Terjerumus dalam geng motor adalah pilihan terbaik bagi Marvel untuk menghilangkan rasa tertekan pada hidupnya, masalah kedua orang tua menyebabkan dirinya menjadi sosok yang liar dan ditakuti banyak orang.
Siapa sangka seorang gadis pengamen yang bernama Meisie membuat hati seorang Marvel terketuk, pertemuan yang diawali dari sebuah kebencian, berakhir dengan kisah yang mengharu biru. Meisie berhasil menguak rahasia besar yang tersimpan bertahun-tahun dari seorang Marvel. Lantas, siapakah sebenarnya Marvel?
Akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia?
Yuk ikuti kisah romantis mereka 🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku nggak rela
"Iya, Nenek tinggal sebentar. Nak Marvel, biar Mei yang suapi! Saya mau keluar ke dapur. Nanti jika sudah selesai makan, Nak Marvel minum obatnya. Dan kamu Mei, bantu Nak Marvel untuk makan, ya!" ucap Bu Lani sambil memberikan piring kepada cucunya untuk menyuapi Marvel.
"Kok aku sih, Nek?"
"Sudah, tinggal nyuapi aja loh apa susahnya sih, Nak Marvel kan lagi sakit." Ucap sang nenek sambil beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah Bu Lani pergi, Mei tampak memperhatikan piring nasi yang ada di tangannya. Setelah itu tangannya mulai bergerak menyendok nasi untuk ia suapkan ke mulut Marvel.
Marvel tampak memperhatikan Mei yang sedang berada di depannya dengan membawa piring untuknya. Dengan menatap wajah gadis itu dalam-dalam. Ada getaran halus yang mulai merambat dan menggelitik hati pemuda itu.
"Apa ini? Kenapa aku tidak bisa memalingkan pandanganku darinya? Jangan bilang kamu sudah mulai suka dengan gadis itu, Marvel! Seorang Marvel tidak mungkin bisa jatuh cinta!"
Mei mulai mengarahkan sendok itu ke mulut Marvel. Sedangkan Marvel masih terpaku melihat wajah Mei.
"Buka mulutnya!" titah Mei. Namun, Marvel masih terdiam. Mei menghela nafasnya dan berkata lagi. "Buka mulutnya, ya elah masa aku juga sih yang harus buka tuh mulut, tinggal mangap doang apa susahnya sih!" seru gadis itu mulai komat-kamit.
Marvel pun terkesiap dan ia pun segera membuka mulutnya. Kemudian Mei pun menyuapi pemuda itu dengan malu-malu. Entah kenapa, keduanya tergoda untuk saling menatap. Awalnya Mei yang malu-malu menatap wajah Marvel, akhirnya ia pun turut membalas tatapan mata Kakak seniornya itu.
"Anjrit! Kenapa aku deg-degan banget sumpah!"
Marvel mengunyah makanan itu dengan pelan. Sesekali ia meringis sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sangat sakit.
"Emm ... masih sakit, ya?" Mei pun mas masih khawatir dengan keadaan Marvel yang terlihat begitu kesakitan. Marvel menganggukkan kepalanya pelan.
"Habiskan dulu makannya, Kak. Setelah itu obatnya diminum biar nggak nyeri." ucap Mei yang terus menyuapi Marvel hingga makanan itu mulai habis.
"Sudah-sudah, aku sudah kenyang!" Marvel menolak suapan terakhir dari Mei. Namun, Mei masih memaksa Marvel harus menghabiskan makanan yang tinggal satu suapan itu.
"Tapi ... aku sudah sangat kenyang!"
"Tinggal satu suap aja. Ayo ah buka mulutnya!" Mei terus memaksa Marvel untuk membuka mulutnya. Dan Marvel pun tetap dengan pendiriannya. Ia terus menggelengkan kepalanya.
Karena Mei yang terus memaksa Marvel, hingga akhirnya satu suapan itu terjatuh karena tersenggol oleh pipi Marvel akhirnya dan mengenai wajah pemuda itu.
"Ya ampun, tuh kan jatuh. Kakak sih nggak mau buka mulutnya!" ucap Mei sambil mengambil tisu untuk membersihkan wajah Marvel yang terkena beberapa bulir nasi.
"Aku kan sudah bilang kalau aku udah kenyang. Kamu aja yang terus memaksa, dasar pemaksa!" balas Marvel kesal.
"Aku tuh sayang kalau makanan tuh nggak dihabiskan, Nenek udah capek-capek loh ambilin makan untuk Kakak. Tinggal dikit aja nggak mau. Manja banget sih!" sahut Mei sambil meletakkan piring pada nampan.
"Aku itu bukan tipe orang yang makannya banyak, jadi makan dikit aja udah kenyang!" balas Marvel sambil membersihkan wajahnya dengan tisu.
"Hmm pantes aja kurus! Nggak doyan makan sih, jadi cowok tuh badannya kudu kuat. Kalau loyo ya elah mana ada cewek yang mau dekat-dekat sama Kakak!" sindir Mei sambil melirik tubuh Marvel yang cenderung sedikit kurusan.
"Iya, kata teman-teman sekarang aku agak kurusan. Di rumah terlalu banyak pikiran, jadi selera makan ku hilang!" ucapan Marvel spontan dan Mei mengerutkan keningnya.
"Oh ya! Itu berarti dulu Kakak tuh badannya besar dong? Emm by the way, emangnya ada apa sih di rumah Kakak? Kenapa kakak nggak mau pulang? Apa nanti orang tua Kakak nggak nyariin kakak?" pertanyaan Mei seketika membuat Marvel tersenyum kecut.
"Jangan bicarakan mereka, aku sudah malas membicarakannya." sahut Marvel yang mulai serius.
"Kakak ada masalah ya dengan keluarga? Maaf, jika aku lancang bertanya. Ya sudah, kalau begitu aku pergi dulu mengembalikan ini ke dapur. Ini obatnya dan kakak minum gih!" seru Mei sambil memberikan obat untuk Marvel.
"Tidak apa-apa, maaf jika aku sudah merepotkan Kalian semua. Jangan khawatir, setelah aku pulih dan membayar ganti rugi untukmu, aku akan pergi segera dari rumah ini dan aku tidak akan mengganggumu lagi!"
Entah kenapa setelah mendengar ucapan dari Marvel, Mei seolah bersedih jika pemuda itu pergi dari rumah.
"Kok aku nggak rela ya jika Kak Marvel pergi dari sini?"
...BERSAMBUNG ...