NovelToon NovelToon
Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Three Princes And The Cat Who Knows Too Much

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Keluarga & Kasih Sayang / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Rootea

Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!

Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.

Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....

Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.

Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 - Jovienne

Sejak awal ia tidak menyetujui perjodohan ini.

Usia delapan belas memang usia yang wajar untuk menemukan pasangan dan memulai keluarga. Tapi, juga bukan usia yang terlambat untuk menemukan cinta.

Jovienne selalu berkata ia ingin menikahi orang yang ia cintai. Seperti apa yang dialami orang tuanya. Biarpun kadangkala meledek kemesraan mereka yang memalukan, Jovienne selalu menjadikan apa yang orang tuanya miliki sebagai standar emas. Kondisi ideal. Tujuan yang juga ingin ia capai.

Sebagai pewaris tahta, menikahi pangeran dari negeri lain tidak pernah terlintas di kepala Jovienne. Solmara tidak kekurangan putra bangsawan. Mereka yang memiliki kemampuan bertarung cukup mumpuni, lebih penting lagi.

Pangeran Havren, Jovienne akui, memiliki wajah rupawan. Fitur wajah yang nyaris sempurna, seperti pahatan patung. Deskripsi itu sebenarnya berlaku untuk ketiga pangeran Kaelros. Dan Pangeran Havren berada di sisi yang lebih manis. Terlalu manis.

Cantik—beberapa orang mencibir betapa pangeran ketiga itu lebih cantik dari banyak perempuan.

Mereka hanya berbeda usia dua tahun, tapi terkadang Jovienne sungguhan merasa ia menghadapi… anak kecil. Tindak-tanduk pangeran ketiga itu kelewat santai untuk sebuah kekaisaran sebesar Kaelros.

Apa dia tidak pernah memikirkan apa-apa soal negaranya?? Apa dia tidak memegang hal penting apapun di kerajaan??

Jovienne yakin ia dikirim untuk menjadi pengasuh.

Dan Jovienne sungguh tidak menghormati calon suaminya itu.

Suami!

Bagaimana jadinya rumah tangga dan kerajaannya dengan pasangan se-tidak serius itu??

Sungguh bencana.

Mimpi buruk!

Setidaknya, seperti itu Jovienne meyakini di bulan-bulan awal kedatangannya di Kaelros.

Beberapa kejadian yang mengikuti kemudian membuat tuan putri ini banyak berpikir.

Jovienne cukup percaya diri dengan kemampuannya menilai seseorang. Terutama menyoal keahlian mereka dalam bertarung dan permainan pedang. Gerak-gerik Havren sama sekali tidak relevan dengan gosip yang beredar tentangnya.

Jovienne memang tidak pernah melihat pangeran bungsu itu ikut serta dalam pertandingan Jousting. Tidak pula memanah. Atau melempar tombak. Hanya saat ia memegang pedang. Satu kali. Pada duel berdarah yang membuatnya jadi bahan omongan selama berbulan-bulan itu.

Dan waktu itu! Jovienne yakin sekali! Havren menyembunyikan kemampuannya!

Cara pemuda itu memegang pedang bukanlah gerakan seorang amatir. Begitu juga caranya menghindar dan menangkis serangan. Sama sekali bukan gerakan acak atau kebetulan. Itu adalah gerakan penuh perhitungan. Kakinya bergerak begitu lincah. Itu sebabnya Jovienne menjadi emosi kala itu. Karena Havren jelas-jelas meremehkannya! Bahkan dengan sengaja membiarkan pedang Jovienne melukainya.

Lelaki itu tidak menganggap serius duel mereka! Dia pikir Jovienne bisa ia kelabui dengan trik murahan??!

Selain itu, apa yang Jovienne lihat tengah malam itu bukan ilusi. Bagaimanapun Havren mengelak dan mengujar omong kosong soal arwah gentayangan, Jovienne tidak percaya.

Tiap kali mengingat alasan bodoh yang lelaki itu ujar, Jovienne semakin gerak.

Jovienne memang tidak memiliki bukti. Selain satu kali itu, ia juga tidak pernah memergoki hal mencurigakan lain. Tapi, gadis ini sangat mempercayai instingnya. Ia tahu Havren menyembunyikan sesuatu. Ia hanya tidak bisa menunjuk dengan pasti dan membuktikannya.

