Unara Callista, Gadis Remaja Berusia 17 Tahun Yang Terpaksa Bekerja Sebagai Waiters Di Sebuah Klub Malam.
Karna Ulah Teman Seprofesinya Di Klub Yang Memberikan Nara Obat Perangsang Pada Minuman Nara, Libidonya Naik Dan Nara Di Bawa Pergi Oleh Pria Yang Ingin Menyelamatkannya, Tapi Justru Pria Itu Sendiri Yang Tak Mampu Menahan Geloranya.
"Wahai hati. Janganlah engkau menyimpan rasa pada apa yang tak bisa kau gapai. Sebab pemilik Raga ini, tak kan mampu menerima lara yang kan terukir karna kebodohanmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENYATAKAN SUKA
Nara kembali dari memesan makanan dengan membawa nampan yang berisi 2 mangkuk, satu Mia ayam untuk Valdo dan satu bakso untuk dirinya sendiri.
Nara meletakkan mangkuk mangkuk itu di atas meja. Lalu ia kembali lagi untuk mengambil minuman. Valdo terus menatap lekat gerak geriknya. Ia benar-benar tertarik melihat Nara apalagi dengan penampilannya yang terlihat sangat seksi di matanya.
Nara kembali, ia meletakkan dua gelas minuman lalu menjatuhkan b*k-ong nya di atas kursi duduk berhadapan dengan Valdo.
Nara melihat Valdo yang terus menatapnya. 'Iissshh' Nara merasa sedikit risih dengan tatapan yang Valdo berikan.
Nara mulai mengaduk mangkuknya. Menyendok kuah dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Bibir sensual itu terlihat sangat seksi saat menyeruput kuah bakso itu.
..."Ngapain sih, lihatin mulu.? Lo bilang laper? Ya udah tuh dimakan? Gue yang bayar. Sebagai permintaan maaf gue. Dan setelah semua ini impas. Lo gak boleh gangguin Goe lagi. Besok gue bawain baju Lo."...
Valdo hanya melebarkan senyum mendengar omongan Nara yang terdengar menggerutu.
..."Lo sangat cantik." Ucap Valdo pelan. Namun mampu menggetarkan hati Nara....
Nara menelan salivanya kasar. Untung ia tidak tersedak. Pipinya memerah. Tapi ia sesegera mungkin menepis bayangan di benaknya. Mencoba agar terlihat senormal mungkin.
..."Ya iyalah, gue cewek. Kalo gue cowok ya pasti tampan."...
Valdo tertawa mendengar ucapan Nara yang menimpali pujiannya.
..."Gua tertarik sama Lo."...
Nara meletakkan sendok. Melihat Valdo lekat, kedua tangannya menyatu, menopang dagu. Seakan-akan ingin mendengar serius ucapan Valdo. Tapi itu hanyalah akting nya saja.
..."Gua serius. Lo berbeda, Lo bahkan gak tertarik buat ngejar gua."...
Tawa Nara lepas. Ia terbahak mendengar kalimat Valdo. Bukankah itu terdengar lucu? Bagaimana bisa ada orang se pe-de ini? Yah, meskipun dia memang tampan.
..."Lo mau jadiin gue yang ke berapa hah?"...
..."Ehmm? Biar gua pikirin dulu."...
Valdo menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Setelah sesaat ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
..."Untuk saat ini?, Gua bisa jadiin Lo prioritas gua. Kalo Lo gak ngebosenin. Lo bakalan bertahan di urutan yang pertama."...
Nara membulatkan mata mendengar jawaban Valdo. Bahkan mulutnya menganga. Itu adalah jawaban ter jujur dan menohok yang pernah ia dengar.
..."Mati saja ke jurang.!"...
Dengan emosi Nara melempar sedot minumanya yang ada di gelas ke wajah Valdo. Valdo refleks menghindar dengan menggerakkan kepalanya.
Jane dan anak-anak lain yang memperhatikan mereka seakan tak percaya. Mereka tak mendengar pembicaraan Nara dan Valdo. Namun sikap Nara jelas terlihat di mata mereka .
Nara berdiri ia bergegas ingin meninggalkan tempat. Valdo dengan cepat menarik tangan Nara kasar karna kesal dengan sikap Nara.
Valdo mendorong tubuh Nara sampai setengah badannya terbaring di atas meja. Mangkuk dan gelas berjatuhan karna dorongan tubuh Nara.
Meja berdecit keras. Valdo menggenggam kedua tangan Nara dengan kedua tangannya ke atas kepala Nara. Valdo berada tepat di atas tubuh Nara yang setengah terbaring di atas meja. Posisi yang gila. Sudah pasti dengan posisi seperti ini mereka berdua merasakan getaran yang sama. Terlebih Valdo. Yang di bawah sana sudah merespon.
Semua orang yang melihatnya ikut mendelik dan menganga. Bahkan Ibu kantin yang tahu pun hanya diam saja. Ia tak berani ikut campur. Ia juga tahu siapa Valdo. Dia bukan hanya bintang sekolah tapi ada orang tua nya yang sangat berpengaruh di sekolah ini di belakang nya.
