MALAM INI HUJAN MENGGUYUR BUMI
Malam ini hujan mengguyur bumi,
dan suami tercinta tak ada di sini
dia mungkin sedang bercanda dan tertawa
bersama istri yang lain..
aku ingin menangis..
aku ingin sedih..
tapi dia berpesan padaku bila ini terjadi
maka kembalilah kepada cinta pada Allah
gelar lagi sajadah dan bersujudlah
baca lagi Al Quran penuh kecintaan
dan tetap genggam bahwa Allah adalah cinta teragung..
lalu kulakukan semua nasehatnya
hingga kudengar langkah kaki syaitan menjauh
syaitan itu sangat-sangat kecewa padaku
sebab tetap Allah tujuanku
di saat penuh rindu seperti malam ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Humairah_bidadarisurga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Ketegangan malam itu seolah berhenti sampai disitu, pembelaan Nenek Sugondo terhadap Syakir tentang Kirana sudah terjawab lega dengan keputusan Ayah Basith dan Bunda Ayu yang merestui hubungan keduanya untuk menikah muda.
Ayah Basith dan Bunda Ayu sudah berada di dalam kamar tidur. Kedua orang tua itu sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dengan ranjang besi kuno yang antik
Kamar yang tidak seluas kamarnya di kota besar malah membuat nyaman dan hangat. Suasana kamar itu sepi hanya sesekali bunyi katak yang mengeluarkan suaranya hingga menggema. Kamar tidur mereka sudah gelap, lampu kamarnya sudah dimatikan agar menambah suasana nyaman di dalam kamar saat beristirahat.
"Ayah sudah tidur?" tanya Bunda Ayu yang tidur dengan posisi miring menghadap punggung Ayah Basith.
Mendengar suara Bunda Ayu memanggil nama Ayah Basith dan mengajaknya bicara, Ayah Basith langsung membalikkan tubuhnya menghadap Bunda Ayu yang sejak tadi menatap sendu tubuh pria paruh baya yang sudah dinikahinya lebih dari dua pukuh tahun lamanya.
"Ada apa Ayu?" tanya Ayah Basith pelan kepada Bunda Ayu.
Bunda Ayu tersenyum kecut saat Ayah Basith, suami tercintanya itu menanyakan keadaannya yang belum juga beristirahat.
"Kenapa Ayah merestui pernikahan Syakir, bukankah lanak kita masih terlalu muda untuk menikah. Bagaimana dengan buaya hidup mereka berdua, kuliah Syakir dan jika mereka sudah mempunyai anak, apakah tidak menjadi beban bagi keduanya?" ucap Bunda Ayu dengan perasaan cemas dan was-was.
Ayah Basith hanya tersenyum, kedua matanya menatap lekat dua bola mata istrinya yang sudah terlihat lelah dan memerah.
"Istirahatlah Ayu, kamu itu sudah lelah. Kita bicarakan hal ini, saat kondisinya memungkinkan, saat tubuh kita tidak lelah dan pikiran kita tidak sedang terbebani apapun," ucap Ayah Basith dengan suara yang sangat lembut.
Satu tangan Ayah Basith mengusap pipi mulus Bunda Ayu yang terlihat polos tanpa hijab dan make up.
"Hemmm," Bunda Ayu tidak menjawab hanya menarik napas panjang dan mengeluarkan napas itu dengan kasar hingga terdengar suara berdehem pelan dari bibirnya.
"Kamu lelah bukan? Mau Ayah pijitin, agar lelahmu hilang?" tanya Ayah Basith kepada Bunda Ayu pelan.
"Tidak perlu, biarkan seperti ini saja. Menatap Ayah dengan posisi seperti ini saja sudah membuat Ayu senang dan semangat," ucap Bunda Ayu dengan suara lirih.
Ayah Basith hanya tersenyum melihat Bunda Ayu yang terlihat seperti merajuk.
"Masalah Syakir biarkanlah menjadi urusan Syakir sendiri. Besok pagi kita tanyakan kembali kepada Syakir, persiapan apa yang sudah Syakir miliki sampai ingin mengkhitbah Kirana," ucap Ayah Basith pelan.
Bunda Ayu menganggukkan kepalanya pelan.
"Ayah melupakan sesuatu? Melupakan atau benar-benar lupa, Ayu hanya ingin mengingatkan dan meluruskan," ucap Bunda Ayu pelan menjelaskan kepada Ayah Basith yang masih menatapnya dengan wajah sendu.
Kedua matanya menatap tajam ke arah Bunda Ayu dan wajahnya didekatkan hingga sangat dekat.
"Ayah tidak pernah melupakan apapun, apalagi tentang Bunda yang selalu Ayah prioritaskan," ucap Ayah Basith dengan lembut. Bibirnya menempel pada kening Ayu dengan lembut.
Bunda Ayu tersenyum dan terkekeh pelan.
"Bukan ini Mas, hal lain, yang terjadi belasan tahun lalu," ucap Bunda Ayu pelan menjelaskan.
Sejenak Ayah Basith memundurkan tubuhnya menjauh dari Bunda Ayu, lalu bangkit duduk dan menyandarkan pada sandaran ranjang. Sejak tadi memang ada sesuatu yang dilupakan namun hal apa itu, Ayah Basith benar-benar tidak ingat akan hal ini.
Kedua matanya menatap lekat dua bila mata Bunda Ayu seolah meminta jawaban dari istri kesayangannya itu.
"Tolong jelaskan padaku Ayu, apakah itu? Jangan buat Aku penasaran seperti ini," ucap Ayah Basith pelan dengan rasa penasaran.
"Mas benar-benar lupa dan tidak ingat, apakah hal sepenting itu tidak pernah Mas anggap ada hingga saat ini, janji itu harus ditepati," ucap Bunda Ayu pelan menjelaskan.
