Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Mereka datang tidak lama setelah lampu padam.
Arka mendengar suara pertama dari lorong timur. Bukan langkah kaki. Bukan suara orang. Tapi gesekan logam di dinding tanah. Sekop. Atau linggis. Mereka tidak lagi bersembunyi.
Pratama berdiri di seberang ruangan, pistol di tangan, punggung menempel ke rak besi. Matanya terbiasa dengan gelap. Arka juga. Mereka sudah berlatih di kegelapan selama berminggu-minggu.
Dinding lorong timur runtuh. Suara tanah dan kerikil berhamburan di lantai beton. Lalu senter. Satu. Dua. Tiga. Cahaya putih menyapu ruang utama, bergerak tidak menentu.
“Mereka masuk,” bisik Pratama.
Arka mengangkat tangan. Jangan tembak dulu. Biarkan mereka masuk lebih dalam.
Langkah kaki. Banyak. Sepuluh. Mungkin lebih. Sepatu bot di lantai es. Suara napas yang berat. Seseorang batuk pelan.
“Kosong,” suara laki-laki dari arah pintu utama. “Mereka sudah kabur.”
“Periksa semua ruangan. Komandan mau pastikan.”
Senter bergerak ke ruang medis. Pintu terbuka. Dewi tidak bersuara. Arka sudah menyuruhnya bersembunyi di balik lemari obat. Rina di ruang tanam, di antara rak-rak hidroponik. Umar di dekat genset, obeng di tangan.
“Ruangan kosong.”
“Cek ruang belakang.”
Senter menyapu meja, kursi, rak-rak kosong. Arka menekan tubuhnya ke balik tumpukan karung beras. Tangan kanannya memegang pistol, tangan kiri meraba lantai untuk memastikan tidak ada yang menghalangi.
Seorang pria berjalan lewat. Jaraknya tidak sampai satu meter. Arka bisa mencium bau jaketnya yang basah. Bau asap. Bau keringat yang membeku.
Pria itu berhenti.
Arka menahan napas.
Senter menyorot ke arah karung beras. Cahaya putih menembus sela-sela karung, menyilaukan mata Arka. Dia tidak bergerak. Tidak berkedip.
Pria itu bergerak lagi. Menjauh.
Arka menghela napas pelan.
Pratama bergerak dari balik rak besi. Diam-diam. Sepatu botnya tidak bersuara di lantai beton. Dia mendekati pria paling belakang. Satu gerakan cepat. Lengan melingkar di leher. Pistol ditempelkan di pelipis.
“Satu suara, kamu mati.”
Pria itu membeku. Senter di tangannya jatuh, memantul di lantai, cahaya berputar kacau.
Pria lain menoleh. “Ada apa?”
Arka muncul dari balik karung. Dua tembakan. Peluru pertama mengenai bahu. Peluru kedua mengenai lengan. Pria itu jatuh, berteriak.
Kekacauan. Senter-senter bergerak liar. Suara teriakan. “Mereka di sini! Mereka tidak kabur!”
Pratama melepaskan pria yang ditahannya. Satu pukulan ke belakang kepala. Pria itu ambruk.
Arka berlari ke lorong utama, bersembunyi di balik dinding. Peluru bersiul di samping telinganya. Pecahan beton berhamburan.
“Kepung mereka! Jangan biarkan lolos!”
Arka menghitung. Setidaknya delapan orang masih berdiri. Mungkin lebih. Amunisi terbatas. Tidak bisa buang-buang.
Pratama muncul di sisi lain, menembak dua kali. Satu pria jatuh. Yang lain membalas, tapi tidak mengenai.
“Mundur ke lorong timur!” teriak seseorang.
Arka tidak membiarkan mereka mundur. Dia menembak lagi. Satu pria yang berlari tersandung, jatuh, merangkak ke gelap.
Lalu sunyi. Tiba-tiba.
Tidak ada suara. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada teriakan.
Arka menempelkan punggung ke dinding. Napasnya memburu. Di seberang, Pratama memberi isyarat: tiga orang tersisa. Mereka bersembunyi di lorong timur.
Diam terlalu lama. Arka tidak suka diam yang lama.
Dia merangkak ke ujung lorong, pistol terangkat. Di tikungan, bayangan. Satu orang bersembunyi di balik tumpukan puing.
Arka menembak. Peluru mengenai dinding. Pria itu membalas. Arka merasakan panas di lengan kirinya. Bukan luka tembak. Gesekan peluru. Jaketnya robek.
Dia tidak berhenti. Maju lagi. Dua langkah. Tiga.
Pria itu berdiri, pistol teracung. Tapi sebelum jarinya menarik pelatuk, tubuhnya tersentak. Peluru dari arah lain. Pratama.
Pria itu jatuh.
“Dua lagi,” bisik Pratama.
“Cari.”
Mereka menyusuri lorong timur. Gelap. Bau tanah basah. Di ujung, cahaya. Bukan senter. Obor. Dua orang berdiri di dekat lubang yang mereka buat.
“Jangan tembak! Kita mundur!”
Arka menembak. Satu orang terjatuh. Yang lain berhasil keluar lewat lubang, menghilang ke balik dinding yang runtuh.
Pratama mendekati lubang. “Dia lari.”
“Biarkan. Dia akan cerita ke Komandan.”
Arka menurunkan pistol. Tangannya gemetar. Bukan karena takut.
Di ruang utama, mereka menghitung. Dua musuh tewas. Empat luka, ditawan. Sisanya kabur.
Umar keluar dari balik genset. Wajahnya pucat. “Selesai?”
“Untuk sementara,” kata Pratama.
Dewi keluar dari ruang medis. Matanya menatap Arka. “Kamu luka.”
Arka melihat lengan kirinya. Darah. Tidak banyak. “Cuma goresan.”
“Tetap harus dibersihkan.”
Dia duduk di kursi. Dewi membuka jaketnya, membersihkan luka dengan kain basah. Rina keluar dari ruang tanam, tangannya memegang catatan. Wawan muncul dari ruang kontrol.
“Ada yang mati dari kita?” tanya Wawan.
“Tidak,” kata Arka. “Kita semua hidup.”
Umar menghela napas panjang. “Aku kira... aku kira kita tidak akan selamat.”
Arka menatapnya. “Kita belum selamat. Mereka akan kembali. Dengan lebih banyak orang.”
Pratama mengamankan tawanan di ruang medis. Empat orang. Luka-luka. Dewi akan merawat mereka setelah merawat Arka.
“Komandan tidak akan tinggal diam,” kata Pratama. “Kita bunuh dua anak buahnya. Dia akan datang sendiri.”
Arka mengangguk. “Kita tunggu.”
Malam itu—atau apa pun yang disebut malam di bunker tanpa jendela—Arka duduk di ruang kontrol. Lengan kirinya sudah dibalut. Sakit, tapi tidak mengganggu.
Pratama masuk dengan dua cangkir kopi. “Kamu harus istirahat.”
“Tidak bisa. Pikiran terlalu keras.”
“Tentang apa?”
“Tentang besok. Tentang Komandan. Tentang Umar.”
Pratama duduk di kursi sebelah. “Umar akan pergi suatu saat. Kita tidak bisa menghentikannya.”
“Aku tahu. Tapi kalau dia pergi sekarang, dia mati.”
“Maka kita harus pastikan dia tidak pergi sekarang.”
Arka menyesap kopi. Pahit. Lidahnya sudah mati rasa, tapi dia tetap minum.
Di monitor, putih. Sunyi. Tidak ada gerakan. Tapi di kepalanya, bayangan itu terus bergerak. Mendekat.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