Mendapati suaminya bercinta dengan adik kembarnya hingga hamil seolah belum cukup membuat Rana menderita, hingga Mamanya meminta Rana untuk berbagi suami dengan adik kembarnya itu, Rania. Karena merasa dirinya ikut andil menjadi penyebab perselingkuhan itu, Rana pun harus mengikhlaskan suaminya menikahi Rania, meski hatinya luar biasa hancur dan kecewa. Belum lagi sikap Rangga yang semakin lama semakin mengabaikan keberadaan Rana, demi Rania yang sedang mengandung anaknya.
Hadirnya sosok Ananta yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, membuat Rana sadar akan rumah tangganya yang mulai tidak sehat lagi. Rana pun menjadi bimbang, antara berpisah dengan Rangga dan kembali pada mantan kekasihnya itu, atau tetap mempertahankan rumah tangganya dan membuat Rania pergi dari kehidupan mereka?
Follow IG @si_nicegirl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batasi Dirimu!
Rana harus menahan kecemburuannya saat melihat Rangga membopong Rania saat memasuki rumah. Rania bahkan mengalungkan kedua lengannya di leher Rangga, dan menurut Rana, wajah adiknya itu terlalu dekat dengan Rangga, bahkan pipi meraka nyaris beradu.
Dan kedua mata Rania menatap Penuh cinta pada Rangga, pria yang Rania sangka adalah suaminya. Kenapa kali ini alter ego Rania jauh lebih parah dari sebelumnya?
Bagaimana bisa Rania mengira kalau Rangga adalah suaminya. Ya, meskipun saat ini Rania tengah menjadi Rana, namun apakah hati Rania juga akan tertambat pada Rangga? Karena setahu Rana, Rania sangat mencintai Samu.
Rana menghela napas panjang, ia tidak dapat melakukan apapun untuk melarang Rangga membopong tubuh mungil Rania selain dari terus berpura-pura tersenyum menyambut kedatangan mereka dengan riang, dengan senyum yang dipaksakan. Bahkan Rana berpura-pura tidak menyadari tatapan sendu Rangga yang terus terarah padanya.
Rana tahu kalau tatapan Rangga mengatakan lebih banyak hal yang tidak dapat pria itu ucapkan. Rangga ingin Rana menghentikan kegilaan ini sebelum mereka menyesal nantinya.
Karena bagaimanapun juga, kejujuran jauh lebih penting untuk Rania. Jadi wanita itu tidak akan merasa ditipu oleh mereka.
Namun, itu juga gambling untuk mereka, karena tidak ada jaminan kalau Rania akan merasa lebih baik kalau mereka jujur. Salah-salah malah kondisi kesehatan Rania yang akan bertambah parah nantinya.
Kehilangan dua orang yang sangat Rania sayangi bukanlah perkara yang mudah dan dapat dilupakan begitu saja. Bebannya terlalu berat untuk Rania tanggung.
Jadi, Rana hanya bisa berdoa semoga saja badai ini segera berlalu.
"Mau langsung ke kamar atau duduk di ruang keluarga dulu?"
Suara berat khas Rangga menelusup masuk ke dalam telinga Rana dan membuyarkan lamunannya. Tatapannya kembali tertuju pada suaminya yang masih terus membopong Rania,
"Kamar saja, aku lelah sekali, Mas," jawab Rania dengan suara manjanya sebelum kembali merebahkan kepalanya di dada bidang Rangga.
Setelah mengangguk pelan, Rangga mengarah ke anak tangga menunju kamar mereka, kamar Rana dan Rangga, yang kini dengan berat hati harus Rana serahkan pada Rania.
Tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Rangga pada Rana, yang berarti satu hal, Rangga masih marah dengan keputusan Rana untuk mengikuti saran dari mama Tian.
Memangnya pilihan apa lagi yang Rana punya untuk menyelamatkan nyawa adik dan ibu kandungnya itu?
"Hangatkan buburnya, lalu berikan ke Rania di kamarnya!" perintah mama Tian sebelum turut serta menaiki anak tangga.
Kamarnya? Itu adalah kamar aku!
Rana memekikkan protesan itu di dalam hatinya. Ia harus mulai terbiasa dengan itu semua, menyebut kamarnya sendiri sebagai kamar Rania. Mengenali suaminya sendiri sebagai suami Rania.
Setelah mendesah pelan, Rana menuju dapur untuk menghangatkan bubur yang sudah ia buat untuk Rania tadi. Pagi-pagi sekali mama Tian sudah memintanya membuat bubur, dan sekarang bubur itu sudah dingin.
Tidak butuh waktu lama untuk menghangatkan buburnya. Setelah memindahkan ke dalam mangkok beserta lauk-pauknya yang ringan dan cocok untuk orang yang sedang sakit, Rana segera membawa bubur itu ke kamarnya.