Ayah Basith menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Mas benar-benar tidak ingat, apa itu? Katakan Ayu," ucap Ayah Basith dengan suara pelan.
"Dokter Fatih dan istrinya Amira, Mas ingat nama itu?" tanya Bunda Ayu pelan kepada Ayah Basith.
Kedua nama itu adalah nama orang yang sudah berjasa membantu Ayu beberapa waktu silam.
Ayah Basith menganggukkan kepadlanya engan pelan.
"Mas ingat, dan ingat selalu, bukan melupakan tapi kejadian itu seolah sesuatu yang fana, bukan suatu keseriusan," ucap Ayah Basith pelan. Namun kini setelah belasan tahun lamanya tabir yang sudah ditutup rapat akhirnya terbuka kembali dan menjadi beban pikiran keduanya baik dari Bunda Ayu dan Ayah Basith.
"Bagaimana kalau mereka datang dan benar akan menjodohkan putri mereka dengan putra kita?" ucap Bunda Ayu pelan dengan rasa cemas dan panik.
Ayah Basith terdiam dan nampak berpikir keras jika janji mereka itu adalah benar maka sebentar lagi janji itu harus ditepati.
"Ayu, kamu jangan seperti ini. Jangan membuat Mas ikut panik dan semakin merasa bersalah dengan keadaan ini," ucap Ayah Basith pelan dan sedikit ragu.
"Belum terlambat Mas, lebih baik batalkan pernikahan Syakir sebelum semuanya runyam," ucap Bunda Ayu dengan pelan memberi masukan kepada suaminya.
"Tidak mungkin kita lakukan itu Ayu, lihat betapa senangnya Syakir saat kita merestui hubungan itu, lagi pula itu hadiah untuk Syakir saat khatam hapalan tiga puluh juznya. Kamu ingat, tadi Syakir bicara ini adalah permintaan dan terakhirnya?" tanya Ayah Basith kepada Bunda Ayu dengan lembut.
Bunda Ayu terdiam dan menganggukkan kepalanya pelan. Seolah kedua orang tua itu sedang mengalami dilema.
"Lalu tentang perjodohan itu bagiamana? Astagfirullah, kenapa sejak awal tidak kita ceritakan pada Syakir," ucap Bunda Ayu pelan seperti orang yang kebingungan.
Rasanya benar-benar cemas dan panik, janji di masa lalu yang harus di tepati.
"Lebih baik kita bicara jujur pada dokter Fatih dan Amira tentang pernikahan Syakir dengan pilihannya, mungkin mereka akan mengerti," ucap Ayah Basith pelan memberikan solusi.
"Tidak Mas, sebulan yang lalu, Mbak Amira sudah memberikan kabar baik, bahwa putrinya sudah lulus dan mereka akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat sebelum berangkat ke Amerika kembali," ucap Bunda Ayu pelan.
"Bukankah pilihan Syakir juga kuliah kedokteran disana, itu tandanya mereka akan sering bertemu, lalu bagaimana dengan status Kirana nantinya," ucap Ayah Basith pelan dengan segala pemikirannya yang melawan takdir.
"Sudahlah, lebih baik kita jangan berpikir jauh dengan segala keburukan, Allah SWT pasti akan memberikan jalan terbaik untuk niat yang baik," ucap Ayah Basith pelan.
"Apa maksud ucapanmu, Mas?" tanya Bunda Ayu pelan dan menatap tajam kedua mata Ayah Basith.
"Pilihan terakhir, mereka harus di madu, demi anak kita dan demi janji kita kepada dokter Fatih dan Amira," ucap Ayah Basith dengan pelan dan terbata-bata seolah berta untuk mengatakan hal ini, namun ini adalah jalan tengah terbaik untuk semuanya.
"Apa!! Kamu bilang apa, Mas?!" tanya Bunda Ayu dengan suara keras dan terkejut dengan solusi yang Ayah Basith katakan.
miris pola pikir mu thor
belajar lagi ajaran islam
*islam melaknat pelakor dan pebinor
*islam melaknat lelaki mendekati istri orang
*islam melaknat istri mencerita masalah rumah tangganya pada lelaki lain
*islam melaknat istri yang dekat dengan pria lain
*islam melaknat istri yang membela pria lain didepan suaminya
*islam melaknat istri menjatuh kan kehormatan suaminya didepan pria lain
*islam melaknat istri yang tidak bisa menjaga kehormatan suaminya
*islam melaknat istri yang bisa membuat fitnah dengan dekat dengan pria lain
belajar agama lagi dengan benar, ingat thor walaupun ini hanya novel tapi cara kau membenarkan sebuah kesalahan niscaya kau akan diminta pertanghunh jawaban
renungkan lah
kelakuan Kirana lebih menjijikan dari seorang pelacur sekalipun, tapi miris, tidak bermoral nya, munafik nya novel ini dan pemikiran author malah membenarkan semua kelakuan Kirana
mudah mudahan saja author punya suami yang sifatnya kayak Kirana dan punya teman wanita yang baiknya kayak fahad, amin
*melaknat kelakuan pelakor fatma tapi kalian memuja kelakuan pebinor fahad
*kalian melaknat intrkasi syakir dan fatma tapi kalian malah membenarkan intrkasi Kirana dan fahad
Orang lelaki ketika kamu menikah keluarga kecilmu adalah tanggungjawab utama , Anak-anak boleh patuh pada orang tua tapi itu berlaku kalau orang tua masih hidup berlandaskan syariat agama , Ini orang tua seperti ibu bapa Syakir tak wajib ditaati lelaki itu boleh bersikap keras kerana mereka nakhoda setiap bahtera rumah tangga .
ibu ayu terlalu memaksakan dan telah memisahkan antara Syakir dan Kirana