NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Keluarga
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Suasana di dalam ambulans terasa begitu mencekam, hanya suara raungan sirene yang membelah kemacetan Istanbul.

Oksigen dipasangkan di wajah Aliya, sementara petugas medis sibuk menstabilkan kondisinya yang kritis.

Emirhan duduk di samping brankar, matanya tak lepas dari wajah pucat gadis itu.

Tanpa sadar, ia menggenggam tangan Aliya dengan erat—tangan mungil yang beberapa saat lalu mendorongnya menjauh dari maut.

Kemeja putih Emirhan kini ternoda merah, namun ia sama sekali tidak peduli.

"Bertahanlah," bisiknya parau, suaranya nyaris tenggelam oleh bisingnya peralatan medis.

Sementara itu, beberapa meter di belakang ambulans, mobil sedan mewah Emirhan melaju kencang mengikuti.

Di dalamnya, Leyla duduk dengan tubuh gemetar hebat dan air mata yang terus mengalir.

Kabir memegang kemudi dengan fokus penuh, sesekali melirik gadis remaja di sampingnya itu melalui spion tengah.

"Temanmu akan baik-baik saja," ucap Kabir mencoba menenangkan, meski raut wajahnya sendiri menunjukkan ketegangan yang sama.

Leyla tidak menjawab; ia hanya terus meremas ponselnya, teringat pesan terakhir Aliya untuk tidak memberitahu ibunya.

Kembali di dalam ambulans, Emirhan menatap wajah Aliya lebih dalam.

Ia memperhatikan detail wajah gadis yang baru saja mengorbankan nyawa untuk orang asing sepertinya.

Ada guratan kepolosan di sana, sisa-sisa riasan panggung yang masih menempel di sudut matanya, dan seragam sekolah yang kini terkoyak peluru.

Pikiran Emirhan berkecamuk. Siapa gadis ini? Kenapa dia begitu nekat? Sebagai seorang CEO yang terbiasa dengan dunia bisnis yang penuh perhitungan, tindakan Aliya adalah sesuatu yang berada di luar logikanya. Sesuatu yang begitu murni, sekaligus begitu berbahaya.

"Siapa kamu sebenarnya...?" gumam Emirhan pelan, saat ambulans akhirnya berbelok tajam memasuki pelataran Unit Gawat Darurat rumah sakit.

Ia berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan gadis ini menghilang begitu saja dari hidupnya.

Brankar itu didorong dengan kecepatan tinggi melintasi lorong rumah sakit yang dingin.

Bunyi roda yang beradu dengan lantai keramik menggema, menciptakan irama kepanikan yang mencekam.

Emirhan terus menggenggam tangan Aliya sampai mereka tiba di depan pintu besar bertuliskan "Ruang Operasi".

Seorang dokter dengan pakaian hijau bedah menghadang langkah mereka.

"Kondisinya kritis, pelurunya mendekati paru-paru. Kami harus segera melakukan tindakan."

Langkah Emirhan terhenti tepat di batas garis merah.

Dokter itu menyodorkan selembar kertas formulir persetujuan medis.

"Siapa keluarganya? Kami butuh tanda tangan segera untuk memulai operasi."

Emirhan terdiam sejenak. Ia melirik Aliya yang terbaring lemah, lalu melirik Leyla yang masih terisak di pelukan Kabir.

Ia tahu jika menunggu keluarga Aliya datang, waktu akan terbuang sia-sia.

Dengan gerakan tegas, Emirhan menyambar bolpoin dan menorehkan tanda tangannya di atas kertas itu.

"Lakukan yang terbaik. Nyawanya adalah tanggung jawabku," ucap Emirhan dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Melihat hal itu, Kabir mendekat dan menggelengkan kepalanya pelan.

"Tuan, Anda tidak bisa melakukan ini. Anda tidak mengenalnya, dan menandatangani dokumen ini bisa menjadi masalah hukum besar jika sesuatu terjadi. Apalagi tanpa seizin ayah Anda."

Emirhan menoleh, tatapannya tajam dan dingin. "Dia menyelamatkan aku, Kabir. Tanpa dia, mungkin akulah yang sekarang berada di dalam sana."

Ia menarik napas panjang, mencoba menekan emosi yang berkecamuk. "Dan satu hal lagi, jangan bilang Ayah ataupun siapa pun soal kejadian ini. Aku tidak ingin keluarga besar tahu tentang penyerangan tadi, apalagi tentang gadis ini. Rahasiakan ini dari siapa pun."

Kabir hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa tuannya sudah mengambil keputusan bulat.

Emirhan kemudian menatap Leyla yang tampak pucat dan kelelahan karena menangis.

"Kabir, ajak temannya ke kantin. Belikan dia minum atau sesuatu untuk menenangkan diri. Dia tidak boleh pingsan di sini."

"Tapi Tuan..."

"Pergilah, Kabir. Aku yang akan menunggu di sini," potong Emirhan.

Setelah Kabir dan Leyla menjauh, Emirhan duduk di kursi tunggu yang keras.

Ia menatap telapak tangannya yang masih ternoda darah kering milik Aliya.

Di koridor yang sepi itu, sang CEO yang biasanya tak tergoyahkan kini merasa sangat kecil, hanya bisa menunggu kepastian dari balik pintu operasi yang tertutup rapat.

Waktu seakan berjalan sangat lambat di lorong rumah sakit yang sunyi itu.

Emirhan berjalan mondar-mandir seperti setrika, langkah kakinya yang tegas beradu dengan lantai, menciptakan gema yang menunjukkan kegelisahannya.

Sesekali ia berhenti, menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat, lalu kembali berjalan dengan tangan yang terkepal di saku celananya.

