Dalam keheningan Zahra hanya bisa menangis karena ia harus menikah dengan orang yang tidak pernah ia cintai.
Menjalalin hubungan bertahun-tahun dengan Danis nyatanya harus kandas karena perbedaan agama.
Zahra yang hatinya terlanjur dipenuhi dengan Danis, ia tidak bisa mencintai Azka~ Suami Zahra dari hasil perjodohan orang tuanya.
Bagaimana akhir dari kisah cinta Zahra? Apakah dia akan kembali pada Danis? Atau hatinya akan berbalik karena kesholehan suaminya tersebut?
Simak terus yuk kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tufa_hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencintaimu Murni Karena Allah
Malam harinya
Zahra sudah tiba di rumah orang tuanya. Ia meneteskan air mata karena ia akan memulai semua dari awal tanpa Danis di hidupnya.
Zahra membuka pintu mobil dan berdiri di depan rumah megah kediaman orang tuanya tersebut. Ia seakan sulit untuk menghentikan tangisnya. Namun, ia terus menghapus dan tersenyum setelah memejamkan mata dan menghela nafasnya perlahan.
Zahra mencoba untuk tenang dan mengatur nafasnya agar orang tuanya tidak mencurigai bahwa ia habis menangis.
Setelah dirasa cukup tenang, ia hendak masuk, tapi langkahnya terhenti saat melihat dua mobil terparkir di halaman rumahnya tersebut.
"Azka?" gumam Zahra saat melihat sebuah mobil yang tidak lagi saing baginya.
"Berarti Azka ada di dalam." Zahra memjamkan mata untuk menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya, karena ia dapat menebak tujuan Azka datang ke rumahnya.
Zahra juga bisa menebak bahwa mobil yang satunya lagi adalah mobil orang tua Azka hingga ia rasanya tidak bisa menahan untuk tidak menangis lagi.
"Tidak, aku tidak boleh mengeluarkan air mata. Aku harus tenang, aku tidak boleh menunjukkan kesedihanku di depan Papa dan Mama, apalagi di dalam ada orang lain. Aku tidak ingin membuat orang tuaku malu," gumam Zahra seraya menghela nafas.
Setelah itu, Zahra melangkah menuju pintu utama dan langsung membuka pintu tersebut.
Zahra pun langsung mengembangkan senyum saat melihat Malik yang sedang menuruni tangga dan menatapnya dengan wajah terkejut.
Tanpa suara pria paruh baya itu melangkah mendekati sang Putri, rasa bahagia yang Malik rasakan tidak bisa di ungkapkan dengan kata hingga ia hanya bungkam dan terus melangkah mendekati sang putri yang sedang berdiri di ambang pintu seraya memegang koper.
"Zahra?" gumam Kulsum.
Kulsum yang kebetulan juga lewat dan hendak menuju ruang tamu, ia mengehentikan langkahnya dan menatap suaminya yang kini melangkah untuk mendekati sang putri.
Wanita paruh baya itu juga terkejut saat melihat penampilan baru Zahra, ia tidak menyangka bawa sang putri kini berhijab tanpa ada yang memaksanya.
Begitu sampai di dekat Zahra, Malik langsung memeluk putrinya erat hingga Malik meneteskan air mata karena rasa bahagia yang membuncah.
"Kamu kembali, Nak?" tanya Malik dengan tangisan haru
"Iya, Pa. Zahra kembali dan akan tinggal sama Papa dan Mama lagi di sini," ucap Zahra dengan senyum lembutnya.
Sementara Kulsum juga melangkah mendekati suami dan putrinya tersebut. Wanita paruh baya itu juga terbawa suasana hingga ia juga tidak bisa membendung air matanya karena akhirnya sang putri kembali tanpa dipaksa.
Setelah puas berpelukan, akhirnya Malik melerai pelukannya, lalu ia menghapus air matanya seraya menatap sang Putri dengan wajah bahagia.
"Kamu sudah hijrah, Nak?" tanya Malik tersenyum.
"Papa kenapa? Papa nangis? Zahra nggak cocok ya pake kerudung ya?" tanya Zahra seraya menundukkan kepala karena melihat Malik menangis setelah melerai pelukannya.
"Tidak, bukan begitu Nak. Papa terlalu bahagia hingga Papa tidak bisa menahan air mata Papa karena kebahagiaan yang Papa rasakan saat ini," ucap Malik tersenyum lembut.
"Papa benar, Nak. Kamu sangat cantik kalau pake hijab," ucap Kulsum yang tiba-tiba mengagetkan Malik dan Zahra karena Malik dan Zahra tidak menyadari kehadiran wanita paruh baya tersebut.
"Mama." Zahra langsung memeluk tubuh Kulsum erat dengan Kulsum yang memejamkan matanya menikmati pelukan sang putri.
"Kamu pulang Nak?" tanya Kulsum dengan air mata haru.
"Iya Ma. Zahra pulang. Maafin Zahra ya, karena selama ini Zahra tidak pernah dengarkan ucapan Mama," ucap Zahra.