Mata Valdo membulat menahan amarah. Raut mukanya jelas menyiratkan Jika saat ini dia sedang di kuasai amarah. Deru nafasnya seakan berlomba dengan deru nafas Nara yang memburu karna merasa kaget, dan takut yang bercampur menjadi satu.
Nara mulai meringis karna kedua lengannya yang terasa sakit. Namun Valdo justru menggenggam semakin kuat dan mendekatkan kepalanya pada wajah Nara.
Nara berusaha memalingkan muka. Valdo berhenti tepat di leher Nara. Ia memejamkan mata.
..."Lo berhutang sama gua. Dan Lo harus bayar atas kelakuan Lo ini."...
Valdo membisikkan kalimat itu di telinga Nara. Suara beratnya terdengar mengancam.
..."Aaahh? Sakit?"...
Lirih Nara karna pergelangan tangannya yang terasa semakin sakit.
Valdo bangkit. Melepaskan tangannya yang mencengkeram kuat tangan Nara. Ia menghembuskan nafas dalam.
Beberapa anak terlihat merekam adegan itu dengan ponselnya.
..."Hapus video itu. Atau kalian yang akan terhapus dari sekolah ini." Valdo berteriak....
Semua anak menurunkan ponselnya dan menghapus video itu.
Nara berdiri dengan benar. Air matanya mulai menetes dari sudut membasahi pipinya. Ia memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit. Bahkan terdengar sesenggukan darinya.
Nara merasa sakit hati dan malu yang dominan. Untung saja di kantin anak-anak sudah tidak seramai biasanya. Karna jam juga sudah mau masuk.
Valdo melihat Nara yang memalingkan pandangannya menunduk ke arah lain. Ada sedikit rasa penyesalan di hatinya. Ia lantas menarik tangan Nara untuk mengikuti langkahnya.
..."Aaahh"...
Nara hanya bisa pasrah dan ikut pergi. Valdo berhenti di depan Jane ketika melewatinya.
..."Kirim video itu ke gua. Dan setelah itu Lo harus hapus. Pastikan tidak ada satu pun anak yang memiliki video itu. Atau Lo yang akan bertanggung jawab."...
Jane hanya bisa mengangguk mendengar perintah Valdo. Jane dan teman-temannya saling pandang. Merasa kesal sudah pasti.
..."Valdo sakit.!"...
Rengek Nara yang merasakan perih di pergelangan tangannya. Begitu kuatnya kah cengkraman tangan Valdo.
Valdo menghentikan langkahnya. Nara masih menangis. Valdo melihat tangan Nara. Memar dan memerah.
Valdo melepas tangannya. Ia lantas mengulurkan tangannya agar Nara meraih telapak tangannya. menghindari cengkraman.
Nara merasa benci, tapi ia takut, Nara menurut. Ia meraih telapak tangan Valdo.
Valdo membawanya ke ruang UKS. Bel masuk sudah berbunyi. Valdo tak mempedulikannya.
..."Valdo, sudah bel, Aku mau masuk kelas."...
Nara dah Valdo sudah berada di ruang UKS. Valdo mendudukkan Nara di sebuah kursi. Valdo sibuk mencari obat untuk mengobati pergelangan tangan Nara.
..."Val?"...
..."Diam. Jangan membantah, Nara."...
Valdo mengompres pergelangan tangan Nara dengan es batu yang di bungkus handuk kecil. Nara menatap Valdo yang serius mengobatinya. Ada pertanyaan yang terbersit di benak Nara. 'Apa dia ini gila? Dia sendiri yang melukai ku. Tapi dia sendiri yang mengobati ku?'
Valdo mengoleskan sebuah salep. Nara hanya diam dan tetap menatap Valdo lekat. Dia sebenarnya sangat tampan. Tapi Nara benci dengan sikap sombong dan semena-mena nya.
"Sakit?" Valdo bertanya.
Nara hanya menggelengkan kepala.
..."Sorry."...
Ucap Valdo yang masih mengoles salep ke pergelangan tangan Nara. Nara hanya diam tak ingin menjawab. Ia masih sakit hati dan malu atas kelakuan Valdo kepadanya.
Valdo menatap manik Nara, mengusap air mata Nara yang membasahi pipi dengan jemari jempolnya.
..."Jagan membantah lagi. Aku tidak suka."...
Nara berdiri. Ia menepis tangan Valdo.
..."Apa hak mu, hah? Kau bukan pacarku. Bukan juga ayahku. Jadi berhenti bersikap semena-mena padaku?. Aku benci sama kamu.!"...
Nara berteriak di sertai isak tangis. Ia lantas lari keluar ruang itu meninggalkan Valdo yang masih mematung disana.
padahal aku tungguin tiap hari kelanjutannya🤔
tapi kisah Arend sm zico kok nggak ada thor, aku padahal sudah masuk ke branda author ya, cari judul love or game 😫😫😭😭😭😭 nggak ada thor yg ada nona dan tuan, mainan bos mafia
makasi thor atas novelnya..semangat untuk slalu berkarya🤗