Gadis pengidap Skizofrenia yang berusaha menemukan seseorang yang ada dalam mimpinya.
Clesia, selalu mengada-ada hal yang tidak nyata. Ia ingin mencari seseorang yang ada dalam mimpinya karena itu membuatnya bahagia.
Ayah nya semakin khawatir dengan kondisi anaknya, karena kian hari makin memburuk. Keputusan Ayah nya akan melakukan terapi ECT (Elektrokonvulsif) menjadi jalan satu-satunya demi kesehatan mental Clesia.
Akankah Clesia bisa menemukan seseorang tersebut? Atau keinginannya justru terbantahkan karena terapi ECT tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUSHI_BIRARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARTI YANG SAMAR
Oke Readers, Selamat Membaca :)
♡
♡
♡
“Pak, non Clesia tidak ada di kamar” pungkas bibi.
“Coba cari di tempat lain bi, barangkali sedang di dapur atau sedang di atas” perintah Ayah Clesia yang tampak panik.
Kemudian Ayah Clesia menelfon ponsel Clesia, namun tidak aktif.
Akhirnya, Ayah Clesia membatalkan jadwal meetingnya hari ini di kantor untuk mencari Clesia.
Ayah Clesia lebih memilih menaiki mobil sendiri tanpa di temani supir. Entah ingin kemana, yang jelas Clesia harus ketemu secepatnya mengingat Clesia sedang dalam kondisi kurang baik mentalnya.
♡♡♡
(Cafe Lotto)
“Beri tahu tentang penyakit Clesia” ucap Aksa pada Dr.Ady
“Untuk apa saya memberitahumu?” tanya Dr.Ady
“Cuma penasaran aja, ayolah Dok”
“Tidak akan saya beritahu, memangnya kamu siapanya Clesia? Teman doang kan?”
“Pak Dokter ini, nyesek amat ngomongnya .. Calon pacar dia tuh Dok” dengan pede.
Dokter Ady hanya terkekeh mendengar itu, namun sedikit meledek.
“Ada-ada saja kamu, langsung ke intinya saja”
“Ya itu, penyakit Clesia” ucap Aksa karena penasaran.
“Tidak akan saya beritahu, dia pasien VIP saya” tolak Dokter Ady.
“Loh ? Emang dia udah lama ya dok?” tanya Aksa kembali dengan penasaran.
“Yahh .. lumayan” jawab Dokter Ady.
*Drrrtttt
Ponsel Dr.Ady berbunyi, tertulis dari Ayah Clesia.
(Di telfon)
● Halo .. iya om ada apa?
○ Dy .. Clesia tidak ada di rumah
● Kok bisa om?
○ Om juga gak tau, kamu bisa cari Clesia nggak? Atau kamu lagi sibuk?
● Bisa om .. Akan saya bantu cari
○ Terima kasih ya, Dy ..
(Tutup telfon)
“Sudah, saya harus pergi sekarang” pungkas Dokter Ady yang hendak meninggalkan Aksa.
“Loh? Kemana? Itu tadi siapa, Dok?”
“Bukan urusan kamu, permisi!”
Dr.Ady langsung meninggalkan Aksa di Cafe. Kemudian buru-buru mencari Clesia dengan menggunakan mobil.
♡♡♡
Clesia pergi ke sebuah tempat yang berharga bagi dirinya, kenangan manis bersama seseorang yang bernama Tio semuanya di tempat itu. Clesia tak sabar melihat tempat itu lagi.
Clesia melihat ke sebuah kaca mobil umum yang ia naiki, meskipun mobil tersebut hanya sampai terminal, Clesia berpikir mungkin hanya beberapa KM lagi sampai di tempat tante Gita.
##
Skizofrenia yang singgah di dalam mentalnya sudah tak bisa di kendalikan lagi.
Menganggap hal yang tidak ada menjadi sesuatu yang nyata, tidak bisa membedakan mana khayalan atau kenyataan.
Semakin buruk perkembangan mental Clesia saat ini. Clesia pun tidak tahu harus berbuat apa dengan mentalnya sendiri.
Semakin yakin dengan keberadaan Tio, maka disitulah resiko semakin besar Clesia harus menghadapi terapi ECT (Elektrokonvulsif).
Efeknya cukup beresiko, namun bisa membantu pengobatan.
