NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Romansa / Tamat
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."

​Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.

​Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.

​Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?

​"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

​Gedung pusat Prayudha Group berdiri angkuh mencakar langit Jakarta, namun atmosfer di lantai teratas ruang rapat Penthouse terasa jauh lebih dingin daripada udara di luar. Ruangan berdinding kaca itu sudah dipenuhi oleh para pemegang saham, dewan komisaris, dan tentu saja, klan utama Prayudha. Bau kemewahan yang tajam dari karpet wol dan parfum desainer memenuhi udara, namun bagi Isvara, itu adalah aroma medan perang.

​Isvara melangkah masuk dengan ritme yang begitu tenang. Ia mengenakan power suit berwarna hitam pekat dengan potongan yang sangat tajam, dipadukan dengan kemeja sutra putih yang kaku di bagian kerah. Rambutnya disanggul sangat rapi, menampakkan lehernya yang jenjang namun pucat.

Bibirnya dipulas warna merah marun yang dalam, memberikan kesan otoritas yang absolut. Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang akan menyangka bahwa dua puluh menit yang lalu, Isvara harus menelan dua dosis obat jantung di dalam mobil hanya untuk bisa berdiri tegak.

​Ia tidak duduk dengan terburu-buru. Ia meletakkan tablet dan dokumennya di atas meja marmer dengan gerakan yang sangat terkendali, lalu duduk di samping Adrian. Adrian meliriknya sekilas, matanya mencari celah kelemahan di wajah Isvara, namun ia tidak menemukan apa pun selain tatapan mata elang yang dingin.

​"Selamat pagi, Bapak dan Ibu pemegang saham," suara Adrian menggema, berat dan penuh wibawa. "Kita akan segera memulai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan. Agenda pertama adalah presentasi progres fisik dan finansial Grand Prayudha Resort Bali oleh Direktur Kreatif dan Arsitek Utama kita, Isvara Kalandra."

​Isvara berdiri. Ia tidak butuh bantuan mikrofon untuk membuat suaranya terdengar ke seluruh penjuru ruangan. "Terima kasih, CEO Adrian."

​Namun, sebelum Isvara sempat membuka slide pertamanya, sebuah suara parau memotong dengan tidak sopan. Paman Hadi, pria yang selalu merasa lebih berhak atas kursi CEO, menyandarkan punggungnya sambil memutar-mutar pena emas.

​"Sebentar, Isvara. Sebelum kita bicara soal estetika gedung di Bali, ada hal yang jauh lebih krusial bagi para investor di sini," Paman Hadi tersenyum sinis. "Kami mendengar desas-desus tentang ketidakstabilan latar belakang keluarga Anda. Isu tentang pencucian uang yang melibatkan ayah Anda kembali mencuat.

Sebagai pemegang saham, kami berhak tahu, apakah wajah perusahaan ini akan diwakili oleh seseorang yang memiliki noda kriminal di darahnya?"

​Ruangan itu mendadak sunyi. Mama Wina menyesap tehnya dengan anggun, matanya berkilat menunggu Isvara meledak atau menangis. Arini di sudut lain tampak sudah menyiapkan ponselnya, mungkin ingin merekam momen kehancuran Isvara.

​Isvara tidak meledak. Ia bahkan tidak berkedip. Ia justru tersenyum tipis sebuah senyum yang sangat merendahkan.

​"Paman Hadi," suara Isvara terdengar sangat jernih, nyaris merdu namun tajam.

"Saya terkejut Anda lebih tertarik pada gosip masa lalu daripada proyeksi laba 300% yang akan dihasilkan oleh proyek Bali tahun depan. Apakah ini tanda bahwa Anda sudah terlalu lelah untuk memahami angka-angka di hadapan Anda?"

​Paman Hadi memerah. "Jaga bicaramu, Isvara! Ini soal integritas!"

​"Integritas?" Isvara berjalan perlahan mengitari meja, langkah kakinya di atas lantai marmer menciptakan bunyi detak yang konstan, seperti detak jantung yang sangat tenang. "Jika kita bicara soal integritas, mari kita bicara soal data. Firma saya, Vara Interior Design, telah melewati audit independen dari empat lembaga internasional dalam dua tahun terakhir. Tidak ditemukan satu pun aliran dana yang mencurigakan. Sebaliknya..."

​Isvara menekan satu tombol di tabletnya, dan layar besar di belakangnya menampilkan grafik aliran dana internal Prayudha Group yang selama ini tersembunyi.

