Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 — TEMANI
BAB 11 — TEMANI
Kalimat itu terus terngiang di kepalaku sampai matahari naik sepenuhnya.
Aku membaca seluruh perjanjian tiga kali. Pada pembacaan pertama, aku hanya mencari kata-kata yang menjelaskan mengapa Ibu melakukan semua ini. Pada pembacaan kedua, aku mencari celah hukum. Pada pembacaan ketiga, aku mulai menandai setiap bagian yang memakai namaku tanpa memberiku kesempatan memahami keputusan yang dibuat atas nama itu.
Tidak ada penjelasan tentang siapa yang menentukan aku sudah cukup mampu memilih.
Tidak ada tanggal berakhir.
Tidak ada prosedur penutupan.
Hanya satu lampiran yang menyebut bahwa pengelola sementara wajib menyerahkan catatan, dana, dan seluruh daftar penerima ketika aku “mampu membuat pilihan tanpa tekanan langsung.”
“Kalimat itu sangat longgar,” kata Damar.
Kami masih berada di ruang rapat. Kopi yang dibawanya sudah dingin. Langit di balik jendela berubah dari hitam menjadi abu-abu, lalu perlahan memantulkan warna gedung-gedung di seberang.
“Siapa yang menilai tekanan langsung?” tanyaku.
“Tidak disebutkan.”
“Rendra?”
“Bisa. Wali, pengelola, atau pihak yang ditunjuk lampiran lanjutan.”
“Lampiran yang tidak dia bawa.”
Damar mencatat. “Dia memang menyerahkan bukti penting, tapi tetap mengendalikan bagiannya.”
Pandanganku tertahan pada kursi tempat Rendra tadi berdiri. Ia datang sendirian, tidak memaksa masuk, dan meninggalkan dokumen ketika kusuruh pergi. Bagian kecil dalam diriku mengakui semua itu sebagai usaha.
Bagian yang lebih besar masih mengingat ia juga mengaku hanya akan menceritakan separuhnya.
“Aku mau mulai dari orang pertama,” kataku.
“Tara?”
Aku membuka buku abu-abu pada halaman berkode TEMANI.
“Kalau aku tidak memahami batas yang dibeli dari sahabatku sendiri, aku tidak akan bisa membaca nama lain dengan jernih.”
Damar menyarankan agar percakapan direkam dengan persetujuan Tara. Ia juga meminta kami tidak bertemu sendirian sampai tahu siapa yang mengakses sistem kantor. Aku menghubungi Lila dan memindahkan seluruh kegiatan Ruang Tengah hari itu ke daring dengan alasan pemeriksaan keamanan data.
Setelah itu aku mengirim satu pesan kepada Tara.
Datang pukul sembilan. Bawa seluruh catatan pembayaran. Tidak perlu membawa makanan atau apa pun untukku.
Balasannya datang kurang dari satu menit.
Baik.
Ia tidak bertanya, tidak memasang wajah sedih, dan tidak mengatakan bahwa ia khawatir aku belum tidur.
Pukul sembilan kurang lima, Tara berdiri di balik pintu kaca dengan satu map putih dan kotak sepatu yang diikat tali rafia. Ia menunggu sampai aku sendiri yang membuka kunci.
“Aku boleh masuk?” tanyanya.
“Boleh.”
Damar memperkenalkan diri sebagai pengacaraku dan meminta izin merekam. Tara menyetujuinya tanpa membaca ulang formulir. Damar justru menarik kertas itu kembali.
“Baca dulu,” katanya.
Tara terlihat bingung.
“Jangan setuju hanya karena Nadira meminta.”
Kalimat itu membuat kami bertiga diam.
Tara membaca seluruh halaman sebelum menandatanganinya. Setelah itu kami duduk di meja rapat. Ia memilih kursi paling jauh dariku.
Aku membuka buku pada baris pertama namanya.
