Giovanni El Nino adalah seorang pemuda yang berprofesi sebagai pekerja seni di dunia hiburan, namun karena kepribadiannya yang angkuh dan tak acuh terhadap sesamanya membuat sang ayah terpaksa menjadikannya seorang guru di SMA Harapan Bangsa dengan harapan anaknya mengalami perubahan sikap yang lebih baik.
Akan tetapi tetap saja, kepribadian Nino tidak juga berubah, justru ia menjadi guru yang dibenci oleh murid-muridnya.
*****
Rhodophyta Algavian seorang pemuda yang lugu namun cerdas, selalu menjadi bahan perundungan teman-temannya di SMA Harapan Bangsa.
****
Suatu ketika hal besar menimpa Nino, ia mengalami kecelakaan hebat dan diberikan kesempatan oleh malaikat untuk memperbaiki hidupnya dan berbuat baik dengan masuk ke dalam tubuh Vian dan mengubah hidup pemuda tersebut.
Apakah Nino akan berhasil membantu Vian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Claudia Diaz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pangeran Harapan Bangsa dan Ratu Es Harapan Bangsa
Kedekatan Vian dan Anna yang baru beberapa minggu menjadi buah bibir para siswa dan siswi SMA Harapan Bangsa. Mereka berdua tak luput dari gosip harian para warga sekolah.
Jika para siswa bergosip karena rasa tidak suka pada Vian dikarenakan wajah mereka kalah saing, lain halnya dengan para siswi yang selalu bergosip bahwa Anna merupakan sosok bermuka dua agar bisa dekat dengan Vian, selain itu karena Anna dinilai tidak pantas, jika bersanding dengan Vian.
Vian yang notabene menjadi sang pangeran sekolah yang baru dekat dengan Anna yang notabene siswi berandal di sekolah tersebut. Sungguh pasangan yang sangat tidak cocok, itu menurut para siswi.
Dan yang membuat sekolah heboh pagi hari ini adalah Vian dan Anna berangkat sekolah bersama, berboncengan pula. Itu yang membuat para siswi merasa panas mendadak bahkan lebih panas daripada ulangan matematika dadakan.
“Kau mendengarkan apa, sih?" tanya Vian ingin tahu.
🎶 jubyeon saramdeul modu
hanagachi nalbogo
neo wae geurae
wae geurae wae geurae
nan imi nappeun nom
Anna tidak mendengarkan pertanyaan Vian, ia sibuk menyanyikan rap milik penyanyi idolanya.
Merasa tidak diacuhkan, membuat Vian mendengus kesal. Sepanjang koridor, Anna asyik dengan dunianya sendiri dan tidak mengacuhkan Vian.
Hingga mereka sampai di bangku mereka, saat Vian meletakkan tas di bangkunya, ia dikejutkan dengan suara Anna.
🎶geudaero meomulleo nareul jikyeobwa, yeah...
Vian terlonjak kaget karena Anna yang tiba-tiba berteriak lantang kala sedang menyanyi.
“Astaga, lindungilah jantung hamba-Mu ini, ya Tuhan." ujar Vian sembari mengusap dadanya karena terkejut.
Ketika lagunya sudah selesai, Anna melepas earphone-nya, ia melirik Vian yang merajuk seperti anak usia 5 tahun yang marah karena tak dibelikan permen.
“Ada apa dengan wajahmu, seperti dikejar rentenir karena 5 bulan tidak melunasi utang?" tanya Anna.
“Kalau ingin konser itu di stadion, bukannya di sekolah," kesal Vian.
“Terserah, orang cantik memang banyak haters," ujar Anna dengan percaya diri.
“Dasar overdosis percaya diri!" ujar Vian, “sini, aku pinjam bukumu untuk salin materi pelajaran yang tertinggal."
Anna mengeluarkan bukunya, dan menyodorkannya pada Vian, yang disambut oleh Vian dengan senang hati.
Vian pun segera menyalin materi dari Anna secepat kilat, namun ditengah kesibukannya menyalin materi tiba-tiba kedatangan Dea menginterupsi kegiatan keduanya.
“Vian, pulang sekolah nanti apa kau sibuk?" tanya Dea semanis mungkin.
“Dasar ular kobra centil, apa dia sedang dalam masa musim kawin?" cibir Anna dalam hati.
“Tentu saja, aku akan ke toko buku sore nanti dengan Anna. Ada buku kumpulan soal biologi yang harus kami beli, kami akan selalu sibuk menjelang olimpiade, jadi kami harus mempersiapkan semuanya." jelas Vian tanpa melihat ke arah Dea karena mata dan tangannya fokus pada materi yang sedang dicatat.
Anna yang mendengarnya pura-pura tidak melihat, ia melempar pandangannya ke arah luar.
Mendengar penolakan Vian, membuat Dea mengepalkan tangannya, ia merasa geram lagi-lagi ia kalah dengan Anna. Padahal, ia yang mendapat julukan siswi tercantik di sekolah, tapi mengapa ia justru kalah dengan gadis yang seperti preman pasar?
“Ayolah, olimpiade, kan masih lama. Mengapa ke toko bukunya harus hari ini?" rengek Dea manja.
Vian menghela nafas, “Mengapa kau tidak pergi dengan Bobby, bukankah dia kekasihmu, lagipula kita sudah lama putus bukan? Kau sendiri bahkan yang memutuskanku."
Skakmat Dea hanya bisa terdiam mendengar jawaban Vian. Dia tidak bisa berkutik karena pada kenyataannya, Dea sendirilah yang memutuskan Vian di depan orang banyak pada waktu itu.
