NovelToon NovelToon
Cinta Beda Keyakinan

Cinta Beda Keyakinan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Berondong / Tamat
Popularitas:85.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nai

Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.

Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.

"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"

Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....

(MASIH DALAM TAHAP REVISI)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12

Tidak ada perubahan dari sikap Tara maupun Amir setelah mereka jadian, karena sebelum ini juga Amir selalu perhatian pada Tara. Pegangan tangan, diner, panggilan aku kamu, semuanya sudah biasa mereka lakukan.

Tara merasa tidak ada spesial-spesialnya dari hubungan mereka. Tidak ada gregetnya. Tidak ada romantisnya seperti pasangan yang baru jadian pada umumnya.

Tara tidak tahu perasaan ini pada Amir apakah benar adanya. Tara merasa ... Hambar. Padahal mereka baru beberapa hari menjalin hubungan. Dimana-mana jika orang habis jadian pasti akan berbunga-bunga atau sebagainya, tapi tidak dengan mereka. 

Tapi meski begitu, Tara menikmati saja momen ini, siapa tahu seiring berjalannya waktu ia bisa merasakan perasaannya.

Malam ini tepat pukul tujuh, Tara dan Amir telah duduk manis disalah satu cafe favorite Tara. Cafe Senorita! Makanan telah terhidang diatas meja, Tara dan Amir menikmati hidangan dengan tenang sembari berbincang kecil.

"Tar, itu temen kamu kan?" Amir menunjuk seorang pria didepan meja bar.

Tara mengikuti arah pandang Amir, ia melihat sosok Devano tengah berbincang serius kepada petugas pembuat minuman disana.

"Devano!" teriak Tara melambaikan tangan.

Vano yang merasa namanya dipanggil menoleh pada asal suara. Ia dapat melihat Tara bersama seorang pria yang sama saat mereka bertemu dimini market tempat Tara kerja kemarin.

Ia melihat Tara dan Amir bergantian lalu memfokuskan kembali pandangannya pada petugas bar didepannya. Vano menerka-nerka, apakah pria itu yang dimaksud 'Love more' pada story whatsapp Tara beberapa hari lalu.

Tepukan pada bahu Vano membuatnya menghentikan obrolan seriusnya pada petugas bar. Ia berbalik, terlihat Tara telah berada dihadapannya dengan senyum hangat yang sangat manis. Bisa ditebak jika gadis ini sedang berbahagia.

"Ngapain lo disini?" tanya Vano ketus.

"Memangnya apa yang bisa gue lakuin disini selain makan?"

"Maksudnya disini, didepan gue! Tuh cowok lo nungguin, ntar cemburu lagi liat lo deket-deket gue!" ucap Vano masih dengan nada ketusnya.

"Dih, biasa aja kali ngomongnya. Gak usah ngegas!" sahut Tara tak kalah ketus.

"Lo sendiri ngapain disini?" tanya Tara balik.

"Gak usah kepo!" Tara hanya memutar bola matanya malas.

"Deska kemarin kemini market sama Mama lo, tapi dia gak bilang sama gue soal ultah sepupu lo. Lo bohong ya kalo Deska ngajak gue keultah sepupu lo!" Tara memicingkan matanya menatap Vano curiga.

"Lupa mungkin tuh anak," jawabnya asal.

"Trus kenapa dia belum chat gue? Acaranya kan lusa!" Sergah Tara lagi.

Vano berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Tara. "Dia lagi sibuk belajar, sebentar lagi ujian sekolah jadi jarang pegang hp. Ntar gue ingetin dia." Tara mengiyakan karena memang saat ini sedang memasuki ujian sekolah bagi anak sekolah, seperti adik bungsunya.

Tara tak bertanya lagi, sepertinya benar kata Deska jika pria ini sedang jelek mood nya. Tara berlalu kembali menghampiri Amir yang telah selesai dengan makan malamnya. Tara melanjutkan makannya hingga tandas lalu mereka berlalu pulang.

Sebenarnya Tara ingin jalan-jalan dulu menikmati suasana malam, tapi Amir ingin segera pulang. Padahal mereka belum kemana-mana setelah cafe Senorita yang menjadi tempat pertama yang mereka datangi.

"Maaf ya, Tar. Aku lupa kalo udah punya janji sama Nata." Tara hanya tersenyum, ia tidak mau bertanya lebih.

"Kamu bisa telfon Nata? Suruh dia jemput aku dirumah kamu saja," pinta Amir.

