Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.
Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.
Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—
Fero.
Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.
Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang pria yang mencintainya dengan kesabaran yang menyakitkan.
Sementara Andra harus menerima satu kenyataan pahit: Cinta yang pernah mereka bangun mungkin tidak akan pernah kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Cinta
Andra: Mei, kamu ada waktu ? ada yang ingin Mas sampaikan.
Tidak ada jawaban lima menit sepuluh menit
Andra melihat jam tangannya, sudah pukul 09.30 malam. Apakah dia sudah tidur? Namun tidak lama notif WA terdengar
Mei: Iya, Mas, besok di panti?
Andra: Jangan di panti Mei, kalau bisa sekarang, di mana pun tempat mas akan kesana
Hening, hanya angin malam menyentuh jaketnya berdesir, menghibur hati nya yang resah.
Mei: Taman kota dekat patung kuda, ya Mas. Mei di sana dalam waktu setengah jam.
Andra tidak membalas melambai taksi. Hatinya berdegup kencang bukan karena rasa gugup—tapi ketakutan yang mengancam, pada kebenaran cerita yang ia dengar, menghancurkan harapan yang selama ini ia bangun dan harapkan.
Taman kota sepi, patung kuda berada di tengah dengan cat hampir mengelupas, beberapa bagian tubuhnya retak. Ia adalah simbol kota yang terlupakan, saksi bisu dari banyaknya pertemuan rahasia orang orang di taman.
Gadis itu sudah duduk di bangku batu lima belas menit yang lalu. Ia memakai jaket, kaos longgar dan celana jeans belel. Rambutnya dilepas, tergerai di punggung. Dia tidak terlihat seperti Mei yang Andra kenal, tapi orang asing baru saja diceritakan temannya.
" Mohon maaf Mei mengganggu istirahat malamnya." Andra duduk di sebelah jarak satu jengkal terasa lebih jauh dari sebelumnya.
" Ada apa mas malam malam ? "
" Mei," laki laki itu menghela napas, berat di kerongkongan, matanya memandang jauh ke depan tapi bibirnya kaku.
" Kenapa Mas?" Ia menatap lamat, perasaannya menjadi tidak enak, wajah Andra terlihat pucat, gurat kesedihan terpancar dari bola mata nya.
"Mas sudah tahu? "
"Tahu apa?"
" Mas...Dadanya tiba tiba sesak, haruskah ia ceritakan kebenaran itu ? " Cerita rumit keluarga tidak senyaman yang mas bayangkan."
" Mas tidak memaksa Mei, Mas hanya mendengar cerita dari Rei."
" Dari Rei ? "
" Ya sahabat mas pertama kali mengajak ke panti."
Ia terhenyak, napasnya terasa sesak. " Berarti Mas tahu siapa Mei sebenarnya? Tahu tentang Fero, dan rahasia yang tersimpan?"
" Mas ingin mendengar dari bibirmu, Mei, itu saja, bukan lagi sebuah rahasia yang ditutupi."
" Tapi Mei sudah cerita dengan mas, kehidupan Mei rumit."
" Tapi tidak yang ini, Mei, " Bibir Andra bergetar, matanya berkaca kaca.
" Apakah Mei berbohong dengan mas selama ini ?"
" Bukan," Andra membela, ia sendiri tidak yakin. "Cuma...Mei tidak cerita semuanya."
"Apa bedanya?"
"Fero," Andra akhirnya mengucapkan nama terasa asing di bibirnya. "Dia tunangan kamu?"
Mei terkejut badan, berarti? "Bukan, mas belum tapi...."
" Tapi hampir."
" Mas ...mas harus percaya dengan Mei, coba dengarkan dulu."Roman wajahnya memutih. " Semuanya akan terjadi kalau Mei tidak melawan."
" Kamu melawan apa? Siapa?"
"Keluarga." Ia menarik napas sorot matanya suram. "Mereka punya rencana sejak lama menjodoh kan Mei dengan Fero."
Andra menoleh, hatinya pecah.
" Harapan mereka setelah Mei selesai kuliah di luar negeri, pulang, lalu bekerja di perusahaan."
" Lalu ?"
" Mei mesti menikah dengan Fero, menjalani kehidupan seperti yang mereka inginkan." Suaranya bergetar disetiap kalimat, bibirnya mengatup menahan.
"Kamu mau ?"
" Enggak mas, Mei kabur, setahun yang lalu. Mei tinggalkan semua kesenangan mencari pekerjaan sendiri, tinggal di apartemen kecil, membantu di panti...demi hidup.
Andra terhenyak, gadis yang duduk di bangku batu dengan jaket kaos longgar, tersenyum kecil di bawah pohon mangga, chat sampai jam dua pagi tentang bakso dan jazz—adalah anak orang kaya kabur dari istana."Mas tidak tahu harus bilang apa, Mei," jawabnya jujur.
