Arini dituduh melakukan penganiyaan terhadap atasannya. Dipecat secara tidak hormat hingga nyaris membuatnya dipenjara.
Seolah takdir buruk itu belum cukup untuknya. Ia harus menikahi lelaki yang terang-terangan mencintai wanita lain tapi mengambil keuntungan darinya.
Akankah takdir baik menghampiri kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laylatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Sakit
Di dalam kamar, aku mematut diri di hadapan cermin, mengamati pantulan bayangan sendiri.
Ada apa dengan kehidupanku sekarang? Kenapa masalah datang bertubi-tubi? Apakah ini cobaan atau teguran dari Allah atas kelalaianku dalam mengerjakan perintahnya?
Aku menghela nafas, menyambar handuk di gantungan lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu.
Dari ambang pintu, bi Ijah menyeru untuk segera ke meja makan. Katanya, Mama sudah lama menunggu di sana. Setelah merapikan perlengkapan sholat yang baru saja digunakan, aku beranjak ke ruang makan.
"Sayang! cepat duduk, malam ini Mama sengaja masak makanan kesukaan kamu, nasi biryani dan ayam krispi rempah-rempah,"
Aku yang baru sampai, menurut begitu saja perkataan Mama. Di atas meja telah tersedia sebangkuk besar nasi kuning dengan campuran beberapa rempah-rempah juga sepiring ayam goreng tepung yang hampir menyerupai ayam kantuky, untuk minumannya, bi Ijah menyediakan jus jeruk dan air putih.
Ada juga buah-buah yang masih segar, mungkin baru tadi sore bi Ijah membelinya. Sudah lama nasi biryani buatan Mama tidak menyentuh kerongkonganku. Harum khasnya yang menguar seisi ruangan, membuatku tidak sabar untuk segera menyendoknya kemulut.
"Kapan kamu akan mengundang calon menantu Mama untuk makan malam di sini?" tanya Mama sambil menaruh nasi biryani di piringnya.
Aku yang sedang menguyah, tersedak dengan batuk yang menjadi-jadi. Hampir saja nasi yang ada dalam mulut, menyembur ke piring Mama. Segera aku meneguk air putih yang tersedia di atas meja lalu kembali melanjutkan makan. Seolah tidak mendengar apapun tadi. Namun, sepertinya Mama tak mau menyerah.
"Orang tua ngomong, kok dianggurin, gak sopan seperti itu."
"Tadi, Mama ngomong apa memangnya?" tanyaku sambil memotong ayam dengan sendok dan garpu.
"Tunangan kamu, kapan akan dikenalin ke Mama!"
Aku menghela nafas lalu menghirup kembali. Membiarkan oksigen masuk lewat hidung, sebanyak-banyaknya. Berharap kewarasan selalu setia dalam diri meski masalah datang tiada henti.
"Yang pastinya segera," ucapku tak yakin. "Jadi sekarang ceritakan pada Rini, apa yang membuat Mama tiba-tiba meninggalkan rumah mewah itu lalu memilih tinggal disini, rumah kecil yang tidak engkau inginkan dulu."
"I ... itu, em ... Mama, siapa bilang Mama diusir dari rumah, Mama cuma kangen aja sama kamu, Sayang! Memangnya gak boleh, sesekali Mama menginap disini?"
Mendengar jawabannya membuatku tesenyum kecut,"Jadi Mama di usir dari rumah?" tanyaku mencoba memastikan.
"Siapa yang bilang, Mama di usir? Mama cuma pergi sebentar." kilahnya, hampir saja ia memekik.
"Mama sendiri tadi yang mengatakan, jika Mama di usir dari rumah."
"Kapan?"
"Tadi."
*****
Aku kembali ke rumah Oma Dwi setelah 2 hari tinggal di rumah menemani Mama, karena walau bagaimanapun perlakuan Mama terhadapku dahulu dan seburuk apapun prilakunya sekarang, ia tetaplah orang yang paling aku sayangi setelah almarhum Ayah.
Sebagai anak, aku harus selalu menghormati dan berbakti kepadanya, karena ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua, dan surga seorang anak ada di bawah telapak kaki ibu.
Aku menuju kamar Oma Dwi untuk menemuinya. Dua hari tidak bertemu membuatku rindu dengan perhatian lembutnya. Aku bahkan telah menganggap Oma Dwi sebagai Omaku sendiri.
"Oma! Boleh Rini masuk?" seruku sambil mengetuk pintu.
