"Papa, jahat! Rara mau mama bukan bunda!"
Rara berlari keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki. Bara dengan cepat mengejar Rara yang berlari sembari menangis. Ia menyesal.
Bara meraih tubuh anaknya yang sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang dulu selalu dimanja.
"Papa jahat ... hiksss ...." Rara menangis dalan pelukan Bara. Melepas semua rasa rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun untuk mamanya.
"Kita cari keberadaan mama ya," bisik Bara ditengah pelukan mereka. Membuat Rara semakin menangis usai mendengar perkataan sang papa.
"Papa harus menuhin janji itu. Rara nggak mau kalau Papa ingkar lagi." Bara mengiyakan permintaan anaknya.
Hatinya seperti tercabik-cabik melihat buah hatinya yang sudah lama tak bertemu Rida menangis pilu di hadapannya karena keputusannya yang bodoh juga rindu yang menggebu di hati sang anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arina rizqin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Village Of The Damned
Nadia dan Rara kini sedang duduk menikmati film yang di setel oleh Nadia, tentang psikopat yang di perankan oleh anak kecil yang berjudul 'The Village Of The Damned'.
Film yang diangkat dari novel “The Midwich Cuckoos” karya John Wyndham, penonton akan disuguhi anak-anak yang memiliki kemampuan telekinesis dan telepati yang mampu membuat mereka berkomunikasi satu sama lain. Serta tentunya berbuat di luar nalar anak-anak seusianya, yaitu menyuruh orang-orang dewasa menyakiti dirinya sendiri. Atau yang paling buruk, bunuh diri.
Anak-anak yang dilahirkan secara bersamaan dan berjumlah 10 orang, satu meninggal dalam persalinan, memiliki perbedaan mencolok secara fisik. Kulit pucat, rambut putih, mata yang bisa berubah warna dan kecerdasan tinggi membuat mereka menjadi sosok-sosok mengerikan.
Rara yang masih balita tentu saja tidak mengerti dengan film yang tersaji di depannya, sesekali ia terbelalak kaget melihat adegan-adegan dalam film tersebut. Nadia nampak biasa saja melihat adegan itu, seperti sudah biasa melihat hal tersebut.
"Itu film apa, Tante?" tanya Rara polos setelah beberapa melihat adegan yang membuat jiwa anaknya bergejolak.
"Itu jududlnya, The Village Of The Damned. Rara suka, Kan?" tanya Nadia dengan senyum miring di bibirnya.
"Ra ... ra, eng ... gak suka. Tante," ucap Rara takut.
"Ouh, nggak suka? Kenapa nggak bilang dari awal?" ujarnya yang di hadiahi Rara dengan mata menatap polos. Bagaimana ia ingin bicara? Sedangkan dari tadi Nadia terus saja berceloteh ria tanpa melihat Rara.
"Ya, udah. Tante mau keluar, kamu di sini aja ya." Tangan Nadia ditahan oleh Rara, membuat Nadia menghentikan niatnya.
"Kenapa?" tanya nya dengan alis bertautan.
"Rara ama siapa di rumah?" tanya Rara dengan mata memelas.
"Tante perginya bentar doang, kok. Rara di rumah aja, ya." Nadia langsung melepaskan pegangan Rara pada tangannya. Ia harus menyayangi Rara sampai rencana berhasil. Setelahnya ia tidak akan perduli lagi.
***
Rida sudah mendingan, Nanda senantiasa menemaninya hingga sembuh. Rida terus memperhatikan Nanda yang bergerak gusar, lalu ekspresi khawatir dan tegang terpancar dari wajahnya. Ada apa?
"Nan?" panggil Rida karena jengah melihat sahabatnya bergerak gusar.
"Eh, iya. Kenapa?" jawab Nanda sedikit tersentak mendengar panggilan Rida.
"Seharusnya aku yang nanya, kamu kenapa?"
"Ada kabar buruk," ucap Nanda to the point dan tidak berani melihat ekspresi Rida ketika mendengar ucapannya.