"Tidak apa-apa, Nak. Mama tahu kamu memang mandiri, tapi berada jauh dari kamu, Mama selalu cemas, meskipun di apartemen itu kamu dijaga oleh bodyguard sewaan Papa," ucap Kulsum tanpa sadar.
"Apa?" Zahra terkejut mendengar ucapan sang mama.
"Mama ... " panggil Malik lembut.
Pria paruh baya itu tersenyum kaku, karena sang istri kini tanpa sengaja memberi tahu sang putri bahwa ia mengawasi putrinya tersebut.
"Jika Papa mengawasi Zahra selama ini, berarti Papa tahu semuanya tentang Zahra," ucap Zahra dengan setetes air matanya yang jatuh tanpa sengaja.
"Maafkan Papa Nak! Kamu seorang wanita, tidak mungkin Papa membiarkan kamu sendirian di luar sana, sekalipun di apartemen," ucap Malik dengan perasaan bersalah.
"Apakah Papa juga tahu tentang aku dan Danis?" tanya Zahra dengan wajah pucat pasi.
"Iya, Papa tahu segalanya!" jawab Malik.
"Tapi kenapa Papa tidak menghalangiku?" tanya Zahra dengan air mata yang menetes dari sebelah matanya.
"Kita bicarakan tentang Danis nanti saja, di ruang tamu ada Azka dan keluarganya untuk membicarakan pernikahan kalian," ucap Malik tersenyum lembut.
Zahra pun menganggukkan kepalanya. Sementara Kulsum mendekat, lalu mengahapus air mata sang putri. "Percayalah Nak! Kamu tidak selamanya akan menderita, akan ada masanya nanti kamu bahagia dengan kebahagiaan yang sempurna," ucap Kulsum tersenyum.
"Tapi kapan Ma?" tanya Zahra dengan wajah sendu.
"Saat kamu bisa menerima takdir dengan ikhlas," ucap Kulsum.
Seketika tangisan Zahra pecah kembali hingga membuat wanita paruh baya itu langsung mendekap sang putri.
"Jangan menangis, di sini ada Azka." Kulsum mengingatkan sang putri.
Zahra pun menghentikan tangisannya, lalu melerai pelukan itu dan mengahapus air matanya kembali.
"Maaf Pa, Ma! Ya sudah kita langsung ke ruang tamu saja." Ajak Zahra sambil memaksakan senyumnya.
"Ya sudah ayo masuk!" Malik pun merangkul pundak putrinya.
"Ayo, Ma!" Ajak Malik seraya memegang pergelangan sang istri dan membawa mereka menuju ruang keluarga.
Begitu sampai di ruang keluarga. Azka mengembangkan senyumnya setelah melihat penampilan baru Zahra.
Pria itu tidak mengedipkan mata hingga membuat Rizky dan Sheila saling lirik melihat tingkah putranya.
"Ehem ... ehem ... !"
Rizky sengaja menggoda putranya hingga Azka sadar dengan sikapnya yang mungkin berlebihan. Azka pun menatap satu persatu orang yang ada di ruangan tersebut hingga membuatnya malu sendiri.
Sementara Zahra membalas senyuman Azka meski terpaksa. Lalu, ia menundukkan kepala karena ia tidak ingin keluarga Azka melihat wajah sedihnya.
"Maaf Om, Tante, Azka. Zahra ke kamar dulu. Zahra agak lelah hari ini, Zahra ingin istirahat," ucap Zahra tersenyum.
"Tapi kami ingin membicarakan tentang pernikahan kalian, Nak." Malik menatap Zahra dengan senyum wajah penuh harap.
"Apapun keputusan Papa dan Mama, Zahra akan menerimanya dengan senang hati," ucap Zahra seraya menarik kedua sudut bibirnya.
"Masya Allah. Anakmu sangat berbakti, Lik. Tidak salah aku menjodohkan Azka dengan putrimu," ucap Rizky tersenyum.
Malik dan Kulsum tersenyum mendengar ucapan Rizky, begitupun dengan Sheila dan Azka. Sementara Zahra diam dan tidak menanggapi ucapan pria paruh baya tersebut.
"Ya sudah Zahra ke kamar dulu Pa, Ma," pamit Zahra pada kedua orang tuanya juga.
"Istirahat saja, Nak! Biar kami yang menentukan tanggal pernikahan kalian, kalian tinggal terima beres," ucap Sheila tersenyum lembut.
"Iya Nak, kamu istirahat saja nggak apa-apa," ucap Kulsum tersenyum.
"Assalamualaikum ... " Zahra menundukkan sedikit kepalanya.
"Waalaikum salam ... " jawab semua orang di ruangan tersebut.
Zahra pun balik badan dan melangkah menuju kamarnya, tanpa menoleh sedikitpun pada Azka.
"Aku tahu saat ini kamu sedang terluka, Zahra. Tapi aku sudah siap dengan konsekuensinya, mungkin aku harus melihat kamu terus menerus menangisi orang yang kamu cintai, tapi aku tidak masalah, aku siap menunggumu hingga akhirnya kamu bisa menerima cintaku yang murni karena Allah," batin Azka tersenyum seraya menatap langkah Zahra yang menjauh.
...🌷🌷🌷🌷🌷...
...TBC...
alhamdulillah