Sebuah kecelakaan kapal pesiar terjadi dan membuat 7 orang terdampar di pulau kecil tidak berpenghuni. Mereka dipaksa untuk bertahan hidup sampai bantuan tiba. Ren, salah satu dari 7 orang yang terdampar memimpin mereka dengan pengetahuannya yang luas.
Dia menggunakan keterampilannya untuk bertahan hidup di pulau yang hanya berisikan dia dan 6 orang lainnya. Banyak masalah yang dia temui, namun siapa yang menduga jika dia akan menemukan jodohnya di pulau terpencil?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YatoNime Crack, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 — Monyet Cilik
Ren, Zain dan Clarissa melanjutkan perjalanan mereka untuk kembali. Sebelum menuju perkemahan mereka memilih mengambil apel terlebih dahulu.
‘Mengapa aku harus tertahan bersama orang-orang udik ini?’ gerutu Clarissa dalam hati.
Dia hanya melihat Ren yang sedang memanjat pohon dengan lihai dan membuatnya serta Zain terpukau seakan pohon apel itu sudah sering dipanjatnya. Gerakan Ren begitu lincah, dalam beberapa lompatan dia telah nangkring di atas pohon.
“hebat, kamu memang ahli dibanyak hidang.” Zain berdecak kagum selagi melebarkan pakaiannya untuk menangkap apel.
Ren tidak berpikir kemampuan memanjat sebagai sesuatu yang spesial mengingat kepentingannya tidak terlalu besar. Alasan Ren pandai memanjat karena semenjak kecil dia sudah sering melakukannya dimulai dari membantu neneknya mengambil kelapa, dikejar-kejar anjing hingga harus memanjat pohon dan bahkan mencuri buah-buahan bersama teman masa kecilnya.
Ren tidak menduga bahwa anak kota seperti Zain dan Clarissa akan bereaksi demikian yang membuat Ren tersenyum bangga sampai Clarissa mengatakan sesuatu yang membuatnya mengerutkan dahi.
Clarissa mendengus dan tertawa kecil, “Kamu sangat mirip dengan seekor monyet, aku tidak keberatan memelihara satu yang sepertimu.”
Pandang Ren tertuju kepadanya, mulutnya terbuka namun tidak ada kata-kata yang keluar mengingat dia juga memiliki julukan serupa di kampung halamannya, Monyet Cilik.
“Aku tentu tidak menyukai itu keluar dari mulutnya namun aku setuju bahwa gerakan memanjatmu sangat mirip monyet.” Zain tertawa lantang, bukan kesempatan yang sering ditemui untuk mengejek Ren.
“Kalian berdua sangat berisik, jika tidak segera menutup mulut akan aku lemparkan apel-apel ini ke mulut kalian.” Ren berdecak kesal namun dia tidak menyimpannya dalam hati dan tersenyum kemudian.
Ren mulai mengambil apel satu persatu dari yang terdekat yang bisa dia raih. Dia melemparkannya ke bawah dan Zain dengan bajunya menangkap apel itu dengan mudah.
Clarissa dilain sisi mulai menguap dan menatap dengan bosan, membuat sudut mata Zain berkedut kesal.
“Oi, daripada bosan tidak melakukan apa-apa sebaiknya kamu ikut membantu membawanya.” Zain menunjukkan apel-apel yang mulai terkumpul di bajunya.
Clarissa melebarkan matanya, “Mengapa aku perlu membantu kalian? Aku tidak ingin repot-repot mengotori tanganku.” Clarissa menunjukkan tangannya yang sangat mulus.
Zain tidak menjadi marah seperti sebelumnya, dia justru sangat terguncang akan sesuatu yang terlintas di pikirannya.
“Dengan kuku tajam seperti itu, kamu bahkan tidak dapat mencuci piring ...” Zain masih memandang kuku Clarissa yang berwarna putih kemerahan.
Ren tidak dapat melihatnya dengan jelas karena dia cukup jauh untuk memperhatikan sesuatu yang kecil namun dia mendengar mereka dengan jelas, dia juga tidak berniat bergabung dalam percakapan karena sedang menikmati apel di tangannya selagi bersandar dengan santai di cabang pohon.
‘Aku sedikit penasaran ke mana pembicaraan mereka menuju ...’ Ren tidak berpikir untuk bergabung dengan mereka dan segera mengambil apel lain untuk dirinya sendiri.
“Sepertinya para pria memang otak udang, bahkan tidak mengerti bahwa kuku termasuk fashion wanita.” Clarissa menatap Zain dengan merendahkan.
Zain sama sekali tidak tersinggung, dia justru memikirkan hal lain, “Dengan kuku seperti itu, bagaimana kamu membersihkan pantatmu selepas BAB?” Wajah Zain segera menjadi buruk.
Dia berpikir bahwa Clarissa mungkin tidak pernah membersihkannya atau mungkin Clarissa memiliki pelayan yang akan melakukannya.
