Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 MUNCULNYA MAHKLUK MENGERIKAN
Pagi itu, udara di ibu kota kerajaan terasa lebih hangat dari biasanya. Jenderal Lytia, yang baru saja menyelesaikan laporan paginya, memutuskan untuk mampir ke sebuah kedai kopi di sudut pasar yang ramai. Ia membutuhkan kafein sebelum kembali untuk menekuni Zeta dan minta maaff.
"Satu kopi hitam, tolong," ucap Lytia sambil meletakkan beberapa koin.
Saat menunggu pesanannya, telinganya yang tajam menangkap bisik-bisik dari sekelompok warga di meja sebelah.
"Kasihan sekali Ksatria dari dunia lain itu. Dia terlihat sangat bingung saat warga yang belum tau tentang kesatria dunia lain itu dia dimaki dan tuduh sebagai mata-mata Zetobia tadi," ucap seorang pria paruh baya dengan nada khawatir.
"Benar. Aku khawatir jika dia menyimpan dendam pada kita. Padahal dia adalah harapan kita, kan?" sahut yang lain.
Jantung Lytia seakan berhenti berdetak. Ia segera mendekati meja warga tersebut dengan raut wajah serius. "Tunggu sebentar. Apa yang kalian katakan tadi? Ksatria dunia lain... maksud kalian Zeta?"
Warga itu terkejut dan segera membungkuk hormat. "O-oh! Jenderal Lytia! Benar, Jenderal. Sekitar satu jam yang lalu, ada keributan di pasar. Beberapa orang memprovokasi massa dan menuduh Ksatria itu sebagai agen rahasia musuh."
Lytia mengepalkan tangannya. "Lalu, di mana dia sekarang?"
"Dia pergi dengan sangat cepat, Jenderal. Dia menggunakan sihir angin yang sangat kuat hingga menciptakan debu di mana-mana. Bukankah...kemarin dia bersama Anda?"
Lytia memaksakan senyum tipis yang tampak kaku. "Ah, iya... Setelah kami latian dari hutan kemaren kami sempat berpisah sebentar agar dia bisa jalan-jalan. Terima kasih informasinya."
Tanpa menunggu kopinya selesai, Lytia berbalik dan berlari secepat kilat. Sial! Perasaan anak itu sudah aku sakitin kemaren, dan warga malah menekannya? Ini bencana!
Di Hutan Terlarang: Sisi Lain Sang Ksatria
Sementara itu, di kedalaman hutan, Zeta terduduk lemas di atas batang pohon tumbang. Napasnya masih memburu. Kemenangannya atas Pimpinan Minotaur meninggalkan rasa lapar yang luar biasa.
"Huh... huh... sialan. Perutku mau copot rasanya," gumam Zeta sambil memegangi perutnya yang keroncongan. "Kenapa aku bisa lupa membawa bekal? Gara-gara warga mendesak ku aku jadi tidak sempat beli apa-apa."
“ Kalo gitu aku coba cari buah buahan di hutan sini dulu deh “ ucap zeta sambil berdiri dari duduk lalu Ia menatap sisa gagang pedang berkarat di tangannya yang kini sudah hancur total. "Aku butuh senjata yang baru dan lebih kuat kalo begitu di Dunia ini pasti punya pandai besi yang hebat. Kalo bisa sih yang bisa membuatkan pedang yang mampu menahan sihirku...kalo betulan ada aku beli ke mereka yang mampu membuatnya."
Tiba-tiba di jalan yang sunyi saat Zeta mencari buah buahan telinga Zeta menangkap suara geraman rendah. Dari balik semak-semak yang gelap, muncul satu, dua, hingga dua puluh pasang mata merah yang menyala. Kawanan serigala hutan Dire Wolves mengepungnya.
Zeta tidak terlihat takut. Sebaliknya, ia menyeringai. "Wah, wah... akhirnya muncul juga Monster pemula tunggu ini Monster atau binatang ukuran mereka lebih kecil dari monster yang sebelumnya”
Kawanan serigala itu menerjang serentak. Zeta bergerak dengan gerakan yang hampir malas namun sangat efisien. Tanpa pedang, ia menggunakan jarinya seperti pisau bedah udara.
CRASH! SPLAT!
Setiap ayunan tangannya menciptakan bilah angin tipis yang membelah udara dengan suara swish yang tajam. Darah membasahi rumput, namun tak setetes pun mengenai baju Zeta. "Cih, terlalu mudah. Ini bahkan bukan olahraga," ucapnya dingin sambil menginjak kepala serigala terakhir yang masih meronta.
Gerbang Tiga: Kepanikan Sang Putri
Di saat yang sama, Putri Stella dan Laksamana Airon berhenti berjalan mendadak di Gerbang Tiga. Penjaga gerbang segera memberi hormat.
"Halo, Tuan Putri! Laksamana! Ada yang bisa kami bantu?" tanya salah satu penjaga dengan ramah.
"Kami ingin keluar menuju hutan untuk mengecek minotour yang ada disana," jawab Stella dengan nada cemas.
Penjaga itu mengerutkan kening. "Di hutan itu ada minotour tuan putri?”
"Apa kalian tidak dengar? Ada Kabar disana ada Minotaur di area itu!" seru Stella.
