NovelToon NovelToon
Seluas Samudera

Seluas Samudera

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Enemy to Lovers / Si Mujur / Tamat
Popularitas:284.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Nonelondo

PERINGATAN!!!

Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!

----------

Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.


Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.

-Dewi Abarwati-

Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.

-Krisanto-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12 Menunjukkan Bisa-nya...

Masuk ke toko boneka satu, ke toko lain. Begitu seterusnya nggak ada satu pun barang yang dicarinya. Pulang kerja Teguh menyempatkan diri untuk membeli boneka barbie yang memakai baju putri salju. Itu yang diinginkan keponakannya untuk kado ulang tahunnya. Semua toko akhirnya sudah habis disinggahinya, sepertinya dia harus cari ke mall lain.

Keluar dari mall, Teguh melajukan motornya di depan gedung. Baru beberapa saat saja, dia sudah menepikan roda duanya. Ada pemandangan yang menarik perhatiannya. Lelaki itu menengok ke arah pintu masuk mall. Kurang pasti, dia lekas berdiri menjinjitkan kedua kakinya. Ya! Nggak salah. Ada 2 orang berbeda kelamin yang dikenalinnya sedang berjalan masuk mall.

**********

Sesudah keributan itu, baik Kris dan Dewi tidak saling menelpon. Untuk Dewi sendiri sakit hati, biar dia menginginkan Kris kembali, tapi dia masih punya harga diri. Sikap Kris itu sungguh pahit.

Hanya karena posisinya, masa dia ngak boleh tahu kehidupan Kris? Ya, memang dia nggak boleh. Tapi kan, untuk hal ini berbeda. Bukankah mereka harus saling mengetahui, biar mereka bisa saling menutupi jika nanti terjadi hal tak terduga?

“Dewi...,” panggil Dokter Ajeng.

Wanita itu terkesiap, seketika jadi berhenti dari lamunannya.

“Iya, Dok?”

“Cepat, bantu saya di IGD!”

“Siap, Dok.”

Dewi bangkit dari kursi mengikuti di belakang. Kalau sudah dengar begitu, berarti butuh bantuan tenaga. Setiba di sana, dia langsung bergabung dengan yang lain. Di sana ada satu teman dekatnya Teguh.

Ada tiga pasien mengalami kecelakaan motor. Yang satu kulit dagingnya terseret jalan saat tubuhnya terjatuh terus terbawa laju motor yang sudah nggak bisa dikendalikan. Satunya lagi, kepalanya pecah terbentur trotoar. Terakhir, satu kakinya remuk terlindas mobil. Mobil belakang sudah menginjak pedal rem. Sayang, karena terkejut apa yang terjadi di depan, laju mobilnya sudah melewati kaki orang itu.

Pasien pertama tergolong ringan cepat ditangani. Yang kedua setelah diberi pertolongan pertama harus segera dimasukkan ke ruang operasi. Tak main-main buat menjahit kepalanya. Transfusi darah juga telah dilakukan. Tapi saat masuk ruang operasi Dewi nggak ikut, karena di ruang operasi ada suster tersendiri. Ketiga juga sama Dewi nggak ikut. Keluar-keluar pasien itu sudah di pasang gips. Untung, pasien ketiga itu cepat di bawa kemari kalau nggak kakinya membusuk dan bakal di amputasi. Ketiga pasien itu sudah di CT Scan untuk melihat apa ada organ dalam lain yang terluka.

Dewi membasuh diri selesai bergumul dengan ketiga pasien itu. Setelah selesai, dia keluar dari toilet dan papasan dengan Teguh di pintu keluar.

“Eh, Wi. Gue lupa. Beberapa hari lalu, gue lihat Mas Kris jalan sama Rena di mall."

Jantung Dewi menendang keras. Apa? Kalau Kris, memang jangan ditanya pasti tidak beri tahunya. Rena?

Untungnya sebelum Dewi menutupi, Teguh sudah menambahi bicaranya.

“Gue udah tanya Rena, katanya kawan-kawan dia kenal sama Mas Kris. Dulu teman satu sekolah. Katanya elo juga tahu Wi, emang benar Wi?”

Mengangguk. "Iya.”

