Satu malam karena pengaruh alkohol, Arkananta Mahendra merenggut segalanya dari Zevanya, seorang pelayan hotel yang tak berdaya. Arkan pergi tanpa tahu wajah wanita itu, meninggalkan Zevanya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Target Ditemukan
Clarisa tidak sabar lagi. Ia langsung menelepon anak buahnya untuk menagih hasil pencarian.
"Gimana? Sudah ketemu belum wanita miskin yang saya suruh cari?" tanya Clarissa.
"Belum, Nona. Mohon beri waktu, kami akan segera menemukannya."
"Cepat! Jangan lambat kerja kalian!"
Clarissa langsung memutus sambungan sepihak.
Pikiran Clarisa melayang pada kejadian kemarin.
"Sengaja banget pasti dia nabrak Arkan. Siapa pun nggak boleh ada yang berani nyentuh Arkananta Mahendra!
Pasti dia cuma mau tebar pesona biar Arkan ingat terus sama bau badannya.!"
Di sisi lain kota, Riko baru saja masuk ke sebuah mal untuk melepas rasa haus.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita di depan meja kasir.
Riko menyipitkan mata, memperhatikan wajah wanita itu baik-baik.
"Mirip banget sama foto dari Nona Clarissa,"
gumam Riko sambil memastikan kembali foto di ponselnya.
"Nggak salah lagi. Ini targetnya. Gue harus lapor sekarang!"
Riko segera menjauh dari area kasir, Tangannya dengan cepat menelfon dan memberitahu Clarissa.
Hanya dalam dua kali nada sambung, suara Clarisa terdengar di seberang telepon.
"Bagaimana, Riko?
bentak Clarisa tanpa salam.
Riko tersenyum, matanya tetap tertuju pada punggung Zevanya yang sedang melayani pelanggan dengan ramah.
"Saya punya berita bagus, Nona. Target sudah di depan mata."
"Apa?! Kamu serius? Di mana wanita itu sekarang?"
Suara Clarissa berubah seketika, dari marah menjadi penuh gairah jahat.
"Dia bekerja sebagai kasir di sebuah mal, Nona. Wajahnya persis seperti foto CCTV yang Nona berikan. Saya sudah memastikannya berkali-kali,"
lapor Riko dengan nada rendah.
Terdengar tawa sinis dari ujung telepon.
"Bagus sekali, Riko!"
Clarissa melempar ponselnya ke atas ranjang. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar,
memoles lipstik merah menyala yang membuatnya tampak semakin angkuh.
"Sudah kubilang, mencari siapa pun yang berani menyentuh Arkananta-ku itu perkara mudah,"
gumamnya pada bayangannya sendiri.
"Dia pikir dia bisa lari setelah berurusan dengan pria milikku?"
Ia tertawa sinis, mengingat perjalanan hidupnya.
"Sejak kecil, setelah aku diangkat oleh keluarga Wijaya, tidak ada satu pun keinginanku yang tidak terkabul.
Menjadi anak angkat keluarga wijaya memberiku kekuatan untuk melakukan apa saja yang kumau.
Clarissa menyambar tas branded miliknya dan melangkah keluar kamar.
"Aku sendiri yang akan ke sana. Aku ingin melihat langsung wajah ketakutan wanita miskin itu saat aku memberinya pelajaran yang tak terlupakan.
Dia harus tahu posisinya sebelum dia bermimpi terlalu jauh tentang Arkan."
Suara sepatu hak tinggi Clarisa berdentum keras di lantai mal yang mengkilap,
menciptakan irama yang mengancam. Begitu matanya menangkap sosok Zevanya di balik meja kasir, amarahnya meledak.
Tanpa peringatan, Clarisa melangkah masuk ke area staf dan menyentak kasar tangan Zevanya,
menyeretnya keluar dari meja kasir di depan mata para pelanggan.
"Nona! Apa yang Anda lakukan? Ada apa ini?" seru Zevanya terkejut,
mencoba melepaskan cengkeraman kuat itu.
Clarisa berhenti, menatap Zevanya dengan tatapan merendahkan.
"Jadi kamu wanita murahan yang berani menabrak pria di depan gedung Mahendra tempo hari? Kamu tahu siapa pria itu?!"
Zevanya meringis kesakitan, pergelangan tangannya memerah.
"Saya tidak tahu siapa pria itu, Nona! Tolong lepaskan, saya sedang bekerja. Jangan ganggu saya!"
Tawa sinis pecah dari bibir Clarisa. "Jangan ganggu? Kamu berani bicara seperti itu padaku? Kamu tidak tahu siapa aku?!"
Clarisa mendekatkan wajahnya, matanya berkilat penuh kebencian.
"Aku adalah putri tunggal keluarga Wijaya, keluarga terkaya di kota ini! Satu jentikan jariku bisa membuatmu kehilangan pekerjaan ini dalam sekejap!"
"Saya tidak peduli siapa Anda, Nona! Saya hanya ingin bekerja dengan tenang!" balas Zevanya, suaranya mulai bergetar karena takut sekaligus kesal.
Mata Clarisa beralih pada name tag yang tersemat di kemeja Zevanya.
Dengan gerakan kasar, Clarisa mendorong bahu Zevanya hingga terjatuh ke lantai yang dingin.
"Aw! Nona, Anda gila?! Hanya karena ketidaksengajaan itu Anda sampai seperti ini? Saya benar-benar tidak kenal dengan laki-laki itu!" Zevanya berseru sambil memegang bahunya yang sakit.
"Itu pelajaran dariku karena kamu sudah lancang menyentuh calon suamiku mau pun itu tidak sengaja!"
Clarissa melangkah maju, bayangannya menutupi tubuh Zevanya yang terduduk lemas.
"Jangan pura-pura bodoh. Kamu sengaja menabrakkan diri pada Arkan agar dia memperhatikanmu, kan? Dengar ya, Arkan tidak akan pernah tertarik pada wanita miskin yang hanya pelayan rendahan sepertimu!"
Tiba-tiba, Clarissa mengangkat kakinya dan dengan sengaja menginjak punggung tangan Zevanya dengan sepatu hak tingginya yang tajam.
"Akhhh!" Zevanya merintih kesakitan,
air mata mulai menggenang di sudut matanya saat merasakan ujung tajam sepatu itu menekan kulitnya.
"Rasakan ini!" ucap Clarissa dengan suara rendah yang sangat mengerikan.
gas terus sampai mereka bersatu..💪💪💪