Kirania, gadis berusia 23 tahun, sedang merasakan kebahagiaan di mana dia akan menjadi seorang pengantin. menikah dengan seorang pemuda tampan dari keluarga wijaya grub. salah satu keluarga terkaya di indonesia. dia bernama Devano wijaya.
Namun kebagian nya hancur saat Kirania tahu kalo Devano menikahinya nya hanya untuk segera mendapatkan hak waris dari orang tuanya, dan lebih parah lagi, Devano ternyata memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Kirania yang tau hal itu masih berusaha untuk menerima semua itu, bukan harta yang ia kejar, tapi Devano adalah teman masa kecil nya yang lama pergi. Di tambahan Kirania sangat mencintai Devano.
📿📿📿📿
Seperti apa perjuangan kirania merebut hati suami nya dan bagai mana perjuangan nya untuk tetap bertahan dengan Devano yang memutuskan untuk menikah kembali dengan kekasih nya itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Pagi harinya, seperti biasa Kirania bangun pagi dan membantu para pelayan menyiapkan sarapan pagi. Kirania tampak segar dan tidak terlihat pucat sama sekali, ia menutupinya dengan makeup yang buat sedikit tebal, ia tiba mau terlihat buruk di hadapan sang suami saat pagi hari.
" Mbah Kiran sudah pulang, kapan?," tanya Nara yang datang bersama Devano.
Kirania hanya tersenyum kearah Nara dan Devano.
" Oh iya, katanya mbak sakit, sakit apa?," tanya Nara lagi.
" Tidak ada, cuma lelehan." kilah Kirania.
Kirania berjalan ke arah Devano dan duduk di kursi yang ada di sampai Devano.
" Mas-"
" Nara aku berangkat kantor, ada meeting pagi." Devano langsung menyala ucapan Kirania, pamit untuk pergi ke kantor.
" Ah iya, hati-hati mas."
Tampak jelas kekecewaan di wajah Kiran, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
" Mbak, kemarin mbak pergi dengan siapa?," tanya Nara.
" Pergi?," ulang Kirania.
"Iya, kemarin mbak pergi sama siapa, maksud nya laki-laki itu siapa?," tanya Nara.
"Laki-laki?," Kirania tampak bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Nara. "Laki-laki mana maksud kamu?,"
" Jangan pura-pura lupa nembak, kita lihat sedari mbak pergi sama cowok dengan mobil putih." jelas Nara lagi.
"Cowok?, dengan mobil putih?, aku tidak apa yang kamu bicarakan, Nara."
" Mbak, aku tau, Devan kurang memberi perhatian sama mbak, tapi tidak seharus nya mbak selingkuh di luar." tuduh Nara.
"Selingkuh?, si siapa yang selingkuh,Nara?, aku tidak pernah selingkuh,"
" Sudahlah mbak, jangan terus berbohong, lebah baik mbak jujur kalau mbak punya laki-laki lain di luar sana, biar Devan biasa cepat ceraikan mbak Kiran dengan cepat. Kalau soal harta jangan khawatir, Devan pasti memberimu uang cukup banyak, lumayan bisa hidup foya-foya selama beberapa tahun, sebelum dapat mangsa baru."
Bag petir di hari yang terik mendengar tuduh yang Nara tunjukan pada nya. Sakit namun tidak berdarah itulah yang Kirania rasakan. Air matanya mengalir dengan dera, sudah tidak lagi bisa ia bendung, tuduhan yang dilontarkan oleh madunya itu sangat menyakitkan untuk nya.
"Nara, kamu tidak tahu apa-apa, lebih baik kamu diam dan jangan kondisi kesehatan mi, jangan sampai drop, dan membuat Mas Devan khawatir." pinta Kirania dengan suara bergetar. Kirania bangkit dan pergi meninggalkan Nara di meja makan seorang diri.
Kirania pergi ke tempat yang menjadi favorit nya, kolam kecebong atau berudu.
"Berudu, kau menuduhku selingkuh?, atas dasar apa kamu menuduhku seperti itu, pria, mobil putih, siapa dia?, aku tidak tahu apa yang Nara maksud." Kirania terus saja menangis, memikirkan tuduhan tak jelas yang ucapkan oleh Nara.
Kirania kembali merasakan pusing di kepalanya. Bersandar pada sandaran kursi dan memejamkan matanya untuk menstabilkan emosi nya.
Kirania mencoba untuk membuka matanya yang terasa berat, pandangannya kabur, berulang kali ia mengedipkan matanya, berusaha menstabilkan pasangannya. Kirania melihat semuanya tampak putih.
"Di mana aku," gumam Kirania.
"Nyonya, Nyonya sudah bangun?,"
"Geby, di dimana aku?," tanya Kirania.
"Nyonya di rumah sakit, Nyonya pingsan lagi di dekat kolam cebong."