Tak ada suara apapun yang terdengar dari dalam kamar. Aku berpikir mungkin saja Oma sedang tidur atau lagi sholat. Tak ingin mengganggu, aku berniat untuk kembali ke kamar.
Namun, perasaanku tidak enak, rasa kekhawatiran membuatku kembali mengetuk pintu kamar Oma. Namun masih sama, tak ada sahutan.
Aku memutar handle pintu, namun, pintu kamarnya terkunci dari dalam. Perasaanku semakin cemas, entah mengapa aku merasa jika Oma sedang tidak baik.
Aku menghampiri Bi Nur ke dapur lalu meminta kunci duplikat kamar Oma. Awalnya wanita paruh baya itu menolak. Namun, setelah aku merayunya dengan berbagai cara akhirnya ia menyerahkan kunci itu kepadaku.
"Oma!" seruku di ambang pintu, lalu berlari mendekati tubuhnya yang terkulai di lantai.
Aku panik, lalu menelpon Riski namun entah apa yang lelaki itu lakukan hingga ia tidak sempat menganggkat panggilanku.
Di bantu bi Nur, aku memopong tubuh Oma kedalam mobilku. Ya Allah! Tolong selamatlanlah Oma Dwi, hamba mohon. Lirihku sambil menyetir mobil membelah jalanan kota menuju rumah sakit terdekat.
Dengan perasaan cemas. Aku mondar-manding menunggu Oma di depan ruang UGD. Rasa panik semakin merambat di pikiranku ditambah lagi Riski yang dari tadi sulit untuk dihubungi. Entah apa yang lelaki itu lakukan hingga ia tidak punya waktu untuk mengangkat telpon atau membaca pesan dariku.
Suara derit pintu mengagetkanku yang sedang cemas. Seorang dokter yang aku prediksi seumuran dengan Riski berdiri di ambang pintu, aku segera menghampirinya.
"Gimana, Dok, keadaan Oma saya?"
"Kondisinya belum stabil, ada pendarahan yang serius di otak pasien. Jadi untuk tindakan lebih lanjud, kami minta pihak keluarga agar tanda tangan beberapa berkas,"
"Baiklah, Dok! saya mohon lakukan yang terbaik untuk kesembuhannya."
"Pasti, Bu! Kami akan melakukan yang terbaik dan semampu yang kami bisa." ucap dokter tersebut dengan ramah, lalu pergi.
Seorang perawat menghampiriku, "Apakah Mba ini walinya pasien?"
Aku mengangguk, "I ... iya, Sus!" jawabku dengan terbata-bata.
"Tolong jumpai petugas untuk proses administrasi."
****
Malam baru saja bertandang menggantikan siang yang telah beranjak ke peraduan. Aku duduk seorang diri menatap wajah pucat Oma Dwi.
Entah apa yang terjadi sampai ia tersungkur ke lantai hingga terjadi pendarahan di otak. Aku menghembus nafas kasar lalu bangkit menuju musalla untuk menunaikan sholat Isya.
Di mushalla, tanpa segaja berpaspasan dengan dokter yang menangani Oma tadi siang, di UGD. Aku mencoba menyapanya dengan tersenyum. Namun lelaki itu tak bergeming, ia membuang muka, berlalu meninggalkan mushalla.
Jarum jam di tangan telah bergeser mendekati angka 11, namun Oma belum juga membuka kedua matanya. Aku membuka aplikasi My Qur'an di ponsel, mencari surat Yasin lalu melantunkan dengan lirih dekat dengan wajah Oma Dwi.
Berapa saat aku larut dalam lantunan setiap ayat-ayatnya sambil sesekali menyeka sudut mata. Menghalau butiran bening yang tak jeda menganak pinak.
Tiba-tiba saja suara dering ponsel mengagetkanku. Sebuah panggilan dari Riski masuk.
"Di ruangan mana Oma di rawat?" tanya Riski di seberang sana.
*****
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Oma, sehingga ia sampai tak sadarkan diri?" hardik Riski begitu ia sampai di ruangan tempat Oma di rawat.
Aku bangkit lalu menatapnya geram. Namun, lelaki itu semakin liar. Ia mencengkrang tanganku sambil menatapku dengan mata yang hampir keluar.
"Katakan, kenapa Oma bisa sampai begini?"