“Kalau begitu bagaimana jika kita balikkan saja menjadi sepasang kekasih?" ujar Dea tiba-tiba.
“Maaf aku sedang tidak minat memiliki hubungan dengan siapa pun saat ini, cari orang lain saja," tolak Vian halus.
“Princess kok mengemis cinta, ha-ha-ha," cibir Anna dengan suara lirih sambil tertawa.
“Diam kau!" pekik Dea sambil menunjuk wajah Anna, tapi Anna dengan cepat menghindar sehingga Dea menunjuk ke arah tembok.
“Kalau menunjuk itu yang benar, memangnya tembok bisa bicara?" ledek Anna.
“Anna sialan, kau tak perlu merasa sok cantik, ya?!"
“Aku sok cantik?" beo Anna, “sekarang siapa yang selalu berlagak kecentilan dan menolak beberapa siswa dengan alasan tidak selevel, kampungan, miskin. Siapa yang melakukan itu semua, Siapa?!"
“Dengar ya Nona sok cantik, berhati-hatilah dalam berbicara, atau aku akan merobek mulutmu dan memangkas habis semua rambutmu itu?!" ancam Anna dengan sekali sentak.
Mendengar ancaman Anna membuat Dea berkeringat dingin. Anna adalah gadis yang selalu membuktikan ucapannya, dia tak pernah main-main. Jika dia sudah seperti berkata seperti itu, dia akan melakukan apa yang dia katakan.
Mendengar ancaman Anna, sontak membuat Vian tersedak air ludahnya sendiri. Ia memahami Anna sedang dalam mode senggol bacok, saat ini.
Oleh karena itu, Vian segera menengahi mereka, “Dea, sebaiknya kau kembali ke tempat dudukmu, kumohon."
Menyadari pengusiran secara halus yang dilakukan oleh Vian, membuat Dea mau tak mau kembali ke tempat duduknya.
Pemandangan ini tak luput dari atensi siswa lain yang sudah berada di dalam kelas. Hawa dingin dan mencekam langsung terasa hingga masuk ke dalam pori-pori dan menembus tulang.
Mereka pun tak berani melihat tatapan laser pembunuh, tatapan ciri khas Anna, jika sedang dalam mode senggol bacok.
Vian mengusap bahu Anna secara perlahan, agar Anna bisa tenang.
“Pacarmu benar-benar, ingin kukuliti saja rasanya," gerutu Anna.
“Dia sudah bukan pacarku, dan kami sudah putus," jawab Vian.
“Akhirnya, seharusnya kau bersyukur putus dengan perempuan parasit sepertinya," komentar Anna.
“Sepertinya memang harus begitu," Vian menanggapi.
Interaksi mereka menjadi tontonan para siswa-siswi. Terutama teruntuk kaum siswi mereka harus gigit jari karena sulit membuat Vian berpaling.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dea merasa kesal bukan main, bisa-bisanya Vian menolak segala pesonanya yang ia tunjukkan. Lebih parahnya lagi, Vian mengungkit masa lalu di saat dia memutuskan Vian secara sepihak di depan orang banyak.
“Argh, kenapa pula semuanya jadi begini?!" pekik Dea kesal.
“Aku tidak boleh kalah dari Anna, tidak boleh, Vian harus kembali jatuh ke pelukanku," ujar Dea.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Vian termenung di bangkunya, ia yakin Dea menginginkannya kembali karena penampilannya yang sudah berubah 180 derajat.
“Kau harus hati-hati. Mantan kekasihmu itu memiliki seribu satu rencana licik, untuk menghancurkanmu atau Anna," nasehat sebuah suara.
“Hem! Aku mengerti," jawab Vian lirih.
“Jangan melamun, ayo ke kantin! Aku ingin makan soto daging sapi, hari ini rasanya pasti nikmat sekali," ajak Anna.
“Makan saja terus, nanti kalau gemuk kau akan kebingungan," ledek Vian.
“Aku bukan gadis manja yang suka merengek, jika berat badan bertambah dan menjadi gemuk. Nyatanya, aku tidak pernah gemuk walaupun aku makan banyak," jelas Anna dengan senyum sombongnya.
“Sombong sekali," cibir Vian.
Mereka ke kantin dan sesampainya di sana mereka memesan soto daging sapi, melihat porsi makan Anna, membuat Vian geleng-geleng kepala.
Saat di kelas tadi bilangnya ingin makan soto, tapi sesampainya di kantin ternyata yang dipesan adalah soto dan kawan-kawannya. Ada sate usus, empat buah gorengan, satu bungkus roti, satu bungkus makaroni pedas, dengan minum es kopi susu satu gelas.
“Sungguh porsi makan yang luar biasa, apa perutnya tidak meledak?!" gumam Nino dari dalam diri Vian.
“Mengerikan," batin Vian.
“Kau tidak makan?" tanya Anna dengan raut wajah polos.
“Ini, aku sedang makan." jawab Vian sambil menunjuk mangkuk sotonya.
“Makanlah sebelum makan itu dilarang."
“Memang siapa yang melarang kita untuk makan?" tanya Vian kebingungan.
“Tentu saja para guru, memangnya kita boleh makan di dalam kelas?"
Bolehkah Vian membenturkan kepalanya ke meja saat ini?
Vian hanya mendengus kesal sementara Anna hanya cengengesan tidak jelas.
“Jangan marah, dong. Begitu saja marah, nanti kau mengalami penuaan dini," ucap Anna tanpa dosa.
“Dan sepertinya aku sudah mengalami penuaan dini karena terlalu lama bicara denganmu," jawab Vian ketus.
dah ga kuat hdup di dunia makanya buat ulah dulu sebelum ke alam lain
agak lain nih anak