Setelah rangkaian peristiwa itu, Jovienne membuat misi untuk dirinya sendiri. Ia menaruh perhatian lebih banyak pada setiap kegiatan Havren, lebih banyak mengamati gerak-geriknya. Ia juga mencari info lebih banyak dari banyak orang.

Salah satu hal paling menarik ialah, betapa berbedanya omongan orang-orang di istana dan ibu kota, dibandingkan dengan daerah lain. Jovienne mengumpulkan banyak cerita baik dan pujian dari warga yang tinggal jauh dari istana. Begitu berkebalikan dengan kalimat-kalimat jahat di sekitar istana. Hal ini membuat Jovienne yakin bahwa Havren memasang persona palsu di hadapan publik—di hadapan orang-orang istana, lebih tepatnya.

Dan pemikiran itu membuat Jovienne memperhatikan Havren lebih banyak lagi.

Wajah cantik itu selalu tersenyum. Cerah. Ramah. Kekanakan. Suaranya selalu mengalun ringan. Hangat. Tanpa beban.

Entah sejak kapan tepatnya, Jovienne mulai melihat perbedaan-perbedaan kecil. Samar. Cepat. Sedikit saja lengah, dan tanda itu hilang.

Jovienne sangat menseriusi misi kecilnya ini. Bahkan dengan Havren yang sering menghilang dan kadang sulit ditemukan, Jovienne mulai bisa menarik batas. Ia bisa melihat kapan pangeran ketiga itu benar-benar tersenyum dan kapan ia hanya tersenyum untuk sopan santun.

Lalu, mata besar itu, ternyata lebih ekspresif dari yang ia duga. Warna pucat seperti riak air itu… merefleksikan banyak hal.

Mata itu bersinar hangat tiap kali Lumi menghampirinya. Seperti tiap kali ia sedang bermain dengan hewan kecil mana saja yang ada di dekatnya waktu itu. Di depan kudapan manis, matanya berkelip-kelip seperti ada bintang yang terjebak di sana. Sorotnya melembut ketika sedang merawat taman bunga biru di dekat pohon ek itu. Tatapan yang sedikit berbeda dibandingkan ketika ia mengurus bunga yang lain. Entah apa yang spesial dari bunga itu—selain warnanya yang unik dan seperti hamparan langit.

Sepasang mata indah itu, Jovienne sadari, sering dibayangi sendu. Terutama bila keluarga kerajaan Kaelros ada di sekitar sana. Terutama bila putra mahkota ada di sana.

Dan ia… terlihat kesepian setiap kali memainkan musik.

Yang cukup mengejutkan adalah ketika sorot mata itu mengeras, seperti menahan amarah. Seperti…. seperti ia akan melakukan sesuatu. Entah apa. Sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang, tidak akan terduga dari seorang Pangeran Havren.

Perubahan air muka itu paling kentara terlihat ketika berita mengenai perjodohan Pangeran Raien menyebar di istana.

Ketika mengantar kepergian Pangeran Raien—yang jelas terlihat dilakukan sembunyi-sembunyi—Jovienne melihat Havren berdiri di koridor tak jauh dari sana.

Lelaki itu tidak menghampiri, dan posisi matahari membuatnya tertutupi bayangan. Akan tetapi, Jovienne tidak bisa melupakan ekspresi yang ia lihat di wajah itu. Mata itu menyorot tajam. Lekat mengikuti punggung tegap pangeran Raien hingga melewati gerbang istana. Bahkan, setelah gerbang ditutup dan area itu kosong, Havren berdiri cukup lama di sana. Rautnya tidak berubah. Seperti tenggelam dalam pikiran.

Jovienne tidak memanggilnya. Tidak pula bisa beranjak. Tengkuknya dingin, dan jantungnya berdebar lebih kencang.

Jovienne nyaris percaya sedang melihat orang yang berbeda.

Dan untuk pertama kalinya, Havren tampak… menakutkan.

Anehnya, Jovienne bukannya tidak menyukai itu. Sebaliknya. Ia justru… semakin penasaran.

Apa yang berbeda. Apa yang menyebabkan perubahan itu. Apa yang sebenarnya ia sembunyikan.

Di sisi lain gadis ini juga jadi bertanya-tanya. Karena dia adalah calon istrinya, seperti apa Havren akan memperlakukannya nanti? Apakah akan tetap dalam batas senyum sopan santun….ataukah....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!