“Pembayaran pertama, dua juta rupiah. Tanggal tiga belas Agustus, sepuluh tahun lalu. Untuk apa?”
“Uang kos dan transport selama satu semester.”
“Imbalannya?”
“Menemanimu pulang setelah kelas malam. Mengirim pesan kepada Ibu kamu setelah kita sampai.”
“Berapa kali?”
“Dua atau tiga kali seminggu.”
“Apakah kamu akan tetap pulang bersamaku tanpa dibayar?”
“Iya.”
“Lalu kenapa mengambil uangnya?”
Tara mengusap telapak tangannya.
“Karena aku membutuhkannya dan karena saat itu aku merasa tugasnya tidak mengubah apa pun. Kita memang selalu bersama.”
Aku menandai baris tersebut.
“Pembayaran berikutnya naik menjadi tiga juta.”
“Ibu kamu meminta aku memastikan kamu tidak pergi sendiri pada tanggal kematian ayahmu.”
“Aku bahkan tidak ingat pernah ingin pergi.”
“Kamu mau naik bus ke luar kota sendirian. Kamu bilang ingin berada di tempat yang tidak mengenal nama keluarga kita.”
Aku mengingatnya samar-samar. Bukan rencana matang. Hanya ucapan seseorang yang baru kehilangan ayah dan muak dilihat dengan tatapan kasihan.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Aku pura-pura sakit dan minta kamu menemaniku.”
Tanganku berhenti di atas kertas.
“Kamu memalsukan sakit?”
“Iya.”
“Jadi aku tidak memilih tinggal. Kamu membuatku merasa bersalah kalau pergi.”
Air muka Tara berubah, tetapi ia tidak membela diri.
“Iya.”
Aku memberi tanda lain.
Baris-baris berikutnya membentuk pola yang semakin jelas. Pada masa kuliah, sebagian besar pembayaran terkait perjalanan malam, orang asing yang terlihat mengikuti, atau hari-hari ketika Ibu takut aku bertindak ceroboh. Setelah Ibu meninggal, ada jeda hampir empat bulan.
Kemudian nama perusahaan milik Rendra muncul.
Nominalnya menjadi lima kali lebih besar.
“Pembayaran pertama dari Rendra,” kataku. “Apa instruksinya?”
“Pastikan kamu enggak sendirian selama empat puluh hari setelah pemakaman.”
“Itu saja?”
“Awalnya.”
Kata itu lagi. Kata yang dipakai orang ketika menjelaskan bagaimana sesuatu yang awalnya terasa baik berubah menjadi salah.
“Bulan ketiga?”
“Dia mulai meminta laporan kalau kamu tidak datang ke kantor, tidak membalas pesan, atau bertemu orang yang tidak kukenal.”
“Bulan keenam?”
“Rencana perjalanan.”
“Setelah kami menikah?”
Tara memandang kedua tangannya.
“Suasana hati. Pertengkaran. Hal-hal yang kamu katakan tentang rumah.”
Damar menyela.
“Apakah ada daftar tertulis?”
Tara membuka map putih. Di dalamnya terdapat cetakan surel, tangkapan layar percakapan, dan catatan transfer.
Aku membaca pesan pertama dari Rendra.
Apakah Nadira cukup tenang untuk menghadiri makan malam keluarga?
Pesan lain:
Cari tahu apakah keinginannya pergi ke Bali hanya untuk berlibur atau karena ingin menjauh dariku.
Lalu:
Kalau dia membicarakan perceraian, beri tahu saya sebelum dia menghubungi pengacara.
Tanggal pesan terakhir membuat dadaku sesak. Dua tahun lalu, setelah pertengkaran tentang akses kata sandi.
“Kamu membalas apa?” tanyaku.
Tara menunjuk cetakan berikutnya.
Dia tidak membicarakan perceraian. Dia hanya lelah karena semua keputusan harus melewati kamu. Tanyakan langsung kepadanya.