​"...saya menemukan beberapa kebocoran dana di divisi logistik yang dipimpin oleh putra Anda, Paman Hadi. Jadi, jika Anda ingin membahas soal 'darah yang tercemar kriminalitas', mungkin Anda harus melihat cermin sebelum melihat saya."

​Skakmat. Paman Hadi terbungkam, wajahnya berubah dari merah menjadi ungu. Para pemegang saham mulai berbisik, namun kali ini bisikan itu tertuju pada Paman Hadi, bukan Isvara.

​"Sekarang," Isvara melanjutkan, suaranya tetap tenang meskipun di balik blazer-nya, ia bisa merasakan jantungnya mulai meremas dadanya dengan perih yang luar biasa. "Mari kita bicara soal kelas. Proyek Bali bukan sekadar bangunan. Ini adalah mahakarya yang telah mendapatkan sertifikasi Gold Premium dari dewan arsitek dunia bahkan sebelum peletakan batu pertama.

Kontrak vendor internasional yang saya kunci bulan lalu memastikan bahwa kita mendapatkan material terbaik dengan harga 20% di bawah pasar. Itulah integritas saya. Itulah nilai saya bagi perusahaan ini."

​Mama Wina berdeham, mencoba menyelamatkan situasi. "Isvara, jangan terlalu sombong. Keahlianmu tidak bisa menutupi fakta bahwa fisikmu tampak... tidak sehat. Apa kau yakin bisa menyelesaikan proyek ini tanpa pingsan di tengah jalan? Kami tidak butuh liabilitas."

​Isvara berhenti tepat di depan Mama Wina. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, dan napasnya mulai terasa sangat pendek. Jantungnya berteriak minta tolong, namun Isvara justru berdiri lebih tegak. Ia menumpukan kedua tangannya di atas meja, menunduk sedikit untuk menatap ibu mertuanya itu tepat di mata.

​"Nyonya Wina, kesehatan saya adalah urusan pribadi saya selama hasil kerja saya tetap berada di puncak industri ini," ucap Isvara dengan nada yang sangat rendah namun penuh penekanan. "Saya lebih memilih bekerja dengan satu detak jantung terakhir daripada hidup dengan hati yang penuh kebencian seperti Anda, namun tidak menghasilkan apa pun bagi keluarga ini."

​Arini berdiri, ingin berteriak, namun Adrian lebih dulu menggebrak meja. "Cukup! Agenda hari ini adalah presentasi bisnis, bukan debat keluarga!"

​Adrian menatap Isvara. Ia melihat betapa pucatnya kulit istrinya, bahkan lebih pucat dari kemeja putihnya. Ia melihat getaran halus di jemari Isvara yang menekan meja. Adrian menyadari sesuatu yang salah, namun ia juga terpesona oleh cara Isvara menguasai ruangan itu. Isvara tidak butuh dibela; dia sedang memantai musuhnya sendirian.

​Selama satu jam berikutnya, Isvara mempresentasikan detail teknis dengan sangat brilian. Ia menjawab setiap pertanyaan sulit dari para investor dengan jawaban yang logis dan tajam. Setiap kali rasa sakit di dadanya memuncak, ia hanya meremas pena emasnya lebih kuat, menggunakan rasa sakit fisik itu untuk tetap sadar.

​Di akhir presentasi, seluruh ruangan terdiam. Tidak ada lagi yang berani mempertanyakan latar belakangnya. Kelas Isvara terlalu tinggi untuk dijangkau oleh gosip murahan mereka.

​"Jika tidak ada pertanyaan lagi, saya rasa mosi meragukan kredibilitas saya sudah selesai," ucap Isvara. Ia menutup tabletnya, memberikan anggukan hormat yang sangat minimalis kepada dewan komisaris. "Saya permisi. Ada koordinasi vendor yang harus saya selesaikan."

​Isvara berbalik dan melangkah keluar dengan anggun. Setiap langkahnya terasa seperti berjalan di atas paku, namun ia tidak memperlihatkan setitik pun rasa sakit. Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat di belakangnya dan ia berada di lorong yang sepi, Isvara langsung bersandar di dinding.

​Tangannya meraba dadanya yang terasa seperti dihantam palu godam. Napasnya terengah-engah, matanya memejam rapat.

​"Ibu! Nyonya!" Sinta dan Rima berlari mendekat dengan wajah pucat pasi.

​"Obat... ambilkan obatku di tas," bisik Isvara, suaranya kini benar-benar hilang, digantikan oleh desisan sakit.

