agam dan agler adalah anak kembar dari syakila azalea nugraha yang berumur 5 tahun.
mereka menyelidiki tentang sang bunda yang belum mereka ketahui, dan mencari tau apa yang menyebabkan sang bunda mengalami trauma akan kegelapan.
kebungkaman sang bunda akan jati dirinya tak menyulitkan si kembar, tapi banyak cara yang dilakukan untuk mengungkap fakta tersembunyi.
agam dan agler berjanji akan mengembalikan hak yang seharusnya menjadi milik bundanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
titik terang
kita lihat dirumah apa bunda mengenakan liontinya, semoga dia mengenakannya, liontin itu sudah aku lengkapi dengan pelacak.
"baiklah sekarang kita pulang, semoga bunda kalian mengenakan liontinnya". sisi berharap juga demikian
mobil melaju kencang, wajah ketiga orang itu nampak gusar, setelah setengah jam perjalanan mobil sampai dikediaman si kembar, agam dan agler bergegas ke dalam rumah dan menuju kamar bundanya, tujuannya sekarang lemari pakaian bundanya.
mereka mencari kotak perhiasan bundanya, ternyata kotak perhiasan itu ada di rak atas, mereka tak dapat menjangkaunya, tapi terlihat ada tangan yang menjangkaunya, "bila butuh bantuan kenapa tidak panggil aunty hm" ini aunty sisi menyerahkan kotak perhiasan pada agam.
agam memeriksa kotak tersebut dan tak menemukan liaontinnya, liontinnya tidak ada, mungkin benar bundanya mengenakannya.
agam bergegas membuka laptopnya tangan mungil itu berselancar dengan indah di papan keybord, sungguh seperti seorang yang ahli, beberapa saat berselancar akhirnya agam menemukan lokasi bundanya berada, dapat...ucap agam, agler dan aunty sisi bertatapan bernafas lega
"apa kamu bisa mengetahui secara detail letak tempatnya sayang?" aunty aku sedang berusaha, tunggulah sebentar, kita akan mengetahui lokasi pasti bunda.
sementara itu lea diletakkan didalam kamar di gudang kosong di dekat hutan, kedua preman itu masih berpesta dengan alkohol yang mereka beli ketika belum bertemu lea.
"kau sudah begitu mabuk" rancau salah satu preman.
aku masih kuat, bagaimana kalau kita cicipi sekarang wanita itu, ah kau sudah tidak sabar ya...
hahaha tenang saja dia tak bisa kemana-mana, sekarang kita minum aja dulu, besok baru kita nikmati perempuan itu, ya kau benar buat apa terburu-buru, tempat ini jauh dari rumah warga.
kedua preman itu menghabiskan seluruh alkohol yang mereka beli, sehingga mengakibatkan mereka benar benar mabuk dan tak sadarkan diri.
di dalam kamar yang gelap, lea terbangun dari pingsannya, begitu membuka mata dia tak dapat melihat apapun, tubuhnya berkeringat, nafasnya tercekat, dia teringat terakhir kali dimana dia tak sadarkan diri akibat pukulan di tengkuknya, keringat dingin membasahi bajunya, air matanya mengalir dengan derasnya, ingatan kejadian terenggutnya kesuciannya muncul, bagai kaset yang diputar berulang- ulang.
dia ketakutan setengah mati, karna tak dapat menahan lagi sesak didadanya lea merancau, berteriak histeris, memohon ampun dan minta dilepaskan, lea lemas tak berdaya suaranya habis tercekat, leapun pingsan kembali.
aunty bunda berada d gudang tua dekat hutan, kita harus kesana sekarang menyelamatkan bunda, "sabar sayang, kita tidak bisa gegabah, kita harus menyusun rencana dengan sebaik mungkin, kita juga harus meminta bantuan orang lain, bisa saja penjahat yang menculik bunda banyak, kita takkan bisa menghadapi itu, besok pagi aunty minta bantuan opsir polisi salah satu teman aunty, sekarang aunty temanin kalian istirahat, aunty janji begitu pagi tiba kita pasti akan mencari bunda".
anak kembar itu tak dapat membantah sisi, benar yang dikatakannya, mereka tidak bisa pergi dalam keadaan masih gelap, "sisi membawa mereka ke ranjang dan menyelimuti mereka, tidurla sebentar agar kalian punya tenaga buat besok, mereka hanya menatap sisi dan mengedipkan matanya.
sisi terlelap disamping si kembar, tapi kedua bocah itu tak kuasa memejamkan matanya, mereka bersitatap, mata mereka memancarkan kekhawatiran yang besar, bagaimana jika pagi menjelang tapi mereka tak dapat menyelamatkan bundanya.