Hidup Intan seketika berubah saat ia tiba-tiba harus menjadi seorang perawat bagi pria buta yang arogan.
Meskipun ia sudah melakukan cara agar pria itu memecatnya, namun pria itu justru mempertahankannya.
Kedekatan keduanya pun mulai menumbuhkan benih-benih cinta.
Apakah hubungan percintaan mereka akan berjalan mulus??, baca kisahnya di sini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
"Ibu sadar selama ini sudah membuat mu tersiksa dengan menjadi tulang punggung keluarga. Tapi sekarang Ibu sadar jika perbuatan ku salah selama ini. Jadi mulai hari ini aku mau kamu kembali fokus kuliah seperti amanah almarhum ayahmu. Untuk keuangan keluarga kamu tidak perlu khawatir karena mulai sekarang ibu yang akan menanggungnya. Ibu akan bekerja keras untuk membiayai kuliah anak-anakku sampai mereka lulus. Ibu juga mau minta maaf atas semua kesalahan yang sudah ibu lakukan dulu, kamu mau kan memaafkan ibu dan kembali Kuliah??" ucap Jamilah penuh penekanan
Kenapa ibu tiba-tiba bersikap baik kepadaku, apa ada sesuatu yang disembunyikan dariku??
Meskipun sedikit curiga dengan perubahan sikap Jamilah. Namun gadis itu tak punya pilihan lain selain mengikuti permintaan wanita itu.
Apalagi Intan memang sudah merindukan bangku kuliahnya. Ia ingin segera menyelesaikan kuliahnya agar bisa menjadi seorang dokter seperti keinginan almarhum ayahnya.
Meskipun awalnya Kenzo tak keberatan dengan keputusan Intan, namun lama-lama kelamaan pria itu mulai menyadari jika ia tak bisa hidup tanpa Intan.
Kenzo terlihat murung sambil menatap tumpukan dokumen yang tergeletak di meja kerjanya.
Biasanya Intan yang selalu rajin mengerjakan semua pekerjaannya. Meskipun ia bukan seorang Sarjana namun otaknya cukup encer jika untuk mengerjakan laporan keuangan, membuat promosi atau membuat surat penawaran untuk klien.
Tak bisa dipungkiri kini Kenzo kesulitan mengerjakan pekerjaannya tanpa gadis itu.
Bahkan penjualan perusahaan tiba-tiba merosot tajam.
"Kalau begini terus karier ku bisa hancur, sepertinya aku harus mencari asisten baru untuk menggantikan Intan,"
Kenzo kemudian membuka lowongan pekerjaan untuk menjadi asistennya.
Sudah puluhan orang yang mendaftar namun tak satupun yang sesuai dengan kriterianya.
"Sebenarnya kamu ini cari karyawan atau cari pacar sih, masa dari ratusan pelamar tak ada satupun yang sesuai dengan kriteria mu," dengus Ibra
"Kalau kamu memang merindukan asisten mu itu dan tidak bisa bekerja tanpa dia kenapa kau tidak temui saja dia. Katakan sama dia kalau kamu tak bisa hidup tanpanya dan minta dia kembali," imbuhnya
"Tapi apa aku tengsin," jawab Kenzo sedikit malu mengakui perasaannya
"Kalau begitu nikmati saja kekacauan ini!. Emang susah kalau ngomong sama orang yang keras kepala!" gerutu Ibra kemudian meninggalkan ruang kerja Kenzo
Amar yang melihat kinerja Kenzo mulai berantakan berpikir untuk mendatangkan Lisa mantan kekasih Kenzo.
Ia bahkan sengaja meminta gadis itu pulang dari Amsterdam hanya untuk membantunya meluluhkan hati Kenzo kembali.
"Tapi Paman, kau tahu kan kalau aku tidak menyukai Kenzo, dulu aku terpaksa menjadi kekasihnya karena permintaan Ibra, dan aku menyesali keputusan itu karena hanya membuat aku terluka begitupun dengan Kenzo. So aku tidak mau mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya," jawab Lisa
"Kau tidak perlu menjadi kekasih Kenzo, kau hanya bekerja sebagai asistennya untuk membantu pekerjaannya agar ia bisa melupakan seseorang. Dan Paman janji akan membujuk Ibra agar mau menerima cintamu," jawab Amar
"Baiklah kalau begitu aku setuju,"
Malam itu Lisa tiba di Bandara Soekarno Hatta pukul delapan malam. Tampak Ibra menjemputnya dengan menggunakan pakaian casual yang membuat pria itu terlihat begitu menawan.
"Hai?" sapa Lisa saat pemuda itu menghampirinya
"Apa kabar Lis?" jawab Ibra
"Baik, bagaimana denganmu?"
"Seperti yang kau lihat," jawab Ibra datar
Pria itu kemudian membawakan koper Lisa dan menaruhnya di bagasi mobilnya
Lisa tahu jika pria itu tak suka jika ia duduk di sampingnya, makanya ia memilih duduk dibelakangnya.
Jalanan ibukota tampak padat merayap meskipun jam pulang kerja sudah berlalu. Hal itu membuat Ibra sengaja melajukan kendaraannya dengan lambat.
"Selama aku di Amsterdam, bagaimana keadaan El, apa dia merindukan aku?" tanya gadis itu mencoba membuka obrolan dengannya
"Awalnya dia memang rewel, tapi setelah aku membeli seekor pejantan untuk menemaninya dia jadi gak rewel lagi. Sepertinya kucing jantan itu berhasil membuat El melupakan dirimu," jawab Ibra
Ibra tiba-tiba menghentikan mobilnya saat melihat seorang gadis hendak menyebrang jalan.