Ralat, kamar Rania.
Setelah dua kali mengetuk pintunya dan tanpa jawaban dari dalam kamar, Rana pun berinisiatif membuka pintu itu, dan langsung menampakkan Rana yang terbaring lemah di ranjang, kedua matanya yang semula tengah terpejam kini terbuka lebar saat mendengar bunyi pintu yang tertutup.
"Rania, apa itu bubur untukku?" tanyanya sebelum menguap lebar.
Rana hanya mengangguk pelan sambil duduk di samping Rania, ia membantu adiknya itu untuk duduk bersandar di kepala tempat tidur.
"Kamu mau bantu suapi aku? Mas Rangga sedang mandi, dan cacing di perutku sudah mulai berdemo minta diisi," pinta Rania.
"Tanganmu masih sulit digerakkan?" tanya Rana.
"Tidak juga sih, tapi masih lemas saja. Kalau kamu keberatan tidak apa-apa kok, aku tunggu Mas Rangga selesai mandi saja."
"Siapa yang keberatan, Ni ... Na?" Rana nyaris saja salah menyebut nama panggilan adiknya itu.
Sambil meniup pelan bubur yang berada di tangannya, Rana mulai mengisi satu sendok penuh sebelum menyuapinya ke mulut Rania.
"Masakanmu masih seenak dulu, Nia. Kamu memang juaranya kalau soal masak-memasak," puji Rania sambil terus mengunyah bubur yang emmenuhi rongga mulutnya.
Rania memang pandai memasak, berbeda jauh dengan Rana. Mungkin karena itu juga yang membuat rasa sayang mama Tian berbeda pada mereka. Sejak dulu hibi Rana hanyalah membaca buku dan melakukan hal yang dapat menambah pengetahuannya lagi.
Berbeda dengan Rania yang lebih memilih turun ke dapur membantu mama Tian.
Dan karena saat ini Rania sedang berperan sebagai Rana, maka sudah sejaranya ia menilai masakan Rana selezat masakannya.
"Keahlianku sudah jauh berkurang sejak aku menikah, Na." respon Rana.
Entah seperti apa kehidupan pernikahan Rania dengan Samu. Namun saat ini, alasan itulah yang dapat Rana berikan jika suatu saat Rania merasakan masakan Rana yang hambar.
"Memangnya Samu tidak mengizinkanmu ke dapur? Apa kamu punya asisten rumah tangga di Sydney? Tapi setahu aku gaji asisten rumah tangga di sana setara dengan gaji manager di sini, bukan begitu?"
"Ya, kurang lebih seperti itu." Rana hanya memberikan jawaban singkat saja pada Rania. Karena sejujurnya ia tidak tahu besaran salary di negeri Kangguru itu.
Entah berapa lama Rana berbincang dengan Rania, sampai akhirnya buburnya habis bertepatan dengan Rangga yang keluar dari kamar mandi.
Pria itu terlihat luar biasa tampan meski hanya mengenakan jubah kamarnya saja, dan dengan rambutnya yang basah. Biasanya jika seperti itu, Rana akan menggoda Rangga dan mengajaknya bercinta, hanya supaya suaminya itu dongkol setengah mati karena harus mandi dan keramas lagi.
Tapi sekarang ...
Rana hanya bisa melihatnya dalam diam. Pun demikian dengan Rangga yang seolah terpaku di lantai. Pria itu tak bergerak sama sekali dengan tatapan kosong yang gtertuju pada Rana.
"Eh, Mas Rangga sudah selesai mandi. Kamu malu ya ada Rania di kamar kita? Dia habis menyuapi aku bubur." Celetukkan Rania memutuskan tatapan mata Rana dan Rangga, yang langsung sama-sama menoleh ke arah lain secara bersamaan.
"Kalau begitu aku permisi dulu!" seru Rana sambil berdiri dan baru akan melangkah saat kembali terdengar suara Rania,
"Lain kali kalau sedang ada Mas Rangga di rumah, kamu jangan masuk ke kamarku ya Nia. Kamu lihat sendiri kan? Mas Rangga grogi jadinya."
Astaga ... Ini kamarku, dan pria itu adalah suami aku! Kenapa harus aku yang dilarang masuk?
***
Jangan lupa beri penilaian bintang lima untuk novel ini yaa ...
Terima kasih untuk yang sudah bersedia vote dan memberikan hadiah untuk novel ini. Dukungan kecil dari kalian sangat mempengaruhi mood Nice dalam melanjutkan novelnya karena merasa dihargai. Follow juga IG si_nicegirl untuk mengetahui visual mereka dan juga novel Nice yang lainnya yaa ...
Happy reading and have a nice day.