NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Ancaman yang Tak Lagi Sembunyi

Hujan turun rintik-rintik sejak pagi, membasahi kaca jendela ruang kerja Argan yang menghadap ke arah kota. Di luar, langit tampak kelabu seolah ikut merasakan ketegangan yang perlahan menumpuk kembali. Argan duduk diam di belakang mejanya, matanya menatap tajam pada selembar surat yang baru saja dikirimkan melalui pos kilat—tanpa nama pengirim, namun isinya begitu jelas hingga membuat darahnya mendidih.

Aruna masuk pelan membawa secangkir teh hangat, namun langkahnya terhenti saat melihat wajah Argan yang berubah tegang. “Ada apa? Ada berita buruk?”

Argan mengangkat surat itu, suaranya rendah namun penuh amarah yang tertahan. “Mereka mulai berani muncul dari persembunyiannya. Ini surat peringatan. Dimas menuntut kita menyerahkan sebagian saham perusahaan dan menarik laporan hukum terhadap Aisyah. Jika tidak... ia mengancam akan menyebarkan rekaman dan dokumen yang bisa merusak nama baik keluarga secara lebih luas.”

Aruna merasakan kakinya lemas seketika, namun ia segera menguatkan diri. “Dokumen apa? Bukankah semua yang mereka miliki hanyalah kebohongan?”

“Bukan hanya kebohongan,” Argan menggeleng pelan, lalu menunjuk satu baris yang digarisbawahi tebal. “Beberapa data yang dicuri Aisyah saat masih di sini—meski tidak cukup untuk meruntuhkan perusahaan—bisa dimanipulasi menjadi skandal yang sangat besar. Mereka bisa membuat seolah-olah perusahaan ini melakukan kecurangan pajak atau pelanggaran hukum, padahal sebenarnya tidak. Tapi di mata publik, berita buruk sekalipun yang belum terbukti cukup untuk membuat kepercayaan orang-orang runtuh.”

Aruna duduk di kursi seberang, meremas tangannya di atas pangkuan. “Lalu apa yang harus kita lakukan? Jika kita menuruti permintaannya, mereka akan terus menuntut lebih banyak lagi. Mereka tidak akan berhenti sebelum kita hancur.”

“Kau benar,” jawab Argan tegas. “Menyerah sama saja dengan memberi mereka izin untuk menginjai kita. Tapi jika kita melawan tanpa persiapan, mereka bisa melukai banyak orang—termasuk para karyawan yang bekerja dengan jujur di sini.”

Seharian itu mereka bekerja dengan sangat berat. Argan memanggil pengacara dan penasihat keamanan, membahas langkah-langkah perlindungan, sekaligus mengumpulkan bukti bahwa ancaman itu hanyalah pemerasan. Aruna membantu menyusun dokumen, meneliti kembali berkas-berkas lama yang mungkin terlewat, dan sesekali ikut berdiskusi dengan pandangan yang tenang namun tajam—mengingatkannya bahwa ketakutan tidak boleh menguasai keputusan mereka.

Sore menjelang, saat rapat sudah selesai dan ruangan kembali sepi, Argan terlihat sangat lelah. Ia menutup matanya sejenak, menyandarkan kepala ke sandaran kursi roda.

“Aku takut, Aruna,” ucapnya tiba-tiba dengan suara yang begitu pelan dan jujur. “Aku takut bukan untuk diriku sendiri. Aku sudah terbiasa dihina dan dipandang rendah. Tapi aku takut mereka akan menyakitimu. Kau tidak bersalah dalam hal ini, dan kau datang justru untuk menolong... seharusnya kau tidak ikut terluka.”

Aruna segera berdiri, melangkah mendekat, dan meletakkan kedua tangannya di bahu Argan dengan lembut namun tegas. Lalu ia berlutut sedikit di samping kursi roda itu agar wajahnya sejajar dengan pria tersebut, menatap lurus ke dalam matanya.

“Dengarkan saya, Argan. Saya tidak datang karena dipaksa atau tidak punya pilihan. Saya memilih ini. Dan jika ada ancaman yang datang, saya tidak akan mundur. Justru karena saya di sini, mereka tidak akan berani sembarangan. Karena saya adalah bukti bahwa kebaikan lebih kuat daripada kejahatan.”

Argan membuka matanya, menatapnya lekat. Ada genangan air mata yang berusaha ia sembunyikan di sudut matanya—bukan karena takut, melainkan karena terharu. Selama ini semua orang pergi saat ia dalam masalah, dan kini justru gadis yang seharusnya membenci keluarganya yang berdiri paling teguh di sisinya.

“Kau luar biasa, Aruna,” bisiknya. “Kau membuatku merasa bahwa mungkin ada harapan bagi kita.”

“Harapan itu kita buat bersama,” jawab Aruna lembut sambil menyeka sudut matanya yang sedikit basah. “Kita tidak akan menghadapi mereka dengan ketakutan. Kita hadapi dengan kebenaran. Dan jika mereka berani melangkah lebih jauh, kita akan siap menangkisnya. Kita tidak sendirian.”

Malam itu, ancaman belum hilang. Surat peringatan itu masih tergeletak di meja, dan Dimas serta Aisyah pasti sedang menyusun rencana lain. Namun di dalam hati Argan, ada satu hal yang berubah: ia tidak lagi merasa sendirian menanggung beban ketakutan itu. Tangan Aruna yang menggenggam tangannya memberinya kekuatan yang tak pernah ia temukan di mana pun—bukan di kekayaan, bukan di kekuasaan, melainkan di ketulusan seseorang yang rela berbagi bahu untuk menopang beban yang berat itu.

“Terima kasih,” ucap Argan pelan sambil merapatkan tangannya pada genggaman Aruna. “Besok kita akan menyusun rencana balasan. Bersama-sama.”

 

Lanjut ke Bab 12?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!