“Haruskah aku kesini?”
“Ada apa denganku?”
“Tapi, aku ingin bertemu dengannya"
“Semoga kau menepati janji Tio”
Clesia bergumam sambil masih memandangi jalanan lewat kaca mobil umum.
♡♡♡
Aksa curiga dengan kepanikan Dokter Ady di telfon tadi. Aka lalu menelfon nomor ponsel Clesia.
*nomor yang ada panggil sedang tidak aktif cobalah beberapa saat lagi
Tanpa pikir panjang, Aksa pun langsung nenyusul Dokter Ady menggunakan motor ninja nya menuju rumah Clesia.
Di jalan Aksa sangat cemas dengan Clesia, memikirkan apa yang terjadi dengan Clesia.
“Sebenernya kamu sakit apa sih, Cel” gumam Aksa.
Setelah sampai di depan rumah Clesia, Aksa tak melihat ada mobil Dokter Ady di dalam, hanya ada bapak-bapak yang mengenakan seragam hitam.
Aksa menghampiri bapak-bapak tersebut yang tengah berdiri di depan pintu rumah.
“Permisi, pak Clesia nya ada?”
“Kamu siapa ya dek?”
“Temennya Clesia pak”
“Ohh .. Clesia nya ga tau kemana dek, ini juga saya di suruh jaga rumah selama tuan sedang mencari non Clesia”
“Yaudah pak makasih, permisi”
Aksa langsung menuju motornya dan kembali menghubungi nomer Clesia, tapi tetap saja Clesia tak bisa di hubungi.
Sebelum Aksa benar-benar pergi, ada mobil yang baru saja berhenti dan tampaknya mobil itu seperti milik Dokter Ady. Aksa pun mendekat pada mobil itu.
“Dok, Clesia sudah ketemu?”
“Belum, saya juga baru kesini mau mencari Clesia”
Mendengar itu Aksa tampak antusias dan menyuruh Dokter Ady untuk membuka pintu mobilnya.
Dr.Ady pun paham maksud Aksa, kemudian membukakan nya untuk Aksa dan mereka mencari Clesia bersama-sama.
“Dia sakit apa, Dok?” lagi-lagi Aksa bertanya tentang sakit yang di derita oleh Clesia.
“Bukan urusanmu”
“Jelas ini urusan saya, Clesia teman saya Dok”
Dr.Ady hanya diam tanpa merespon Aksa.
“Skizofrenia, terapi ECT, se bahaya itukah penyakitnya?”
Dr.Ady terkejut mendengar pertanyaan itu dari Aksa. Bagaimana dia bisa tahu? Apa jangan-jangan ketika dia di ruangan Dokter Ady, sempat melihat data-data pasien yang tertumpuk di mejanya?
“Mau ngelak lagi, Dok? Terapi ECT itu seperti apa?” tanya Aksa dengan serius.
Dr.Ady menghela nafas panjang, dan sudah tak ada alasan lagi baginya untuk menghindari pertanyaan Aksa.
“Terapi ECT (Elektrokonvulsif) di lakukan agar si penderita melupakan segalanya tentang apa yang dia pikirkan dan menjadi penyebab Skizofrenia muncul kembali, terapi itu akan di lakukan dengan bantuan obat bius agat tubuh si pasien terasa lebih relax. Kemudian, saya akan memasang Elektroda di bagian ubun-ubunnya, lalu mengalirkan alur listrik memberikan reaksi kejang singkat pada otak.” Jelas Dokter Ady
Gambaran Terapi ECT
“Jangan bercanda, Dok” timpal Aksa yang tak percaya.
“Terserah, saya gak nyuruh kamu untuk percaya apa tidak” jawab Dokter Ady.
“Serius, Dok? Resikonya gede loh pakenya setrum listrik”
“Iya saya tahu, sudahlah kamu jangan bertanya terus jika tak percaya”
Aksa hanya terkejut mendengar kalimat bahwa Clesia akan melakukan terapi tersebut, tak bisa di percaya bahwa penyakit Clesia lebih parah darinya.
♡♡♡
4 jam perjalanan membuat Clesia terasa pegal dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak di kursi warung yang ada di terminal.