Mendengar perkataan Zain sudah cukup untuk membuat Ren menyemburkan apel di mulutnya dan tertawa terbahak-bahak.
Clarissa skeptis bahwa Zain benar-benar bodoh atau memang konyol, wajahnya semerah tomat saat melihat Ren mentertawakannya dan hampir terjatuh dari pohonnya.
“Apa-apaan dengan pola pikirmu, bagaimana bisa orang udik sangat lancang kepadaku! Ini hanyalah kuku palsu yang bisa dilepas, tentu saja aku akan melepasnya saat membersihkan diri! Lihat nih!” Clarissa menunjukkan tangannya dan menunjukkan bahwa kuku lancipnya bisa dicopot, menyisakan kuku aslinya yang pendek.
“Mengapa baru mengatakannya sekarang, aku jadi salah paham. Jika memang bisa dilepaskan, kamu tinggal melepaskannya saja dan membantu kami membawa apel-apel ini.” Zain mengerutkan alisnya dan mulai berdebat dengan Clarissa.
Tanpa mereka sadari, seseorang yang memperhatikan mereka dari tempat tinggi terjatuh dari pohonnya dengan pantatnya mendarat lebih dulu.
***
“Kami kembali.” Zain tersenyum hangat kepada Laura dan yang lainnya, ekspresi mereka tidak sebagus Zain.
Mereka nampak bingung sekaligus kesal, tatapan tajam mereka tertuju kepada seorang gadis yang datang bersama Zain dan Ren.
Keberadaan Clarissa jelas janggal dan membingungkan kelompok Ren terkecuali Zain yang sudah mengetahui situasinya lebih dulu.
“Mengapa kalian datang bersamanya?” tanya Theresia dengan sedikit takut saat melihat sorot mata Clarissa menembus dirinya.
Mirai segera berdiri di depan Theresia dan memberikan tatapan tajam kembali kepada Clarissa.
Ren yang masih merasakan sakit di pantatnya hanya menghela napas lelah, lagipula dia sudah mengetahui bahwa harus memberikan penjelasan yang memuaskan bagi mereka.
Ren mulai menjelaskan bahwa dalam perjalanannya dia bertemu dengan Clarissa yang nampaknya tersesat meskipun Clarissa sendiri tidak mau mengakuinya.
Ren tidak dapat meninggalkannya sendirian di dalam hutan, terutama saat malam hari mendekat karena hutan lebih berbahaya di malam hari.
Laura dan gadis lainnya jelas tidak senang dengan tindakan Ren, mereka masih menyimpan cukup kemarahan mengingat Clarissa menyimpan makanan yang ditemukan Anastasia untuk mereka sendiri dan menolak bekerja sama.
Mirai yang mungkin paling membenci Clarissa hampir saja mengumpat namun dihentikan dengan teriakkan seorang gadis yang berlari menuju mereka dengan mata penuh air.
“Nona Rissa! Syukurlah kamu baik-baik saja!” Anastasia menangis hingga cairan hidungnya keluar dan melompat ke pelukan Clarissa.
Yang mengejutkannya Clarissa tidak memarahi atau berusaha menghindari pelukannya, mengingat Anastasia menangis deras sampai keluar ingus. Clarissa mengelus dengan lembut kepala Anastasia yang wajahnya tenggelam di dadanya. Tindakan Clarissa tidak beda jauh dengan seorang ibu yang berusaha menenangkan anaknya yang menangis.
“Maafkan aku karena meninggalkan kamu sendirian di hutan! Huaa!” Anastasia menangis sejadi-jadinya, dia bersyukur di dalam hati karena Clarissa baik-baik saja.
“Dasar, padahal seharusnya aku yang berada diposisi menyulitkan yang menangis sepertimu, aku harus dengan paksa mengikuti dua hewan mesum yang hampir melecehkanku itu.” Clarissa tersenyum dan menyeka rambut Anastasia dengan lembut.
Clarissa sama sekali tidak menghiraukan tatapan Ren dan Zain yang seakan mengatakan ‘itu bohong!’ namun mereka tersedak napasnya sendiri saat merasakan tatapan dingin Laura dan yang lainnya.
“Sebaiknya kita kembali, aku tidak tahan menghirup udara di tempat yang sama dengan orang-orang udik ...” Clarissa dengan acuh membawa Anastasia kembali ke perkemahan mereka.
Ren tentunya ingin mengatakan sesuatu kepada Clarissa namun tatapan Laura dan yang lainnya membuat tubuhnya membeku.
“Sekarang, mari kita dengarkan rincian kejadian yang sebenarnya dari kalian.” Laura menatap Ren dan Zain seperti melihat hal menjijikkan.
“Aku hampir melupakannya karena kalian sangat berguna di pulau ini namun mau bagaimanapun kalian tetaplah pria normal yang bernafsu, ya ...” Mirai mengepalkan tangannya dan membunyikannya.
Theresia yang polos mengintip Ren dari punggung Mirai, “Kalian yang terburuk.” kata-katanya lebih dari cukup membuat hati Zain dan Ren terluka.