Rida menegang di tempatnya. Ya Tuhan! Ia baru saja sembuh. Mengapa kabar buruk datang di waktu yang tidak tepat!?
"Tell me!" tegas Rida.
"Kamu yakin? Aku takut kamu terguncang." Nanda membuang napasnya kasar. Kenapa akhir-akhir ini kehidupan sahabatnya di timpa kesialan terus menerus?
"Aku yakin kalau aku bisa, I believe with my self." Ucapan Rida membuat Nanda mau tak mau memaparkan berita yang ia dapat.
"Om Surya meninggal, lebih tepatnya dibunuh. Aku baru dapet kabar ini tadi pagi dari karyawan aku yang hadir di pemakaman Om Surya." Nanda berhenti cerita. Ia yakin, Rida dapat menangkap maksud dari ucapannya.
"Papa? Meninggal? Dibunuh?" Rida masih terdiam di tempatnya belum memberikan reaksi apapun. Ia masih mencerna semuanya, kejadian ini benar-benar membuat pikirannya kosong seketika.
Jantungnya seolah berhenti berdegub, napasnya kian sesak, pikirannya terlempar pada kenangan kenangan saat bersama sang papa. Apalagi ini? Kedua orang tuanya meninggalkannya dengan cara yang sama. Sama-sama dibunuh.
Emosi menguasai dirinya, tangannya mengapal keras, rahangnya nempak seperti menahan sesuatu, ia meremas baju yang dikenakan sekuat mungkin. Air mata mengalir dari pelupuk matanya, bibirnya ia gigit agar tak mengeluarkan suara.
Ya Tuhan! Ini sungguh menyesakkan. Nanda meraih tubuh Rida ke dalam dekapannya, ia dekap tubuh rapuh sahabatnya itu dengan lembut sembari mengusap punggung dan rambut Rida.
Tangisan kali ini lebih memilukan dari tangisan saat Rida berpisah dengan Bara, dan ini tangisan terpilu yang pernah Nanda lihat selama mengenal Rida.
"Aku mau ke London, aku harus liat Papa untuk terakhir kalinya!" Rida memberontak dalam pelukan Nanda, Nanda memperkuat pelukannya memberi kekuatan untuk Rida.
"Papa kamu udah tenang, Rida. Jasadnya pun sudah di kuburkan di sana. Ke sana pun percuma, do'a in dari sini aja ya," Ucap Nanda menenangkan sahabatnya itu.
"Kamu nggak pernah ada di posisi aku! Kamu nggak ngerasain gimn rasanya hidup sendiri di dunia ini!" Teriak Rida murka. Ia kelabakan, berita ini sungguh memukul mentalnya.
"Lalu aku siapa? Aku di sini. Di samping kamu, nemenin kamu, nguatin kamu," tutur Nanda lembut. Ia terkejut melihat Rida berteriak seperti orang kesetanan.
"Kamu pikir sepenting apa diri kamu!? Sampai berani nahan aku untuk nggak pergi ke London!" Jawaban Rida membuat Nanda terdiam di tempatnya. Jadi, selama ini keberadaannya tidaklah penting untuk Rida? Kata sahabat yang selalu ia ucapkan hanyalah harapan semata? Ia mengerti Rida terpukul. Namun, haruskah ia melontarkan kalimat menyakitkan itu?
"Maaf, kalau aku lancang karena udah larang kamu. Aku ada meeting, aku pergi dulu." Nanda langsung berlalu tanpa menunggu jawaban Rida. Ia tahu, ini terlihat lemah karena perkataan Rida padahal ia lelaki. Tetapi, tidak bolehkah ia tersakiti ketika mendengar orang yang selama ini ia lindungi dan sayangi berkata hal semenyakitkan itu?
...$$$...
Olla, aku yakin pasti temen-temen tahu caranya menghargai penulis. 😊
Terima kasih untuk yang sudah baca, vote and komen.❤
Semoga kebaikan selalu menyertai teman-teman dan keluarga. ❤
ditunggu lanjutannya