“Oo... Pantesan elo nggak ikut. Mereka pada reuni kecil begitu ya?”

Mengangguk. "Ho oh.”

Menepuk pundak. "Oo... Ya udah.”

Seberlalunya Teguh, Dewi masih berdiri. Kenapa Rena bersikap tidak sopan padanya? Ada apa dengan anak itu?

Dewi butuh penjelasan, dia segera berjalan mencari. Saat ditemukan, urung dilabraknya. Rena lagi duduk bersama Laras di meja kerja mereka. Dewi menarik kursi, ikut bergabung.

“Dari mana, Wi?” tanya Laras.

“Bantu IGD."

“Oo... Sama Teguh ya?”

“Iya.”

Rena bersikap nggak seperti biasanya tidak menyapa Dewi sibuk dengan urusannya. Membuat yang dicuekin tambah jadi keki.

Kenapa Rena acuh? Rena kan bisa menghentikan sejenak aktifitasnya untuk menegurnya. Terlebih, apa Rena tidak merasa bersalah dengan apa yang telah dilakukan padanya?

Dewi nggak mengerti kenapa Rena bersikap begini, tetapi sikap sahabatnya itu berhasil membuat emosi di dadanya makin naik. Diaturnya nafas sedemikian rupa agar turun. Tenanglah... Tenanglah...

Cukup lama dia disitu menanti waktu yang tepat. Akhirnya, wanita itu ada kesempatan, Laras meninggalkan mereka berdua.

“Ren, gue mau bicara,” langsung Dewi.

Melirik. “Mm?”

“Kenapa elo pergi sama Kris nggak bilang sama gue?”

“Yang mana?”

“Tentu elo tahu.”

“Oo... Yang baru-baru ini? Teguh bilang ya?”

Tidak menjawab. "..... "

“Mm... Waktu yang pertama sih, gue mau lihat-lihat dulu. Kedua, ya sama sih! Mm... Kalau yang ketiga ini karena gue sudah dapat kepastian dari yang kedua.”

Bingung. “Maksud elo?”

Rena tersenyum. ^_^

Jidat mengkerut. “Apa maksud dari senyuman elo juga, Ren?”

“Masa, elo nggak tahu?”

“Apa?”

“Gue ijin sama elo, tapi gue nggak ngajak elo. Apa lagi... Kalau bukan gue mau berduaan sama Bang Kris.”

Terbelalak. “Apa?!”

“Itu artinya gue suka sama Bang Kris. Gue sangat beruntung teman-teman gue kenal sama Bang Kris. Jadi gue nggak perlu repot cari alasan mengajak Bang Kris jalan. Tapi pertama-pertama, gue mau lihat dulu, apa Bang Kris bisa diajak jalan sama gue atau nggak. Kedua, gue mau lihat lagi. Dia masalah nggak, gue minta jemput dan antar pulang lagi. Jadi, udah 2 kali begitu. Berikutnya, untuk apa gue kasih tahu elo?”

Seketika mulut Dewi menganga. Oo... Jadi ini alasan Rena nggak mengajaknya ikut. Rupanya ingin cari kesempatan berduaan dengan Kris di mobil. Ya! Memang aneh juga Rena nggak ada basa-basi padanya. Memang selama ini biar Rena dekat dengan Kris, tak bisa jalan berdua dengan Kris, tentu karena ada dia. Apa dia tidak salah dengar? Mengapa Rena bisa bicara begini? Apa Rena nggak memikirkan perasaannya? Apa Rena tidak mikir yang diajak bicara ini siapa?

“Jadi elo suka sama Kris, Ren?” langsung Dewi.

“Elo sudah dengar tadi."

“Kenapa?!” tanya Dewi dengan mata memerah.

“Oke! Gue jujur. Dari awal gue suka sama Bang Kris. Apa elo nggak ingat? Dulu gue suka menawarkan diri menjaga Bang Kris?”

Dulu waktu Kris dirawat, Rena beberapa kali bilang itu padanya. Dewi selalu menolak karena dia nggak butuh bantuan. Mana Dewi tahu Rena ada maksud kesitu.