"Dasar gadis bodoh apa dia gak lihat kalau ini bukan tempat menyebrang!" gerutunya sambil terus menekan klakson mobilnya membuat gadis itu juga tak kalah kesal dan langsung menghampirinya.
Ia menggedor-gedor kaca mobilnya membuat Ibra langsung membuka kaca mobilnya.
Pria itu begitu terkejut saat melihat wanita itu adalah Intan.
"Ah sial, kenapa gue harus ketemu sama gadis aneh itu sih!" gerutu Ibra buru-buru menutup lagi kaca mobilnya.
Melihat pemilik mobil adalah Ibra, Intan buru-buru membuka pintu mobilnya dan segera duduk di sampingnya.
Pria itu membelalak kaget saat melihat keberanian Intan masuk dan duduk disebelahnya.
"Mau apa lo di sini, cepat turun atau ...." ucap Ibra
"Atau aku teriak kalau lo coba lari setelah nabrak gue!" hardik Intan membuat Ibra seketika terdiam
"Pokoknya Lo harus tanggung jawab karena sudah membuat kakiku terluka karena suara klakson mobil lo itu," tutur Intan dengan tatapan sinis
Ibra segera mengeluarkan dompetnya dan memberikan dua lembar uang ratusan ribu kapala gadis itu.
"Astaghfirullah, emang orang kaya memang selalu sombong. Apa kau pikir semuanya bisa di nilai dengan uang. Lagipula aku bukan cewek materialistis ya, aku hanya mau kamu mengantar aku pulang titik." jawab Intan begitu ketus
Ibra kemudian menyuruh gadis itu untuk memakai save beltnya, namun Intan menolaknya.
"Maaf aku gak nyaman kalau harus di iket-iket saat naik mobil, jadinya aku kesulitan bernafas," tolak Intan
Melihat beberapa polisi berjajar sedang melakukan razia tak jauh darinya, Ibra pun langsung mendekatkan dirinya kepada Intan dan memasangkan save beltnya.
Netra Intan masih membielak saat ia merasakan embusan nafas pria itu menyapu wajahnya.
Tiba-tiba Ibra merasakan dadanya berdegup kencang saat kedua bola matanya bertemu dengan mata hazel Intan.
Ia langsung memalingkan wajahnya saat melihat Lisa yang terus memperhatikannya dari belakang.
Selama perjalanan Intan yang biasanya cerewet tiba-tiba menjadi pendiam saat melihat reaksi wajah Lisa yang menatap sinis kearahnya.
Setelah mengantarkan Lisa ke apartemennya Ibra kemudian menanyakan kepada Intan dimana alamat rumahnya, namun ia begitu terkejut saat melihat gadis itu terlelap di mobilnya.
Ia sudah berkali-kali membangunkannya namun gadis itu tak kunjung membuka matanya.
"Astaga Intan, kamu benar-benar nyebelin ya, kalau begini aku harus menurunkan kamu dimana, gak mungkin kan aku akan menurunkan mu di jalanan!" gerutu Ibra
Karena tak ada pilihan lain ia pun membawa Intan ke apartemennya. Ia menggendong wanita itu dan membaringkannya di kamarnya.
"Untung saja gue lelaki baik-baik makanya lo gak gue apa-apain, malah aku mengalah tidur di sofa dan lo tidur di ranjang gue. Coba kurang baik apa gue!" gerutu Ibra
Ia kemudian memasang selimut untuk menutupi tubuh Intan.
Sejenak pemuda itu baru menyadari jika Intan terlihat begitu cantik saat sedang tidur.
"Astaghfirullah, aku tidak boleh berpikir macam-macam tentang Intan, ingat Ibra dia bukan tipe kamu!"
Ibra kemudian merebahkan tubuhnya diatas sofa.
Pagi harinya, Ibra merasakan ada sesuatu yang aneh saat ia bangun tidur. Ia merasakan ada sesuatu yang menggelitik di hidungnya membuat ia langsung membuka matanya.
Ia seketika berteriak histeris saat melihat Intan tidur di pelukannya.
"Arrghhh!!"
*Plaakk!!
Seketika Intan mendaratkan tamparannya ke wajah Ibra dan melompat turun dari sofa.
"Kok Jadi gue yang di tampar, bukanya lo yang salah tidur di tempat tidur gue!" cibir Ibra
"Emang iya ya?" jawab Intan balik bertanya
"Dih pura-pura lupa, ingat ya semalam gue udah membiarkan Lo tidur di kasur empuk gue, tapi kenapa tiba-tiba lo ada di sini. Jangan bilang kalau lo itu cewek mes*m dan mencoba mendekati gue!" sahut Ibra
Seketika Intan langsung menutup mulut pemuda itu dengan tangannya, "Stop, jangan teruskan atau aku akan menamparmu lagi!" seru gadis itu kemudian berlari meninggalkan tempat itu.
"Dasar gadis aneh bukannya berterima kasih, malah main pergi aja tanpa pamit lagi!" cibir Ibra
Sementara itu Intan yang merindukan Kenzo berusaha menemui pria itu, namun saat tiba di kantor ia melihat Kenzo begitu mesra dengan seorang wanita.
Ia mengira jika wanita itu adalah kekasih Kenzo apalagi mereka terlihat begitu dekat dan mesra.
"Halo Intan, apa kabar?" sapa Amar menghampiri gadis itu
Melihat Intan terbakar api cemburu karena melihat Kenzo dengan Lisa, lelaki itu sengaja memanas-manasinya.
"Apa kau akan memberikan selamat kepada Kenzo?"
"Selamat untuk apa?" tanya Intan
"Karena ia sebentar lagi akan bertunangan dengan kekasihnya Lisa," jawab Amar
Mendengar jawaban Amar seketika membuat Intan langsung luruh dan meninggalkan tempat itu.