Tara mengernyitkan alisnya. "Kok dirumah aku? Kenapa gak kamu samperin aja atau ketemuan dimana gitu?"

"Lokasi yang mau kita datangi berbeda arah dengan rumah Nata."

Saat mobil telah terparkir dipinggir jalan rumah Tara, ternyata Nata telah ada didepan pintu rumah Tara seorang diri.

"Cepet banget lo. Terbang lo ya?" tanya Tara saat mereka telah berada dihadapan Nata.

"Kebetulan dari rumah Rena, jadi langsung aja minta Rena anter gue kesini." Tara hanya ber oh ria mengiyakan.

"Yaudah kita pergi yah, Tar." Nata berlalu cepat setelah meraih kunci mobil Amir lalu duduk dibelakang kursi kemudi.

Amir menatap Tara sendu. "Kenapa?" tanya Tara.

"Aku pergi ya. Maaf malam ini gak bisa lama, insyaAllah kalo ada waktu kita jalan lagi."

Tara meletakkan tangan kirinya diatas tangan Amir yang tengah menggenggam tangan kanannya. "Its oke. Kita masih punya banyak waktu kok." Tara tersenyum menenangkan Amir yang tampak sedih dan gurat lelah terlihat jelas diwajahnya.

"Kalo capek gak usah dipaksain pergi, pulang aja ya. Tuh wajah kamu udah pucat, pasti kurang istirahat."

"Aku pergi." Amir tak menanggapi nasihat Tara, ia mengusap belakang kepala Tara lalu berlalu memasuki mobil bagian samping kemudi.

Tiiinn ... Tiiinn ...

Mereka saling melambaikan tangan memberi salam perpisahan.

🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

"Nak Tara," penggil seorang wanita paruh baya.

"Tante," sahut Tara mencium punggung tangan wanita itu. "Om." Lalu beralih pada pria paruh baya disampingnya.

"Kamu ..."

"Deska yang ngajak Tara kesini Tan," jawab Tara saat melihat Mama Ica tampak bingung akan keberadaannya disisi pojok toko bakery milik Papa Berto.

"Lah, trus kemana tuh anak? Kok ninggalin kamu disini sendirian?" Mama Ica mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru toko namun tak menemukan kedua anaknya.

"Tadi katanya mau masuk bentar, Tan. Jadi Tara disuruh nunggu disini dulu." Tara menjawab dengan ramah.

"Ajak masuk aja, Ma!" seru Papa Berto.

"Eh, gak usah om. Tara disini aja nunggu Deska kesini," tolak Tara tak enak hati.

"Udah gak apa, ayo masuk. Katanya temen Vano juga kan? Kebetulan dia udah dateng kok dari tadi. Ayo!"

Tara hanya mengikuti Mama Ica menuju keramain orang dipusat acara, Tara yakin jika mereka semua keluarga Vano. Tapi ada yang aneh saat Tara mulai mendekat kearah mereka.

Sebuah tanda diatas ucapan happy birthday yang menempel didinding menjadi pusat perhatian Tara. Tara mulai menerka-nerka, apakah mereka .....

"Tante sama Om tinggal dulu ya, Tara. Kamu duduk disitu aja, nanti Tante panggilin Deska sama Vano." Tara hanya mengiyakan, ia masih menerka-nerka sesuatu yang baru ia ketahui.

Mata Tara kembali berpusat pada tanda itu hingga suara seorang pria mengagetkannya.

"Kenapa?" Tara menoleh menatap pria dibelakangnya yang tampak tak terlalu formal dengan setelah kemeja maroon yang lengannya digulung hingga siku dan celana panjang hitam.

"Apa lo gak bisa berteman sama orang yang berbeda keyakinan dengan lo?" tanya Vano sinis.

"Hah!" Tara mengerutkan alisnya. "Gue berteman gak milih-milih, yang penting gue nyaman berteman dengannya, apapun keyakinannya gue gak masalah." Tak kalah sinis dari ucapan Vano sebelumnya.

"Baguslah!" Vano membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan Tara.

"Tunggu!" Langkah Vano terhenti lalu berbalik menatap Tara dengan satu alis dinaikkan keatas.

"Deska bilang, lo yang suruh dia buat ngakuin ke gue bahwa dia yang ngajak gue kesini. Sebenernya lo kan yang ngajak gue kesini, bukan Deska?"

Vano menatap Tara datar, ia bingung mau menjawab apa.

