"Di mata dunia, dia adalah pangeran penyelamat. Di mataku, dia adalah sipir penjara yang kejam."
Bagi keluarga besar Aris Baskoro, Aris adalah anak berbakti dan abang idaman. Sebagai seorang Manager Regional sukses dengan gaji puluhan juta, dia tak pernah ragu melunasi cicilan mobil adiknya, membiayai kuliah saudara-saudaranya, hingga memberikan tas-tas branded untuk ibunya tercinta. Aris adalah 'pahlawan' yang selalu diagung-agungkan.
Namun, di balik pintu rumahnya sendiri, Aris adalah monster yang berbeda bagi sang istri, Maya Safira.
Di rumah mewah yang mereka tempati, Maya harus hidup dalam 'kemiskinan' yang dipaksakan. Aris memperlakukannya bukan sebagai istri, melainkan tawanan. Setiap rupiah uang belanja dicatat, setiap struk harus dilaporkan. Sementara Aris royal pada orang lain, dia pelit setengah mati pada istri dan anaknya, Dafa. Maya bahkan harus memutar otak mencari uang seratus ribu untuk SPP anaknya yang menunggak, padahal di saat yang sama, Aris baru saja mentransfer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**bab 12 awal dari kedaulatan
🌸🌸🌸🌸
Matahari pagi menembus celah gorden tipis di jendela kontrakan sederhana itu, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas meja kayu tempat Maya duduk. Suara ketikan jari-jarinya di atas keyboard laptop bergerak cepat dan berirama ritmis, memecah keheningan pagi.
Di sudut ruangan, Dafa yang mengenakan kaus bergambar dinosaurus sedang asyik mewarnai buku gambar dengan krayon warna-warni.
Suasana terasa sangat damai—sebuah ketenangan murni tanpa bayang-bayang teriakan, celaan, atau kepanikan saat mendengar suara mobil Aris memasuki halaman rumah seperti dulu.
"Bunda, lihat! Dinosaurus Dafa warna hijau!" panggil Dafa bangga, mengangkat buku gambarnya tinggi-tinggi.
Maya menghentikan ketikannya sejenak, lalu menoleh dengan senyum hangat di wajahnya. Ia mengusap rambut sang anak dengan lembut.
"Bagus sekali, Sayang. Nanti kalau Bunda sudah selesai kirim artikel ini ke klien, kita tempel di dinding depan, ya?"
"Hore!" seru Dafa kegirangan sebelum kembali fokus pada krayon di tangannya.
Maya menatap layar laptopnya kembali. Sebuah surel notifikasi masuk dari salah satu agensi pemasaran digital langganannya
> "Mbak Maya, tulisan artikel dan copywriting untuk kampanye terbaru kami sudah disetujui oleh klien utama. Mereka sangat puas dengan hasilnya dan ingin mengontrak Mbak untuk proyek bulanan jangka panjang. Pembayaran untuk proyek minggu ini sebesar Rp2.500.000 sudah kami transfer ke rekening Mbak."
>
Membaca pesan itu, Maya menghela napas lega, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Hanya dalam kurun waktu satu bulan setelah ketukan palu perceraian di Pengadilan Agama, kariernya sebagai seorang freelancer berkembang pesat. Tanpa tekanan emosional dan batasan ruang gerak dari Aris, fokus dan kreativitas Maya melesat tinggi.
Uang hasil keringatnya sendiri kini terkumpul rapi di rekening pribadinya. Ia tak perlu lagi gemetar menatap sisa angka di bawah struk belanja, dan tak perlu lagi memohon-mohon uang susu untuk Dafa.
Notifikasi di ponselnya kembali berdering, menandakan adanya transaksi masuk. Saldo rekeningnya bertambah—kali ini bukan dari klien freelance-nya, melainkan transferan otomatis sebesar Rp3.500.000 dari rekening Aris.
Itu adalah uang nafkah anak bulan pertama yang ditetapkan pengadilan. Maya menatap layar ponselnya datar. Ia menarik napas panjang, lalu memindahkan seluruh nominal nafkah itu langsung ke rekening tabungan khusus pendidikan Dafa yang baru ia buka.
Ia bersumpah tidak akan menyentuh satu sen pun uang dari Aris untuk kebutuhan pribadinya; seluruhnya dialokasikan murni untuk masa depan Dafa.
Sementara itu, di sebuah rumah perumahan satu lantai yang kini terasa makin sunyi dan pengap, Aris duduk terpekur di tepi tempat tidur.
Ruang tidur yang dulu selalu rapi dan wangi lavender buatan Maya, kini tampak amat memprihatinkan.
Pakaian kotor menumpuk di atas kursi, selimut teronggok tak terlipat, dan debu tipis mulai melapisi permukaan meja rias yang kosong tanpa sisa kosmetik milik Maya.
Aris menatap layar ponselnya yang menampilkan rincian gajinya bulan ini setelah terkena dampak efisiensi perusahaan. Setelah dipotong wajib sebesar Rp3,5 juta untuk nafkah Dafa sesuai perintah pengadilan, sisa uang di rekeningnya benar-benar menipis.