" Pingsan, bukanya aku cuma tertidur?,"
" Tidak Nyonya, anda pingsan, anda sudah dua jam pingsan di rumah sakit."
"Dua jam?,"
"Iya Nyonya?,"
"Lalu Mas Devan?,"
" Tuan Devan.. itu... anu...
" Tidak datang kan." tebak Kirania.
" Maaf Nyonya,"
" Maaf?, untuk apa?, kamu tidak salah, yang ingin aku tau cuma satu, pria dengan mobil putih itu siapa?."
"Pria dengan mobil putih?," Geby mencoba untuk mengingat." Pria mobil putih?, ah iya aku ingat, itu dokter yang ada di klinik kemarin Nyonya, dia yang membawa Nyonya ke klinik nya.
" Dokter?," ulang Kirania.
"Iya, memang kenapa Nyonya?,"
"Tidak ada, sekarang aku lega, ini hanya salah paham,"
"Salah paham?,"
"Iya, oh iya Geby bisa bantu aku,"
"Bantu apa Nyonya ?,"
"Aku ingin pulang." pinta Kirania.
"Hisss Nyonya, Nyonya baru sadar, dokter bilah nyonya butuh banyak istirahat, tidak boleh kelelahan, apa lagi stres, ini sangat berbahaya untuk junior."
"Tapi-"
"Tidak ada tapi, sekarang Nyonya istirahat dengan nyaman, saya akan berada terus di samping Nyonya.
" Katanya aku baru sadar setelah dua jam, apa itu belum cukup?,"
"Belum, kata ibuku, orang hamil di awal bulan harus banyak istirahat minimal kandung nya cukup kuat untuk di ajak beraktifitas."
"Selama itu ?,"
"Iya, bila perlu sampai junior. lahir Nyonya tidak boleh melakukan apa-apa."
" Ada-ada aja kamu, mana mungkin itu, setahun ku orang hamil harus banyak beraktivitas biar bayinya sehat."
"Ini kan bayi sultan, yang harus beda." ledek Gaby.
" Bisa aja kamu, mau sulatan mau jelata itu sama saja, kalau hamil yang harus hidup sehat, banyak beraktivitas agar bayi lahir normal dan sehat."
"Iya sih Nyonya, tapi…, tapi tetap saja Nyonya belum boleh pulang , Nyonya harus istirahat dan tidak boleh stres."
" Baikan, aku akan ikuti saran mau."
"Gitu dong Nyonya."
***
Beralih ke gedung wijaya Group, gedung perusahaan milik Devano.
"Juw, kamu sudah menemukan pria yang pergi bersama Kiran kemarin?," tanya Devano.
" Sudah Tuan muda, dia dokter di sebuah klinik."
"Dokter?,"
"Iya tuan muda, kemarin malam saya menjemput Nyonya di klinik nya."
"Kamu yakin?, kamu yakin itu bukan selingkuhan Kiran?,"
" Saat saya datang, dokter itu sedang berdua di ruang rawat."
"Berudu?, berudu saja?!,"
"Iya hanya berdua saja dengan Nyonya, tapi saat itu Nyonya belum sadarkan diri."
"Kamu yakin dia belum sadar atau pura-pura belum sadar."
"Kalau itu saya kurang tau, yang jelas saat itu Gaby datang dan terlihat senang melihat Nyonya kirman sadar."
Tampak Devano terlihat kecewa , tapi sekaligus senang, entah apa yang membuat nya senang.
" Tuan muda, dua jam lalu pelayan Gaby memberi kabar, kalau Nyonya kembali tak sadarkan diri di dekati kolam."
"Tak sadarkan diri?, kenapa?,"
" Nyonya muda berpesan, saya tidak boleh memberitahu Tuan muda apa yang terjadi dengan nya."
"Kenapa, katakan saja, aku bisa pura-pura tidak tahu."
"Baik, Nyonya muda hamil, dan usia kandungan sudah jalan empat minggu."
"Apa!, hamil !?, mana mungkin?," Devano begitu terkejut mendengar hal ini dan langsung berdiri dari posisi duduknya
"Tapi inilah yang sebenarnya terjadi, Nyonya sudah hamil empat minggu."
" Kita kerumah sakit." Devano bergegas untuk menemu Kirania yang masih berada di rumah sakit.
Dalam perjalanan Devano terus berpikir, akan kehamilan Kirania, itu anak nya atau bukan, apa dia permen berhubungan dengan Kirania atau tidak, setaunya ia tidak pernah menyentuh Kirania sama sekali.
"Haisss si***al!!!," umpat Devano saat sadar kejadian malam itu saat ia pulang dalam keadaan mabuk berat. Saat itu ia masih sedikit sadar, namun ia tidak bisa mengendalikan pikiran dan tubuh nya untuk tidak menyentuh Kirania. dan malam itu untuk pertama kalinya Devano memenuhi hak Kirania sebagai istri nya.
salfok sama boneka kudanya kirania mirip kudanya J-HOPE BTS