NovelToon NovelToon
Tanda Cinta Sang Kumbang

Tanda Cinta Sang Kumbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Kutukan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.

Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.

Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Pagi itu datang dengan cara yang berbeda, bukan karena matahari bersinar lebih terang, tapi karena ada sesuatu di udara yang terasa seperti peringatan halus yang tidak bisa dijelaskan, seolah hutan di sekitar pondok tidak benar-benar tenang seperti biasanya, meskipun dari luar semuanya terlihat sama.

Alexandria terbangun lebih dulu, masih dalam keadaan setengah sadar, dan saat matanya terbuka perlahan hal pertama yang ia sadari bukan cahaya pagi, melainkan tangan Leonard yang masih menggenggamnya erat seperti tidak ingin kehilangan sedikit pun jarak di antara mereka bahkan saat tidur, dan ketika ia menoleh sedikit wajah Leonard terlihat tenang tapi ada ketegangan samar di garis rahangnya seolah ia sedang melawan sesuatu bahkan dalam diamnya sendiri.

“Leonard…” bisiknya pelan tanpa berniat membangunkan secara paksa.

Dalam sekejap mata keemasan itu terbuka, tajam seperti refleks yang sudah terbentuk dari insting lama, namun begitu tatapannya bertemu dengan Alexandria semua ketegangan itu perlahan mereda seakan dunia luar tidak lagi penting selama wanita itu masih ada di dekatnya.

“Kamu di sini…” suaranya rendah, hampir seperti memastikan sesuatu yang semalam tidak benar-benar hilang.

Alexandria tersenyum kecil tapi matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa, karena cara Leonard bangun tadi bukan seperti orang yang sekadar terjaga dari tidur, melainkan seperti seseorang yang baru saja kembali dari sesuatu yang menariknya dengan paksa.

“Kamu mimpi buruk?” tanyanya pelan.

Leonard tidak langsung menjawab, tatapannya sempat bergeser ke arah jendela, ke arah hutan yang terlihat tenang tapi terasa berbeda, lalu ia menghela napas panjang sebelum akhirnya berbicara.

“Aku tidak yakin itu mimpi… rasanya lebih seperti ditarik,” katanya pelan namun dalam, “sejak malam itu, semuanya berubah, bukan hanya tubuhku tapi juga sesuatu di dalam diriku, dan sekarang aku bisa merasakannya lebih jelas, seperti ada sesuatu dari Eldoria yang terus memanggilku pulang.”

Kalimat itu membuat udara di antara mereka sedikit berubah, tidak lagi sekadar pagi yang hangat, karena ada sesuatu yang lebih berat mulai masuk tanpa permisi.

Alexandria terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertanya dengan suara yang lebih pelan dari biasanya.

“Kalau kamu tidak pergi… apa yang terjadi?”

Leonard menatapnya lama, lalu menjawab jujur tanpa mencoba memperhalus apa pun.

“Aku tidak tahu, tapi aku bisa merasakan sihirku tidak lagi stabil, kadang mengalir kuat, kadang hampir lepas kendali, dan tadi malam aku hampir berubah lagi tanpa aku sadari,” katanya sambil menggenggam tangan Alexandria lebih erat seolah memastikan dirinya masih berada di sini.

Alexandria menunduk sedikit, bukan karena takut, tapi karena mencoba menerima kenyataan yang mulai mengarah ke sesuatu yang tidak bisa mereka hindari lagi.

“Jadi kita memang harus pergi…” katanya akhirnya lebih pada dirinya sendiri.

Leonard langsung menggeleng kecil, lalu menarik tangan itu lebih dekat.

“Bukan kamu yang harus pergi sendirian,” jawabnya cepat, “kalau aku harus kembali ke Eldoria, kamu ikut denganku, karena aku tidak akan meninggalkanmu di dunia ini setelah semua yang kita lewati.”

Alexandria menatapnya lebih dalam, dan untuk pertama kalinya tidak ada keraguan di matanya, hanya keputusan yang sudah tumbuh perlahan sejak awal.

“Aku tidak minta kamu meninggalkanku,” katanya pelan tapi tegas, “aku hanya tidak ingin kehilangan kamu di tempat yang bahkan tidak bisa aku jangkau.”

Kalimat itu cukup untuk membuat Leonard terdiam, bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena ia tahu itu benar-benar tulus tanpa syarat.

Akhirnya ia menarik Alexandria ke dalam pelukannya, bukan pelukan ringan seperti biasanya, tapi pelukan yang terasa seperti keputusan yang sudah tidak bisa dibatalkan lagi.

“Kalau begitu kita pergi bersama,” bisiknya, “bukan karena kita siap, tapi karena kita tidak punya pilihan lain.”