Para pengawal itu tersentak, wajah mereka pucat pasi. "A-apa? Minotaur? Pantas saja beberapa jam terakhir kami mendengar raungan yang sangat keras dari dalam sana. Kami pikir itu hanya suara badai, jadi kami tidak berani masuk tanpa izin Raja."
"Tunggu dulu..." salah satu penjaga gerbang menyela dengan suara gemetar. "Jika benar ada Minotaur di sana... berarti Ksatria dunia lain itu dalam bahaya besar!"
Putri Stella dan Laksamana Airon membeku. "Zeta? Dia ada di sana?!"
"Benar, Putri. Satu jam yang lalu, dia minta izin keluar untuk 'latihan'. Kami mengizinkannya karena kami pikir di sana hanya ada monster-monster kecil tingkat pemula."
"Aduh gawat bisanya kalian biarkan gitu aja" bentak Laksamana Airon.
"Dia masih belum tau apa apa tentang Monster di dunia ini”
“Penjaga itu bilang maaf kan kami tuan putri kami tidak pernah mengecek hutan itu karena kami tidak berani ngecek tanpa izin raja”
Stella hampir jatuh lemas. "Sudah tidak papa kalian tidak salah sekarang aku harus kejar dia ke hutan ayo laksmana!"
Di Kedalaman Hutan: Hening yang Mencekam
Sementara itu, Zeta yang baru saja membantai kawanan serigala akhirnya bisa mengatur napasnya. Di tengah keputusasaan karena kelaparan, matanya berbinar melihat pohon dengan buah-buah apel merah yang ranum.
"Wahh... buah apel! Banyak sekali!" Zeta memetiknya dan memakan buah itu dengan sangat lahap. "Akhirnya perutku bisa terisi lagi... Kenyang juga."
Zeta menyandarkan tubuhnya sejenak, menatap ke arah langit. "Hmm, sepertinya hari sudah mau siang. Apa aku balik saja ya? Aku ingin bertemu Putri Stella mau tanya apakah dia tau pandai besi yang hebat di kerajaan kalo bisa sih aku minta saja ke dia hehehe. Setelah itu, aku akan menemui Lytia dan minta maaf... aku ingin menunjukkan padanya kalau aku sudah jadi kuat sekarang."
Zeta mulai melangkah keluar dari hutan. Namun, baru berjalan beberapa meter, tepat di sebelah kanannya dalam jarak dua meter, ia melihat sesuatu yang mustahil sebuah cahaya terang dan Tiga sosok Minotaur berdiri membentuk lingkaran, dan di tengah-tengah mereka, sebuah Formula Sihir yang kompleks mulai bersinar terang.
"Apa ini...?" Zeta merinding. Hawa di sekitarnya mendadak berubah menjadi sangat berat dan mencekam. "Kekuatannya besar sekali! Minotaur di dunia ini benar-benar luar biasa beda dari minotour yang aku liat di game dan film, bagaimana bisa mereka menggunakan formula sihir? Apa mereka ingin membangkitkan pimpinan mereka kembali?"
Zeta menajamkan penglihatannya. Di lengan para Minotaur itu, ia melihat sebuah simbol unik: Formula sihir berbentuk segitiga dengan logo bintang di tengahnya.
"Hmm kenapa mata mereka beda dengan minotour sebelum nya yang berwarna merah sementara sekarang mata mereka berwarna oren gelap seperti simbol formula sihir di lengan mereka apa mungkin mereka di kendalikan oleh seseorang yang punya sihir mengendalikan monster" batin Zeta dengan jantung berdebar kencang. "Jangan-jangan mereka dikirim untuk melakukan hal berbahaya, seperti menyerang kerajaan dari dalam!"
Tiba-tiba, seluruh hutan mendadak menjadi gelap. Awan hitam pekat bergulung-gulung menutupi langit, berkumpul tepat di atas formula sihir tersebut. Suasananya berubah mencekam, seolah-olah sosok makhluk legenda yang luar biasa kuat akan segera muncul.
"Hah... kenapa tiba-tiba jadi seperti malam? Tidak, awan ini... ini seperti kiamat!" Zeta mulai merinding hebat. "Firasatku mengatakan mereka tidak membangkitkan pimpinan mereka, tapi sesuatu yang jauh lebih kuat!"
Kepanikan di Ibu Kota
Di ibu kota kerajaan, ketenangan warga berubah menjadi horor. Mereka berhamburan keluar, menatap langit yang semula terang kini gelap gulita. "Apa yang terjadi di hutan dekat Gerbang Tiga?! Kenapa ada awan hitam mengerikan itu?!"
Lytia yang sedang berlari menuju istana terhenti seketika. Matanya terbelalak menatap langit. "Aura apa ini...?"
Di saat yang sama, Putri Stella dan Laksamana Airon mempercepat laju langkah mereka menuju hutan. Wajah mereka pucat pasi saat melihat sebuah pilar cahaya sihir ungu meledak menembus awan hitam dari dalam hutan.
Di hadapan pilar cahaya itu, Zeta berdiri membeku. Di depannya, dari dalam ritual tersebut, mulai terbentuk sosok yang memancarkan tekanan energi yang benar benar mencekam.
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