Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyidam aneh
Di tengah suasana pagi, di mana embun masih menggelantung manja di pucuk daun jati dan wedhus kibas Mbah Sidik tampak seperti barisan awan putih yang merumput tenang, sebuah kegemparan kecil terjadi di dalam rumah kayu itu.
Mbah Sidik, sang singa Margarana yang tak gentar menghadapi bomber B24, pagi ini tampak pucat pasi. Bukan karena serangan NICA, melainkan karena permintaan sang istri tercinta, Maryam, yang sedang mengandung anak kedua mereka.
"Mas Sidik..." panggil Maryam dengan suara lembut yang biasanya membuat hati Sidik meleleh, tapi kali ini terdengar seperti bunyi lonceng peringatan perang.
Sidik yang sedang memberikan makan kambingnya segera menoleh. "Iya, Nyai? Ada apa? Perutmu sakit? Atau kau ingin aku membawakan air dari sendang?"
Maryam tersenyum simpul, mengelus perutnya yang mulai membuncit. "Anakmu yang di dalam ini... sepertinya ingin mencicipi sesuatu yang istimewa. Dia ingin makan mangga muda, tapi bukan mangga biasa."
Sidik menarik napas lega. "Cuma mangga? Ah, itu gampang. Di kebun belakang rumah Abah Mansur banyak."
"Bukan, Mas," potong Maryam dengan mata berbinar jenaka. "Dia ingin mangga yang tumbuh di halaman markas komando Belanda di kota. Dan... Mangganya harus dipetik oleh Mas Sidik sendiri sambil memakai seragam tentara lengkap, tapi tanpa alas kaki."
Sidik tertegun. Ia lebih memilih diperintahkan menyusup ke gudang peluru daripada harus memanjat pohon mangga tanpa alas kaki di depan gedung musuh—meski perang sudah mereda, rasa malu dan anehnya permintaan itu lebih menyiksa daripada luka tembak.
***
Maka mulailah sebuah operasi paling konyol dalam sejarah militer pribadi Sidik. Dengan gagah berani, ia mengenakan seragam kebesarannya. Lencana tersemat rapi, baret miring ke kanan, namun ke bawah... kakinya telanjang bulat, jari-jarinya mencengkeram tanah Jepara yang dingin.
"Mas, jangan lupa senyumnya ya," goda Maryam sambil terkikik melihat suaminya yang perkasa kini terlihat seperti jenderal yang kehilangan sepatu saat banjir.
Sidik berangkat dengan menunggangi salah satu kambing putihnya (hanya untuk bercanda di depan halaman, tentu saja), sebelum akhirnya berjalan kaki menuju pinggiran kota. Di sepanjang jalan, warga desa menatapnya heran.
"Pak Sidik, mau perang lagi?" tanya seorang tetangga.
"Bukan," jawab Sidik dengan wajah serius namun memerah. "Mau menjalankan misi rahasia tingkat tinggi demi kelangsungan generasi."
**
Sesampainya di dekat area yang dimaksud, Sidik merayap di antara semak-semak. Ia menggunakan teknik gerilya yang ia pelajari dari Seniornya, hanya untuk menghindari kejaran penjaga demi sebutir mangga.
Saat ia berhasil memanjat pohon, ia hampir saja tertangkap oleh seorang petugas keamanan lokal.
"Heh! Siapa itu di atas?"
Sidik terdiam di dahan pohon, dengan mangga di mulutnya agar tangannya bisa berpegangan.
Ia teringat kata-kata Maryam tentang keromantisan. Dengan nekat, ia melompat turun dan berdiri tegap dengan kaki telanjangnya.
"Saya Letnan Sidik! Sedang melakukan inspeksi kelayakan buah untuk kepentingan negara!" gertaknya dengan suara komandan.
Petugas itu bingung, melihat seragam gagah Sidik tapi kemudian melihat kaki telanjangnya yang kotor. Petugas itu hanya melongo sementara Sidik kabur membawa tiga butir mangga muda.
***
Sidik sampai di rumah dengan napas terengah-engah dan kaki yang penuh lecet kecil karena duri. Maryam sudah menunggu di teras, tampak begitu cantik dengan kebaya tipisnya. Begitu melihat suaminya membawa mangga hasil rampasan, ia tertawa hingga mengeluarkan air mata.
"Mas, mas... kau benar-benar melakukannya?"