"Aku tidak tau, begitu aku menemui Oma di kamarnya, ia sudah tidak sadarkan diri." Aku menarik tangan dari genggamannya. "Kamu, kemana aja? Perpuluh kali aku menghubungi, namun tidak juga kau angkat."
"Sandiwara apa ini? Kamu kan yang menyebabkan Oma sampai begini?"
"Bi Nur ada saat pertama aku menemukan Oma, kamu bisa bertanya pada dia, apa yang sebenarnya terjadi." jawabku dengan wajah merah padam. Ingin sekali aku merobek mulut kasarnya itu.
Sikap Riski yang berlebihan membuat salah satu dokter yang kebetulan sedang melewati ruangan ini, menegur kami.
"Mas, Mba! Tolong jangan buat keributan disini, ini rumah sakit. Tolong kondisikan sikap kalian saat berada di sini," seru seorang dokter sambil menatapku. Aku semakin merasa bersalah.
"Bayu! Hei Bayu," ucap Riski sambil melangkah menghampiri sang dokter.
Sepertinya Riski baru menyadari jika dokter yang menegur kami adalah teman sejawatnya. Lalu beberapa saat mereka terlibat obrolan santai, sementara aku kembali duduk dekat dengan ranjang Oma. Menunggu ia membuka mata.
Tiba - tiba saja alat medis yang terhubung ke tubuh Oma berbunyi. Aku menatap layar monitor dengan garis yang nyaris tanpa gelombang. Seketika kepanikan mendominasi, begitu juga dengan Riski. Lelaki itu berlari keluar sambil memanggil nama dokter dan perawat, dengan berteriak.
Dengan terburu-buru, dokter Bayu dan beberapa perawat datang. Mereka menyuruh kami untuk menunggu di luar, agar mereka bisa mengambil tindakan tanpa ada kami yang mengganggu.
"Kalo terjadi sesuatu dengan Oma, aku akan buat perhitungan dengan kamu." hardiknya tepat di hadapan mukaku. Bola matanya hampir saja keluar.
Aku menghela nafas, membalas tatapan lelaki itu dengan bengis. Terlepas dari kesedihan karena kondisi Oma yang semakin memburuk, saat ini aku sangat benci lelaki ini. Aku sungguh menyesal karena telah mengenalnya.
"Apa kamu sudah tidak waras? Bagaimana bisa kau menuduhku atas semua yang terjadi terhadap Oma?"
"Karena memang kamu penyebabnya,"
"Kau tahu, aku benar-benar sudah tidak tahan berurusan dengan mu, Pak Riski. Aku berharap agar Oma Dwi segera sadar, supaya anda bisa bertanya langsung padanya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi."
"Haha! Kau pikir aku senang, aku juga muak dengan perempuan seperti kamu."
Tiba-tiba saja Dokter Bayu keluar. Aku yang sedang bersitegang dengan Riski, segera menghampirinya dan abai terhadap sikap Riski. Bagaimanapun aku harus bisa sabar. Niatku yang tulus dan ikhlas membantu Oma, tidak boleh ternodai hanya karena sikap kurang ajar lelaki aneh tersebut.
"Bagaimana, Dok, keadaan Oma?"
"Alhamdulillah, beliau sudah berhasil melewati masa kritisnya." ucapnya sambil tersenyum.
Aku menghela nafas lega lalu mencoba masuk untuk menemui Oma.
"Sebaiknya pasien jangan diganggu dulu. Hanya keluarga yang bisa menemuinya, itupun satu orang saja yang dibolehkan." ucap Dokter Bayu, mencoba mencegah masuk.
Aku bergeming, lalu Riski mendahuluiku masuk kedalam, sesaat ia sempat melotot kearahku.
Tak ingin membuat keributan, aku melangkah pelan menyusuri koridor rumah sakit menuju pelataran parkiran. Sepanjang jalan tak henti memikirkan sikap Riski yang tega menuduhku tanpa bukti.
Suasana terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang masih lalu lalang, termasuk pak satpam. Wajar saja, karena ini sudah pukul 1 malam.
Saat hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba saja aku merasa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang.
Bersambung ....!!
_________
Hai Readers yang tersayang! Jika kamu suka dengan episode 12 ini, jangan lupa tinggalkan jejak yach, berupa like, vote, dan komen. Supaya Author makin semangat dalam menulis.
Terima kasih.🤗🤗🤗🤗🤗
gmn kbr keluargga galuh
Maaf ya author, aku jadi ikutan kesel sama Riski 🙏