“Dari awal hingga elo jadian sama Bang Kris gue terus memendam rasa. Sekarang bukan waktunya lagi! Gue lihat udah lama deh Bang Kris nggak terlihat sama elo. Hmm... Udah 3 bulan lebih kayaknya. Terhitung semenjak kita masuk shift malam. Kenapa coba? Padahal dulu setiap hari dia di samping elo.”

Dewi semakin terbelalak. Rena memperhatikan itu. Memang sejak dia putus dengan Kris, bertepatan saat dia masuk shift malam. Tepatnya, usai kesepakatan mereka dikumandangkan.

Rumah sakit tempat Dewi bekerja berlakukan rotasi shift 3 bulan sekali.

“Ngapain elo mikirin? Itu bukan urusan elo!”

“Urusan gue dong. Karena gue jadi timbul rasa curiga, dari situ jugalah awalnya sudah saatnya gue bergerak." Rena tersenyum tanpa dosa.

Dewi kembali menganga. Rena berhasil terus mengobrak-abrik hatinya. Bisa-bisanya bicara tenang, namun isi mulutnya frontal. Bisa-bisanya juga memakai alibi karena kelalaiannya melonggarkan hubungannya dengan Kris. Akibat dia tidak terlihat sering dengan Kris. Jelas-jelas dari awal salah Rena.

“Disini juga ada yang aneh sebenarnya tanpa gue mengajak, Bang Kris bisa kok.”

“Karena gue nggak mau ikut!"

“Benarkah? Masa 3 kali berturut-turut elo gak ada niatan mau ikut? Emang elo gak mau tahu dia berteman sama siapa?”

“Buat apa? Biar saja dia dengan urusannya.”

“Masa? Apa jangan-jangan elo lagi ada masalah ya, sama Bang Kris?”

Sekejap Dewi mengerlipkan kedua kelopak mata. "Jangan sembarangan bicara elo ya, Ren.”

“Sebagai pacar. Masa, elo biarin Bang Kris jemput gue dan bebas jalan sama gue? Biar kita berteman, tapi kan aneh. Seharusnya elo larang dong. Masa, elo biarin Bang Kris jalan sama gue?”

“Gue sebenarnya mau ngelarang elo. Sesudah elo meminta ijin yang kedua. Tapi gue lupa, gara-gara ngurus kerjaan."

"Alah, pasti elo berdua lagi ada apa-apa! Dan ini, menyambung sudah lama Bang Kris nggak terlihat sama elo.”

Dewi kembali melotot Rena mencoba kembali menyimpulkan.

“Jangan asal menebak ya elo, Ren.”

"Terus anehnya juga, kenapa elo baru menegur gue sekarang? Emang Bang Kris nggak ada cerita sama elo? Lucunya lagi, elo tahu dari Teguh."

"Emang gue tadi ada jawab?"

“Eh, Wi. Dari elo menegur gue aja sekarang, itu tandanya elo baru tahu, dan tahunya dari Teguh. Dan itu juga tandanya, Bang Kris nggak bilang sama elo pergi sama gue. Wah... makin menarik nih!"

"Sembarangan banget elo, main menyimpulkan aja!"

"Seharusnya dari awal elo juga tahu, Wi. Apa elo gak paham? Kenapa hanya gue satu-satunya yang punya nomor, Bang Kris? Bebas hubungi Bang Kris? Satu kampung? Hah! Oh, oke! Itu juga dewi keberuntungan memihak gue. Tapi kalau elo mikir secara nalar, apa alasan itu bisa buat gue seakrab itu dengan, Bang Kris? Yang lain saja sungkan ngobrol sama dia, kenapa gue nggak? Gue di kampung kenal juga nggak sama Bang Kris.”

Biar bagaimanapun buat akrab dengan Kris nggak semudah itu biar mereka berteman. Karena mereka memandang faktor ayahnya. Membuat mereka ada rasa sungkan takut salah bicara dengan Kris.

“Oo... Tentu, karena gue punya trik. Paham sekarang elo, 'kan?” lanjut Rena.

