, arwah nenek moyang, dan seorang gadis indigo yang bisa membelokkan takdir," ujar Kaivan dengan senyum predatornya yang kembali muncul.
Gendis tersenyum tipis. "Oke. Tapi habis ini, beneran ya Kak... saya mau liburan ke tempat yang nggak ada pelurunya sama sekali. Ke kebun teh di Puncak kayaknya enak."
"Apapun untukmu, Nona Indigo," jawab Kaivan.
Mereka keluar dari gereja itu dengan langkah yang lebih mantap. Peluru nyasar mungkin telah menguji mereka, namun keberuntungan indigo dan perlindungan gaib telah membuktikan bahwa sang Raja Mafia tidak lagi berjalan sendirian di lembah bayang-bayang maut.
Malam itu, Palermo akan menjadi saksi sebuah perang yang belum pernah tercatat dalam sejarah—perang antara teknologi modern mafia dan kekuatan kuno dari alam lain. Dan di pusat badai itu, Kaivan Vittorio dan Gendis bersiap untuk mengakhiri segalanya.
"Bang Marco!" panggil Gendis sebelum masuk ke mobil cadangan.
"Ya, Nona?"
"Tadi pas Abang nembak, ada hantu suster yang kasih tepuk tangan lho. Katanya tembakan Abang bagus, tapi celana Abang robek di bagian belakang."
Marco langsung menutupi bagian belakang celananya dengan wajah merah padam, sementara Kaivan tertawa terbahak-bahak, meredakan ketegangan yang tadi nyaris merenggut nyawa mereka. Perjalanan menuju pertempuran terakhir pun dimulai dengan tawa di tengah aroma mesiu.
aku like banget
seribu jempol
aku like...