Pintu kamar terdorong kasar. Ibu Ratna masuk dengan wajah cemberut, mengekor Siska di belakangnya yang memegang gawai dengan raut panik.
"Aris! Ini gimana maksudnya?" cerceh Ibu Ratna tanpa salam, duduk di tepi kasur sambil mengipas-ngipaskan dadanya. "Uang bulanan yang kamu transfer ke Ibu kok cuma satu juta rupiah? Biasanya kamu kasih Ibu tiga juta! Ini kurang sekali, Ris! Mana cukup buat beli beras, lauk, dan bayar arisan!"
"Iya, Mas Aris!" Siska ikut menimpali dengan nada tinggi, menyodorkan layar ponselnya ke depan muka Aris. "Cicilan motor Siska jatuh tempo hari ini! Seratus ribu pun Mas Aris belum transfer ke rekening Siska! Orang leasing sudah telepon-telepon dari pagi! Mas Aris janji mau bayarin, kan?!"
Aris memejamkan mata rapat-rapat. Rasa pening yang luar biasa menghantam kepalanya. Pria itu berdiri mendadak, membanting ponselnya ke atas kasur dengan napas memburu.
"Ibu! Siska! Bisakah kalian lihat kondisi Mas sekarang?!" bentak Aris dengan suara parau yang membuat Ibu Ratna dan Siska terperanjat mundur. "Gaji Mas dipotong kantor! Mas harus bayar nafkah Dafa tiap bulan tiga setengah juta! Kalau tidak dibayar, Mas bisa dipenjara karena melanggar keputusan pengadilan!"
"Tapi masa Ibu sama adikmu sendiri dikorbankan demi si Maya itu?!" sahut Ibu Ratna tak mau kalah, matanya melotot. "Harusnya kamu banding! Harusnya kamu tidak usah kasih uang sebanyak itu sama si Maya! Dia kan sudah cari uang sendiri dari kerja freelance di komputer!"
"Itu bukan buat Maya, Bu! Itu buat Dafa! Anak kandungku sendiri!"
suara Aris meninggi, urat-urat di lehernya menegang.
"Dan asal Ibu tahu, dulu waktu Maya masih di sini, uang belanja yang aku kasih cuma dua juta! Tapi rumah ini selalu bersih, makan selalu ada, dan kebutuhan Dafa terpenuhi! Dulu aku selalu bela Ibu sama Siska, aku potong uang belanja Maya demi kasih uang ke kalian! Sekarang lihat hasilnya? Maya pergi, rumah ini hancur, dan Mas tidak punya uang lagi!"
Siska bersedekap, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Jadi Mas Aris menyalahkan Siska sama Ibu? Mas Aris sendiri kan yang berlagak sok mampu dari dulu?!"
"Cukup!" teriak Aris, memotong kalimat adiknya. "Mulai bulan ini, Siska bayar cicilan motor sendiri dari gaji Siska! Dan Ibu, cukup-cukupkan uang satu juta itu! Mas tidak punya uang lagi!"
Ibu Ratna terpaku dengan bibir bergetar,
sementara Siska menghentakkan kakinya kasar sebelum berbalik keluar kamar sambil menangis sesenggukan. Untuk pertama kalinya, keluarga kecil yang dulu selalu terlihat harmonis karena menyedot darah dan keringat Maya itu, kini pecah dan saling tuduh karena perebutan sisa-sisa uang yang tak seberapa.
Aris terduduk kembali di tepi kasur. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang gemetar. Dalam keheningan yang menyesakkan, bayangan masa lalu menghantamnya tanpa ampun: bayangan saat Maya menyambutnya di depan pintu dengan senyum lembut, menyediakan teh hangat, dan mengurus segalanya tanpa pernah mengeluh.
Penyesalan itu datang terlambat, amat terlambat, bagaikan racun yang menggerogoti jiwanya secara perlahan.
Sore harinya, angin sepoi-sepoi berembus di taman kota dekat kontrakan Maya. Dafa berlarian gembira di atas rumput hijau, mengejar balon sabun yang ditiupnya sendiri.
Maya duduk di bangku taman, memandangi putranya dengan rasa syukur yang membuncah. Di tangannya, sebuah buku catatan kecil terbuka. Ia sedang merancang rencana jangka panjang:
menyisihkan sebagian penghasilan freelance-nya untuk menyewa sebuah studio kecil dan mempekerjakan satu orang asisten untuk membantunya mengelola proyek penulisan dan desain yang makin menumpuk.
Maya telah melewati badai terhebat dalam hidupnya. Ia pernah menjadi wanita yang direndahkan, dihitung setiap sen makanan yang dimakannya, dan dianggap tidak mampu berdiri sendiri.
Namun hari ini, di bawah langit sore yang cerah, Maya membuktikan bahwa kemandirian dan keberanian seorang ibu adalah perisai terbaik untuk menjemput takdir yang lebih bermartabat.
Ia tak lagi menjadi korban. Maya telah menjadi ratu atas kehidupannya sendiri.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