Awalnya Rena ajak bicara tempat wisata, kebiasaan orang sana, dan lain sebagainya. Kris menanggapi layaknya seperti obrolan basa-basi. Tapi, usai Rena kasih makanan Medan, baru mereka akrab. Itu taktik Rena biar Kris ada rasa imbal balik. Benar saja, sehabis itu Kris meminta nomor Rena padanya. Kris mau mengucapkan terima kasih. Lalu balas mengirim pemberian dari Rena. Hingga kini imbal balik terus terjadi diantara mereka. Tapi sekali lagi, mana Dewi kepikiran kesitu.

Rena menutup berkas bersiap-siap beranjak pergi. Baginya obrolan mereka sudah tuntas. Lagian, malas dilanjutkan.

Saat beberapa langkah Rena berjalan, Dewi menghentikan langkahnya.

“Kenapa elo begini sama gue, Ren? Kita teman, 'kan?”

Menoleh. “Wi, harusnya elo paham dengan begini gue udah memutuskan pertemanan antara kita. Kenapa elo nanya? Berarti dari tadi kita ngomong apaan? Heran deh! Makanya jadi orang jangan naif, Wi.”

Naif?

“Kenapa elo menyakiti gue, Ren?”

“Cinta...,” jawab Rena sambil lalu.

Setetes demi setetes air mata Dewi bergulir. Bukan hanya karena Rena sudah blak-blakan mengungkap perasaan hatinya, atau pun tega menyakiti perasaannya, atau pun juga tega menggadaikan persahabatan mereka, bahkan Rena berani menebak ada terjadi sesuatu antara dia dan Kris. Namun juga... Sekarang diantara ketidakjelasan hubungannya dengan Kris, ada Rena ditengah-tengah mereka.

1
rajwa ameera
luarrr biasa crtnya,,,
Dila Ayu
susah move on dari novel ini.. apalagi sekarang ada televisi cerita ttg tentara angkatan laut...
ibune Aldo
ya elah Dewi, kalau gini sih namanya kamu menyiksa diri sendiri, mesti berbohong, dan berlanjut dengan kebohongan lain terus
ibune Aldo
kenapa gak jujur aja WI, sama teman ", toh diputuskan pacar bukan akhir dunia.. ya walaupun kamunya masih cinta, tapi setidaknya biar tidak kelihatan begitu nelangsa sih
ibune Aldo
masih o
penasaran alasan kris
🌹bunda kamila🌹
ngga nyesel bacanya....keren thor👍👍
Nonelondo (ig : nonelondo): hai, novelku "My Man" uda terbit dibaca ya...
total 1 replies
dite
heran aku, atas nama teman bkin salah kayak gitu kok dikasih maaf

aslinya laki apa banci sih 😑

seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
dite
komunikasi itu penting, ga smua salah di dewi nya. kris haruse jg ngasih tahu dewi dia mau dewi gmna, ga diem aja tapi trus nesu
dite
gilak si kriss, sibuk amat ngurusin ciwi2
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...

babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku
novita setya
mas kris,om ken..11 12 bucin nya
novita setya
naah ini aja seru menarik drpd asmara bikin ngelu ndas saia...action nya tegang seru wow..top
novita setya
ah dewi msh gt2 aja..kuasai emosi dong biar ga kekanak2an lg..ck
novita setya
kak othor jujur deh pas novel kelar pasti baca jg kan..ada rasa pengen nabok 2 cwe nyebelin ga..koq kuaat gt loh bikin tokoh rena dewi sebegitu nyebelin
novita setya
etdah..alih2 ngatasin mslh..mlh nambah mslh nih bocah pke semaput pulak..woooyyy kebnykan mikir lu wii
novita setya
2 cwe yg asliii nyebelin
novita setya
lah np nangis wi..kan lu rela dijadikan keset rena. tanpa membantah & melawan pulak..y sdh trma aja nasibmu.
novita setya
teguh & laras udahlah ga usah ngurus dewi. dy aja rela dicincang rena tanpa perlawanan..
novita setya
2 wanita 1 tujuan. beda cara. yg satu super lemot yg lain ambisius..
novita setya
laras ngapain sih repot2 ngebelain dewi..kl emang dy cerdas udah diatasi mslh ini sejak dl biar ga da celah pelakor dtg. laah si dewi lembek2 aja np km pasang bdn..rugi deh kena sangsi
novita setya
mending pts aja lah..tp jgn sm rena. tasya aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!