Apa Jadinya jika sekelompok orang dengan berbagai pandangan tapi satu tujuan dan si satukan dalam satu Agensi bernama JULID VANGKE. Sebuah institusi penegak keadilan. Yang digawangi oleh, Khodijah, Romlah, Caitlyn, Jukaykha, Jaenab dan Ijah.
Tugas mereka cukup berat, karena harus membasmi para penjilat tak berguna pemakan dana Bansos yang seharusnya dialirkan untuk Masyarakat yang membutuhkan. Para penjilat yang mereka beri nama Keledai Dungu itu ternyata memiliki banyak akal untuk melakukan Playing Victim.
Mampukah para detektif Julid Vangke membuktikan kebusukan mereka?
Karya ini hanya fiktif belaka. Terinspirasi dari banyaknya kasus yang terjadi dimasyarakat biasa😍Dilarang Baper! Ini hanya guyonan semata😍Selamat membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi harinya...
Caitlyn tampak membuka matanya, mata yang menurutnya indah tapi cukup bagi dirinya saja, bukan orang lain, karena bagi orang lain mata itu hanyalah mata pas-pasan, dan pasaran. Tangan nakal Caitlyn yang sering ngupil di tempat umum bukan tempat khusus lalu mencari ponselnya. Setelah cukup lama mengutak-atik ponselnya, tiba-tiba mata pasaran itu terbelalak.
"Oughhhh, no. Ough yes baby!" teriak Caitlyn sambil menjerit dan terbelalak. Bahasa gaulnya nyambi, yaitu melakukan pekerjaan bersama-sama antara menjerit dan terbelalak.
Caitlyn pun tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya saat melihat berbagai berita di media sosial kalau saat ini Odah sedang dirundung duka, hatinya begitu kacau seperti saat meletus balon hijau, dor. Di berbagai berita media sosial itu, wajah Odah pun tidak secerah biasanya yang begitu berkilau layaknya kloset yang sudah digosok dengan cairan Wings pembersih porselen. Bahkan bibir yang biasa merah merona dengan lipstik merahnya itu pun kini berubah menjadi warna oren yang melambangkan warna janda, atau mungkin cita-citanya menjadi janda? Entahlah.
Caitlyn pun tergelitik, tapi bukan digelitik untuk membaca kabar duka dari Odah, yang ceritanya begitu cetar membahana melebihi berita perselingkuhan Mimi Peri dan Nicholas Saputra. Caitlyn yang saat ini masih ada di atas ranjang sambil makan rengginang yang terbuat dari pisang ambon kini membaca berita itu dengan cara mengeja huruf demi huruf agar tidak ada yang tertinggal. Karena Caitlyn sadar, cinta yang tertinggal itu begitu menyakitkan, jauh lebih menyakitkan daripada cinta yang tak tersampaikan.
"Asotogeh, Ayu Azhari lagi nanem togeh. Ternyata Odah galau gara-gara Si Amat? Jadi Odah udah tau Si Amat itu kena kasus Dana Bansos? Kok Si Odah kagak lindungin Si Amat sih? Katanyah bestieh? Ah, lebih baik gue baca lagi deh, ga boleh baca setengah-setengah, apalagi setengah hati kaya lagunya Ada Band.
Caitlyn kemudian membaca lagi berita itu, kali ini bukan dieja per huruf, tapi dieja per paragraf biar terlihat keren, dan out of the box. Mata Caitlyn pun kembali terbelalak saat membaca berita itu kalau ternyata Odah dan genk mereka juga ditipu oleh Si Amat.
"Astaga naga bonar jadi satu, dua, tiga, empat lima, terus langsung sepuluh, ternyata Odah juga ketipu? Pantes aja muka Odah berantakan, kaya parkiran motor di pasar malem. Pantes aja sejak Amat ketauan kena kasus itu, Si Ningsih bibir dower anaknya Pak Jelangkung itu diem-diem bae. Ternyata mereka juga ketipu sama Si Amat? Amat Supramat yang mukanya ga ganteng-ganteng amat."
Melihat kabar yang menurutnya membahagiakan itu, inget menurut dia aja loh, bukan orang lain, karena di luar sana masih banyak penjilat stupid tiada tara yang masih suka memuja para Keledai Dungu, layaknya Spongebob yang memuja kerang ajaib. Caitlyn lalu menghubungi anak-anak Geng Vangke sambil memperlihatkan wajah Odah yang kini terlihat sedang bersusah hati, air matanya berlinang, mas intannya tergenang.
"Hai genks, liat noh si Odah Saodah Mukodah lagi galau!" Pesan yang dikirimkan Caitlyn ke grup chat anak-anak Vangke.
CRING CRING CRING... Begitulah bunyi pesan di ponsel anak-anak Vangke, cukup cring, cring, cring, bukan kring, kring, kring gowes-gowes.
Anak-anak Vangke yang baru terbangun dari tidur panjangnya layaknya putri tidur, akhirnya pun terbangun. Tapi sayangnya, mereka harus bangun bukan karena dicium Pangeran Tampan tapi harus terbangun karena dikirim foto Odah yang lebih pantas dipakai untuk menakut-nakuti kuntilanak.
"Siapa sih yang pagi-pagi udah nge chat? Ga level anak perawan bangun pagi!" teriak Ijah sambil mengambil ponselnya.
"Ganggu orang tidur aja deh, ni orang ga ada akhlak ye, orang baru aja tidur, dia ga tau apa tugas jadi ibu peri itu cape, pura-pura baek padahal jiwa psikopat itu melelahkan loh!" teriak Khodijah sambil merem melek.
"Jangan-jangan, yang ngechat itu Si Rizki nih, tukang sayur komplek yang suka chat jam satu malem terus bikin gue galau. Akhhh...!" teriak Romlah dengan polosnya, meskipun saat ini tubuhnya tidak polos.
"Aduh pagi-pagi udah gangguin, siapa sih? Orang baru tidur juga habis jaga lilin, mana lilinnya punya tetangga lagi!' teriak Julekha.
Sedangkan Jenab yang baru saja memberi makan anjing kesayangannya yang bernama Hello Kitty juga ikut merasa terganggu, karena gara-gara mendengar bunyi ponselnya, Hello Kitty yang sedang patah hati gara-gara ditinggal Doraemon pergi merantau ke Jepang jadi terlihat semakin galau. "Idih, ni ponsel ganggu aja seh!" protes Jenab.
Meskipun anak-anak Geng Vangke menggerutu dengan gaya masing-masing yang terlihat keren di mata mereka, tapi tidak di mata orang lain. Mereka akhirnya tetap membaca pesan yang masuk. Dan, saat membaca pesan itu, spontan mereka pun berteriak bersama-sama.
"APA? ODAH JADI KORBAN PENIPUAN AMAT?"
Teriak mereka secara bersama-sama. Tapi apakah benar demikian?
Sukses bwt kk
makannya mad jangan suka makan duit haram saat kamu menerima karma nya kamu tersiksa kan tapi saat kamu melakukan kejahatan itu kamu senang dan tak memikirkan apapun
akhirnya perjuangan kalian menemukan titik akhir juga dengan tertangkapnya para geng meresahkan 😁😁😁
kebanyakan bikin ulah sih
sokoooooor tuman kelamaan kalian senang di atas penderitaan orang lain saat nya kalian memetik apa yang kalian tanam