Sidik berlutut di depan Maryam, menyerahkan mangga itu seolah menyerahkan kunci kota yang baru ditaklukkan. "Demi kau Nyai, jangankan memanjat pohon tanpa sepatu, disuruh berenang melintasi selat Bali lagi pun akan aku lakukan."
Maryam tersentuh. Ia mengupas mangga itu, lalu menyuapkannya ke mulut Sidik terlebih dahulu. "Masam, Mas?"
Sidik meringis karena rasa asam yang luar biasa, namun ia tersenyum lebar. "Manis, Nyai. Semanis perjuangan kita."
Malam itu, di bawah cahaya lampu minyak yang temaram, mereka duduk berdua di amben kayu. Sidik mengelus perut Maryam, membisikkan cerita-cerita tentang keberanian agar sang bayi kelak menjadi ksatria yang lembut hati.
Dulu aku memegang senjata untuk menjaga nyawa,
Kini aku memanjat pohon demi memenuhi karsa.
Seragamku gagah, namun kakiku menyentuh tanah,
Bukti bahwa di depanmu, egoku selalu luluh dan punah.
Mangga masam ini adalah saksi cinta kita,
Yang tumbuh di antara desing peluru dan air mata.
Jangan takut anakku, bapakmu adalah penjaga,
Yang akan memastikan tidurmu selalu berhias surga.
Maryam, biarlah dunia mengenalku sebagai singa di medan laga,
Namun bagimu, aku hanyalah lelaki yang rela melakukan apa saja.
Sebab bagiku, senyummu yang pecah karena tawa,
Adalah kemenangan yang lebih besar dari runtuhnya menara.
Mbah Sidik tertawa kecil saat menceritakan bagian ini pada Ahmad. "Kau tahu Ahmad, Kakakmu yang kedua itu lahir dengan tanda lahir kecil di kakinya. Maryam bilang, itu gara-gara Bapak tidak pakai sepatu saat mengambil mangga nyidam nya."
Ahmad ikut tertawa terpingkal-pingkal. Ternyata, seorang pahlawan besar pun bisa takluk oleh satu kata: Nyidam.
***
Di sela-sela tugas militernya, Sidik mencoba menjalani hidup yang lebih tenang di Jepara. Ia mulai beternak kambing putih atau wedhus kibas.
Di pagi hari, ia terlihat seperti petani biasa yang menyunggi rumput, namun di balik baju lusuhnya, kewaspadaan seorang perwira tetap terjaga.
Namun, ketenangan di kandang kambing itu tak bertahan lama. Panggilan tugas kembali datang saat tanah Pasundan membara.
***
Maret 1946, sebuah telegram rahasia sampai ke tangan Sidik. Isinya mendesak: Bandung dalam keadaan darurat. Sekutu dan NICA semakin semena-mena, mengeluarkan ultimatum yang menghina harga diri bangsa. Mereka ingin menguasai Bandung Selatan sepenuhnya.
Sidik harus meninggalkan kambing-kambing putihnya. Ia kembali mengenakan sepatu lars nya, mencium kening Maryam, dan membawa pasukannya bergerak cepat menuju Jawa Barat. Sebagai tentara yang ahli dalam strategi taktis, Sidik dikirim untuk membantu koordinasi di wilayah yang mulai terkepung tersebut.
***
Sesampainya di perbatasan Bandung, Sidik menyaksikan ketegangan yang luar biasa. Kolonel A.H. Nasution menghadapi pilihan yang sangat sulit: menyerah pada ultimatum Sekutu atau melawan hingga hancur. Dalam musyawarah yang mencekam, keputusan pahit itu akhirnya diambil.
"Jika mereka ingin kota ini, mereka hanya akan mendapatkan abunya!" ucap A.H. Nasution saat berdiskusi dengan para pejuang setempat.
Pada malam 23 Maret 1946, Sidik menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah yang paling menyayat hati. Gelombang manusia—sekitar 200 ribu orang—mulai mengosongkan kota. Mereka tidak pergi dengan tangan hampa; mereka membawa obor. Sebelum kaki melangkah keluar, rumah-rumah, gedung-gedung, dan gudang mesiu diledakkan dan dibakar.
Sidik melihat api mulai melahap bangunan-bangunan megah. Langit Bandung yang biasanya dingin berubah menjadi merah membara seolah fajar datang lebih awal. "Bandung Lautan Api," bisik Sidik di tengah gemuruh ledakan.
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?