Dua jam berlalu seperti keabadian bagi pria yang terbiasa memegang kendali itu.

Akhirnya, lampu merah di atas pintu padam. Seorang dokter keluar dengan wajah lelah namun tampak lega.

Emirhan langsung menyongsongnya sebelum dokter itu sempat membuka suara.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Emirhan cepat.

Dokter itu mengangguk kecil. "Operasinya berhasil. Pelurunya berhasil diangkat tanpa mengenai organ vital, meskipun kehilangan banyak darah. Dia gadis yang sangat kuat. Sekarang kami akan memindahkannya ke ruang pemulihan."

Emirhan mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur.

"Pindahkan dia ke ruang VVIP terbaik yang kalian miliki. Pastikan semua fasilitas dan penjagaan nomor satu. Saya yang akan menanggung semua biayanya."

Tak lama kemudian, Kabir dan Leyla kembali dari kantin.

Wajah Leyla masih sembab, namun ia tampak sedikit lebih tenang setelah meminum teh hangat yang dipesankan Kabir.

"Tuan, operasinya...?" tanya Kabir hati-hati.

"Dia selamat," jawab Emirhan singkat. Ia kemudian menatap Leyla yang tampak kelelahan.

"Pulanglah ke rumah. Kamu perlu istirahat, biar aku yang menjaga temanmu di sini."

Leyla mengangguk lemah. Ia tahu ia tidak bisa berbuat banyak dalam kondisi lemas seperti ini.

Sebelum melangkah pergi bersama Kabir, ia merogoh tasnya dan menyerahkan sebuah tas sekolah serta ponsel milik Aliya kepada Emirhan.

"Ini tas dan ponselnya, Tuan. Tolong, jaga Aliya. Dia orang yang sangat baik," ucap Leyla dengan suara parau.

Emirhan menerima benda-benda itu. Berat tas sekolah itu terasa kontras dengan tanggung jawab besar yang kini ia pikul.

Saat Leyla dan Kabir menghilang di ujung koridor, Emirhan masuk ke dalam ruang VVIP yang baru saja disiapkan.

Di sana, di tengah kemewahan kamar yang tenang, Aliya terbaring pucat dengan berbagai selang medis yang menempel di tubuhnya.

Emirhan duduk di kursi samping tempat tidur, meletakkan tas Aliya di meja, dan menatap ponsel gadis itu yang sesekali menyala karena notifikasi pesan yang masuk—pesan yang mungkin takkan terjawab untuk waktu yang lama.

Emirhan duduk di sisi ranjang, memperhatikan wajah Aliya yang masih terlelap di bawah pengaruh bius.

Ruangan VVIP itu begitu hening, hanya terdengar suara ritmis dari mesin pemantau jantung.

"Kenapa kamu menyelamatkan aku?" gumam Emirhan pelan, suaranya nyaris menyerupai bisikan.

"Kita bahkan tidak saling kenal."

Rasa penasaran mulai mengusik logikanya. Emirhan mengambil ponselnya sendiri, lalu jemarinya bergerak cepat mencari informasi tentang gadis yang kini terbaring lemah itu.

Tidak butuh waktu lama bagi seorang CEO dengan jaringan luas sepertinya untuk menemukan identitas Aliya.

Hingga akhirnya, layar ponselnya menampilkan sebuah video. Itu adalah rekaman Aliya yang sedang menari.

Emirhan terpaku. Di dalam video itu, Aliya tampak sangat berbeda dengan gadis pucat yang ada di depannya sekarang.

Ia terlihat begitu hidup, penuh energi, dan sangat indah saat tubuhnya meliuk mengikuti irama musik.

Emirhan tanpa sadar menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya tak lepas dari layar.

Sebuah senyuman tipis—yang sangat jarang terlihat—muncul di wajahnya.

Ia benar-benar terpesona oleh gairah dan bakat yang terpancar dari setiap gerakan Aliya.

Sementara itu, di sudut lain kota, suasana di kediaman Maria jauh dari kata tenang.

Maria berjalan mondar-mandir di ruang tamu dengan ponsel di tangan.

Jam dinding sudah menunjukkan waktu yang sangat larut, dan Aliya belum juga menampakkan batang hidungnya.

Emosi Maria memuncak. Ia segera mencari nomor telepon Leyla dan menghubunginya dengan kasar.

Begitu panggilan tersambung, Maria langsung mencecar tanpa salam.

"Leyla! Di mana Aliya? Kenapa jam segini dia belum pulang?!"

Di seberang telepon, Leyla terjengit kaget. Suaranya bergetar karena ia harus berbohong sesuai pesan terakhir Aliya.

"E-eh, Bibi, maaf. Aliya, sedang menginap di rumahku. Kami baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok dan dia sudah tertidur karena sangat kelelahan."

"Menginap?" Nada suara Maria masih penuh kecurigaan.

"Kenapa dia tidak izin langsung pada Ibu?"

"Ponselnya mati, Bi. Tadi dia bilang lupa membawa pengisi daya," jawab Leyla cepat, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu.

Maria terdiam sejenak, mengembuskan napas panjang yang terdengar berat di telepon.

"Ya sudah. Bilang padanya, besok pagi-pagi sekali dia harus sudah ada di rumah. Ibu tidak suka dia keluyuran seperti ini."

Setelah panggilan berakhir, Maria membanting ponselnya ke sofa.

Ada rasa sesak di dadanya yang ia sendiri tidak mengerti—campuran antara amarah karena Aliya membangkang dan rasa khawatir yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik sikap kerasnya.

Ia tidak tahu bahwa saat ini, putrinya sedang bertaruh nyawa di bawah pengawasan seorang pria asing yang sangat berkuasa.

1
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!