Terkadang Clesia sendiri tak mengerti dengan diri sendirinya akhir-akhir ini, bagaimana bisa Clesia yang dulunya tak berani keluar seperti ini sampai berani keluar jauh sendirian hanya untuk menenmukan seseorang yang bahkan entah ada atau tidak Tio dalam dunia nyata.
Clesia memang sangat tak terkendali.
“Kalo beneran bakal ngelakuin terapi itu gimana ya? Emang yah mas Dokter itu udah gila, yakali kepalaku mau di setrum” celoteh Clesia.
Clesia kembali melakukan perjalanannya untuk menuju rumah tante Gita. Karena Clesia malas untuk berjalan kaki, naik ojek adalah pilihannya.
Tempatnya masih sama persis, tidak ada perubahan apapun, sangat pas jika di juluki dengan pedesaan, mangkannya penduduknya pun rata-rata ndeso dan orang kampung.
Ketika menyusuri perbukitan, udaranya sangat sejuk hingga masuk ke dalam pori-pori tubuh, membuat merinding campur sensasi kenangan bersama Tio.
(Tiba di rumah tante Gita)
*tok .. tok .. tok ..
*ceklek .. seseorang membukakan pintu
“Loh Clesia? Ya ampun ni anak bandel banget sih, Ayah mu tuh khawatir nyariin kamu, nelfon ke tante, karena gak ada ya tante bilang gak ada, eh kamunya malah kesini ..” bentak tante Gita pada Clesia.
“Iya maaf tan, aku bosen di rumah terus, udara di kota panas” sahut Clesia.
“Ya tapi kamu gak mesti mendadak ngilang gitu aja toh, telfon Ayahmu, bilang ada di rumah tante.”
“Iya Tan, nanti aku mau charger hp dulu, mati soalnya”
Clesia memasuki kamar yang dulu pernah ia singgahi ketika masih sekolah disini.
Clesia menyalakan ponselnya yang sedang di charger, dan melihat ada 168 panggilan yaitu dari Ayah, Dokter Ady, tante Gita, dan Aksa.
Dan menerima 322 pesan di wa, notifikasi di ponsel Clesia isinya kecemasan dari beberapa seseorang terdekat Clesia.
Clesia langsung menelfon Dine.
(Di telfon)
● Din, lo dimana?
○ Di rumah, kenapa emangnya Cel?
● Oke, kita ketemuan di tepi sungai ya, 2 jam lagi
○ Ohh oke, Cel
♡♡♡
Aksa kembali menelfon ponsel Clesia, dan menyambungkan. Aksa bersorak karena ponsel Clesia masih aktif.
Clesia tak mengangkat panggilan dari Aksa, wah Clesia benar-benar menghindari Aksa.
Dokter Ady teringat sesuatu dan langsung menginjak gas, mengebut ke suatu tempat yang Aksa tak tahu.
Tibalah di suatu tempat, banyak pepohonan, Aksa melihat-lihat sekitar.
“Dejavu .. “ lontar Aksa.
Tampaknya Aksa seperti pernah berada di tempat seperti ini, tapi Aksa juga tak bisa mengingat lebih detail.
Dokter Ady menuju sebuah pohon besar yang ada di tepi sungai,
“Clesia .. ?” sapa Dokter Ady.
Clesia terkejut dengan hadirnya Dokter Ady disana, begitu pula dengan Dine.
Aksa menyusul Dokter Ady, pandangan Aksa mendadak berhenti ketika melihat Clesia dan Dine, tidak justru Aksa memandang Dine lebih lama, Aksa yakin pernah bertemu dengannya tapi kapan dan dimana?
Dine tiba-tiba terkejut dan meninggalkan mereka semua, seperti melihat sosok yang ia takutkan.
“Cel .. saya pergi dulu, nanti kita bahas lagi” ucap Dine dengan terburu-buru kemudian langsung lari meninggalkan Clesia, Dokter Ady, dan juga Aksa.
Aksa ingin menghadangnya namun, entahlah dia tak terlalu ingat siapa sebenarnya Dine?
Kenapa tempat ini rasanya seperti Dejavu bagi Aksa?
Apakah Aksa pernah kesini? Tapi kapan itu? Untuk apa dia kesini?
BERSAMBUNG ...
● Like
● Comment
Berikan dukungan kalian yaa 🤗☺
juga ceritanya informatif😊
tapi serah deh...yg penting ceritanya seru.
jgn lupa mampir di karyaku😊