Aku membaca balasan Rendra.
Terima kasih. Jangan bahas pesan ini dengannya.
“Setelah itu?” tanyaku.
“Aku diam.”
“Dan tetap menerima uang.”
“Iya.”
“Berapa kali kamu memberinya informasi setelah pesan ini?”
“Dua puluh tujuh laporan tertulis. Mungkin lebih banyak lewat telepon.”
Angka itu lebih menyakitkan daripada sekadar mendengar kata sering.
“Apakah kamu pernah berbohong kepadanya untuk melindungiku?”
“Pernah.”
“Apakah kamu pernah berbohong kepadaku untuk melindungi pembayaranmu?”
Tara menatapku.
“Pernah.”
Aku menutup map dan membiarkan tanganku tetap di atasnya. Mataku terasa panas. Aku tidak ingin menangis di depan rekaman dan dokumen itu, apalagi di depan Tara.
“Kamu bilang perasaanmu nyata,” kataku.
“Nyata.”
“Bagaimana aku membuktikannya?”
“Kamu enggak bisa.”
Jawabannya membuatku mengangkat wajah.
Tara melanjutkan, “Aku juga enggak bisa memaksa kamu percaya. Yang bisa kulakukan cuma berhenti menerima uang, menyerahkan semuanya, dan tetap ada kalau suatu hari kamu memilih memanggilku. Kalau enggak, itu akibat yang harus kuterima.”
Ia menarik kotak sepatu ke atas meja.
Di dalamnya ada beberapa amplop, buku tabungan, dan satu kartu debit.
“Ini apa?”
“Semua uang yang masih tersisa dari pembayaran Rendra. Sebagian sudah kupakai selama bertahun-tahun. Aku enggak bisa mengembalikan semuanya sekarang. Ini yang ada, dan aku sudah membuat jadwal pengembalian sisanya.”
Damar memeriksa daftar nominal.
“Uang ini jangan langsung ditransfer. Kita perlu mencatat sumber dan status hukumnya.”
Tara menyetujuinya.
“Aku akan ikuti proses.”
Aku melihat kartu debit di atas tumpukan amplop. Selama ini aku mengira bukti persahabatan adalah lamanya seseorang tinggal. Sekarang aku tahu orang bisa tinggal sambil berbohong, dan tetap menyayangi sambil mengambil keuntungan.
Aku membenci bahwa kedua hal itu bisa benar pada saat yang sama.
“Aku belum memaafkanmu,” kataku.
“Aku tahu.”
“Aku juga belum tahu apakah kita masih bisa menjadi teman.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku percaya kamu menyayangiku.”
Bibir Tara bergetar. Ia menunduk cepat, mengusap bawah matanya dengan punggung tangan, lalu tertawa kecil karena usahanya gagal.
“Itu lebih banyak daripada yang pantas kudapat pagi ini.”
“Jangan buat aku menenangkanmu.”
“Maaf.”
Sejak membuka buku itu, baru kali ini aku punya satu jawaban yang tidak perlu kutebak lagi. Tara memang menyayangiku. Itu tidak membuat dua puluh tujuh laporan, perjalanan yang dibatalkan, atau pilihan yang diam-diam diarahkan menjadi tidak pernah terjadi.
Aku hendak menutup sesi ketika Tara menahan kotak sepatu.
“Ada satu hal lagi.”
Ia mengeluarkan kartu nama hitam tanpa logo. Hanya nama dan nomor telepon.
“Aku tidak menemukan nama ini di buku yang kuberikan kepadamu,” katanya. “Dia mulai menghubungiku enam bulan lalu. Katanya pembayaran Rendra akan segera berhenti dan dia bisa menggantinya tiga kali lipat kalau aku terus melaporkan kegiatanmu.”
“Siapa?”
Tara mendorong kartu itu ke arahku.
Nama yang tercetak di sana sama sekali tidak kukenal.
“Raka Wicaksana.”