"Gue nanya, kenapa lo diem aja!" lanjutnya saat tak mendapat respon apapun dari Vano.

Belum sempat Vano menjawab, ponsel Tara berdering. Terdapat panggilan suara dari Rena. Tara mengernyitkan sebelum mengangkat panggilan itu.

"Ya, Ren?"

Tak ada sahutan, hanya suara isak tangis yang tertangkap telinga Tara. Ia tidak bisa menerka-nerka apa yang terjadi karena memang sebelum ia datang kesini, semuanya baik-baik aja.

"Ren, lo kenapa?"

"Ren!"

Masih tak ada sahutan, isak tangis Rena semakin kencang membuat Tara berkaca-kaca. Tara orangnya mudah melow, ia tidak bisa melihat sahabatnya menangis seperti ini.

Tara membiarkan Rena menagis menunggu ia membuka suaranya.

"Tar ..."

"Cerita, Ren."

"Amir, Tar."

Deg,

Apakah sesuatu yang berbahaya menimpa Amir? Tara tidak bisa menebak apa yang sedang menimpa Amir saat ini. Tapi saat mendengar suara lirih Rena, ia hanya faham bahwa ini pasti kabar buruk.

Rena tidak akan menangis seperti ini jika ini bukan hal yang serius, bahkan saat mereka kecelakaan malam itu saja Rena tidak sampai seperti ini.

"Amir kritis, Tar."

Tak,

Tara menjatuhkan ponselnya dengan tangan masih disamping telinga. Tara belum bergerak, ia mematung mencoba mencernya maksud dari ucapan Rena.

Kritis?

Kenapa?

Terakhir mereka bertemu kemarin malam, Amir tampak sehat dengan tawa dan senyum diwajahnya yang ... sedikit pucat.

Apakah Amir sakit? Tapi Tara tidak melihat keluhan apapun pada diri Amir.

Sentuhan pada bahunya mengembalikan Tara pada kesadarannya. Air matanya gugur saat melihat Vano memberikan ponselnya.

"Gue anter." Vano menarik tangan Tara sebelum gadis itu memberikan respon.

"Kak!" teriak Deska tak jauh dari pusat acara.

"Kakak pergi dulu, sampein maaf Kakak ke Meysa." Tanpa menunggu sahutan dari Deska, Vano terus menarik tangan Tara menuju mobilnya.

Sepanjang jalan tak ada percakapan apapun, Vano sesekali melirik Tara yang masih diam menatap kosong sekitar.

Vano tadi sempat heran melihat Tara menjatuhkan ponselnya, ia berniat meraih benda pipih itu lalu meletkkan ditelinga karena panggilannya masih tersambung. Saat mendengar jika seorang pria bernama Amir kritis, Vano segera menawarkan diri untuk mengantar Tara ke rumah sakit. Tentunya setelah mendapatkan alamat rumah sakit itu dari wanita disebrang sana.

Saat pandangan Tara tersadar bahwa mereka telah berada dirumah sakit, dengan cepat ia meminta Vano menghentikan mobilnya. Tara keluar dari mobil tanpa menatap Vano sedikitpun, bahkan Vano yang meneriakinya pun tak ia perdulikan, yang ia inginkan saat ini hanyalah bertemu Amir atau yang lain.

Tara berlari tanpa tujuan karena ia tidak tahu dimana Amir berada. Langkah kakinya melambat saat melihat beberapa orang berdiri didepan ruang ICU. Wajah mereka tampak panik satu sama lain.

"Kenapa?" Satu kata dari Tara membuat para manusia yang sedang dalam kesedihannya kini menyadari kedatangan gadis manis itu.

Tara hanya bisa terbengong saat Rena menubruknya dengan pelukan yang sangat erat.

*****

.

Makasih banyak yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk menikmati karya Nai ini.

Jangan lupa Like, Koment, serta Vote nya ya..