Hari itu berubah menjadi hari persiapan yang tidak banyak kata, tapi penuh makna di setiap gerakan kecil, Alexandria mulai mengemas barang-barang penting seperti buku catatan ayahnya, ramuan-ramuan yang ia buat, dan beberapa benda yang menyimpan kenangan rumah itu, sementara Leonard mulai melatih dirinya secara diam-diam, merasakan kembali aliran sihir yang kadang stabil kadang liar, seolah tubuhnya sendiri belum sepenuhnya memutuskan apakah ia manusia atau sesuatu yang masih terikat pada kutukan lama.

Namun ketenangan itu tidak bertahan sepenuhnya.

Siang menjelang, saat Alexandria keluar mengambil air, langkahnya berhenti begitu saja karena ia melihat sesuatu di tanah dekat sumur yang tidak seharusnya ada, jejak baru, lebih dari satu, dalam dan jelas bukan jejak hewan hutan, dan saat ia berbalik perlahan Leonard sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan yang langsung berubah tajam tanpa perlu penjelasan.

“Mereka sudah kembali,” gumamnya pelan tapi pasti.

Alexandria tidak menjawab, hanya menggenggam lengan Leonard lebih erat, bukan untuk menghentikan, tapi untuk memastikan mereka tetap berdiri di sisi yang sama.

Dan sejak saat itu tidak ada lagi kata santai di antara mereka, karena semuanya sudah berubah menjadi kesadaran bahwa waktu mereka benar-benar semakin sempit.

Sore hari berlalu dalam kesunyian yang terasa berbeda, bukan damai, tapi seperti sesuatu yang sedang menunggu di luar batas pandang, dan malam ketika akhirnya turun tidak lagi membawa ketenangan, hanya kesadaran bahwa ini mungkin malam terakhir mereka di tempat yang pernah menjadi rumah.

Alexandria berdiri di tengah ruangan, matanya menyapu setiap sudut tanpa berkata apa-apa, sementara Leonard memperhatikannya dari belakang tanpa mengganggu, karena ia tahu wanita itu sedang menyimpan semua kenangan dalam cara yang tidak perlu dijelaskan.

“Aneh ya,” akhirnya Alexandria berkata pelan tanpa menoleh, “aku pikir akan lebih sulit meninggalkan tempat ini, tapi ternyata yang paling sulit justru karena aku tahu aku tidak pergi sendirian.”

Leonard mendekat, berdiri di sampingnya.

“Kamu tidak pernah sendirian,” jawabnya singkat.

Dan untuk pertama kalinya malam itu Alexandria benar-benar percaya bahwa apa pun yang menunggu di depan, entah Eldoria, Valerius, atau sesuatu yang lebih besar dari itu, mereka tidak lagi berjalan sebagai dua orang yang kebetulan bersama, melainkan sebagai satu keputusan yang sudah tidak bisa dipisahkan lagi.

Saat fajar akhirnya datang, mereka tidak saling berbicara banyak, hanya menggenggam tangan satu sama lain lebih erat dari biasanya, lalu melangkah keluar dari pondok yang selama ini menjadi dunia kecil mereka, dan hutan Aethelgard menyambut mereka tanpa suara, seolah tahu bahwa sesuatu yang jauh lebih besar baru saja mulai bergerak.

Dan saat mereka benar-benar melangkah meninggalkan batas halaman pondok, ada sesuatu yang berubah di udara, bukan hanya angin yang bergerak lebih dingin, tapi juga tekanan halus yang terasa seperti mata tak terlihat sedang memperhatikan dari balik pepohonan yang rapat, membuat langkah Alexandria sedikit melambat tanpa ia sadari.

Leonard langsung merasakan itu, genggamannya menguat, bukan untuk menarik paksa, tapi untuk memberi rasa aman yang tidak perlu kata-kata, dan ia menoleh sekilas ke arah hutan dengan tatapan yang lebih tajam dari sebelumnya, karena insting dalam dirinya sudah mengenali satu hal sederhana—mereka tidak benar-benar meninggalkan tempat itu sendirian, ada sesuatu yang sudah mulai mengikuti sejak langkah pertama mereka diambil.

Alexandria menarik napas panjang, lalu melangkah lagi, kali ini lebih mantap, seolah keputusan itu sudah benar-benar terkunci di dalam dirinya, dan di sampingnya Leonard juga bergerak maju tanpa ragu, karena apapun yang menunggu di depan, mereka tidak lagi bisa mundur, bukan karena tidak ada jalan pulang, tapi karena mereka sudah memilih jalan yang sama sejak malam ketika dua jiwa itu akhirnya saling menemukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!