​Tepat saat Sinta merogoh tas Isvara, pintu ruang rapat kembali terbuka. Adrian melangkah keluar dengan terburu-buru. Ia membeku saat melihat Isvara yang tadinya tampak seperti ratu yang tak terkalahkan, kini sedang merosot di dinding dengan wajah yang seputih mayat.

​"Isvara!" Adrian berlari mendekat, ia menangkap bahu Isvara sebelum wanita itu jatuh ke lantai. "Apa yang terjadi? Hei!"

​Isvara membuka matanya sedikit, menatap Adrian dengan sisa-sisa tatapan elangnya yang kini mulai meredup karena rasa sakit yang tak tertahankan. Meskipun dalam kondisi kritis, Isvara masih sempat menarik kerah baju Adrian, menariknya mendekat.

​"Jangan... jangan biarkan mereka... tahu," bisik Isvara dengan napas satu-satu. "Jaga... kelas... kita."

​Setelah itu, kesadaran Isvara benar-benar menghilang. Ia pingsan di pelukan Adrian, bukan karena dia menyerah pada serangan keluarga besar, tapi karena tubuhnya sudah memberikan segalanya untuk menjaga kehormatannya di depan orang-orang yang meremehkannya.

​Adrian terdiam, mendekap tubuh Isvara yang terasa sangat dingin dan rapuh. Di tangannya, ia merasakan detak jantung Isvara yang berpacu liar namun lemah. Untuk pertama kalinya, Adrian merasa ketakutan yang luar biasa ketakutan bahwa ia mungkin baru saja menyaksikan napas terakhir dari satu-satunya wanita yang benar-benar memiliki kelas di hidupnya.

1
rika mutalib
Adrian atau Andra
Nadira ST
judul agendanya bikin darting dan tegang belom apa2 udah mikir berat banget konsepnya💪💪💪
"C"
bagusss
Ma Em
Season 2 jgn buat hdp Isvara celaka dan menderita lagi buat Isvara jadi wanita kuat dan hebat .
blcak areng: udah up ya kak di season 2
total 2 replies
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
ren_iren
wajib baca ya gaes, gk usah nanya kenapa pokoknya wajib baca... rekomend dech 🤗🤗
blcak areng: mksh KAK 😍😍😍
total 1 replies
ren_iren
tak tunggu pokoknya 🤗
blcak areng: udah up ya kak di season 2
total 1 replies
Oma Gavin
ngga sabar nunggu sessions 2
blcak areng: udah up ya kak di season 2
total 1 replies
Ma Em
Semoga Isvara bisa sembuh dari penyakitnya dan sehat kembali .
"C"
akhirnya alurnya ga stuck
yumi chan
good jod thor dn bt klusga andra hncur jg gmbl thor..
Siska Amelia
harusnya kan Andra bukan Gavin ya yang ngomong begitu
Ma Em
Duh sdh tdk sabar menunggu kehancuran Andra dan keluarganya .
Siska Amelia
keren lanjut thor
lin sya
bner apa kata davin, jdilah suami dan pria yg tau diri dan peka jgn mikirin ego sendiri, mna ada istri yg lapang dada klo suaminya perhatian kan isvara gk ada hubungan darah mskipun lo anggap adik angkat, jgn serakah dewa, klo misalnya clara jdi jahat itu krn lo, mau jdi duda🤭, isvara aj rumah tangganya ngegantung, tp mnding sm gavin dripd sm dewa dan andra mkin sekarat isvara nya/Smile/
Ma Em
Jangan sampai Andra bisa menemukan Isvara biarkan Andra dan keluarga Prayuda sadar dan merasakan hdp nya susah setelah ditinggal Isvara .
lin sya
syukurlah isvara berada ditmpt yg sehat brsama org yg tepat sprti gavin , seengaknya kondisinya gak menurun, klo berada dilingkungan toxic , jantungnya mkin memburuk krn tekanan , emg enak andra , ada orgnya diskitin gk ada orgnya menyesal berasa kehilangan , cinta tp nyakitin
Ma Em
Makanya keluarga Prayuda Jgn sombong sok jadi penguasa orang kaya tdk menghargai kerja keras Isvara malah selalu dihina dan direndahkan dan dianggap parasit yg numpang tenar hdp enak , sekarang rasakan sama kalian setelah Isvara pergi pasti perusahaan yg kalian bangga2 kan akan gulung tikar setelah Isvara pergi .
Wd Helena
karya yang bagus, nice
Brown choco
Keren banget emang ceritanya, meskioun alir nya lambat buast isvara kelaur dari kelurga toxic itu, tapi ceritanya emang layak buat ditunggu
Crazy up nya ditunggu thor, pengennya isvara bisa balik keadaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!