1
Bukhori Muslim
keren
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
ENDING YG MMBAHAGIAKN... SMOGA MEREKA SAMAWA DI DUNIA HALUNYA, DN SAMAWA JUGA BUAT YG PRNH ALAMI SPRTI YG DI NOVEL INI..
Sulaiman Efendy
KULIAH JUGA NGGK JAMIN DPT PKERJAAN, BNYK TU SARJANA2 PENGANGGURAN..
Sulaiman Efendy
LO HRSNYA NGERTI SBAGAI UMAT MUSLIM, HARAM WANITA BRSUAMI MNJALIN HUBUNGN, MSKI HNY PRTEMANN DGN LAKI2 YG BKN MAHRAMNYA, KRN UNTUK MNGHINDARI FITNAH, APALAGI LKI2 TRSEBUT MNYUKAI SI WANITA..
Sulaiman Efendy
UDH DIINGATKN DESKA, MSH NGEYEL,, KN DESKA UDH BILANG LO PSTI AKN KECEWA DAN SAKIT HATI..
Sulaiman Efendy
KURANG AJAR SI RAKA, CURI START, SEMOGA TARA MNOLAK LMARAN RAKA
Sulaiman Efendy
KERENNN ABISS DI DESKA YG POSESSIF KE CALON KK IPARNYA SI TARA, RAKA YG GELAGATNYA MMG MNYUKAI TARA, LGSUNG DI SKAK DESKA
Sulaiman Efendy
BAGUS DESKA,, HRSNYA RAKA LBH FAHAM KLO LKI2 TDK BOLEH DUDUK BRDEKATAN DGN WANITA YG BKN MAHRAMNYA
Sulaiman Efendy
ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA DESKA JUGA MNDAPATKN HIDAYAH ..
Sulaiman Efendy
BARAKALLAH,, SEMOGA VANO ISTIWOMAH KRN ALLAH, BKN KRN MNGHARAPKN PNGAKUAN MANUSIA, BKN KRN MNGHARAP CINTA MNUSIA, TTPI MURNI LILLAHI TA'ALAA
Sulaiman Efendy
PASTI SI RAKA, SEMOGA TARA TDK MNERIMA RAKA, KRN KYKNYA RAKA SKA MA TARA
Sulaiman Efendy
SIAPA BILANG VANO BSA MLUPAKAN LO, KLO BSA LO PRGI LGI YG JAUH, BILA PERLU KE JOGYA TEMPAT RENA..
Sulaiman Efendy
SKRG HMBATAN TK ADA BUAT VANO UNTUK PINDAH KYAKINAN.. KRN KDUA ORTU NYA SDH MNINGGAL,, TINGGAL KMNTAPAN HATI DN NIATNYA..
Sulaiman Efendy
SEMOGA LEWAT BG MALIK SUAMI FANI, VANO DPT HIDAYAH, DN MAU BLAJAR ISLAM SUNGGUH2, BKN KRN INGIN BSA NIKAH SAMA TARA, TPI KRN ALLAH, DN MNCINTAI JUGA KRN ALLAH...
Sulaiman Efendy
YAA LO JELASIN MASALAH SYARIAT ISLAM, BHWA LO TDK BSA MMAINKN AQIDAH LOO..
Sulaiman Efendy
HRSNYA LO OMONGIN KE VANO, KLO MMG DIA SERIUS KE ELO, TTG VANO UNTUK IKUT KYAKINAN LO, JLSKN KE VANO TTG SYARIAT ISLAM,, LO LIAT, SERIUS GK DY.. JGN SAMPE LO BRBUAT SEMI ZINAH DGN DIPEGANG2 & DIPELUK2 VANO
Sulaiman Efendy
BLM MAHROM KNP MAU DIPELUK2, LO KN SKRG PKE HIJAB, HRSNYA LO KSIH PNGERTIAN KE VANO, BHWA WANITA MUSLIM TDK BOLEH DISENTUH APALAGI DIPELUK2 LKI2 YG BKN MAHRAMNYA..
Sulaiman Efendy
LO KAN UDH SERING IKUT TAUSIYAH, DN LO UDH TTG SYARIAT ISLAM, BHWA WANITA MUSLIM ITU HRS NIKAH DENGN IJAB QABUL DN ADA WALINYA, KLO LO NIKAH DI CATATAN SIPIL, LO NIKAH TNP IJAB QABUL, TNPA WALI, HNY SAH DIHUKUM NEGARA, TNP HARAM DI MATA ALLAH... KONSEKUENSINYA LO TAUKN, LO BRZINAH SEMUMUR HIDUP, INGAT, LKI2 ITU IMAM BUAT WANITA, GMN LO MAU JDIKN VANO IMAM LO, SDGKN VANO NON MUSLIM, HRSNYA LO SHOLAT ISTIKHARAH BUAT MINTA PTUNJUK SAMA ALLAH..
Sulaiman Efendy
LO GK TAKUT NANGGUNG DOSA LO FHAISAL, HRSNYA LO SETUJU DGN SYARAT SI VANO HRS IKUT KYAKINAN KALIAN
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!