"Mei juga tidak, Mas, " Dadanya naik turun menahan perasaan. " Mei seharusnya cerita lebih awal. Tapi Mei takut... seandainya Mas tahu, Mas akan pergi. Dan Mei tidak mau kehilangan satu-satunya tempat dimana Mei merasa...
"Tempat?"
"Bukan panti, Mas." Matanya basah "Tapi tempat sandaran dimana Mei merasa nyaman dan tenang."
Dada laki laki itu seperti disiram air es dingin menyejukkan, ia tidak menyangka jawabannya seperti itu " Mas tidak akan pergi Mei, Mas hanya butuh kebenaran. Mas mengerti apa yang kamu hadapi saat sekarang tapi mas tidak bisa berpura pura senang melihat kamu naik mobil dengan calon tunanganmu."
Ia mengangguk mengerti.
Mereka duduk di taman itu hingga larut. Mei bercerita—tentang ibunya yang ambisius, ayahnya yang diam saja, Fero yang sebenarnya tidak buruk, tapi manut. Dan caranya melepas mencari kebebasan di panti asuhan.
Dan Andra bercerita—bahwa ia melihatnya di Darmawangsa dan tentang rasa yang tidak cukup menggerogoti. "Mas hanya karyawan biasa, Mei," katanya di ujung malam. "Hidup mas sederhana mungkin tidak akan cukup hanya untuk membeli tas yang kamu pakai."
Ia tersenyum, senyuman yang menyejukkan pertama kali Andra lihat di bangku kayu panti.
" Mas hanya punya mobil kecil, mas tidak punya koneksi pasti tidak akan diterima oleh keluargamu."
"Mei lari karena sudah muak dengan semua kata kata palsu menipu. Untuk apa harta benda melimpah tapi hati kosong."
" Tapi Mei...sandaran itu yang sepadan, tidak mungkin bisa menyatu air dengan minyak, api dengan angin."
" Apakah kalimat itu meluncur dari hati mas sendiri ? Atau hanya perasaan rendah diri ?"
" Memang begitu kenyataannya."
Ia menggeleng pelan, " Mas, coba dengar kan,
Mas melihat, menilai mei —bukan anak siapa, bukan anak konglomerat, bukan pula aset pernikahan—tapi Meisyah yang suka jazz, bakso, dan anak-anak bermain dilaman bermain bola, duduk di bangku kayu, berayun di ayunan hampir putus."
"Benarkah begitu mei ?"
"Mei i yang merasakannya, mas, walaupun mas sembunyikan, " Ia meraih tangannya untuk pertama kali " Itu sudah cukup untuk Mei."
Andra membalas menggenggam nya erat, " Apa yang akan Mei lakukan selanjutnya ?"
"Mei harus kembali ke apartemen kecil tanpa keluarga dan laki laki itu. Mei bekerja dengan pilihan sendiri. Dan Mas..." ia berhenti,sorot matanya tenang. "Semua keputusan dan pilihan ada ditangan Mas, maju atau mundur Mei melepas dengan iklas.
Andra tidak butuh waktu tidak untuk ini." Mas mau ikut, apapun resikonya."
Ia tertawa kecil—matanya berbinar. "Apakah mas sanggup ? "
" Mas harus kuat, asalkan Mei juga ikut."
Roman wajahnya berseri.
Malam semakin larut, taman kosong mati, orang orang sudah pulang hanya tersisa patung kuda menyaksikan kisah mereka.
"Mei," Andra berbisik sebelum mereka berpisah.
"Ya?"
"Terima kasih, sudah cerita, Mas antar ya? "
" Gak usah, Mas, Mei bawa mobil kok." Ia berhenti sesaat lalu, " Tapi...Mas pulang naik apa ? "
"Tadi mas naik ojol."
"Malam begini mana ada ojol, mas, Mei yang antar.." Ia tertawa sambil menarik tangannya, masuk kedalam mobil
Langkah kaki Andra terhenti. "Mei...apakah benar ini cerita kita ? Rasanya mas bermimpi mendapat kan seorang gadis begitu cantik baik hati."
" Mas ngerayu, " Ia tertawa terkekeh, "Seandai nya mas tahu Mei hanya orang biasa apakah mas masih mau ?"
Andra mengangguk dalam, " Pertama kali mas meliat mu mas sudah tertarik, kamu melayani anak anak dengan tulus, mencintai mereka memang benar dari hati, Mas bangga, Mei," Air matanya tiba tiba menetes. "Gadis seperti ini yang mas cari."
" Mas berani ? "
" Ya..."
" Mas kuat ?"
" Tentu."
" Kita hadapi bersama ya mas, " Ia memeluk dengan rasa haru, tanpa sadar air matanya ikut jatuh.